Suatu malam saat Cilla baru saja pulang dari bekerja.
"Tolong...! Ibu... Ibu... !"
Cilla terus berteriak dan memanggil ibunya, tapi sepertinya ibunya sedang tidak ada di rumah. Entah kemana dia, padahal biasanya pergi keluar jika Cilla sudah sampai di rumah.
"Heh! Kenapa Ayahmu?"
Tiba-tiba ibunya datang sambil menyipitkan matanya. Dia melihat suaminya yang sudah tidak berdaya tergelatak di lantai, sedangkan Cilla memeluk ayahnya yang tidak bergerak sama sekali.
"Bu. Tolong ayah. Bawa ke rumah sakit Bu!"
Cilla memohon pada ibunya dengan berderai air mata. Dia tidak tega melihat keadaan ayahnya sekarang ini.
"Halah... Biarkan saja mampus sekalian. Ibu tidak peduli. Lagipula tidak ada uang buat biayanya. Memang kamu punya?"
Dian Anita berkata tanpa berpikir bagaimana perasaan Cilla. Dia juga tidak merasa kasihan sama sekali dengan suaminya.
"Ayolah Bu...! Nanti Cilla coba nyari uangnya Bu. Cilla bisa balik ke toko dan meminjamnya dari bos Cilla."
Cilla terus memohon pada ibunya. Tapi ibunya tidak bergeming sama sekali.
"Ibu ada jalan pintas untuk bisa mendapatkan uang yang banyak. Apa kamu mau?"
Ibu Dian Anita sepertinya ada rencana terselubung dengan tawarannya itu. Tapi Cilla tidak bisa berpikir jernih. Dia hanya mau mendapatkan uang dengan cara cepat demi nyawa ayahnya.
"Apa Bu. Cilla mau Bu!"
Dian Anita tersenyum penuh arti mendengar jawaban anak tirinya itu. Dian Anita sedang menyusun rencana untuk bisa mendapatkan uang yang banyak, dengan cara yang cepat dan mudah.
"Kamu harus ikut ibu malam ini!" Ibu menjawab pertanyaan Cilla yang ingin tahu bagaimana caranya bisa dapat uang banyak dan cepat.
"Ikut ibu? Kemana?" Cilla bertanya karena dia tidak tahu apa yang dia maksudkan oleh ibunya.
"Tidak usah banyak tanya. Buruan mandi sana. Ayahmu ini biar ibu yang urus."
Cilla hanya menurut saja. Tanpa tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh ibu tirinya yang berwajah malaikat.
*****
Hingar-bingar musik dengan suara yang keras menyakiti telinga Cilla. Dia menutup telinganya sedari mulai pintu masuk. Apalagi sekarang dia ada di tengah-tengah ruangan dengan berbagai macam model orang yang berpakaian serba minim dan dandanan yang tebal.
Dian Anita terus menarik tangan Cilla agar tetap berada di dekatnya. Entah mau di bawa ke mana sebenarnya Cilla ini. Sebab sedari masih ada di rumah dia tidak menjawab pertanyaan Cilla, dan hanya menyuruh ikut dengannya saja.
"Bu. Kita kemana sih..." Cilla mengeluh karena sepatu hak tinggi yang dia pakai. Pasti dia tidak nyaman karena tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi seperti yang diberikan oleh ibunya tadi.
"Diam. Ikut saja dengan ibu!" Ibunya menjawab pertanyaan Cilla dengan bentakannya yang kasar.
Cilla terdiam. Dia tidak ingin bertambah malu karena di perhatikan oleh orang-orang yang melihatnya sedari tadi. Cilla sadar jika dia tidak bisa menyalahkan orang-orang yang memandangnya dengan tatapan mata lapar, seperti kucing yang melihat ikan asin. Semua karena pakaian yang dikenakan minim serta transparan untuk dirinya. Cilla menutupi bagian tubuh yang vital dengan telapak tangannya sendiri.
Tadi saat di rumah, Cilla di paksa ibu tirinya untuk mengenakan pakaian yang sudah dipersiapkan olehnya. Baju merah ketat dengan tali kecil di di bagian bahu. Leher lebar dengan memperlihatkan area lereng kedua bukit kembarnya. Punggung setengah terbuka dan panjang baju yang cuma beberapa senti di bawah pantat.
Oh... menyiksa sekali di tubuh Cilla yang tidak terbiasa memakai pakaian seperti itu. Apalagi dengan ditambah memakai sepatu hak tinggi yang seperti di pakai oleh model-model papan atas. Cilla tentu kesulitan berjalan sehingga harus berpegang pada tangan ibunya sedari tadi.
"Ayok masuk!"
Ibunya memerintah Cilla agar masuk ke dalam kamar Club yang ada di lantai tiga. Letak kamar yang ada di atas dan dilengkapi dengan lapisan kedap suara pastinya tidak akan terganggu oleh suara musik yang keras dari bawah. Cilla sedikit bernafas lega karena telinganya tidak terasa sakit lagi.
"Duduklah! Tunggu disini. Ibu ada perlu sebentar. Jangan kemana-mana sebelum ibu kembali!"
Setelah menyuruh Cilla duduk, ibu Dian Anita langsung keluar dari kamar dan membawa kunci pintu yang berbentuk kartu, seperti kartu ATM. Katanya dia ada urusan sebentar dan kunci dia bawa biar tidak menyusahkan Cilla yang kesulitan berjalan itu.
Cilla di suruh duduk di kursi sofa yang ada di kamar tersebut. Kamar ini tidak jauh berbeda dengan kamar-kamar hotel Bintang Lima. Luas dan nyaman. Ada kulkas di sudut kamar dekat pintu kamar mandi. Ada lemari pakaian kecil yang ada di belakang tempat duduknya Cilla sekarang ini. Tempat tidur yang besar dengan ukuran king size. Semuanya tampak mewah. Cilla jadi bertanya-tanya, apa yang mau ibunya lakukan di tempat seperti ini? Inikan pasti mahal?
Belum selesai dengan lamunannya, pintu terbuka. Cilla yang belum beranjak dari tempat duduknya segera berdiri menyambut ibunya yang datang.
"Bu..."
Cilla tidak meneruskan kata-katanya, sebab yang masuk ke dalam kamar bukanlah ibunya, melainkan orang lain yang tidak dikenal Cilla sama sekali.
Dia seorang laki-laki yang berumur sekitar dua puluh delapan tahunan atau bisa jadi lebih. Badannya kekar dan proporsional. Kulitnya terlihat bersih meskipun tidak putih. Wajahnya juga tampan, meskipun terlihat menakutkan di mata Cilla sekarang ini.
"Si...Siapa anda?" Cilla bertanya dengan tergagap. Dia ketakutan! Sadar jika sesuatu sedang mengancam keselamatan dirinya.
"Hah! Siapa aku tidak penting nona. Yang pasti aku adalah orang yang akan memberimu kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan!"
Suara orang itu terdengar berat dan parau. Tatapan matanya yang tajam bagai elang yang siap menerkam mangsanya. Cilla gemetaran dan ketakutan. Siapa laki-laki ini?
"Tapi Saya... Saya.. tid.. tidak kenal dengan anda tuan." Cilla berkata sepotong-sepotong. Cilla menutupi bagian tubuhnya, yang terlihat dari tatapan lapar mata laki-laki yang ada di depannya saat ini.
"Hahaha... Itu tidak penting. Yang pasti aku sudah membelimu pada Dian Anita. Hahaha...!"
*****
Gilang Aji. Pengusaha jasa pembinaan dan konsultan keuangan yang sukses dan tidak tersentuh. Banyak sekali wanita-wanita yang takluk begitu saja di bawahnya, menjadi pemuas ***** Gilang yang tidak pernah ada puasnya. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang bisa menyentuh hati Gilang.
Gilang Aji. Seorang pemuda yang patah hati di usia muda, karena kekasihnya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Bahkan dia melihat dengan jelas, melihat dengan matanya sendiri kelakuan kekasihnya dan sahabatnya itu. Karena itu semua, Gilang Aji tidak lagi percaya dengan semua wanita. Baginya, wanita hanya sampah belaka. Sejak saat itulah, Gilang Aji bermain-main dengan wanita yang berbeda-beda setiap harinya. Dia juga suka memesan wanita yang masih virgin hanya untuk melampiaskan dendam masa lalunya itu. Tapi ada juga wanita-wanita yang dengan sukarela meminta Gilang Aji untuk bisa tidur dengannya, meskipun hanya semalam saja.
Tadi siang, Gilang Aji di telpon seseorang, yang bertanggung jawab atas Club malam ini. Dia ditawari untuk membeli keperawanan seorang gadis yang masih belum berpengalaman. Katanya gadis itu butuh uang untuk biaya pengobatan ayahnya.
Gilang Aji hanya tertawa mendengar tawaran tersebut. Dia sudah terbiasa dengan situasi drama gadis-gadis miskin, yang ingin mendapatkan uang banyak tanpa harus bekerja keras terlebih dahulu. Mungkin gadis di depannya saat ini juga sama saja. Butuh uang untuk membeli handphone keluaran terbaru, atau hanya ingin jalan-jalan seperti artis-artis yang suka keluar negeri. Bukankah hal semacam itu biasa ada, diberitakan di surat kabar atau berita online?
*****
"Jangan tuan... Saya bukan gadis yang di maksud. Saya... Saya anaknya ibu Dian Anita tuan."
Cilla berusaha membuat Gilang Aji sadar dan pergi dari kamar tersebut. Cilla sudah tidak bisa lagi berpikir selain mengatakan apa yang sebenarnya.
"Hahaha... mana ada ibu yang menjual anaknya sendiri? Apa aku terlihat bodoh!"
Gilang tertawa lepas dan berkata dengan tersenyum miring. Dia terlalu percaya diri dengan semua yang dia miliki.
Tidak lama Gilang Aji bisa menguasai Cilla, yang tidak bisa memberontak dengan tenaganya yang lemah dibanding dengan tenaga Gilang Aji. Mengambil sesuatu yang sangat berharga untuk Cilla. Semuanya terjadi dan Cilla tidak bisa berbuat apa-apa, karena melawan pun dia tidak mampu.
Malam itu di Club malam, di lantai satu Dian Anita bersenang-senang karena bisa bermain judi sepuasnya. Dia memiliki uang banyak, hasil dari menjual keperawanan Cilla. Anak tiri Dian Anita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
Kar Genjreng
ibu penjudi jadi ga perduli itu Anak jadi korban... bejad mak tiriine... dusane numpuk anita kui... entenono enek wektune biasane wong ngono kui... iki Novel Mu miris lo Thor 😭😭
2022-07-30
0
Wirda Lubis
Cilla bodoh lugu benar
2022-07-29
0
Reori Enespere
oh iya kisah Dian tidak tampak ya di episode setelah Cilla punya bayi
2022-07-02
0