*Hai guys, ceritanya banyak yang sedikit saya ubah supaya ceritanya lebih mudah dipahami. Maaf jika saya masih banyak kekurangan dalam penulisan ceritanya. 🙏
*****
Ellen dan Maya pergi menuju ruang kerja Tuan Marcus. Mereka meninggalkan Viona begitu saja yang masih berada di ruang tamu. Tentu saja Viona merasa sangat kesal karena Ellen sudah keterlaluan menurutnya.
"Dasar cewek sialan! Dia meninggalkanku lagi begitu saja?! Awas kau!"Gumam Viona dan pelayan di sampingnya mendengar.
"Hati-hatilah kalau sedang berbicara Nona. Jangan sampai terdengar orang lain."Ucap Pelayan Viona memperingati.
"Diam! Ayo kita pulang saja. Bilang pada ibuku kalau aku pulang lebih dulu darinya."
"Baik Nona."
Sesampai di ruang kerja Tuan Marcus, Ellen menyapa ayahnya yang masih menulis laporan. Ellen sebenarnya penasaran laporan apa saja yang ditulis ayahnya sebanyak itu.
"Ayah!"
"Ellen? Ada apa sayang?"Tanya Tuan Marcus menoleh dan menghentikan menulisnya.
"Ayah sedang punya banyak pekerjaan ya?"
"Iya sayang. Ini adalah dokumen-dokumen negara. Mau tidak mau ayah harus menyelesaikannya hari ini juga."
"Kalau begitu apa ayah tidak keberatan jika aku menanyakan satu hal kepada ayah?"Tanya Ellen.
"Apa itu?"
"Kudengar dari Maya kalau wanita boleh latihan pedang."Maya terkejut karena Ellen membawa namanya.
"T-tapi tidak semua wanita Nona..."Ucap Maya panik.
Tuan Marcus mengernyitkan alisnya. "Latihan pedang? Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"
"Aku ingin sekali berlatih pedang untuk melindungi diriku. Aku tidak ingin dilihat lemah. Jadi bolehkah aku ikut kak Erick berlatih pedang juga?"Tanya Ellen berharap.
Tuan Duke sangat terkejut dengan permintaan putrinya. Padahal jika dilihat dari penampilannya, gadis kecil itu terlihat polos, anggun dan sangat lembut.
"Kamu yakin mau ikut latihan pedang?"Tanya Tuan Marcus masih tidak percaya.
"Iya! Boleh ya Ayah? Ku mohon!" Ellen sampai memohon.
"Kalau Ayah boleh-boleh saja Ta-"
"Yeeey!! Jadi aku beneran boleh latihan pedang? Kapan aku baru bisa memulainya?"Ellen langsung bersemangat.
"Tunggu dulu sayang, kita tidak tahu jika minta izin pada ibumu. Kamu tahu ibumu itu sangat memperhitungkan semuanya. Dan seorang putri dari keluarga Duke tidak wajib untuk mengikuti latihan pedang. Mereka hanya disuruh untuk bersikap layaknya putri bangsawan dan menuruti peraturan yang ada."Ucap Tuan Marcus menjelaskan.
Ellen langsung murung. Tuan Marcus tidak tega melihatnya. "Nanti ayah akan bilang pada ibumu. Semoga saja dia setuju dengan permintaanmu."Ucap Tuan Marcus jadi pusing.
Ellen kembali ceria. "Terima kasih ayah! Aku harap Ibu mengizinkan. Jika sudah dapat izin dari ibu, aku janji akan berlatih sungguh-sungguh!"Ucap Ellen yakin.
"Ellen, jangan berpikir jika latihan pedang segampang yang kamu kira. Kamu harus punya mental dan fisik yang kuat. Kamu juga tahu kan kalau kamu baru sembuh dari sakitmu?"Ucap Tuan Marcus lagi mengingatkan.
Ellen terdiam sejenak. Tapi hatinya sudah siap untuk menghadapi resikonya. "Tentu saja ayah. Aku tahu kok. Aku akan berusaha!"
"Bagus! Itu baru yang namanya semangat putri ayah."Ucap Tuan Duke sambil mengelus kepala Ellen.
Setelah berbicara kepada Tuan Marcus, Ellen tersenyum lebar sepanjang jalan. Maya sedari tadi memerhatikannya merasa aneh. Tapi disisi lain Maya juga merasa senang.
Aku tidak akan jadi wanita yang lemah nantinya jika aku benar-benar dipaksa menikah dengan Raja bengis itu. Aku tidak takut meskipun dia seorang raja sekalipun!
Ellen tidak melihat sosok Viona lagi di kastilnya. Dia pun merasa lega karena bocah menyebalkan itu tidak akan menganggunya lagi. Saat ini Ellen sedang mengelilingi kamarnya untuk melihat-lihat. Ruangannya sangat luas dan besar. Banyak perabotan dan renda-renda yang terhias.
Kamar ini memang cantik dan besar. Tapi entah kenapa aku lebih menyukai kamar kecilku yang lama.
Ellen merenung sejenak. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Ellen lagi yang membuat Ellen menjadi kesal.
Cih sekarang apa lagi?
"Nona maaf mengganggu, tapi Nyonya Duchess memanggil anda ke ruangannya."Ucap pelayan bernama Stevany.
Ellen terkejut karena ibunya memanggilnya secepat ini. Ellen kemudian keluar dan melihat bukan Maya yang kali ini memanggilnya. "Dimana Maya?"
"Maya sedang ada di dapur Nona. Ayo mari saya antar Nona ke ruang Nyonya."
Ada perasaan takut dan gugup yang menyelimuti pikiran Ellen. Tetapi Ellen tetap berusaha kuat karena saat di dunia sebagai Jane, dia tidak mudah lemah. Setelah sampai di ruangan Duchess. Sang Duchess sedang duduk dengan elegan sambil membaca suatu dokumen di tangannya memakai kaca mata.
Ibu terlihat sangat cantik.
"Ibu...?"Panggil Ellen pelan dan Nyonya Ziane mendengarnya.
"Oh kamu sudah datang? Ayo sini mendekat pada ibu."Ucap ibunya dan meletakkan dokumen yang dibacanya di atas meja.
Ellen berjalan perlahan mendekati ibunya dengan sedikit takut. Walau begitu, Sang ibu tetap menyadarinya. "Kenapa kamu takut seperti itu? Apa kamu pikir ibu akan memakanmu?"
"T-tidak bu."
"Kita langsung saja ke intinya. Kenapa kamu mau ikut latihan pedang?"
"Itu...yah karena aku mau jadi wanita yang kuat."Ucap Ellen.
"Hanya itu?"
Yah sebenarnya sepenuhnya untuk balas dendam sih. Tapi mana mungkin aku bilang begitu.
"Tentu saja ibu! Alasan mana lagi?"Ucap Ellen.
"Hmm, sebenarnya ibu tidak setuju kamu ikut latihan pedang. Itu adalah latihan keras dan tidak cocok untuk gadis kecil sepertimu. Kamu lebih bagus mengikuti ibu sampai kamu menikah dengan raja masa depanmu."Ucap Nyonya Duchess yang membuat Ellen tersentak.
"I-ibu jangan begitu ah! Aku kan masih 6 tahun, masa ibu langsung membahas itu?"Seketika Ellen menjadi panik.
"Hahaha Ellenku memang lucu sekali. Yah, kamu boleh ikut latihan pedang. Tapi tunggu usiamu sampai setidaknya 9 tahun."Ucap Nyonya Duchess yang membuat semangat Ellen menurun.
"Kenapa harus menunggu 3 tahun lagi?"
"Karena kamu harus belajar dulu sayang. Kamu tahu, sebagai nona bangsawan memang berat. Tidak hanya mempelajari banyak hal tetapi harus menaati banyak hal juga."
"Karena hari ini kamu kelihatannya sudah cukup sehat, maka besok kamu harus ikut ibu memulai pendidikanmu."Ucap Nyonya Duchess tersenyum misteri yang membuat bulu kuduk Ellen merinding.
Akh! Pasti pelajaran yang akan membuatku sesak napas! Mengapa hidupku disini sial sekali sih?
"Baik ibu."Ucap Ellen akhirnya menurut.
Ellen kemudian meninggalkan ruang Nyonya Ziane setelah berbincang cukup lama. Topik yang dibicarakan seharian ini bukanlah hidupnya. Dia masih berharap jika dia bisa kembali ke kehidupan lamanya meskipun sama-sama keras karena dia hidup dalam kemiskinan. Tapi dia tidak merasa seperti boneka saat menjadi Jane.
Aku sudah tidak peduli jika aku harus hidup sebagai Jane ataupun Ellen karena sama saja aku harus bertahan hidup dengan keras. Aku harus memanfaatkan waktuku sebaik mungkin dalam 3 tahun ini bersama didikan ibu.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
_cloetffny
*misterius
2023-04-07
0
puji Astutik
sampai sini masih menarik
2022-07-05
0
Maya Bagi
aku oranqx nqak ribet klu suka diterusin klu nqak ditinqqalkan😊
2022-04-09
1