Di ruang makan, Ellen di sajikan makanan pembuka yang sungguh menggiurkan. Semuanya lengkap tetapi jenis makanannya tentu berbeda dengan jaman modern. Tetapi tetap saja itu membuat Ellen tidak sabar untuk memakan makanan lezat itu.
Wah makanannya banyak sekali! Aku bisa makan apa saja disini? Tidak-tidak! Seorang gadis bangsawan bukannya harus menjaga etikanya? Iya, aku harus sabar dan bersikap layaknya Nona bangsawan!
Ellen berusaha bersikap dengan elegan. Setahu dia di novel, si pemeran utama sangat mengutamakan etikanya apalagi saat makan. Meskipun tidak se elegan kedua orang tuanya yang kini juga tengah makan, tapi dia sudah mencoba usaha terbaiknya.
Eh siapa anak itu? Aku belum pernah melihatnya.
Ellen melihat ada sosok gadis kecil seusianya yang tengah ikut makan juga. Dia tidak mengenali gadis itu. Tapi yang terpenting, gadis kecil itu makannya sangat elegan. Ellen jadi takjub melihatnya. Gadis kecil yang merasa diperhatikan oleh Ellen tersenyum bangga. Ellen menyadari kesombongan gadis kecil itu. Dia pun membuang wajahnya malas dan memilih fokus pada makanannya.
Cih, segitu saja sudah sombong.
Sesudah makan, Nyonya Ziane memanggil Ellen untuk memperkenalkan gadis kecil tadi kepada Ellen.
"Ellen, perkenalkan ini namanya Viona. Dia adalah anak teman ibu yang bernama Nyonya Helen Zion . Dia seusia denganmu."Kata Nyonya Ziane.
"Salam Nona Ellen. Perkenalkan, nama saya Viona Zion. Senang bertemu dengan anda."Ucap Viona sambil memegang roknya dengan elegan.
Ellen meskipun kurang suka padanya memilih sabar dan mengikuti gerakan si Viona. "Salam Nona Viona. Senang bertemu dengan anda juga."
Jadi dia bocah yang akan menjadi salah satu wanita jahat itu? Hehe, akhirnya kita ketemu disini ya.
Ternyata Ellen mengenali nama Viona. Gadis itu digambarkan salah satu wanita jahat yang suka menganiyaya si pemeran utama. Ellen diam-diam memerhatikan dengan tatapan rendah kepada Viona dan Viona menyadarinya. Di saat itu juga sepertinya mereka bakal jadi musuh.
"Kalau begitu bersenang-senanglah kalian ya. Ibu ada urusan yang harus diselesaikan."Kata Nyonya Ziane kepada kedua gadis kecil itu. Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Hei, kenapa tadi anda melihat saya dengan tatapan seperti itu? Apa anda punya masalah dengan saya?"Tanya Viona kesal.
Hah, sifat aslinya ternyata sudah keluar!
"Tidak ada kok. Mana ada saya menatap anda begitu? Perasaan anda saja mungkin."Jawab Ellen sambil tersenyum.
Viona tidak puas dengan jawaban Ellen. Dia jadi tambah kesal karena Ellen mulai bersikap menyebalkan. Ellen kemudian berjalan meninggalkannya.
"Anda mau pergi kemana?"Tanya Viona.
"Saya mau ke taman. Anda mau ikut?"
"Ke Taman? Dengan cuaca sepanas ini?"Tanya Viona lagi.
"Iya Nona. Saya sudah lama tidak ke taman. Jadi saya ingin pergi kesana untuk melihatnya."
"Begitu ya? Oh ya, Anda kan sudah tidak sadarkan diri selama seminggu."Ucapan Viona mulai membuat Ellen kesal.
"Jadi anda mau ikut apa tidak? Kalau tidak ya tidak apa-apa."
"Oke oke baiklah, saya ikut. Ibu saya dan ibu anda pasti akan banyak bertanya jika kita tidak melakukan apa yang mereka suruh."
Ellen berusaha tetap sabar. Dia berusaha bersikap elegan dan berjalan tegak menuju taman.
Setelah kedua gadis itu sampai ke taman, Ellen sangat senang karena dia melihat pemandangan yang begitu menyejukkan matanya. Berbagai jenis bunga tertata dengan sangat indah. Tidak dengan Viona yang sedari tadi mulutnya tidak bisa diam karena mengeluh.
Cantik sekali! Taman ini seperti surga bagiku...
"Nona Ellen, Anda tidak kepanasan dengan cuacanya? Saya sangat takut jika kulit saya akan rusak gara-gara ini."Kata Viona.
Siapa suruh kau ikut denganku. Masih bocah saja sudah seperti tante-tante!
Ellen mendekati beberapa bunga yang tumbuh di semak-semak. Tiba-tiba ada cahaya redup yang menutupi kepala Ellen. Ellen mendongak dan ternyata pelayannya si Maya sedang memayunginya.
"Maya?" Ellen merasa kaget dengan Maya yang sedang memegang payung untuknya.
"Cuacanya sangat panas Nona. Jika Nona tidak menjaga kulit anda, nanti bisa terbakar."Jawab Maya.
"Oh ya....terima kasih."Jawab Ellen pelan.
Ellen kemudian melihat Viona yang sudah tidak bersamanya. Dan ternyata gadis kecil itu sedang duduk di gazebo untuk berteduh.
Heh, dasar Viona. Jalan-jalan beberapa detik saja sudah tidak tahan.
"Akh!!"
Tiba-tiba ada tangan yang mengangkat tubuh Ellen dan Ellen begitu syok.
"Adikku!"Suara hangat seorang remaja lelaki yang mirip dengan Ellen menggendong Ellen seperti boneka. Ellen tercengang karena dia tadinya sempat tidak mengenali remaja lelaki ini.
Siapa lagi ini? Apa dia kakak laki-laki si pemilik tubuh ini?
"Ellen, kau sudah sadar?"Tanya seorang remaja lelaki yang merupakan kakak laki-laki si pemeran utama. Namanya adalah Federick, biasa dipanggil Erick. Dia begitu girang saat mengetahui adiknya sudah bangun dari tidur lamanya.
"Nona muda sudah bangun sejak tadi pagi Tuan Muda."Maya yang menjawab.
"Oh syukurlah! Hehe, Ellenku sudah bangun!"Erick memutar badannya dan Ellen terbawa arus olehnya. Maya masih merasa sedikit khawatir siapa tahu tubuh Ellen masih rapuh.
"Tu-turunkan aku!"Teriak Ellen panik.
Erick terkejut dengan sikap Ellen yang minta turun. Erick akhirnya menurunkan Ellen. Dari ekspresinya dia merasa heran dengan perubahan Ellen.
"Ellen? Kau tidak mau digendong? Bukankah biasanya kau paling suka digendong olehku?"Tanya Erick.
Ellen terdiam. Maya merasa kasihan kepada Ellen barangkali badannya masih rapuh.
"Nona masih belum begitu sembuh Tuan Muda, Nona baru bangun pagi tadi."Kata Maya.
"Oh...maafkan aku Ellen. Pasti terasa sakit ya, maaf aku tidak kepikiran kesitu."Ucap Tuan Muda sedih.
"Ng-nggak apa-apa Kak. Aku hanya kaget tadi."Ucap Ellen terbata-bata.
"Ya sudah tak apa. Kalau begitu kakak harus kembali. Maya, tolong jaga baik-baik adikku."Ucap Erick sambil mengelus kepala Ellen.
"Baik Tuan."Jawab Maya.
Ellen hanya mengangguk dan Erick pun berlalu pergi.
Ellen memerhatikan bahwa Maya sepertinya menyukai kakaknya. Terlihat dari wajahnya yang tersipu dan bibirnya yang tidak bisa disembunyikan senyumnya.
"Maya, bisakah kau antarkan aku ke kamarku?"
"T-tentu Nona. Tapi bagaimana dengan Nona Viona?" Tanya Maya karena Viona masih duduk disana.
"Biarkan saja dia. Jika dia ada keperluan denganku, panggil saja aku."Ucap Ellen malas.
"Baik Nona, kalau begitu ayo."Maya pun mengantar Ellen sambil memegang tangannya. Meskipun Ellen sedikit berubah sikapnya akhir-akhir ini, tapi itu malah lebih bagus buat Maya. Ellen berubah menjadi sosok yang terlihat lebih hangat.
Sedangkan di ruang kerja Tuan Duke, Erick mendatangi ayahnya yang sedang menulis laporan.
"Ayah!"Panggil Erick.
"Erick? Kau sudah pulang dari latihan?"Balas Tuan Marcus.
"Iya ayah. Ellen ternyata sudah bangun dari siumannya."Ucap Erick.
"Oh, kau sudah lihat adikmu?"
Erick mengangguk. "Tapi...dia sepertinya agak berubah."
"Berubah? Apa maksudmu?" Tanya Tuan Duke heran.
"Dia seperti bukan Ellen. Saat aku menggendongnya tadi dia langsung minta diturunkan. Biasanya dia bakal berteriak memanggil namaku."Kata Erick.
"Hah, dasar kau ini. Dia itu kan baru sembuh dari sakitnya. Mungkin dirinya masih belum begitu normal."Ucap Tuan Marcus yang membuat Erick terkejut.
"Maksud ayah?"
"Nanti juga kau tahu sendiri."
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
Erlina Ibrik
Ellen sudah bangun dari pingsannya*
2024-10-24
0
puji Astutik
mampir
2022-07-05
1
Oi Min
Bangun dri siumannya itu kek gmn y tor??
2022-03-10
1