Kencan waktu itu membuat Maya dan Erick mendapat pengalaman baru. Erick bisa mengetahui banyak tempat yang dikenalkan Maya. Maya juga lebih ceria dari biasanya. Mereka bahkan sempat makan bersama tanpa merasa canggung. namun sayangnya mereka hanya bisa menghabiskan waktu sebentar sebab Erick memiliki banyak kesibukan. Tetapi itu sudah sangat cukup untuk membuat Maya bahagia.
****
Hari ini adalah hari pertunangan Ellen yang tidak diinginkannya. Tapi dirinya sudah siap untuk menghadapinya.
Akhirnya Ellen dapat melihat rupa pria dingin itu lagi. Aldrich membawa begitu banyak barang mewah sebagai mahar. Acara pertunangan itu berlangsung dengan cepat dan Ellen merasa lega karena acaranya tidak ribet seperti yang dibayangkannya.
Alasan Aldrich ingin bertunangan lebih dulu, karena dia harus berperang ke negara lain. Dia berpikir jika dia langsung menikah dengan Ellen, itu akan terlihat sangat tidak baik karena dia akan langsung meninggalkan istrinya untuk berperang sebagai pengantin baru.
Aldrich sudah memberitahukannya kepada ibunya dan ibunya menyampaikannya ke Nyonya Ziane. Tentu saja Nyonya Ziane sudah memberi tahu Ellen, namun Ellen tidak mempedulikannya sebab dia tidak menginginkan pernikahan bersama Sang Raja.
Aldrich juga tadinya tidak berniat memiliki pasangan hidup jika tidak ada yang namanya kutukan dari penyihir. Hidup sendiri menurutnya jauh lebih baik daripada merasa repot mengurus orang lain lagi.
Selama acara pertunangan, kedua pasangan baru itu tidak banyak bicara. Aldrich hanya menyampaikan satu pesan bahwa dia akan pergi berperang selama 1 bulan. Setelah 1 bulan usai, barulah mereka akan menikah.
"Hei, katanya kau bisa memanah?"Tanya Aldrich tiba-tiba kepada Ellen yang masih menemani disampingnya.
"Iya Yang mulia. Saya bisa, tetapi belum begitu handal."Jawab Ellen.
"Coba perlihatkan aku cara memanahmu."Ucap Aldrich.
"Baik Yang mulia..."Ellen hanya bisa menurut.
Ck, kenapa dia tidak langsung pulang saja?
Ellen mengantar Aldrich ke tempat memanah. Setelah sampai disana, Ellen diberikan alat pemanah dan dia mulai bersiap-siap menembak ke arah sasaran.
Papan lingkaran yang agak jauh dari hadapannya itulah yang akan menjadi sasarannya. Terdapat 4 warna, yakni hitam, biru, merah dan kuning.
Ellen menancapkan panahnya ke warna merah. Itu artinya dia mendapat nilai 8 dari 10. Ellen setidaknya merasa sedikit bangga karena panah miliknya hampir menancap ke arah kuning.
Aldrich hanya diam mengamati. Daripada merasa canggung sendiri, Ellen mencoba memanah beberapa kali. Tetapi hasilnya tetap di warna merah. Aldrich sedikit tersenyum mungkin karena merasa lucu? Sayangnya senyuman samar itu tidak sempat dilihat Ellen yang belum menyerah menembakkan panahnya ke tempat sasaran.
Ellen mulai kesal karena dia belum bisa mengarahkan panahnya ke warna kuning. Akhirnya Aldrich turun tangan untuk mengajari gadis itu caranya.
Tubuh Aldrich tiba-tiba mendekat ke arah Ellen sehingga Ellen sangat syok. Ellen berusaha tetap tenang supaya Sang Raja tidak tersinggung.
Jantungnya mulai berdegup kencang tidak karuan. Tangannya yang masih memegang busur bahkan sampai bergetar dan Aldrich menyadarinya. Aldrich berusaha menahan tawa melihat tingkah tunangannya yang sepertinya grogi saat tubuhnya menempel di punggung Ellen.
"Biar ku ajari kau supaya panahnya bisa ke arah kuning."Ucap Aldrich. Dia memegang tangan Ellen untuk menyesuaikan tangannya memegang busur dengan benar agar bisa menembak tepat sasaran. Dan Ctas! Panahnya berhasil mengenai warna kuning.
Ellen yang sudah berhasil menembakkannya, tidak tahu harus bereaksi apa.
"Akan kutunjukkan ahli seorang pemanah yang sesungguhnya."Ucap Aldrich memegang busur lain yang sudah disiapkan.
Ctas! Ellen melongo saat Aldrich menembakkan panahnya menembus miliknya. Dia tidak percaya melihat panahnya terbelah dua.
"Ba...bagaimana cara anda melakukannya Yang mulia?"Tanya Ellen masih tidak percaya.
"Hm, mudah saja. Kau hanya harus lebih fokus."Ucap Aldrich kemudian dia meletakkan busur itu ke tempatnya. Tampaknya sang Raja hendak bersiap untuk pergi meninggalkan kastil.
"Anda...sudah mau pergi Yang mulia?"Tanya Ellen mengikuti punggung Aldrich yang sedang berjalan.
"Aku besok akan pergi berperang."Jawab Aldrich.
"Ah, begitu Yang mulia. Semoga...Anda berhasil memenangkan peperangannya dan Anda tetap baik-baik saja ketika sampai..."Ucap Ellen dengan nada pelan karena dia begitu malu saat menyampaikan pesan yang menurutnya cheesy itu.
Aldrich hanya diam tidak merespon. Tapi di belakang Ellen, dia tersenyum samar menunjukkan kalau dia senang.
Setelah Aldrich meninggalkan Kastil, Ellen langsung pergi istirahat ke kamarnya. Dia merasa begitu lelah. Untungnya ada Maya yang sudah mempersiapkan segalanya.
"Anda tampaknya sangat lelah Nona."Ucap Maya melihat raut wajah Ellen.
"Iya, kau benar...Raja itu benar-benar membuatku cepat menghabiskan energiku. Bawaannya yang kaku seperti itu membuatku sesak napas saat bersamanya!"Keluh Ellen.
"Haha, Nona ada-ada saja. Saya hanya bisa mengucapkan selamat kepada Anda dan Yang mulia Raja karena sudah bertunangan."Ucap Maya.
Ellen tidak merespon. Dia diam karena tiba-tiba dia kepikiran saat Aldrich mendekat ke arahnya dan mengajarinya cara memanah. Dia menggelengkan kepalanya berusaha membuang pikiran itu.
Argh, apa yang kupikirkan sih??
"Anda baik-baik saja Nona?"Tanya Maya melihat reaksi Ellen yang lebih aneh dari biasanya.
"Iya, aku baik-baik saja kok! Sekarang aku mau mandi!"Ucap Ellen beranjak dari duduknya dan mulai berjalan ke arah kamar mandi.
Maya pun mengikuti Nonanya karena biasanya dia membantu Ellen.
"Maya, bisakah kali ini kau tidak menemaniku ke dalam kamar mandi? Aku ingin sendirian sekarang."Ucap Ellen.
Maya segera menghentikan langkahnya dan dia begitu bingung.
"Kenapa Nona?"
"Tidak apa-apa. Jangan khawatirkan aku. Lebih baik kau siapkan baju tidurku."
"Oh, baik Nona. Jika Anda membutuhkan saya, panggil saya ya Nona? Saya tidak akan pergi dari kamar ini sampai Nona selesai."Ucap Maya lagi.
Ellen hanya mengangguk kemudian berjalan masuk ke kamar mandi. Dia merendamkan dirinya di dalam bak air hangat untuk merenung.
Apa yang harus kulakukan? Tadinya aku berniat untuk tidak mencintai pria itu sesuai novel. Aku tidak mau berakhir tragis seperti si tokoh utama...
Sementara di istana, Sang Raja mulai menyiapkan segala sesuatu yang diperlukannya untuk berangkat sebelum subuh. Dia sendiri belum bisa melepaskan pikirannya dari gadis itu.
Sebenarnya apa yang aku pikirkan? Kenapa aku tadi membantu mengajari wanita itu segala? Haah, sepertinya aku agak stress akhir-akhir ini.
Aldrich bahkan juga berusaha membuang pikirannya dari gadis itu. Mereka berdua sama-sama tidak mau mengakui atau bahkan tidak paham akan perasaan mereka sendiri.
Sementara Erick dan Maya, mereka malah sudah mulai menyadari akan perasaan mereka. Erick tidak berhenti tersenyum saat memikirkan Maya yang tersenyum manis kearahnya begitu juga dengan Maya.
Yohannes di istana merenungkan dirinya karena sudah mendapat kabar bahwa Ellen sudah bertunangan. Carol akhir-akhir ini suka melampiaskan amarahnya kepada pelayan-pelayannya. Entah apa yang terjadi pada gadis itu.
Dan Viona, rasa bencinya kemungkinan semakin besar terhadap segala sesuatu yang dia hadapi. Bahkan dia sangat benci dengan ibunya yang selalu menyiksanya. Belum lagi, dia akan menikah dengan seorang Raja yang tidak dicintainya sama sekali.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
Rx one 01
semangat yh thor
2022-02-02
0
amanda
kaisarnya mana ?😕
2022-01-28
1
pyaoliang
yg jadi raja banyak bgt
2021-11-28
1