Mood Amel benar benar sedang buruk, maklum lagi PMS.
Bastian tentu saja sudah cukup faham untuk urusan itu, tiga kali gagal menikah, tentu dia tidak awam dengan dunia perempuan.
Bagaimana ketika calon-calon istrinya itu sedang datang bulan, ada yang ngambek tapi gak tahu apa salahnya, Bastian salah bicara sedikit, doi langsung nangis atau mencak-mencak, ada juga yang ngajak perang, padahal Bastian tidak salah apa apa.
Sama seperti Amel saat ini, tidak boleh kesenggol, langsung naik darah.
Jadi jalan satu-satunya adalah diam, itu lebih baik
Seperti pepatah yang mengatakan bahwa diam itu menghindari konflik, eh.
Setelah pulang dari supermarket, mbak Nuri yang katanya mau mengantarkan jamu penambah stamina, enggak jadi, tetapi kurir yang disuruh mengantar sampai ke depan pintu rumah.
" Mel, ini bagaimana ceritanya "
Bastian mengangkat botol jamu yang baru diterimanya dari kurir online.
" Ya diminum, kan untuk Bapak, bukan untuk aku "
Amel ngeloyor gitu saja masuk ke dalam rumah, berganti pakaian, lalu menuju ke dapur.
" Enggak bisa Mel, ini untuk kita berdua, kalau saya yang minum, ntar tenaga saya bisa kaya' kuda, gak ada lawannya, karena lawannya sedang masa...."
Bastian menggaruk garuk kepalanya.
" Ya sudah, sini, aku simpan dalam kulkas " Amel merebut dengan kasar botol jamu dari tangan Bastian.
Bastian hanya bisa menghembuskan napas kasar, tapi ada kemajuan, Amel tidak ber-saya saya lagi, sudah ber-aku.
" Berarti, Minggu depan sudah bisa kan Mel ? "
" Bisa apa ? "
" Hak saya Mel, jangan pura pura lupa "
" Masih lama Pak, ini juga baru hari pertama, udah deh, Bapak masuk ke dalam kamar atau apa kek, jangan ikut ikutan ke dapur, aku lagi pengen sendiri, males ngeliat Bapak. "
Bastian tidak punya pilihan lain selain mengikuti maunya Amel dari pada kena imbasnya.
Amel menatap botol jamu ketika memasukkan dan menyusun bahan bahan makanan yang sedikit tahan lama ke dalam kulkas.
Dia masih bingung, apakah harus menyerah atau membalaskan sakit hatinya dulu, Bastian sangat berbeda jauh dengan sepuluh tahun yang lalu.
Amel terus melamun sembari menyusun semua bahan bahan yang dibelinya tadi biar besok dia dengan gampang mencari apa yang dibutuhkan jika akan memasak, sampai terdengar ucapan salam, dari pintu depan mengagetkan Amel.
" Assalamualaikum, selamat sore, permisi, Mas Bastian "
Hadeuh, siapa lagi ini.
Amel membuka pintu dengan wajah gahar, gimana gak emosi, mengucapkan salam tidak cukup satu dan maksa lagi.
" Waalaikumussalam, selamat sore juga, ada yang bisa saya banting ? "
Seorang perempuan seusia Tante Widuri, dengan pakaian super ketat diatas lutut, seakan badannya menjerit karena pakaian yang sangat kekecilan membawa piring yang ditutupi oleh tissue.
" Mas Bastian-nya ada ? "
" Ada apa cari Mas Bastian ? "
" Panggilkan aja deh, bilang, Nindy yang rumahnya ada di depan mau ngasih kue kesukaan Mas Bas, kamu pasti adiknya, atau pembantunya ?
What hell, pembantunya ?
" Siapa Mel ? "
Bastian nongol dari belakang badan Amel.
" Dia...."
" Mas Bas, akhirnya rumahnya ditempati juga, atau nunggu ngehalalin aku dulu, biar sama sama kita tempati ? "
Ucapnya centil dengan mengedipkan sebelah matanya genit.
Huek.
Amel mau muntah.
" Eh, mbak Nindy, iya mbak, memang sudah pindah kemari, ada apa ya ? "
Bastian berusaha bersikap normal, walaupun hatinya sedikit was was mengingat wajah Amel sudah mau mengajak gelud.
" Ini, aku tadi begitu nampak mobil Mas Bas parkit di depan lama, sengaja membuatkan brownies kesukaan Mas Bas "
Nindy menyodorkan piring pada Bastian, tapi secepat kilat Amel yang menerimanya.
" Eh, itu Brownies untuk Mas Bas, bukan untuk kamu, kamu gak sopan, punya majikan kamu kok main samber aja "
" Maaf mbak Nindy, dia ...."
" Aku memang pembantu di rumah ini, tapi merangkap sebagai nyonya rumah, jangankan cuma brownies ini, hati dan tubuh Mas Bas, adalah milikku, lagi pula, Mas Bas udah gak suka brownies, ada yang lebih manis dan legit dari Brownies, bener kan Mas Bas "
Amel mengedip ngedipkan matanya, agar Bastian mengikuti permainannya.
Bastian menggaruk garuk kepalanya.
" Iya mbak Nindy, dia istri saya "
Bastian cari aman, merengkuh bahu Amel, untuk menunjukkan kemesraan seperti pengantin baru pada umumnya.
" Mas Bas pasti bohong kan ? "
Ujung jarinya menunjuk pada Amel yang memang sudah berganti pakaian dengan mengenakan celana legging tiga perempat dan kaus oblong sedikit kebesaran.
Namanya juga sedang datang bulan, tentu lebih menyenangkan memakai pakaian yang nyaman, rambutnya yang panjang hampir sepinggang di ikat tinggi secara asal.
Amel tidak seperti pengantin baru pada umumnya yang berpenampilan manis di awal awal pernikahan, lagi datang bulan, percuma juga berpenampilan manis, toh Bastian tidak bisa mencoleknya.
" Kenapa ? Aku seperti pembantu ? Gak masalah, setidaknya aku tidak kecentilan menggoda suami orang lain "
Wajah Nindy memerah disindir Amel secara langsung.
" Ya sudah Mas Bas, aku pulang, lagian kok Mas Bas mau sih punya istri yang tidak punya etika sama sekali, Mas Bas kan dosen, apa kata orang orang jika istri Mas Bas ..... "
" Tidak punya etika mana dengan situ yang menghina istri orang lain di depan suaminya, berarti secara tidak langsung situ merendahkan pilihan Mas Bas "
Amel melirik Bastian yang mukanya terlihat sudah memerah menahan emosi, sepertinya ucapan Amel mengena di hatinya.
" Benar apa yang diucapkan oleh istri saya Mbak Nindy, mbak berarti menghina saya seakan mengatakan jika pilihan saya buruk dengan tidak langsung.
Perlu mbak Nindy ketahui, bagaimanapun penampilan dan sikap dari istri saya, semua saya suka "
Bastian menatap wajah Amel yang tengah menatapnya.
Amel tiba tiba pengen nangis, sudah dua kali di hari ini, Amel berhadapan dengan penggemar Bastian yang tidak tahu malu dan menghinanya terang terangan, dan untungnya Bastian selalu berada di pihaknya.
Amel jadi kepengen memeluk Bastian, tapi gengsi.
Melihat Bastian dan Amel saling berpandangan, Nindy menghentakkan kakinya kesal berlalu dari depan rumah Bastian.
" Eh Mbak tunggu ! "
Panggil Amel sebelum Nindy melewati pintu pagar rumah Bastian.
" Apalagi ? "
Sahutnya judes.
" Ini brownies-nya, Mas Bas gak suka brownies lagi "
Amel menyodorkan piring yang dibawa Nindy tadi.
Dengan kasar Nindy mengambil piringnya kembali, sehingga sebahagian isinya jatuh ke tanah.
" Bilang apa sudah di belain "
" Terimakasih "
" Gitu aja ? "
" Jadi mau apa lagi ? "
" Apa saja, yang penting menyenangkan hati saya "
" Terimakasih Mas Bas suamiku yang tampaaaannn "
Amel memutar bola matanya malas.
" Nah gitu dong, manggil Mas itu bukan di depan orang saja, saya ini suami kamu bukan bapak kamu "
Amel hanya diam sembari kembali melangkah ke arah dapur, melanjutkan kegiatannya tadi yang belum selesai.
...******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Mryn
😍😍😍
2024-06-03
0
Indah Xaxi
bagus amel punya suami harus dijagain dari wanita genit genit, gas pol
2023-09-04
0
Bee mi amore
syadiizzz...😂😂😂
2022-04-19
0