Hari ini adalah hari dimana bertambahnya usia Ellen yang ke 18 tahun. Ibunya kali ini mengundang lebih banyak tamu karena minggu depan putrinya akan bertunangan. Bahkan pestanya saja lebih meriah daripada tahun yang biasanya.
Namun Ellen tidak merasa senang sama sekali. Dia agak sedih karena tidak ada yang bisa mendengarkan isi hatinya.
Hari ini Ellen tentu saja didandan sangat cantik. Semua orang yang memandang Ellen terpesona. Dirinya seperti Dewi yang turun dari surga dengan balutan gaun berwarna merah muda. Tapi tidak semuanya memuji. Ada juga yang membicarakannya diam-diam karena merasa iri.
"Putriku sangat cantik. Selamat ulang tahun Ellen."Ucap Tuan Marcus kepada putrinya.
"Terima kasih ayah."Balas Ellen kali ini dengan senyuman tulus.
"Nona Ellen, selamat ulang tahun. Anda sangat cantik hari ini Nona."Sambut Yohannes yang juga menghadiri pesta.
"Pangeran Yohannes? Anda juga datang?"Tanya Ellen terkejut.
"Tentu saja saya datang Nona. Anda sudah datang ke pesta ulang tahun saya. Saat ini sayalah yang gantian menghadiri pesta Anda."Ucap Yohannes tersenyum cerah sambil memberikan sekotak hadiah kepada Ellen.
"Eh? t-terima kasih Pangeran. Anda tidak perlu repot-repot memberikan saya hadiah."Ucap Ellen merasa segan.
"Tidak apa-apa. Lagipula...Anda juga sebentar lagi akan bertunangan. Anggaplah hadiah ini sebagai kenangan dari saya."Jawab Yohannes dengan raut agak sedih. Ellen bisa melihatnya dan dia juga jadi merasa sedih.
Jika aku bisa menolak pertunangan dengan Raja, mungkin aku memilih menikah dengan Pangeran yang lembut seperti dia.
"Halo Nona Ellen. Pesta anda sungguh meriah ya."Ucap Viona yang ikut menghadiri pesta.
"Oh, Anda disini Nona Viona? Bagaimana kabar Anda? Sepertinya sudah lama kita tidak bertemu."Ucap Ellen yang sebenarnya malas menanggapi si Viona.
"Saya terpaksa kemari karena perintah ibu. Dan Kita tidak sedekat itu, tahu. Ngomong-ngomong pesta anda agak norak ya. Dan asal anda tahu, bukan anda saja yang akan bertunangan, tetapi saya juga!"Ucap Viona.
Norak katanya?!
"Saya merasa sangat terhormat Anda sudah mau datang ke pesta saya ini. Maaf jika pestanya tidak sesuai dengan harapan Anda. Dan saya tidak peduli jika Anda juga bertunangan atau tidaknya."Ucap Ellen.
"Berani sekali anda!"Ucap Viona kesal.
"Kan memang benar karena itu bukan urusan saya."Ucap Ellen lagi.
"Lalu, dimana sang Raja? Kenapa beliau tidak ikut menghadiri pesta anda ini? Apa beliau tidak mau datang karena pesta anda norak?"
Deg, Ellen seketika mengepal tangannya menahan emosi. Ingin sekali rasanya dia meninju wajah Viona yang menyebalkan itu. Tapi tidak mungkin dia melakukannya di depan banyak orang.
"Lalu, tunangan Anda sendiri dimana Nona? Bukankah katanya dia akan menemani anda ke pesta?"Tanya Ellen balik.
"Tu-tunanganku katanya ada sedikit urusan jadi dia tidak bisa datang. Lagipula buat apa dia datang ke pesta anda yang tidak penting ini?"Jawab Viona masih belum mau kalah.
"Oh begitu. Yah, benar juga sih. Lebih baik begitu daripada harus menambah orang yang juga tidak penting disini."
"Kau!"Viona tetap akan kalah jika beradu mulut dengan Ellen yang sekarang.
"Viona! Apa-apaan sikapmu itu?!"Teriak seorang wanita paruh baya yang seumuran dengan Nyonya Ziane. Viona langsung pucat saat mendengar suara mengerikan itu.
"Jadi kau dibelakang ibu seperti ini? Kau beraninya mempermalukan ibu hah?!"Ucap wanita paruh baya yang bernama Nyonya Helen.
"A-ampun bu...Aku...aku tidak bermaksud begitu..."Viona langsung bergetar. Kedua anak ibu itu jadi sorotan penonton yang ada disana.
Plak! Nyonya Helen menampar pipi Viona sangat kuat sampai Viona sendiri merasa begitu syok. Dia memang sudah sering ditampar, tapi dia tidak pernah ditampar semenyakitkan ini.
Ellen yang tadinya merasa puas melihat Viona yang ketakutan menjadi kasihan. Dia tahu jika Viona mengalami aturan hidup yang sama sepertinya.
"Kau sebaiknya pulang sekarang! Jangan berharap kau bisa keluar dari kamarmu selangkah pun!"Seru Nyonya Helen. Dengan cepat Viona bergegas pergi meninggalkan pesta tanpa berkata apapun.
"Nona Ellen, maafkan sikap putri saya yang sudah tidak sopan kepada Anda."Nyonya Helen memohon maaf sambil menyembah.
"Tak apa Nyonya Helen. Saya tidak mempermasalahkannya. Saya harap Anda tidak terlalu kejam kepada Nona Viona."Ucap Ellen.
"Ba-baik Nona, terima kasih atas kemurahan hati Anda."
Sepanjang pesta, Ellen benar-benar merasa bosan dan gelisah. Dia benar-benar tidak bisa menikmati pesta ulang tahunnya yang seharusnya membahagiakan.
Sementara orang-orang pada sibuk berbisik dan menanyakan dimana sang Raja yang seharusnya datang.
Aku sungguh tidak berharap pria itu datang kesini. Aku juga tidak peduli dengan pertanyaan orang-orang yang selalu saja mau tahu kehidupan pribadiku!
Dan kenyataannya sampai larut malam pesta itu berakhir. Sang Raja juga tidak menunjukkan batang hidungnya. Ellen yang sebenarnya tidak berharap entah kenapa jadi merasa agak sedih.
Dia masih mengingat Aldrich yang datang tiba-tiba ke kastilnya tanpa kabar dan juga hari ini tidak datang tanpa kabar apapun juga. Dia hampir berpikir bahwa Sang Raja benar-benar berubah tapi nyatanya tidak.
Ellen pergi ke kamarnya dan dia terkejut melihat tumpukan hadiah yang sudah menggunung.
Yah, setidaknya aku dapat rezeki yang banyak hari ini.
Baru saja Ellen ingin membuka salah satu hadiah yang ada disana, dia teringat sebuah kotak hadiah yang diberikan Yohannes.
Oh iya, aku kan tadi dapat hadiah dari Pangeran Yohannes!
Ellen langsung mencari kotak hadiah dari Yohannes yang sudah dia letakkan di suatu tempat.
Nah, ini dia!
Dengan cepat Ellen membuka hadiahnya dan matanya seketika berbinar melihat kalung dengan batu permata berwarna biru sama seperti warna matanya.
Indah sekali...! Pangeran tahu saja apa yang kusukai.
Ellen dengan hati berdebar memasang kalung itu di lehernya. Dia begitu cantik memakainya saat menatap di cermin. Dia tidak bosan memandang kalung permata biru safir itu.
Tok, tok, tok, "Nona, ini saya Maya. Apakah saya boleh masuk?"Tanya Maya dari luar.
"Oh, iya silahkan masuk Maya."Sahut Ellen dan dia melepaskan kalung itu memasukkannya di tempatnya kembali.
"Nona, maaf saya menganggu. Ada hal yang ingin saya tanyakan."Kata Maya dengan raut agak sedih.
Ellen langsung berfirasat buruk. Sepertinya Maya sudah mengetahui sesuatu.
"Apa itu Maya? Tanyakan saja."
"Saya tadi tidak sengaja melihat Tuan Duke bersama Nona Carol. Mereka...sepertinya terlihat begitu dekat? Apakah...mereka-"
"Tidak! Kakakku tidak berpacaran dengan wanita itu! Kamu jangan khawatir Maya. Be-besok kata Kakakku dia mau menemuimu."Ucap Ellen panik.
"Apa? Nona yang benar? Tapi...buat apa Tuan Duke ingin menemui saya?"Tanya Maya terkejut.
"A-aku juga tidak tahu? Tapi temuilah dia besok di taman. Dia malu menyampaikannya padamu, jadi...dia titip padaku. Sekarang kamu pergilah, aku agak lelah hari ini, dah, selamat malam!"Ucap Ellen sambil mendorong Maya keluar.
"Ta-tapi...Nona...!"Maya heran melihat sikap Nonanya yang aneh.
Ellen langsung menutup pintu dengan rapat. Setelah beberapa saat, dia mengintip Maya yang sudah pergi. Dengan cepat dia berlari kecil menuju kamar kakaknya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
Murni Murniati
ini karakter nya kaku semua ya, kok tak, org tua pd ketat smua peraturanya
2024-10-18
0
Nani Lestari
Kurang suka dengan karakter Ellen.
2022-06-22
2
ciplut
ellen ni kom y maksa, dah gtu kasih hrpan sm maya
2021-12-14
2