Cilla masih memeluk Aji. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan pada anaknya itu.
"Sayang. Terima kasih ya, kamu sudah bantu mama lagi," kata Cilla sambil menyeka air matanya yang mengalir tertahan.
"Sudah Ma. Aji tahu mama gak salah kok." Aji berkata bijak, seperti orang dewasa saja lagaknya.
"Jadi tadi Aji mendengar semuanya sedari awal? Mama gak nyangka kalau tuan Adi bisa berubah seperti itu. Mama seperti tidak mengenalnya sebagai tuan Adi yang baik hati."
Cilla tidak habis pikir dengan melakukan tuan Adi tadi. Padahal biasanya dia itu sopan dan baik. Apa cinta yang tidak terbalas bisa membuat orang itu berlaku seenaknya saja?
"Kalau baik memang mau sama tuan Adi?" tanya Aji menyelidik.
"Memangnya Aji mau punya papa seperti tuan Adi?" Cilla balik bertanya pada anaknya itu.
"Tidak!" jawab Aji cepat.
"Kenapa?" tanya Cilla. Dia yakin jika Aji punya penilaiannya terhadap tuan Adi, sang pemilik rumah kontrakan dan sudah memberinya hadiah sebuah handphone.
"Pokonya Aji tidak suka!" Aji tetap pada pendiriannya, meskipun dia tidak bisa menjelaskan seperti apa untuk alasannya.
"Ya sudah. Ayo masuk Ma. Mama bau ini!" kata Aji lagi, sambil menutup hidung dengan telapak tangannya seperti sedang mencium bau yang tidak sedap.
"Hehehe... Anak mama mulai nakal ini. Ngatain mamanya bau lagi!"
Cilla tertawa kecil sambil menyeka air matanya, yang sekali-kali masih mengalir, mendengar perkataan Aji yang mengajaknya bercanda. Cilla tahu maksud dari candaan Aji. Tentu anaknya itu tidak ingin dirinya merasa sedih secara terus menerus mengingat kejadian tentang tuduhan tuan Adi tadi.
Aji tersenyum manis dan memegang pipi mamanya, menciumnya khas anak-anak, kemudian berkata, "Aji sayang Mama."
Cilla tersenyum bahagia. Dia bangga pada anaknya ini. Anak yang dia besarkan seorang diri, dengan segala pengorbanan dan perjuangan yang tidak sedikit.
Cilla sudah terbiasa di gunjing, di bully, di hina dan itu tidak berdampak asalkan Aji tidak mendengar dan mengetahui semuanya. Tapi tadi Aji mendengar dan tahu. Cilla takut dengan perkembangan psikologis anaknya yang masih kecil. Tapi ternyata Aji bisa bersikap dewasa dan tidak berubah juga sikap terhadap dirinya.
Keduanya masuk ke dalam rumah. Saat Cilla mau pergi membersihkan diri, tapi tiba-tiba Aji bertanya, "Mama sudah dapat gambaran atau lokasi rumah yang kita cari?"
Cilla tertegun. Dia ingat jika beberapa waktu lalu ingin mencari rumah yang lebih dekat dengan tempat kerjanya. Tapi Cilla belum yakin karena tabungannya belum dirasa cukup.
"Besok-besok saja ya sayang. Mama belum nyari. Uangnya juga sepertinya masih kurang." Cilla menjawab pertanyaan dari anaknya.
"Kemarin sudah dapat transferan dari pihak pengerajin kain ikat Ma, yang dari Palembang. Yang di Bali berjanji malam ini terakhir kirimnya," kata Aji memberitahu mamanya.
"Sebentar Aji cek dulu!" sambung aji, kemudian membuka layangan apk salah satu Bank untuk melihat transaksi dan juga jumlah saldo terakhir.
"Segini masih belum cukup ya Ma?" tanya Aji setelah beberapa detik kemudian.
Cilla yang belum beranjak dari tempatnya untuk pergi mandi, melihat ke layar handphone yang ditunjukkan oleh anaknya. Di layar itu, terlihat besar jumlah saldo uang yang ada di rekening Bank miliknya. Dia terkejut karena terakhir kalinya melihat belum sebanyak itu.
"Sayang, itu beneran segitu?" tanya Cilla tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Aji mengangguk pasti. Dia memang berhasil menjual banyak barang dalam beberapa minggu terakhir ini.
"Ya sudah besok, sepulang kerja Mama coba nyari rumahnya ya!" kata Cilla pada akhirnya.
"Gak usah Ma. Aji sudah menemukan rumah tersebut. Aji juga sudah bertanya-tanya pada pihak penjualannya. Masih proses tawar menawar kok," kata Aji memberitahu apa yang dia lakukan.
"Kapan?" tanya Cilla cepat. Dia tidak menyangka anaknya ini bergerak cepat tanpa sepengetahuannya.
"Baru kemarin Ma. Dari iklan properti. Mama boleh lihat secara langsung besok sepulang kerja. Tidak terlalu jauh kok dari tempat kerja Mama."
Cilla kembali memeluk anaknya. Dia terharu dengan apa yang dilakukan anaknya selama ini untuk kehidupan mereka berdua.
*****
POV tuan Adi
Brengsek! Handphone hadiah yang aku berikan malah menjadi senjata yang membuatku malu pada warga dan juga pak RT. Awas saja Cilla dan anaknya itu!
Dasar anak aneh. Tidak seperti anak-anak pada umumnya. Apa dugaanku benar jika Aji itu anak haram? Ah, aku harus mencari tahu siapa ayahnya Aji.
Tapi Aku jadi tidak bisa mendekati Cilla lagi kalau sudah seperti ini. Mana aku sudah memberikan sewa gratis lagi selama enam bulan. Enak banget mereka. Aku harus membuat rencana agar mereka tidak betah. Biar saja, aku akan menyusun rencana untuk membuat mereka pergi dari rumah kontrakanku, secepatnya!
Ah, sial! Benar-benar sial aku hari ini!
POV tuan Adi end
Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, tuan Adi mengerutu dan berniat untuk menyusun suatu rencana. Dia ingin mengusir Cilla dan anaknya, Aji, agar tidak betah dan pergi dari rumah kontrakan miliknya. Dia juga ingin mencari tahu, siapa ayahnya Aji yang tidak pernah dia ketahui dan dia lihat selama ini. Jika memang terbukti benar, Aji anak haram, dia ingin menggunakan berita itu untuk mengusir Cilla dan anaknya. Hati tuan Adi sudah dipenuhi oleh amarah dan juga dendam karena cintanya yang sudah di tolak sebelum dinyatakan dengan benar. Sungguh malang nasib cinta tuan Adi.
*****
"Ma, nanti jadi lihat rumahnya?" tanya Aji pada pagi hari, sebelum mamanya berangkat kerja.
"Kita lihat sama-sama yuk nanti," jawab Cilla mengusulkan pada Aji, anaknya.
"Memang Mama gak kerja?" tanya Aji lagi.
"Mama ijin Sayang. Semalam sudah menelepon atasannya Mama kok, jadi Mama berangkat yang siff siang dan pulangnya malam," kata Cilla memberitahu.
"Wah... Aji bisa ikut lihat ya. Asyikkk!" Aji bersorak kegirangan karena bisa ikut mamanya melihat rumah baru yang akan mereka beli nanti.
"Aji telpon yang punya rumah dulu ya Ma. Nanti Aji bilang kalau kita akan lihat-lihat rumah," usul Aji pada mamanya.
"Iya, boleh. Biar nanti bisa sekalian ngomong langsung sama orangnya ya!" jawab Cilla dengan usulan anaknya.
Beberapa jam kemudian, mereka berdua tampak keluar dari rumah. Mereka pergi untuk melihat-lihat rumah yang akan mereka beli nantinya.
Setelah melakukan perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka sampai juga di perumahan yang di tuju. Komplek perumahan yang tidak terlalu besar tapi tidak terlalu padat penduduk juga.
Aji mengamati sekitar. Ternyata banyak yang memperhatikan mereka berdua sepanjang jalan gang masuk ke rumah itu. Apalagi yang bapak-bapak dan para lelaki yang mereka jumpai. Kebanyakan dari mereka menatap ke arah mamanya dengan tatapan mata yang tidak biasa. Ada semacam keinginan yang lain. Seperti kucing yang sedang lapar, dan ini membuat Aji tidak suka.
"Ma. Aji tidak suka tempat ini." Aji berbisik pelan pada mamanya.
"Kenapa Sayang?" tanya mamanya heran.
"Banyak kucing yang lapar, dan aku tidak suka!"
Jawaban Aji membuat mamanya berpikir keras tentang arti kata 'Kucing yang lapar' Cilla belum mengerti dengan benar arti kata yang dimaksud oleh Aji, anaknya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
Kar Genjreng
Ngarepe yen endang pindah ning cluster ae aman ra go pager barang ga ribet... bene tonggo tembok cuek urusan dewe dewe... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2022-07-30
1
Kar Genjreng
Ak
2022-07-30
0
📘Reo🔥
vote
2022-02-14
0