Ellen teringat penjelasan yang diceritakan oleh Pangeran Yohannes saat acara pesta ulang tahun tadi. Katanya asal usul kutukan itu berasal dari nenek moyang terdahulu karena telah membuat kesalahan fatal. Tidak begitu jelas dan ceritanya sering berubah sebab tidak ada yang menyaksikan kejadian sebenarnya.
Intinya peraturan seluruh dunia kerajaan berubah sepenuhnya di novel yang telah dibuat oleh si penulis. Peraturan tentang perjodohan antara raja dan putri Duke yang diwajibkan bersatu. Sementara putri dari Raja bisa memilih jodohnya sendiri.
Kata Yohannes dari pendapatnya, kutukan itu penyebabnya dari seseorang yang telah melakukan kesalahan fatal. Dan seorang penyihir membuat sebuah peraturan baru yang aneh seperti perjodohan. Jika tidak dilaksanakan akan terkena mala petaka yang mengenaskan.
"Maya, kau pasti pernah dengar kutukan yang diceritakan banyak orang kan?"Tanya Ellen pada Maya yang sedang mengoleskan obat ke pipi Ellen.
"Tentu Nona. Semua orang mengetahui tentang kutukan itu."Jawab Maya.
"Apa kau tahu dimana penyihir itu? Apa dia memang benar-benar ada?"Tanya Ellen.
Maya kaget dengan pertanyaan Ellen. "Tidak ada yang tahu keberadaan sang penyihir Nona. Bahkan tidak ada yang tahu namanya juga. Tapi anehnya orang-orang tetap mempercayainya dan kejadian itu benaran nyata."Ucap Maya.
"Memangnya jika tidak melakukan perjodohan itu, bisa terjadi hal buruk seperti apa?"Tanya Ellen penasaran.
"Hmm, misalnya seperti penyakit dan kemiskinan. Saya dengar seorang putri Duke pernah menolak perjodohan, dan dia langsung mendapatkan penyakit seperti kaki lumpuh."Ucap Maya.
Ellen seketika langsung bergidik ngeri.
"Nona, saya sudah siap mengoleskan obatnya. Sebaiknya Nona istirahat."Ucap Maya.
Ellen memindahkan posisinya berbaring di kasurnya. "Selamat malam Maya."
"Selamat malam Nona."Balas Maya dan segera meninggalkan kamar Ellen.
Beberapa hari sudah terlewati dan Ellen melakukan kegiatannya seperti biasa termasuk mengasah kemampuannya berlatih pedang yang tidak biasa dilakukan Nona bangsawan pada umumnya.
Dan tiba-tiba seseorang berteriak memanggil Ellen yang sedang berlatih di tempat pelatihan bersama gurunya, Edward.
"Nona Ellen! Yang mulia Raja Aldrich datang mengunjungi kastil!"Teriak Stevany panik. Seketika Ellen merasakan jantungnya berdebar. Bukan berdebar karena merasa senang tetapi karena rasa takut yang mulai menyelimuti hawa gadis itu.
Dengan cepat Ellen menjatuhkan pedangnya begitu saja. Dia bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya dan segera datang menuju ruang utama.
"Salam kepada yang mulia Raja."Salam Ellen hormat kepada pria bertubuh tegap dan kekar itu. Rambutnya yang hitam dan lurus, matanya berwarna merah seperti kristal ruby dan terlebih lagi wajahnya sangat tampan paripurna. Ellen sempat menelan salivanya karena dia tidak mengira jika pemeran utama pria yang digambarkan novel jauh lebih sempurna jika dilihat aslinya.
Astaga, jadi aku akan benar-benar menikahi pria menyeramkan ini?!
Aldrich memiliki wajah yang flat dan terlihat dingin hingga membuat semua orang takut untuk memandangnya. Walau begitu para wanita tetap tergila-gila melihat ketampanannya.
"Dimana aku harus duduk?"Tanya Aldrich yang masih berdiri.
"Ah, maaf yang mulia! Mari ikut saya."Ucap Ellen mengajak Aldrich duduk di kursi sofa single. Sementara Ellen tetap berdiri sedikit jauh dari hadapan Aldrich.
"Maaf karena kastil kami kecil Yang mulia. Kami hanya bisa menyediakan kursi kecil itu untuk anda."Ucap Ellen merasa tidak enak karena sang raja duduk di sofa single yang berukuran tidak terlalu besar.
Aldrich hanya diam sampai beberapa menit. Dia memandang Ellen dari keseluruhan. Mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki hingga Ellen tidak tahan dengan tatapan Sang Raja yang sangat mencurigakan.
Duh, kenapa dia terus memandangiku sih? Apa aku sangat cantik sampai dia tidak bisa melepaskan pandangannya dariku?
"Kau habis latihan?"Tanya Aldrich melihat pakaian yang dikenakan Ellen.
"Ah iya...saya tadi habis latihan pedang Yang mulia. Maaf saya memakai pakaian ini di hadapan anda Yang mulia. "Jawab Ellen seketika panik.
Mamp*s! Ibu pasti tidak akan mau memaafkan aku kali ini!
"Kenapa kau berlatih pedang?"Tanya Aldrich.
"Itu...supaya saya tidak lemah Yang mulia."Jawab Ellen.
Sebenarnya untuk membalasmu sih.
Lagi-lagi Raja itu cuma diam sampai menunggu beberapa menit. Pengawal yang di kanan kiri sang Raja cuma diam dan suasana di ruangan itu begitu canggung dan mencekam bagi Ellen.
Aku tidak boleh takut, tidak boleh takut, tidak boleh takut!
Raja itu pun berdiri. "Bawa aku ke tempat latihanmu."Ucap Aldrich meminta Ellen untuk mengantarnya ke tempat pelatihan pedang.
"Ya? Oh baik Yang Mulia. Mari ikuti saya."Ajak Ellen dan mereka segera menuju latihan pedang. Sesampainya, Edward masih berada disana mengajari salah satu pengawal dengan pedangnya.
Edward menghentikan pedangnya karena menyadari kedatangan Ellen bersama sang Raja. "Salam kepada yang Mulia Raja. Senang bertemu dengan anda Yang mulia."
Aldrich hanya mengangguk dan melihat sekitar. Dia melihat beberapa pengawal yang sedang berlatih.
"Sudah berapa lama kau latihan?"Tanya Aldrich kepada Ellen.
"Huh? Saya? Itu...sejak usia 9 tahun Yang mulia."Jawab Ellen.
Terlihat raut wajah Aldrich yang sedikit terkejut mendengar jawaban dari Ellen. Namun dia tetap diam saja meskipun dia sebenarnya penasaran dengan gadis yang sebentar lagi akan jadi istrinya.
Dia sungguh merasa tertarik dengan gadis yang berwajah boneka dihadapannya. Tidak hanya cantik, tetapi sifatnya juga menarik.
Kupikir dia gadis yang polos.
"Aku kemari untuk mempercepat pertunangan kita jadi minggu depan."Ucap Aldrich dan Ellen tercengang mendengar jawaban Aldrich.
"M-minggu depan? Ah...iya, ba-baik Yang mulia. Saya akan mempersiapkan diri."Jawab Ellen dengan hati bergetar.
"Kuharap kau tidak melanggar janjimu."Ucap Aldrich kembali dan itu langsung membuat seluruh tubuh Ellen lemas.
Setelah kunjungan yang sebentar itu, akhirnya Aldrich pamit dan dia bertemu dengan kedua orang tua Ellen yang baru kembali dari perjalanan luar kota mereka. Mereka terlihat begitu terkejut karena Aldrich datang untuk kedua kalinya ke kastil mereka.
"Ellen! Kenapa kau tidak mengabari kami jika Yang mulia Raja mengunjungi kita?!"Suara sang Ibu yang menggelegar mulai memenuhi ruangan. Siapa saja yang berada di ruangan itu kemungkinan telinganya menjadi tuli.
"Ibu tenang dulu...tadinya aku niat memberitahu kalian berdua kok. Tapi aku jadi lupa dan tidak sempat karena aku harus melayani sang raja."Jawab Ellen jujur.
"Lalu apa saja yang dikatakan Yang mulia Raja?"Tanya Tuan Marcus.
"Tidak banyak. Hanya beberapa patah kata. Tapi dia ada mengatakan bahwa pertunangannya dipercepat jadi minggu depan."Ucap Ellen dan mereka berdua membelalakkan matanya.
Sang ibu terlihat sangat senang sementara Sang ayah terlihat sedih karena dia masih menganggap putrinya anak kecil yang selalu bermanja kepadanya.
"Kenapa jadi dipercepat?"Tanya tuan Marcus.
"Aku tidak tahu. Yang mulia Raja tidak mengatakan alasannya. Dan aku tidak berani bertanya."
"Itu semakin bagus. Gadis ibu sebentar lagi akan menikah. Ibu rasa sepertinya Yang mulia Raja mulai jatuh cinta kepadamu?"Ucap Nyonya Ziane dengan wajah berseri-seri.
Apa...?! Tidak mungkin!
Sementara di Kerajaan Valkyrie, Sang Raja terus kepikiran tentang gadis yang sebentar lagi akan jadi permaisurinya. Dia tidak bisa menghilangkan pikirannya dari bayangan gadis itu.
Padahal sebelumnya dia sangat menentang perjodohon itu karena menurutnya tidak penting.
Ah sialan!
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
Hman Pedang
ehemmmm..sudah mulai tertarik ya
2023-05-20
1
_cloetffny
Kesalahan fatal seperti apa yang dapat mengakibatkan pernikahan kelas atas di atur penyihir?
2023-04-07
0
puji Astutik
kan Ellen cantik dan tidak lemah kanyak kebanyakan wanita,sebut aja cinta pada pandangan pertama
2022-07-05
1