Di kediaman kastil Perron, Ellen sedang berusaha mencari sesuatu sebagai petunjuk. Di dalam novel tidak ada dijelaskan dengan rinci soal kehidupan sang tokoh utama. Bahkan siapa saja keluarga dari tokoh utama Ellen tidak tahu sama sekali.
Untung saja yang berada di ruangan saat ini hanya Ellen. Jika Maya juga ada di ruangan itu, dia pasti akan sangat curiga dengan sikapnya.
Kenapa novel yang kutemukan itu menyebalkan sekali sih! Kenapa juga aku harus benar-benar masuk ke dalam novelnya?!
Ellen masih grasak-grusuk mencari sebuah dokumen atau buku yang setidaknya dapat membantunya untuk menjalani hidup sebagai tokoh utama. Dan akhirnya setelah pembongkaran terakhir dia berhasil menemukan buku diary si tokoh utama.
Tanpa menunggu waktu, Ellen langsung membuka buku itu untuk membacanya.
"Aku sangat sayang pada ayah ibu dan kakak Erick~"
Hmm, jadi kakak tadi namanya Erick.
"Kastil Perron adalah kebanggaanku~"
Iya, aku tahu kalau ini Kastil Perron.
"Duke Marcus dan Duchess Ziane adalah kedua orang tua yang paling aku cintai~"
Ah sekarang aku jadi tahu nama orang tuaku sendiri.
Ellen terus membaca setiap tulisan yang ada pada setiap halaman. Kebanyakan hanya tulisan tidak penting dan gambar-gambar tidak jelas.
Tok, tok, tok. Seseorang mengetuk pintu dari luar yang mengejutkan Ellen. "Nona, Nona Viona memanggil anda."Kata Maya.
"Iya sebentar! Suruh dia untuk menungguku sebentar."Jawab Ellen lalu dia segera membereskan barang-barang yang telah dia bongkar tadi.
Astaga, aku tidak sadar membongkar semuanya sampai seberantakan ini.
Ellen akhirnya membereskan barang-barang yang ada di ruangan itu. Dia membereskannya sesuai tempatnya. Salah satu kelebihan spesial yang ada pada diri Jane ialah mudah mengingat. Jadi dia tidak ragu saat mengembalikan barang-barang itu ke tempatnya semula.
Ellen pun keluar dan melihat Maya yang masih setia berdiri di samping pintu kamarnya.
"Maya, kenapa dia memanggilku?"Tanya Ellen.
"Saya...tidak tahu Nona. Mungkin Nona Viona sedang bosan?"Jawab Maya yang juga tidak tahu.
Hmm, bocah itu mau apalagi sih?
"Dimana dia sekarang?"
"Nona Viona kali ini sedang di ruang tamu Nona."Jawab Maya.
"Kalau begitu antarkan aku kesana."Ucap Ellen.
"Baik Nona."
Setelah sampai di ruang tamu, Ellen bisa melihat Viona yang sedang duduk manis sambil minum teh dengan sikap elegan.
"Akhirnya anda datang juga Nona Ellen."Ucap Viona menyadari kedatangan Ellen.
"Kenapa kau...ah maksud saya, kenapa anda memanggil saya?"
"Anda bilang kenapa? Apa otak anda yang kecil itu sudah sedikit menurun gara-gara kelamaan tidak sadarkan diri? Anda tidak khawatir dengan ibu saya yang akan mempermalukan anda nantinya?"Jawab Viona sinis.
"Mempermalukan saya? Apa maksud anda?" Ellen mulai heran dan moodnya semakin jelek.
"Hahaha, ternyata Anda memang semakin bodoh! Bukankah tata krama di kediaman kalian yang paling menonjol? Anda tidak ada menemani saya tadi dan malah meninggalkan saya sendirian di taman. Apakah itu yang disebut kesopanan?"Ucap Viona sinis.
Astaga, kenapa aku tidak berpikir kesitu? Seluruh orang yang berada disini pasti mengira aku aneh sekarang. Bahkan Maya dan Kak Erick juga sudah menyadari perubahan sikapku.
Tidak, aku tidak boleh sampai kalah dari anak kecil ini!
"Anda sepertinya sudah salah menilai tentang tata krama di Kastil kami. Kastil kami memang yang paling utama kesopanannya. Maaf tadi saya tidak bisa menemani anda karena saya baru sembuh dari sakit saya, jadi mohon dimaklumi."
"Dan satu hal lagi yang terpenting, coba anda berkaca terlebih dahulu. Sudahkah anda berbicara sopan kepada saya? Saya dengar sejak tadi anda hanya berbicara dengan kurang sopan kepada saya."Balas Ellen.
Viona langsung membungkam. Dia terkejut dengan ucapan yang keluar dari Ellen. Seketika wajahnya langsung pucat karena sepertinya yang bakal terkena masalah adalah dia sendiri bukan Ellen.
"Kau! Beraninya kau berbicara seperti itu padaku!?"Ucap Viona tidak terima.
"Nona Viona, maaf saya lancang. Tetapi tolong jagalah sikap Nona. Saya tidak mau Nona disiksa habis-habisan setelah ini sama Nyonya Duchess."Kata pelayan yang berada di samping Viona. Viona langsung terdiam dan dia beranjak dari sofa dan mulai berjalan mendekat ke arah Ellen. Ellen sedikit terkejut dan mundur perlahan takut jika Viona melakukan sesuatu terhadapnya.
Tapi tak lama Viona mengeluarkan air matanya seperti memohon. "Nona Ellen, saya mohon maaf sebesar-besarnya karena telah bersikap tidak sopan kepada Anda. Saya menyesali perbuatan saya yang tidak seperti Nona bangsawan."
Astaga jadi sekarang dia meminta simpatiku?
"Wah apa ini? Sekarang Anda minta dikasihani?"Ellen semakin merendahkannya.
Cewek ini benar-benar keterlaluan! Gara-gara dia aku harus menjatuhkan harga diriku!
Viona terpaksa memohon sampai tangannya menyembah kepada Ellen agar Ellen mau memaafkannya.
"Nona Ellen, saya sungguh minta maaf. Saya benar-benar takut ibu saya akan menyiksa saya lagi."Kini Viona semakin terisak.
"Baiklah karena anda sampai memohon seperti ini, akan saya maafkan."Ucap Ellen kemudian dia berjalan ke arah sofa untuk duduk.
Viona merasa lega sekaligus heran. Dia pikir Ellen akan pergi meninggalkannya lagi.
"Kenapa melihat saya seperti itu? Anda tidak mau ikut bergabung dengan saya?"Tanya Ellen dan Viona pun segera berjalan untuk duduk di sofa.
Di sela-sela itu Ellen memanfaatkan waktunya untuk bertanya kepada Viona mengenai seputar kehidupan di istana. Meskipun Ellen sebenarnya malas karena Viona masih berbicara dengan gaya angkuhnya.
Dan pada akhirnya mereka sampai pada topik perjodohan. Ellen langsung merasakan jantungnya bergetar hebat karena dia teringat di novel bahwa dia akan dinikahkan oleh Raja bengis yang suka menyiksa tokoh utama.
"Jadi kapan perjodohan itu biasa dilaksanakan?"Tanya Ellen.
"Ibu saya pernah bilang kita akan dijodohkan saat berusia 18 tahun. Itu adalah budaya yang ada di negeri ini."Jawab Viona.
"Oh lalu, apakah wanita boleh berlatih pedang?" Tanya Ellen tiba-tiba mengganti topik yang membuat orang-orang di dekatnya tercengang.
"Berlatih pedang? Saya...kurang tahu soal itu Nona."Jawab Viona.
"Anu...kenapa Nona tiba-tiba membahas latihan pedang?"Tanya Maya yang ikut mendengar ucapan Ellen.
"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin tahu apakah wanita boleh menggunakan pedang."Balas Ellen.
"Itu...boleh, tetapi tidak semua wanita diperbolehkan menggunakan pedang. Kecuali dia memang prajurit yang diutus ke medan perang." Jawab Maya.
"Jadi ada wanita yang menjadi prajurit juga?"Mata Ellen langsung berbinar.
"T-tentu Nona. Tapi tidak banyak."
"Itu sangat keren! Mereka pasti wanita-wanita yang tangguh. Terus apakah aku bisa berlatih pedang juga?" Tanya Ellen berharap.
"Saya...tidak tahu Nona. Jika Tuan Duke mengizinkan mungkin bisa."Jawab Maya.
"Hmm, aku akan bertanya pada ayah kalau begitu."
"Anda kenapa mau berlatih pedang Nona Ellen?" Tanya Viona penasaran.
"Saya mau berlatih pedang itu bukan urusan anda. Saya permisi."Ucap Ellen dan Viona kesal dengan jawaban Ellen.
"Anda serius ingin langsung menemui Tuan Duke?" Tanya Maya.
"Tentu saja. Ayo Maya, antarkan aku kesana."Ucap Ellen terlihat senang.
"B-baik Nona."Maya akhirnya pasrah karena dia tidak mau membuat Ellen sedih.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
💖 sweet love 🌺
kata2nya masih banyak yg harus diperbaiki Thor..
gunakan bahasa formal lebih cocok Krn utk latar belakang kerajaan..
deskripsikan akan gerak tubuh atau situasi sekitar lebih baik utk mendapatkan feel dari cerita..
sehingga pembaca bisa berimajinasi utk cerita tersebut..
maaf sy berkomentar ttg ini di awal cerita..
2024-12-16
0
_cloetffny
Kata penghubung "dengan" lebih cocok daripada kata "oleh"
2023-04-07
1
puji Astutik
biarkanlah,ellena belajar pedang
2022-07-05
0