11. Pengen meluk tapi gengsi

Mood Amel benar benar sedang buruk, maklum lagi PMS.

Bastian tentu saja sudah cukup faham untuk urusan itu, tiga kali gagal menikah, tentu dia tidak awam dengan dunia perempuan.

Bagaimana ketika calon-calon istrinya itu sedang datang bulan, ada yang ngambek tapi gak tahu apa salahnya, Bastian salah bicara sedikit, doi langsung nangis atau mencak-mencak, ada juga yang ngajak perang, padahal Bastian tidak salah apa apa.

Sama seperti Amel saat ini, tidak boleh kesenggol, langsung naik darah.

Jadi jalan satu-satunya adalah diam, itu lebih baik

Seperti pepatah yang mengatakan bahwa diam itu menghindari konflik, eh.

Setelah pulang dari supermarket, mbak Nuri yang katanya mau mengantarkan jamu penambah stamina, enggak jadi, tetapi kurir yang disuruh mengantar sampai ke depan pintu rumah.

" Mel, ini bagaimana ceritanya "

Bastian mengangkat botol jamu yang baru diterimanya dari kurir online.

" Ya diminum, kan untuk Bapak, bukan untuk aku "

Amel ngeloyor gitu saja masuk ke dalam rumah, berganti pakaian, lalu menuju ke dapur.

" Enggak bisa Mel, ini untuk kita berdua, kalau saya yang minum, ntar tenaga saya bisa kaya' kuda, gak ada lawannya, karena lawannya sedang masa...."

Bastian menggaruk garuk kepalanya.

" Ya sudah, sini, aku simpan dalam kulkas " Amel merebut dengan kasar botol jamu dari tangan Bastian.

Bastian hanya bisa menghembuskan napas kasar, tapi ada kemajuan, Amel tidak ber-saya saya lagi, sudah ber-aku.

" Berarti, Minggu depan sudah bisa kan Mel ? "

" Bisa apa ? "

" Hak saya Mel, jangan pura pura lupa "

" Masih lama Pak, ini juga baru hari pertama, udah deh, Bapak masuk ke dalam kamar atau apa kek, jangan ikut ikutan ke dapur, aku lagi pengen sendiri, males ngeliat Bapak. "

Bastian tidak punya pilihan lain selain mengikuti maunya Amel dari pada kena imbasnya.

Amel menatap botol jamu ketika memasukkan dan menyusun bahan bahan makanan yang sedikit tahan lama ke dalam kulkas.

Dia masih bingung, apakah harus menyerah atau membalaskan sakit hatinya dulu, Bastian sangat berbeda jauh dengan sepuluh tahun yang lalu.

Amel terus melamun sembari menyusun semua bahan bahan yang dibelinya tadi biar besok dia dengan gampang mencari apa yang dibutuhkan jika akan memasak, sampai terdengar ucapan salam, dari pintu depan mengagetkan Amel.

" Assalamualaikum, selamat sore, permisi, Mas Bastian "

Hadeuh, siapa lagi ini.

Amel membuka pintu dengan wajah gahar, gimana gak emosi, mengucapkan salam tidak cukup satu dan maksa lagi.

" Waalaikumussalam, selamat sore juga, ada yang bisa saya banting ? "

Seorang perempuan seusia Tante Widuri, dengan pakaian super ketat diatas lutut, seakan badannya menjerit karena pakaian yang sangat kekecilan membawa piring yang ditutupi oleh tissue.

" Mas Bastian-nya ada ? "

" Ada apa cari Mas Bastian ? "

" Panggilkan aja deh, bilang, Nindy yang rumahnya ada di depan mau ngasih kue kesukaan Mas Bas, kamu pasti adiknya, atau pembantunya ?

What hell, pembantunya ?

" Siapa Mel ? "

Bastian nongol dari belakang badan Amel.

" Dia...."

" Mas Bas, akhirnya rumahnya ditempati juga, atau nunggu ngehalalin aku dulu, biar sama sama kita tempati ? "

Ucapnya centil dengan mengedipkan sebelah matanya genit.

Huek.

Amel mau muntah.

" Eh, mbak Nindy, iya mbak, memang sudah pindah kemari, ada apa ya ? "

Bastian berusaha bersikap normal, walaupun hatinya sedikit was was mengingat wajah Amel sudah mau mengajak gelud.

" Ini, aku tadi begitu nampak mobil Mas Bas parkit di depan lama, sengaja membuatkan brownies kesukaan Mas Bas "

Nindy menyodorkan piring pada Bastian, tapi secepat kilat Amel yang menerimanya.

" Eh, itu Brownies untuk Mas Bas, bukan untuk kamu, kamu gak sopan, punya majikan kamu kok main samber aja "

" Maaf mbak Nindy, dia ...."

" Aku memang pembantu di rumah ini, tapi merangkap sebagai nyonya rumah, jangankan cuma brownies ini, hati dan tubuh Mas Bas, adalah milikku, lagi pula, Mas Bas udah gak suka brownies, ada yang lebih manis dan legit dari Brownies, bener kan Mas Bas "

Amel mengedip ngedipkan matanya, agar Bastian mengikuti permainannya.

Bastian menggaruk garuk kepalanya.

" Iya mbak Nindy, dia istri saya "

Bastian cari aman, merengkuh bahu Amel, untuk menunjukkan kemesraan seperti pengantin baru pada umumnya.

" Mas Bas pasti bohong kan ? "

Ujung jarinya menunjuk pada Amel yang memang sudah berganti pakaian dengan mengenakan celana legging tiga perempat dan kaus oblong sedikit kebesaran.

Namanya juga sedang datang bulan, tentu lebih menyenangkan memakai pakaian yang nyaman, rambutnya yang panjang hampir sepinggang di ikat tinggi secara asal.

Amel tidak seperti pengantin baru pada umumnya yang berpenampilan manis di awal awal pernikahan, lagi datang bulan, percuma juga berpenampilan manis, toh Bastian tidak bisa mencoleknya.

" Kenapa ? Aku seperti pembantu ? Gak masalah, setidaknya aku tidak kecentilan menggoda suami orang lain "

Wajah Nindy memerah disindir Amel secara langsung.

" Ya sudah Mas Bas, aku pulang, lagian kok Mas Bas mau sih punya istri yang tidak punya etika sama sekali, Mas Bas kan dosen, apa kata orang orang jika istri Mas Bas ..... "

" Tidak punya etika mana dengan situ yang menghina istri orang lain di depan suaminya, berarti secara tidak langsung situ merendahkan pilihan Mas Bas "

Amel melirik Bastian yang mukanya terlihat sudah memerah menahan emosi, sepertinya ucapan Amel mengena di hatinya.

" Benar apa yang diucapkan oleh istri saya Mbak Nindy, mbak berarti menghina saya seakan mengatakan jika pilihan saya buruk dengan tidak langsung.

Perlu mbak Nindy ketahui, bagaimanapun penampilan dan sikap dari istri saya, semua saya suka "

Bastian menatap wajah Amel yang tengah menatapnya.

Amel tiba tiba pengen nangis, sudah dua kali di hari ini, Amel berhadapan dengan penggemar Bastian yang tidak tahu malu dan menghinanya terang terangan, dan untungnya Bastian selalu berada di pihaknya.

Amel jadi kepengen memeluk Bastian, tapi gengsi.

Melihat Bastian dan Amel saling berpandangan, Nindy menghentakkan kakinya kesal berlalu dari depan rumah Bastian.

" Eh Mbak tunggu ! "

Panggil Amel sebelum Nindy melewati pintu pagar rumah Bastian.

" Apalagi ? "

Sahutnya judes.

" Ini brownies-nya, Mas Bas gak suka brownies lagi "

Amel menyodorkan piring yang dibawa Nindy tadi.

Dengan kasar Nindy mengambil piringnya kembali, sehingga sebahagian isinya jatuh ke tanah.

" Bilang apa sudah di belain "

" Terimakasih "

" Gitu aja ? "

" Jadi mau apa lagi ? "

" Apa saja, yang penting menyenangkan hati saya "

" Terimakasih Mas Bas suamiku yang tampaaaannn "

Amel memutar bola matanya malas.

" Nah gitu dong, manggil Mas itu bukan di depan orang saja, saya ini suami kamu bukan bapak kamu "

Amel hanya diam sembari kembali melangkah ke arah dapur, melanjutkan kegiatannya tadi yang belum selesai.

...******...

...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...

Terpopuler

Comments

Mryn

Mryn

😍😍😍

2024-06-03

0

Indah Xaxi

Indah Xaxi

bagus amel punya suami harus dijagain dari wanita genit genit, gas pol

2023-09-04

0

Bee mi amore

Bee mi amore

syadiizzz...😂😂😂

2022-04-19

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 2. Lamaran
3 3. Aku terima bersih
4 4. Pernikahan
5 5. Kalian menjebak saya ?
6 6. Percuma
7 7. Sudah jinak.
8 8. Mencari Alasan
9 9. Membeli CD
10 10. Jadi siapa yang pantas ?
11 11. Pengen meluk tapi gengsi
12 12. Bastian yang keringetan, Amel yang kepanasan
13 13.Hei janda-ku
14 14. Bastian Ngambek
15 15. Keluh kesah Amel
16 16. Jangan menunggu jandamu
17 17. Tidak sabar
18 18. Jadi bahan gosip di toilet
19 19. PPKM
20 20. Jadi horang kaya
21 21. Aku sudah ready
22 22. Apa enaknya ?
23 23. Beda dengan milik Alif
24 24. Gaya pasrah
25 25. POV Bastian
26 26. Akhirnya tahu juga rasanya
27 27. Bertemu lagi
28 28. Kemarahan Bastian
29 29. Usaha Amel
30 30. Seperti seorang matador
31 31. Protesan Amel.
32 32. Kedatangan Om Joko
33 33. Abang jadi pengen
34 34. Bastian ketagihan
35 35. Turunan.
36 36. Status WA.
37 37. Mas sih oke
38 38. Kehilangan
39 39. Bastian kena amuk
40 40. Menyesali diri
41 41. Pulang
42 42. Lebih beruntung
43 43. Pertemuan yang tidak terduga.
44 44. Tidak ada tempat untuk pengkhianat
45 45. Bertemu Wulan kembali
46 46. Kegiatan yang lebih menyenangkan
47 47. Bertemu ibu
48 48. Tergantung
49 49. Cara Bastian menghibur Amel
50 50. Keputusan
51 51. Kata maaf itu akhirnya terucap juga
52 52. Ikut menyalahkan
53 53. Dua garis merah
54 54. Menyelesaikan misi
55 55. Bastian kena sawan
56 56. Latihan
57 57. Mengucapkan selamat tinggal
58 58. Permintaan pertama
59 59. Puas dari Hongkong?
60 60. Datang pada Papa!
61 61. Tidak akan ada siaran ulang.
62 62. Pesan
63 63. Nasehat yang menyakitkan
64 64. Buang saja ke laut
65 65. CCB
66 66. Ancaman santet
67 67. Banyak larangan
68 68. Merasa tua
69 69. Drama rumah tangga
70 60. Jamur salah nama
71 71. Kelas kehamilan
72 72. Ternyata
73 73. Bekerja lebih ekstra
74 74. Andai dia bisa aku miliki
75 75. Balik mengancam
76 76. Tahanan rumah
77 77. Kandang Serigala
78 78. Melimpahkan kesalahan
79 79. Amel, Kamu dimana ?
80 80. Seperti Rahwana
81 81. Firasat
82 82. TAU GITU DIBUANG KE LAUT
83 83. Masih takut
84 84. BASTIAN YANG LEBAY
85 85. PERMINTAAN ANWAR
86 86. TANGGUNG
87 87. ENDING
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Prolog
2
2. Lamaran
3
3. Aku terima bersih
4
4. Pernikahan
5
5. Kalian menjebak saya ?
6
6. Percuma
7
7. Sudah jinak.
8
8. Mencari Alasan
9
9. Membeli CD
10
10. Jadi siapa yang pantas ?
11
11. Pengen meluk tapi gengsi
12
12. Bastian yang keringetan, Amel yang kepanasan
13
13.Hei janda-ku
14
14. Bastian Ngambek
15
15. Keluh kesah Amel
16
16. Jangan menunggu jandamu
17
17. Tidak sabar
18
18. Jadi bahan gosip di toilet
19
19. PPKM
20
20. Jadi horang kaya
21
21. Aku sudah ready
22
22. Apa enaknya ?
23
23. Beda dengan milik Alif
24
24. Gaya pasrah
25
25. POV Bastian
26
26. Akhirnya tahu juga rasanya
27
27. Bertemu lagi
28
28. Kemarahan Bastian
29
29. Usaha Amel
30
30. Seperti seorang matador
31
31. Protesan Amel.
32
32. Kedatangan Om Joko
33
33. Abang jadi pengen
34
34. Bastian ketagihan
35
35. Turunan.
36
36. Status WA.
37
37. Mas sih oke
38
38. Kehilangan
39
39. Bastian kena amuk
40
40. Menyesali diri
41
41. Pulang
42
42. Lebih beruntung
43
43. Pertemuan yang tidak terduga.
44
44. Tidak ada tempat untuk pengkhianat
45
45. Bertemu Wulan kembali
46
46. Kegiatan yang lebih menyenangkan
47
47. Bertemu ibu
48
48. Tergantung
49
49. Cara Bastian menghibur Amel
50
50. Keputusan
51
51. Kata maaf itu akhirnya terucap juga
52
52. Ikut menyalahkan
53
53. Dua garis merah
54
54. Menyelesaikan misi
55
55. Bastian kena sawan
56
56. Latihan
57
57. Mengucapkan selamat tinggal
58
58. Permintaan pertama
59
59. Puas dari Hongkong?
60
60. Datang pada Papa!
61
61. Tidak akan ada siaran ulang.
62
62. Pesan
63
63. Nasehat yang menyakitkan
64
64. Buang saja ke laut
65
65. CCB
66
66. Ancaman santet
67
67. Banyak larangan
68
68. Merasa tua
69
69. Drama rumah tangga
70
60. Jamur salah nama
71
71. Kelas kehamilan
72
72. Ternyata
73
73. Bekerja lebih ekstra
74
74. Andai dia bisa aku miliki
75
75. Balik mengancam
76
76. Tahanan rumah
77
77. Kandang Serigala
78
78. Melimpahkan kesalahan
79
79. Amel, Kamu dimana ?
80
80. Seperti Rahwana
81
81. Firasat
82
82. TAU GITU DIBUANG KE LAUT
83
83. Masih takut
84
84. BASTIAN YANG LEBAY
85
85. PERMINTAAN ANWAR
86
86. TANGGUNG
87
87. ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!