Gilang menatap Cilla dengan tatapan mata yang tajam, menyelidik. Tapi Cilla pura-pura tidak tahu dan tidak mengenal siapa Gilang.
"Maaf Mami. Ini anaknya Cilla. Tadi dia ikut Cilla kerja, soalnya kami berdua pulang dari melihat rumah baru. Cilla pikir, kalau mau pulang terlebih dahulu, Cilla bisa terlambat masuk kerja. Akhirnya Cilla ajak kesini, dan memintanya untuk diam di kamar istirahat saja."
Cilla menjelaskan dengan suara yang bergetar. Dia pasti merasa takut dan juga cemas dengan nasibnya. 'Apa aku akan di pecat?' tanya Cilla dalam hati.
"Oh... Anak kamu suka bermain kelereng ya, warna merah lagi. Sama tuh kayak anak Mami, Gilang sewaktu masih kecil juga suka banget dengan kelereng merah."
Mami malah menceritakan tentang anaknya yang sudah dewasa itu. Gilang menatap Cilla tanpa berkedip. Dia mengingat Cilla dari harum parfum yang dipakai. Bukan parfum mahal seperti kebanyakan yang dipakai cewek-cewek berkelas tapi aromanya yang khas membuat Gilang tidak bisa melupakannya.
Cilla yang sadar jika diperhatikan oleh Gilang pura-pura tidak tahu. Dia tersenyum mendengar cerita mami. 'Jadi dia anaknya mami. Dan aku bekerja di sini, di tempat usaha milik maminya dia!' Cilla mengeluh dalam hati. Dia menjadi cemas dan juga takut jika semuanya akan terungkap.
"Mama kenapa?" tanya Aji. Dia melihat raut wajah mamanya yang pucat, seperti sedang dalam keadaan sakit.
"Tidak apa-apa sayang," jawab Cilla dengan tersenyum canggung.
"Kamu ternyata sudah memiliki anak ya? Berarti, dulu sewaktu kamu berhenti untuk sementara waktu karena melahirkan Aji?" tanya mami ingin tahu.
Cilla hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dia tidak bisa dengan mudah mengeluarkan suaranya. Dia seperti orang yang sedang tercekik dan tidak bisa bersuara dengan bebasnya.
Gilang terus memperhatikan semua yang ada pada Cilla. Dia memejamkan matanya sesaat sambil menghirup aroma parfum Cilla. Aroma yang dulu pernah dia cari beberapa waktu kemudian, setelah kejadian malam itu.
'Aku yakin dengan penciumanku. Ini aroma sama seperti malam itu!'
"Gilang. Mami mau mencoba gaun dulu. Tadi Mami belum selesai nyobain, nyari kamu dulu, kirain kemana!" pamit mami Rossa pada anaknya, Gilang, kemudian melangkah keluar dari kamar istirahat toko.
Gilang tidak menjawab maminya. Dia hanya mengangguk saja tanpa mengalihkan pandangan dari Cilla.
Cilla yang sadar jika di perhatikan, jadi tidak enak dan serba salah. Dia ingin segera keluar dari kamar untuk menyusul mami Rossa. Tapi justru anaknya, Aji memangil dirinya.
"Ma. Aji lapar. Boleh keluar cari Burger?" tanya Aji meminta ijin.
"Em... Tapi mama masih kerja sayang. Nanti ya, sebentar lagi kok tokonya tutup. Kita cari sama-sama nanti ya!"
"Biar sama Aku saja, yuk Aji! Kita cari Burger yang besar!" ajak Gilang pada Aji. Dia tampak semangat sekali mendapatkan kesempatan untuk mendekati Aji. Dia ingin bertanya dan ingin tahu lebih banyak tentang mereka berdua, Cilla dan juga Aji.
"Ma," panggil Aji pada mamanya. Dia meminta ijin apakah diperbolehkan ikut dengan Gilang atau tidak dengan isyarat matanya.
Cilla bingung mau menjawab apa. Dia tampak ragu untuk mengeluarkan suaranya.
"Gak apa-apa. Om bukan orang jahat. Kalau Om orang jahat, mama kamu pasti sudah memangil polisi sedari tadi kan?"
Gilang berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Cilla. Dia kembali menghirup aroma parfum Cilla. "Parfumnya tidak berubah, masih sama. Aroma kebun, Lilac."
Cilla tertegun sejenak mendengar perkataan Gilang. Dia tidak menyangka jika secepat itu Gilang mengenali dirinya, hanya karena aroma parfum dan bukan dari wajahnya Cilla. Dan soal memanggil polisi, apa maksud dari perkataan Gilang?
"Ma," panggil Aji lagi sambil menggoyangkan tangan mamanya.
"Eh, iya... iya boleh!" jawab Cilla gugup. Dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Gilang saat ini.
Setelah keduanya, Gilang dan juga Aji, pergi untuk mencari burger, sesuai dengan keinginan Aji, Cilla menarik nafas panjang beberapa kali. Dia tidak menyangka jika selama ini, dia ada di dalam lingkungan orang yang tidak ingin dia temui lagi seumur hidupnya. Dia tidak sadar jika toko ini, mami Rossa adalah sebagian dari laki-laki itu, Gilang Aji Saka. Pemilik perusahaan GAS!
*****
"Aji suka Burger?" tanya Gilang sambil melihat Aji yang sedang menikmati makanan khas Jerman itu.
"Iya, Aji suka. Apalagi Burger juga berasal dari Jerman." Aji menjawab pertanyaan Gilang dengan mulut yang penuh karena menguyah makanan khas itu.
"Lho, kok Jerman. Bukannya Amerika ya?" tanya Gilang bingung.
"Bukan Om. Burger dari Jerman bukan Amerika. Ketahuan nih, Om gak suka baca internet ya?"
Gilang kaget dengan jawaban Aji. Dia tidak menyangka jika anak kecil yang baru dia temui ini cerdas dan tidak seperti anak-anak pada umumnya.
"Kamu suka main game apa baca kalau sedang pegang handphone?" tanya Gilang ingin tahu.
"Ya baca, ya main. Belajar iya, main juga iya."
Aji menjawab pertanyaan Gilang dengan cara yang tidak biasa. Gilang mengelengkan kepalanya mendengar jawaban Aji yang seperti politikus saat berorasi meminta dukungan warga.
"Papanya Aji siapa namanya?" tanya Gilang menyelidik.
"Aji," jawab Aji pendek.
"Kok Aji?" tanya Gilang merasa aneh.
"Iya memang Aji. Itu kata mama."
"Kerja di mana?" tanya Gilang semakin penasaran.
"Gak tahu. Kata mama jauh..." jawab Aji menirukan ucapan mamanya.
"Jauh? Memang Aji pernah ketemu?" Gilang yakin, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Cilla pada anaknya ini.
"Enggak," jawab Aji tanpa curiga sedikitpun.
"Pernah lihat foto papa Aji tidak?" tanya Gilang semakin yakin.
Aji mengeleng pelan. Dia tidak pernah tahu dan juga tidak pernah melihat sosok papanya. Dia tidak berani bertanya pada mamanya. Aji tidak mau mamanya bersedih hati jika dia bertanya tentang papanya.
"Oh gitu ya..." Gilang menganggukkan kepalanya mengerti. Dia semakin yakin dengan apa yang dia pikirkan saat melihat Aji dan Cilla hari ini.
"Huh... kenapa baru sekarang aku ikut Mami ke toko. Coba dari dulu, aku pasti sudah tahu sedari dulu juga kan!" Gilang mengerutu sendiri dengan suara pelan.
"Eh, tapi kok namanya diambil dari nama tengah aku? Dia tahu nama aku dari mana?" Gilang terus berpikir tentang semua hal yang berkaitan dengan Cilla dan juga aji.
"Aku harus bertanya pada Cilla. Jika dugaanku benar, aku tidak peduli lagi dengan apapun. Aku harus bisa mendapatkan keduanya!"
"Om. Om ngomong apa?" tanya Aji yang tidak bisa mendengar suara Gilang dengan tidak jelas.
"Oh, gak apa-apa kok. Sudah selesai makannya? Apa mau bungkus buat dibawa pulang?" tanya Gilang menawari.
"Gak Om. Ini sudah cukup. Aji kenyang!" Aji menjawab dengan wajah berseri dan berbinar. Dia merasa nyaman dengan laki-laki yang ada di dekatnya ini. Aji juga tidak tahu kenapa, tapi dia merasakan perasaan yang berbeda pada orang yang baru dia kenal ini.
"Ya sudah kalau begitu. Yuk balik ke toko. Mungkin sekarang sudah mau tutup!" Gilang mengajak Aji untuk kembali ke toko lagi.
Setelah beberapa saat kemudian, toko sudah hampir tutup. Mami Rossa segera pamit pulang terlebih dahulu pada semua karyawannya, "Mami pulang dulu ya semuanya..."
Gilang yang berjalan dengan sengaja melewati tempat dimana Cilla berada segera berbisik pelan, "Kamu tidak bisa lari dariku!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
Kar Genjreng
yo yen ga iso mlayu... ko Kowe Mas Gilang yo mlayu dewe no... sopo wedi wek wek wek🤫🤫🤫🤫🤫🤫
2022-07-30
1
Lady Meilina (Ig:lady_meilina)
Haloo kk.
2022-01-15
0
NurHafni
Lah kok cumn parfum nya yg di ingat,
knp gk tau wjhnya,
padahl Aji dn Cilla kn dulu saling bertatap langsung sebelum trjadi Pemerkosaan itu,
aneh si Gilang,
Cilla aja msh ingat dn kenal wjh dia,
kok bs dia gk kenal wjh Cilla.
2022-01-13
1