Ellen mengikuti ajaran ibunya yang terkenal sadis saat mengajar. Meskipun harus melalui rasa sakit, Ellen pantang menyerah dan tidak mudah menangis. Dia bahkan harus makan sedikit saja supaya badannya tetap langsing dan cantik. Mulai belajar menghias diri yang sebelumnya belum pernah dilakukannya. Memakai gaun yang berat dan ketat, juga sepatu hak yang tinggi hingga kakinya terasa sakit.
Dia mempelajari pendidikan itu selama tiga tahun dan sudah mulai ada perkembangan besar pada Ellen. Ellen termasuk seorang gadis yang mudah memahami dan mengingat walau terkadang dia sulit ketika mempraktekkannya.
"Ibu, usiaku sudah 9 tahun. Jadi apakah sudah waktunya aku boleh belajar pedang?" Tanya Ellen yang masih belum melupakan keinginannya.
"Kenapa kamu bersikeras sekali ikut latihan pedang? Apakah penderitaanmu belajar menjadi seorang Nona bangsawan masih belum cukup?"Tanya Duchess yang tahu keadaan tubuh Ellen yang sudah berubah drastis.
Ellen berubah menjadi seorang Lady yang lebih kurus dari sebelumnya. Wajahnya terlihat kelelahan dan pucat. Tidak lupa dengan kakinya yang kecil juga lecet akibat sepatu hak.
"Bukan begitu ibu. Aku benar-benar ingin belajar latihan pedang. Aku tidak peduli dengan rasa sakitnya. Aku hanya tidak mau menjadi wanita yang lemah."
"Haish, baiklah terserah kamu saja. Kamu boleh mengikuti latihan pedang dan ibu memberimu waktu istirahat untuk tidak belajar dulu. Tapi jangan pernah lupakan tentang pelajaran yang ibu ajari kepadamu."Ucap Nyonya Ziane memperingati.
"Tentu saja ibu, aku tidak akan lupa. Terima kasih sudah mengizinkan aku ibu."Balas Ellen sambil mengangkat roknya memberi salam.
Ellen segera mendatangi Tuan Marcus yang berada di ruang kerjanya diikuti oleh Maya yang mulai sekarang adalah pelayan pribadi Ellen.
"Ayah! Aku ingin latihan pedang mulai sekarang!"Ucap Ellen yang membuat Tuan Marcus terkejut.
"Ah...jadi sudah waktunya ya? Baiklah, tunggu sebentar."Ucap Tuan Marcus lalu membereskan pekerjaannya.
Setelah selesai, Tuan Marcus memakai jasnya untuk bersiap-siap. "Ayo, kita pergi menemui gurumu."
"Baik Ayah." Mereka bertiga pun pergi menuju tempat pelatihan pedang. Sesampai disana, Ellen melihat banyak prajurit yang sedang berlatih dengan keras. Mereka memakai pakaian besi sebagai perisai agar tidak mudah terluka.
"Dimana Kak Erick Ayah?" Tanya Ellen yang tidak melihat kakaknya.
"Kakakmu sedang memiliki tugas yang harus diselesaikannya. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang."Jawab Tuan Duke.
"Tugas? Tugas apa?"Tanya Ellen penasaran.
"Itu...dia kan sudah mau 16 tahun, jadi dia sudah bisa memenuhi kewajibannya yang sebentar lagi akan jadi penerus ayah."
"Jadi di usia itu sudah boleh menggantikan posisi ayah?"
"Tidak secepat itu. Banyak proses yang harus dilalui. Dia baru resmi menjadi Duke saat usianya 20 tahun."
Ellen hanya mengangguk paham. Pada akhirnya mereka bertemu dengan seorang guru yang memakai pakaian besi menutupi seluruh badannya. Ellen juga melihat sebelah mata pria itu tergores bekas luka. Perawakannya tinggi dan kekar. Wajahnya terlihat kejam dan dingin. Ellen sempat menelan salivanya merasa sedikit takut.
Kurasa latihan disini akan jauh lebih mengenaskan daripada belajar bersama ibu.
"Halo Edward. Nah, Ellen. Ini namanya adalah Edward. Dia yang akan membimbingmu mulai sekarang. Kau bisa memanggilnya Edward saja."Sapa Tuan Marcus ramah.
"Salam Tuan Duke."Sapa Edward sopan.
"Aku kemari karena putriku ingin belajar pedang. Bisakah kamu mengajarinya?"
Edward melihat ke arah Ellen dan dia mengamati sampai keseluruhannya. Selain wajah Ellen yang terlihat lembut dan polos, dia juga merasa seperti tidak yakin karena tubuh Ellen yang kurus dan kecil. Kakinya bahkan baru diperban.
"Nona, anda baru belajar bersama Nyonya Ziane ya?"Tanya Edward yang sudah mengetahui asal luka pada Ellen.
"Ah...iya. Tapi, aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Aku sangat ingin belajar pedang. Bolehkah aku mengikuti latihannya?"Tanya Ellen berharap.
"Nona yakin dengan keputusan anda ini?"Tanya Edward memastikan.
Ellen mengangguk dengan yakin. Edward langsung bisa membaca bahwa Ellen memiliki keinginan yang sangat kuat. Seolah seperti dia harus melakukannya karena ada pemicunya.
"Baiklah, jika begitu keinginan Nona. Tapi jangan berharap Nona bisa menangis disini."Ucap Edward.
"Aku berjanji tidak akan menangis."
Tuan Marcus memerhatikan putrinya yang berbeda jauh dengan sifat istrinya, putranya dan bahkan dirinya sendiri. Gadis itu benar-benar sudah dimiliki jiwa orang lain. Padahal dia tahu, gadis satu-satunya itu memiliki tubuh yang rapuh.
"Baiklah Nak, belajar yang baik. Ayah akan tetap mengawasimu. Kakakmu juga akan membantumu."Ucap Tuan Marcus sambil mengelus kepada Ellen.
Ellen hanya mengangguk. Tuan Marcus kemudian pergi meninggalkan Ellen dan Maya bersama di tempat itu bersama Edward.
"Jadi sudah bisa dimulai sekarang, Nona?" Tanya Edward.
"Iya, aku sudah siap."
"Sekarang gantilah pakaian anda. Kamu pelayan, bantu Nona untuk memakaikan bajunya."Ucap Edward kepada Maya.
"Baik Tuan."
Di ruang ganti, Maya membantu Ellen membuka seluruh pakaian menyesakkan itu. Tapi tidak selega yang dipikirkan Ellen, dia harus memakai pakaian besi yang lumayan cukup berat di tubuhnya yang kecil itu.
"Anda baik-baik saja Nona? Bagaimana dengan luka yang ada di tubuh anda?"Tanya Maya khawatir.
"Aku bisa Maya. Tidak apa-apa. Aku sudah siap. Ayo kita kembali kesana."Jawab Ellen.
Maya hanya mengangguk dan mengantar Ellen ke tempat pelatihan. Disana Edward sudah berdiri di tempat sambil membawa dua pedang yang panjang dan amat tajam. Ellen juga bepikir pedang itu pasti berat sekali.
Edward segera menyerahkan salah satu pedang yang dibawanya kepada Ellen. Ellen sedikit kesulitan mengangkatnya tapi dia berusaha menyeimbanginya.
Boleh juga gadis ini...
Edward sempat kagum dengan Nona mudanya yang sudah bisa memegang pedang dengan benar.
Edward pun mulai mengajari Ellen perlahan agar Ellen cepat paham. Selama berbulan-bulan Ellen belajar bersama Edward dan tubuhnya yang sudah sedikit kuat meskipun penuh goresan luka tersayat pedang.
Tidak terasa sudah 7 tahun terlewati, kini Ellen tumbuh menjadi gadis remaja yang anggun juga tangguh. Kakaknya juga sudah diangkat menjadi Duke menggantikan posisi ayahnya yang sudah tua. Kini usia gadis itu sudah 17 tahun dan Nyonya Duchess sudah menentukan jodoh Ellen.
Ellen sudah ahli menggunakan pedang dan dia merasa bangga. Dia juga tidak mudah dibully ataupun dikucilkan. Tidak ada yang berani kepada Ellen dan mereka semua menghormati Ellen. Bahkan Viona sendiri juga takut padanya.
Sebentar lagi ibu akan menjodohkanku. kalau bisa ingin sekali aku menghindari perjodohan ini. Tapi aku tidak bisa, apalagi jika harus kabur. Apa ibu dan Ayah tidak tahu jika raja yang akan dinikahkan bersamaku adalah seorang raja bengis yang tidak punya perasaan?
Raja Aldrich dari kerajaan Valkryrie, adalah seorang raja yang digambarkan raja bengis paling kejam di seluruh dunia. Dia baru menjabat sebagai raja selama 2 tahun, tapi dia sudah bisa memimpin negaranya menjadi sangat makmur. Usianya juga masih muda. Ada alasan dibalik dia menjadi kejam seperti itu. Tapi tidak ada yang tahu karena Aldrich menutup rapat soal kehidupan pribadinya dan dia tidak akan segan-segan membunuh orang yang mengetahui masalah pribadinya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
Erlina Ibrik
Kerajaan Valkrayri...kyknya gitu bacanya🤔
2024-10-24
0
puji Astutik
bener sangat susah nyebutnya
2022-07-05
0
Hnxy 07
kurang meyakinkan yah
2022-04-03
0