Di rumah Cilla hanya diam saja. Sejak pulang dari kerja, dia tidak banyak bertanya pada anaknya, Aji. Aji juga tidak banyak bercerita tentang laki-laki yang tadi sudah mentraktirnya makan Burger di mall tempat mamanya bekerja.
Beberapa menit kemudian, Aji tampak sudah tertidur pulas. Mungkin dia capek sehingga bisa tidur lebih awal dari pada biasanya.
Cilla memandangi tubuh anaknya yang sudah tertidur itu. Dia menarik nafas panjang beberapa kali untuk membuat dadanya sedikit lebih lega, mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Kejadian yang membuatnya harus berjuang seorang diri untuk bangkit dari keterpurukan.
Saat itu, Cilla baru saja masuk kerja siff pagi. Dia sedang membersihkan dan merapikan barang-barang di toko. Secara tiba-tiba, dia merasa ada yang tidak beres pada perutnya. Cilla akhirnya berlari ke belakang, menuju ke kamar kecil yang ada di belakang toko, dekat dengan kamar istirahat. Cilla memuntahkan semua isi perutnya. Dia mual, pusing dan merasa tidak enak badan.
Teman satu toko yang tadi sempat melihatnya berlari mencoba melihat dirinya ke kamar kecil. Temannya itu merasa khawatir dengan kondisi Cilla yang memang terlihat pucat sejak awal masuk.
"Cill... Cilla. Kamu tidak apa-apa?" Tanya teman Cilla yang menyusulnya ke kamar kecil. Mbak Diyah, temannya itu sekarang adalah supervisor di tempatnya bekerja.
"Emm... Egh... Enggak apa-apa kok Mbak!" Cilla menyahut dengan terbata-bata dari dalam kamar kecil.
"Yakin kamu tidak apa-apa?" Mbak Diyah kembali bertanya.
"Iya Mbak. Cilla gak apa-apa." Cilla menjawab dengan membuka, pintu kamar kecil. Dia tampak tersenyum yang dipaksakan, meski wajahnya jelas-jelas terlihat pucat.
"Kamu kenapa Cilla? Wajahmu pucat sekali! Kalau sakit jangan dipaksakan berangkat. Nanti kalau tambah sakit kamu sendiri yang susah!"
Mbak Diyah menasihati dan memperingatkan Cilla. Cilla hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.
Tapi itu tidak berlangsung lama. Dengan gerakan pelan seperti di replay, Cilla jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri.
"Tolong... Tolong...! Cilla pingsan!" Mbak Diyah berteriak meminta tolong pada teman yang lainnya.
Beberapa teman ada yang datang dan langsung membantu mengotong tubuh Cilla agar bisa di bawa ke klinik mall. Untungnya di mall tersebut ada klinik kecil untuk berjaga-jaga jika ada pengunjung yang cidera atau mengalami gangguan kesehatan, seperti Cilla saat ini mungkin. Pingsan tanpa pemberitahuan.
Beberapa jam kemudian, Cilla baru sadar dari pingsannya. Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah, tapi dia belum juga bisa mengingat kejadian yang tadi.
Cilla berusaha untuk bangun dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Eh, mbak Cilla sudah sadar." Terdengar suara seorang laki-laki yang diperkirakan berumur sekitar dua puluh lima tahun.
Dia adalah dokter praktek yang baru saja lulus kuliah kedokteran. Untuk latihan, dokter muda tersebut menerima tawaran kerja di klinik mall yang sedang kosong, karena dokter sebelumnya sudah menerima panggilan kerja di salah satu rumah sakit besar Jakarta.
"Saya kenapa Dokter?" Cilla bertanya dengan bingung.
"Gak apa-apa. Mbak Cilla tadi pingsan dan di antar kemari sama teman kerjanya, mbak Diyah dan satu lagi yang rambutnya pendek. Saya lupa namanya."
Dokter tersebut menjelaskan pada Cilla. Tapi tatapan mata dokter tersebut membuat Cilla bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Dok. Boleh tanya?" Cilla memberanikan diri untuk bertanya.
"Boleh. Mau tanya apa?" Dokter tersenyum melihat Cilla yang terlihat cemas dan juga gugup.
"Saya sebenarnya kenapa Dokter?" Akhirnya Cilla memberanikan diri untuk bertanya. Dia yakin jika ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya.
"Emm... Mbak Cilla umur berapa ya?" Dokter malah balik bertanya, meskipun dengan ragu-ragu.
"Sebenarnya... Sebenarnya... saya baru berumur tujuh belas tahun, hampir delapan belas Dok. Tapi jangan bilang-bilang ya Dok! Soalnya kemarin dulu waktu melamar kerja saya mengaku dua puluh tahun."
Cilla menjawab pertanyaan dokter dengan takut. Dia tidak ingin identitas dirinya terungkap dan akan menjadi masalah nantinya.
Tentu saja dokter tersebut kaget dengan jawaban dan pengakuan Cilla tentang umur yang sebenarnya. Dokter tersebut mengeleng-gelengkan kepalanya. Dia sudah berpikir macam-macam mendengar jawaban dari Cilla tadi.
"Apa mbak Cilla sudah menikah?" Akhirnya dokter bertanya dengan hati-hati.
"Menikah? Belum Dok! Kenapa Dokter mengira jika saya sudah menikah?" Cilla kaget dan juga heran dengan pertanyaan Dokter yang menurutnya aneh.
"Karena saat ini mbak Cilla sedang hamil."
Duarrrr!!!
Jawaban dari Dokter tersebut tentu membuat Cilla terbelalak kaget, seperti ada petir tanpa adanya hujan terlebih dahulu. Dia mengeleng mendengar jawaban dari Dokter, yang mengatakan jika dia sedang hamil.
"Hamil?" Cilla mengulang kembali jawaban Dokter tersebut dengan sebuah pertanyaan. Dan dokter hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya dengan yakin.
Sejak saat itu, Cilla harus menahan diri dari gunjingan teman-teman kerja dan juga orang-orang yang tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya.
"Kamu punya pacar ya Cill?" tanya mbak Diyah suatu hari. Hanya mbak Diyah yang masih memperlakukan dirinya dengan baik.
"Tidak Mbak," jawab Cilla cepat.
"Terus, kamu hamil dengan siapa?" tanya mbak Diyah bingung dengan jawaban dari Cilla.
"Cilla... Cilla, pokoknya Cilla gak punya pacar Mbak, dan ini anak orang yang Cilla tidak kenal."
Cilla tidak tahu harus bercerita seperti apa untuk menjawab pertanyaan dari temannya itu. Dia bingung dan juga malu jika harus bercerita yang sebenarnya terjadi.
"Ya sudah, kamu harus menjaga kehamilan kamu. Anak itu tidak bersalah. Semoga saja, dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar dikemudian hari."
Mbak Diyah sangat dewasa, dengan tidak mendesaknya untuk bercerita. Mungkin mbak Diyah tidak ingin menambah beban pikiran Cilla, yang tentunya terlihat sangat tertekan dengan semua masalahnya.
Cilla memejamkan matanya yang sudah berair, mengingat semua kejadian dulu. Dia ingat, hanya mbak Diyah yang masih bersikap baik padanya. Bahkan saat ayahnya meninggal dan dia diusir oleh ibu tirinya, mbak Diyah juga yang mencarikan tempat untuknya mengontak rumah. Rumah yang sekarang dia tempati bersama Aji, rumah kontrakan milik tuan Adi.
*****
Keesokan harinya, Cilla berangkat kerja seperti biasanya. Tapi sebelum dia sampai di toko, ada seseorang yang menyambar tangganya dengan cepat dan membawanya ke tempat yang lebih sepi.
"Katakan padaku jika Aji adalah anakku!"
Cilla kaget dengan pertanyaan orang tersebut. Dia adalah Gilang Aji Saka, orang yang kemarin ditemuinya di tempat kerja bersama dengan Aji, anaknya. Gilang Aji Saka yang ternyata adalah anak pemilik toko, dimana Cilla bekerja sedari dulu. Bahkan, sebelum semuanya terjadi pada malam itu.
"Apa... apa maksud Anda Tuan?" tanya Cilla gugup dan juga cemas.
"Cilla Andini. Aku tahu jika Aji adalah anakku. Kejadian malam itu ternyata membuatmu membawa benihku juga." Gilang mengintimidasi Cilla.
"Bukan, dia bukan anakmu Tuan!" bantah Cilla cepat.
"Akan aku buktikan itu. Aku juga akan memberitahukan hal ini pada Aji. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan nanti!"
Ancaman dari Gilang membuat Cilla ketakutan. Seharian ini, saat bekerja, Cilla berpikir untuk mengundurkan diri saja. Dia tidak ingin Gilang mengetahui apa yang sebenarnya. Dia juga tidak mau, Aji, anaknya itu tahu jika Gilang adalah papanya, orang yang tidak pernah dia ketahui keberadaannya selama ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
Kar Genjreng
gilamg yo nekat... asal nyerocos ae ga nganggo tedeng aling-aling... somplak tenin... ga enek alus aluse blasa... gemes
2022-07-30
2
triana 13
like
2021-11-30
0
Embun Kesiangan
hiks😭😭😭😷😷😷
2021-11-06
0