19. PPKM

Terlihat Bastian menyandarkan tubuhnya di dinding yang tidak jauh dari pintu toilet perempuan.

" Kenapa wajahmu pucat ? Mas tidak mungkin meninggalkan kamu di sini "

Bastian menatap Amel yang sedikit pucat dan napas yang ngos- ngos'an karena berjalan setengah berlari.

" Ini, sudah malam, di toilet ada hantu "

Amel segera menarik tangan Bastian untuk segera menjauh.

Bastian melihat petunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangannya, baru menunjukkan pukul delapan malam lewat.

Ada-ada saja, jangan-jangan justru hantunya yang takut pada dia, ntar diajak berantem, dia kan super women, serba bisa.

Bibir Bastian melengkung membentuk senyuman tipis.

" Sekarang kita kemana ? Belum terlalu malam "

Mobil yang Bastian kendarai mulai meninggalkan parkiran Mal.

" Pulang, aku sudah lapar "

" Tidak harus pulang kalau lapar, Mel "

" Tapi enakan pulang, ikan bakar tadi masih ada, sayang uang dan tenaga yang sudah aku keluarkan jika tidak dihabiskan, mubazir "

Bastian menaikkan alis matanya sebelah, iya juga, tadi dia tidak bisa merasakan dengan baik bagaimana rasa ikan bakar buatan Amel gara-gara, Amel yang terus memanggil dirinya Bapak, sehingga Bastian meninggalkan makanan di piringnya tanpa menghabiskan isinya.

Sampai di rumah Amel kembali memanaskan masakan sebentar lalu menghidangkannya di atas meja makan.

" Mel, kamu ingin punya anak cepat atau ditunda terlebih dahulu ? "

Bastian menatap Amel sembari mengunyah makanannya.

Uhuk uhuk uhuk.

Amel tiba-tiba terbatuk-batuk.

Tamu bulanan Amel saja belum pergi, bisa-bisanya Bastian membicarakan tentang anak.

" Mas mau tambah nasi ? "

Amel mencari-cari pengalihan pembicaraan.

" Mel, kamu jangan pura-pura gak dengar ! Mama sudah pengen punya cucu lho "

Amel menghembuskan napas pelan.

" Iya, aku sudah siap kok kalau dikasih cepat "

Amel cepat-cepat menunduk, kalau Anwar dengar ucapan Amel, pasti sudah ditimpuk dengan tulang ikan.

Ngomongnya kemarin apa ketika mau menikah, sekarang pakai malu-malu ngarep, cuih.

Amel nyengir sendiri.

" Kamu kenapa ? Sudah membayangkan malam itu ya ? "

" Apa'an ? Mana ada, nuduh, itu fitnah namanya "

Amel segera membereskan sisa makan malam mereka sebelum ketahuan Bastian jika dirinya memang tengah membayangkan malam romansa itu.

Hanya membayangkannya saja, wajah Amel sudah terasa panas.

" Mel, sini ! "

Bastian menepuk-nepuk tempat disebelahnya, disofa depan TV.

Amel patuh, duduk di sebelah Bastian.

" Tadi di bioskop kan gak jadi, sepertinya lebih enak disini, gak ada yang ganggu "

Sebelah tangan Bastian sudah merengkuh bahu Amel.

" Apanya yang gak jadi ? "

" Ini "

Bastian langsung menyatukan bibir mereka, kedua mata Amel melotot.

Dia jadi teringat adegan yang ada difilm tadi, diingatnya jika saat berciuman kedua mata dipejamkan, Amel mengikutinya.

Anwaaaarrrr.... Berciuman itu ternyata seperti ini, enak Warrr.

Amel menjerit dalam hati, ketika Amel mencoba menggerakkan bibirnya mengikuti gerakan yang Bastian lakukan, terdengar keributan di depan rumah, tepatnya di rumah mbak Nindy.

" Kurang ajar, dasar tua bangka, tidak tahu diri, kau bukan lama berlayar di lautan , tetapi kau berlayar di atas ranjang janda gatel itu "

Suara mbak Nindy melengking dengan melemparkan pas bunga, piring, gelas, sapu dan sekop.

Sontak bibir Bastian dan Amel yang sedang menyatu terlepas dengan terpaksa, keduanya sama-sama berlari menuju pintu depan.

Terlihat pria yang sepertinya memang suaminya mbak Nindy berusaha menenangkan perempuan yang selalu memakai pakai seksi itu.

Malam yang seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk warga perumahan beristirahat, justru keluar rumah ikut mendengarkan drama rumah tangga terbaru dan masih fresh.

" Maaf sayang, Abang khilaf "

Terlihat suaminya mendekati sedikit takut-takut.

" Khilaf itu sekali, bukan seminggu kau berada di rumahnya "

" Itu bohong, dia pasti cuma memanas-manasi dirimu sayang "

Ya ampun Pak, sudah ketahuan selingkuh, masih sempat-sempatnya sok-sok'an berkata mesra.

" Bohong katamu ? Tujuh video yang dikirimkan dengan gaya yang berbeda, kau bilang bohong ? Kau kira aku bodoh, kau sudah loyo tua bangka, setengah permainan saja kau sudah KO, gaya-gaya'an kau selingkuh dengan berbagai... Aaargghhh...."

Mbak Nindy kembali hendak melempar barang lagi, kali ini dia mau mengangkat kursi tetapi tidak kuat, beralih kemeja, enggak kuat juga, akhirnya mbak Nindy melemparkan sandal yang dipakainya.

Warga komplek yang mendengar omelan mbak Nindy bukannya prihatin, tapi justru senyum-senyum geli,

sebahagian menatap iba pada suami mbak Nindy yang tertunduk malu karena menjadi bahan tontonan, yang lebih memalukan lagi, tentu saja ocehan istrinya yang mengumbar kelemahan dirinya di atas ranjang di depan orang banyak.

Bastian menarik tangan Amel untuk masuk kedalam.

" Sudah Mel, ayo masuk ! Seperti itu jangan di tonton, kasihan suami mbak Nindy "

" Tapi masih seru Mas, aku kan pengen denger ocehan mbak Nindy lagi, selain suaminya yang kalah di tengah-tengah permainan, suaminya kalah apa lagi ? "

" Amelia Putri, kenapa membahas yang itu ? Cuma kata-kata itu yang kamu ingat "

Bastian mendengkus, cepat dia mengunci pintu rumah, lalu membawa Amel masuk ke dalam kamar, biar dirinya dan Amel tidak lagi mendengar keributan di depan yang masih terus berlangsung.

" Lucu ya Mas lihat mbak Nindy ngamuk, ternyata seksi dan cantik tidak menjamin seorang suami tetap setia "

Amel merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Bastian ikut berbaring di sebelahnya.

" Mel "

" Hemm "

" Kalau Mas seperti itu, apa yang kamu lakukan ? Apa kamu ngamuk juga seperti mbak Nindy ? "

Bastian iseng bertanya.

Amel menatap langit-langit kamar, mengingat kembali ciuman bibir pertama dalam hidupnya, dan itu dilakukan oleh Bastian suaminya, pria yang pertama sekali membuat Amel jatuh cinta, dan mungkin hingga saat ini.

Jika gadis lain, cinta pertama mereka pada ayahnya, Amel tidak mengalami itu, karena Amel menjadi yatim sebelum orang tuanya benar-, benar meninggal dunia.

" Tidak "

" Berarti kamu tidak cinta sama Mas, dong Mel "

Wajah Bastian suram, padahal itu baru seandainya.

Amel duduk bersila, menatap wajah Bastian, tepatnya ke arah bibirnya. Salah satu anggota tubuh Bastian yang sudah membuat Amel tadi terbang melayang sesaat.

" Aku tidak akan marah Mas, buat apa ? Toh semua sudah terjadi, hanya saja, Mas mungkin tidak akan bisa melihat matahari esok hari setelah aku tahu jika Mas berselingkuh di belakang aku "

Amel menyeringai.

Bastian tergidik ngeri.

" Kamu mau membunuh suami-mu, Mel ? Hanya cuma berselingkuh ? "

Bastian tidak bisa percaya jika Amel bisa sekejam itu.

" Enggaklah "

" Terus, kamu bilang Mas gak akan bisa melihat matahari besok pagi "

" Iya, karena aku akan memasukkan Mas ke dalam septic tank, kan akhirnya PPKM "

" Apa itu ? "

" Pelan-pelan kamu mati "

Amel tergelak.

Bastian jadi gemes, ditariknya tangan Amel dengan kuat sampai Amel jatuh diatas tubuh Bastian.

" Kita lanjutkan yang tadi "

Bastian kembali menyatukan bibir mereka.

...******...

...🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵...

Terpopuler

Comments

bibuk duo nan

bibuk duo nan

hadeuuhhhh mel Amel km gokil banget si gemesinnn, bisa²nya lg ciuman sm paksu inget sama Anwar 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2024-10-09

0

Safitri Agus

Safitri Agus

😂😂😂😂😂😂

2023-09-02

0

Suzieqaisara Nazarudin

Suzieqaisara Nazarudin

PPKM pelan pelan kamu mati... Hadeeehhh..Amel Amel..ngakak aku..🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2022-07-31

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 2. Lamaran
3 3. Aku terima bersih
4 4. Pernikahan
5 5. Kalian menjebak saya ?
6 6. Percuma
7 7. Sudah jinak.
8 8. Mencari Alasan
9 9. Membeli CD
10 10. Jadi siapa yang pantas ?
11 11. Pengen meluk tapi gengsi
12 12. Bastian yang keringetan, Amel yang kepanasan
13 13.Hei janda-ku
14 14. Bastian Ngambek
15 15. Keluh kesah Amel
16 16. Jangan menunggu jandamu
17 17. Tidak sabar
18 18. Jadi bahan gosip di toilet
19 19. PPKM
20 20. Jadi horang kaya
21 21. Aku sudah ready
22 22. Apa enaknya ?
23 23. Beda dengan milik Alif
24 24. Gaya pasrah
25 25. POV Bastian
26 26. Akhirnya tahu juga rasanya
27 27. Bertemu lagi
28 28. Kemarahan Bastian
29 29. Usaha Amel
30 30. Seperti seorang matador
31 31. Protesan Amel.
32 32. Kedatangan Om Joko
33 33. Abang jadi pengen
34 34. Bastian ketagihan
35 35. Turunan.
36 36. Status WA.
37 37. Mas sih oke
38 38. Kehilangan
39 39. Bastian kena amuk
40 40. Menyesali diri
41 41. Pulang
42 42. Lebih beruntung
43 43. Pertemuan yang tidak terduga.
44 44. Tidak ada tempat untuk pengkhianat
45 45. Bertemu Wulan kembali
46 46. Kegiatan yang lebih menyenangkan
47 47. Bertemu ibu
48 48. Tergantung
49 49. Cara Bastian menghibur Amel
50 50. Keputusan
51 51. Kata maaf itu akhirnya terucap juga
52 52. Ikut menyalahkan
53 53. Dua garis merah
54 54. Menyelesaikan misi
55 55. Bastian kena sawan
56 56. Latihan
57 57. Mengucapkan selamat tinggal
58 58. Permintaan pertama
59 59. Puas dari Hongkong?
60 60. Datang pada Papa!
61 61. Tidak akan ada siaran ulang.
62 62. Pesan
63 63. Nasehat yang menyakitkan
64 64. Buang saja ke laut
65 65. CCB
66 66. Ancaman santet
67 67. Banyak larangan
68 68. Merasa tua
69 69. Drama rumah tangga
70 60. Jamur salah nama
71 71. Kelas kehamilan
72 72. Ternyata
73 73. Bekerja lebih ekstra
74 74. Andai dia bisa aku miliki
75 75. Balik mengancam
76 76. Tahanan rumah
77 77. Kandang Serigala
78 78. Melimpahkan kesalahan
79 79. Amel, Kamu dimana ?
80 80. Seperti Rahwana
81 81. Firasat
82 82. TAU GITU DIBUANG KE LAUT
83 83. Masih takut
84 84. BASTIAN YANG LEBAY
85 85. PERMINTAAN ANWAR
86 86. TANGGUNG
87 87. ENDING
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Prolog
2
2. Lamaran
3
3. Aku terima bersih
4
4. Pernikahan
5
5. Kalian menjebak saya ?
6
6. Percuma
7
7. Sudah jinak.
8
8. Mencari Alasan
9
9. Membeli CD
10
10. Jadi siapa yang pantas ?
11
11. Pengen meluk tapi gengsi
12
12. Bastian yang keringetan, Amel yang kepanasan
13
13.Hei janda-ku
14
14. Bastian Ngambek
15
15. Keluh kesah Amel
16
16. Jangan menunggu jandamu
17
17. Tidak sabar
18
18. Jadi bahan gosip di toilet
19
19. PPKM
20
20. Jadi horang kaya
21
21. Aku sudah ready
22
22. Apa enaknya ?
23
23. Beda dengan milik Alif
24
24. Gaya pasrah
25
25. POV Bastian
26
26. Akhirnya tahu juga rasanya
27
27. Bertemu lagi
28
28. Kemarahan Bastian
29
29. Usaha Amel
30
30. Seperti seorang matador
31
31. Protesan Amel.
32
32. Kedatangan Om Joko
33
33. Abang jadi pengen
34
34. Bastian ketagihan
35
35. Turunan.
36
36. Status WA.
37
37. Mas sih oke
38
38. Kehilangan
39
39. Bastian kena amuk
40
40. Menyesali diri
41
41. Pulang
42
42. Lebih beruntung
43
43. Pertemuan yang tidak terduga.
44
44. Tidak ada tempat untuk pengkhianat
45
45. Bertemu Wulan kembali
46
46. Kegiatan yang lebih menyenangkan
47
47. Bertemu ibu
48
48. Tergantung
49
49. Cara Bastian menghibur Amel
50
50. Keputusan
51
51. Kata maaf itu akhirnya terucap juga
52
52. Ikut menyalahkan
53
53. Dua garis merah
54
54. Menyelesaikan misi
55
55. Bastian kena sawan
56
56. Latihan
57
57. Mengucapkan selamat tinggal
58
58. Permintaan pertama
59
59. Puas dari Hongkong?
60
60. Datang pada Papa!
61
61. Tidak akan ada siaran ulang.
62
62. Pesan
63
63. Nasehat yang menyakitkan
64
64. Buang saja ke laut
65
65. CCB
66
66. Ancaman santet
67
67. Banyak larangan
68
68. Merasa tua
69
69. Drama rumah tangga
70
60. Jamur salah nama
71
71. Kelas kehamilan
72
72. Ternyata
73
73. Bekerja lebih ekstra
74
74. Andai dia bisa aku miliki
75
75. Balik mengancam
76
76. Tahanan rumah
77
77. Kandang Serigala
78
78. Melimpahkan kesalahan
79
79. Amel, Kamu dimana ?
80
80. Seperti Rahwana
81
81. Firasat
82
82. TAU GITU DIBUANG KE LAUT
83
83. Masih takut
84
84. BASTIAN YANG LEBAY
85
85. PERMINTAAN ANWAR
86
86. TANGGUNG
87
87. ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!