Bastian terlihat gagah dengan balutan kemeja putih berwarna polos dan jas simpel yang senada dengan warna celananya, abu abu, ganteng mah men.
Amel saja sampai tidak sadar jika air liurnya sudah mengalir hampir melewati garis bibir, cepat disedotnya kembali, untung gak ada yang mendengar, kalau enggak kan malu.
Anwar tidak mau datang, katanya dia benci dengan Pak Bas, walaupun Pak Bastian tidak akan mungkin mengenali mereka, tapi Anwar dan Amel sangat hapal dengan sosok Pak Bastian yang tidak banyak berubah.
Amel dan Anwar benar benar bertransformasi, Amel yang dulu, dekil, kurus, hitam dan hidup, sejak penghinaan yang melukai hati Amel sangat dalam, membuat Amel merawat dirinya dengan baik.
Begitu juga dengan Anwar, dia dan Amel saling berbagi informasi, karena bukan perempuan saja yang harus good looking, laki laki juga.
Amel sesekali melirik ke sebelah, tepatnya pada pria jangkung yang berdiri di sebelahnya, senyum lebar terus tersemat di bibirnya kala tamu undangan, pada umumnya tetangga kiri kanan Om Joko dan Tante Widuri memberikan ucapan selamat.
Ada juga teman dari mempelai pria, sesama pengajar, temannya Bastian, tuh bujang lapuk, eh, udah gak lapuk lagi, datang mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan segala macam do'a do'a nyeleneh yang Amel malas mendengarnya.
Amel bosan menjadi boneka yang terus menerus tersenyum tanpa seorang pun yang Amel kenal kecuali beberapa tetangga Om Joko yang sering berbasa basi pada Amel ketika Amel menyapu halaman.
Amel tidak bisa percaya jika sekarang dirinya sudah resmi menyandang predikat status sebagai nyonya Bastian.
Cie cie yang sudah jadi nyonya.
Kok rasanya biasa saja ya ? Gak ada berat atau apapun, apa aku mimpi ya.
Amel menepuk jidatnya, yang ada kepalanya semakin pusing.
Ah, cuma mimpi.
Amel masih bingung, diliriknya kembali pria yang ada di sebelahnya, masih tetap sama, ganteng, tapi goresan luka karena mulut tajamnya, membuat Amel mengingat masa sepuluh tahun yang lalu.
Amel mencubit kuat pahanya.
" Auw "
Amel menjerit sembari meringis.
" Kamu kenapa ? "
Eh, suara apa itu ? Lembut bener, pasti Pak Bas sedang mabuk.
Baru kali ini dengar suara Pak Bas mendayu dayu, suaranya bergelombang seperti suaranya bang Haji, ter-la-lu.
Pikiran Amel sudah melantur entah kemana mana.
Baru juga dengar suara Pak Bas satu kalimat yang berisi dua kata, Amel sudah serasa mabuk darat, badannya terasa melayang, belum juga jika Pak Bas mengucapkan kata cinta, ckk, ngayal.
" Gak apa apa ! "
Amel menggeleng gelengkan kepalanya.
Ampun dah, kalau kaya' gini, bagaimana bisa membalas dendam di malam pertama, eh.
Amel jadi ingat ucapan Anwar tadi malam.
" Kamu yakin gak mau datang di acara nikahan besok ? "
" Enggak "
" Kenapa ? "
" Aku takut gak bisa menahan diri untuk tidak menunjuk jidatnya "
" Memangnya kamu mau ngomong apa pas nunjuk jidatnya ? "
" Eh Pak, lihat perempuan yang bapak nikahi hari ini, dia perempuan yang sama, yang sepuluh tahun lalu Bapak hina, sekarang cantik kan ? "
" Jangan War, bisa pingsan dia, atau terkena serangan jantung, aku jadi janda dong, belum juga sempat iya iya "
" Tuh kan, benar apa yang aku perkirakan, kau belum apa apa sudah lemah, jangan jangan, setelah masuk ke dalam kamar, kau langsung menerkam Pak Bastian "
Anwar mencibir, Amel bisa melihatnya karena saat ini mereka sedang video call.
Sisa uang dari lima juta yang kemarin dikasih Om Joko, Amel membeli ponsel Android, biar bisa seperti orang orang sekarang, segalanya serba di posting, menggantikan tugas kedua malaikat.
" Kau kira aku kucing yang ngelihat kepala ikan asin nganggur langsung main samber aja "
" Oke, kita lihat saja nanti, kau atau Pak Bas yang kalah "
Anwar langsung memutuskan sambungan video call mereka dengan wajah cemberut.
Amel kan jadi gemes, untungnya mereka berdua cuma temenan yang sudah seperti saudara, kalau enggak, pasti Amel sudah naksir Anwar.
Setelah acara berakhir, Amel langsung diboyong ke rumah orang tua Bastian dan Bastian-nya juga gak mau bermalam di rumah Om Joko, disamping tidak ada kamar, ntar Om Joko usil, karena selama ini Amel kan tidur berdua dengan Carla.
Yang membuat Amel sebel, Bastian terus menyunggingkan senyum di kulum.
Kaya' permen aja di kulum.
Jangan jangan Bastian kena struk ringan lagi, senyum terus, atau kesenangan karena akhirnya bisa melepaskan status bujang tua-nya, bisa jadi, secara gagal menikah tiga kali, orang orang bisa saja menudingnya pria pembawa sial.
Bastian menenteng koper ditangannya untuk membawakan ke lantai atas, kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh ibunya, kamar Bastian juga sih, hanya sudah disulap menjadi kamar pengantin yang bernuansa romantis.
Seperti cerita di novel novel, alas kasur berwarna putih polos dengan taburan kelopak bunga mawar berwarna merah, biar ketahuan kan aku masih perawan atau enggak ? Makanya sprei-nya seperti kain kafan, padahal aku suka warna biru, jadi kalau kotor gak kelihatan, eits, tapi tunggu dulu, jangan berharap ada malam pertama, tidak semudah itu kisanak.
" Bagus kamarnya kan, Mel ? "
Amel sampai lupa jika dia berjalan ke kamar Bastian dengan ibu mertuanya.
" Iya Tan "
" Jangan panggil Tante, Mama, seperti Bastian "
" I-iya Ma "
Amel sedikit canggung.
" Ya sudah, sekarang istirahat aja dulu biar bisa "
Mamanya Bastian mengedipkan mata genit, lucu, Amel hampir tertawa tetapi ditahannya.
" Bas, berikan Mama cucu yang banyak "
Pesannya sebelum menutup pintu.
Idih, dikira pabrik, jangan terlalu percaya diri dulu ibu mertua.
Amel mencari cari ponsel yang ada di dalam tasnya ketika Bastian masuk ke dalam kamar mandi.
Difotonya ranjang, lalu dikirimkan ke nomor Anwar.
@Anwar
[ Kurang ajaaaaaarrrr....Kenapa harus foto tempat tidur yang kamu kirim, gak sekalian ketika video life kau sedang bermesraan dengan Pak Bas ]
Amel cekikikan, dia tahu pasti Anwar di seberang sana ngomel ngomel.
@Amel
[ Jangan ngasal deh, ntar malem akan aku beritahu siapa aku, aku jamin dia tidak akan pernah melupakan malam pertama ini, hahaha ]
Amel segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas ketika mendengar handle pintu kamar mandi terbuka.
Bastian keluar dengan rambut yang masih basah, tetesan air dari rambutnya masih terlihat membasahi tubuh bagian atasnya yang sengaja dibiarkan tidak memakai apa apa, kecuali celana panjang berbahan kaos.
Mau tidur Pak ? Masih sore.
Amel pura pura sibuk membuka koper pakaiannya agar tidak tergoda, bisa gagal dia menjalankan niatnya kalau sampai dia terhanyut dengan pesona si mantan bujang lapuk.
" Mandilah, pasti kamu gerah "
Gak usah lembut lembut deh, itu bukan dirimu Serkam Bolat, eh Pak Bas.
Tanpa menjawab apa pun, Amel masuk ke dalam kamar mandi.
...*****...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Mryn
😊😊😊
2024-05-09
0
Riska Wulandari
semangat balas dendam Melll...💪💪💪
sumpah serapahmu 10 tahun lalu terkabul Mel..Babas gagal kawin sampai 3 kali..
2021-12-25
0
Herlina Wati
🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂😂serkam bolat,,huahahahahahaha,,g tau apa itu,,kok lucu aja ditelingaq,,lanjut mell,,buat syock bastian
2021-10-11
0