Bastian menautkan kedua alisnya hingga menyatu, otaknya belum mengingat siapa wanita yang seusia dengan dirinya itu, manggilnya apa tadi ? Mas Bas ? Mesra bener.
Ponsel di dalam saku celananya menjerit jerit.
Tanpa perlu melihat siapa yang menghubungi, Bastian sudah tahu, pasti Amel dari dalam toilet.
Meletakkan harga CD di troli belanjaan, mengantungi CD yang sesuai dengan ukuran diminta Amel, Bastian berjalan cepat menuju pintu toilet.
" Lama bener Pak ? Bapak gak menjahitnya dulu kan ? "
Sarkas Amel.
" Bawel, nih ! "
Bastian menyodorkan CD dengan membuang muka ke arah lain
" Apa kamu tidak menghitung jadwal tamu bulanan kamu kapan datangnya ? Masa bisa seperti tadi, apa gak malu kamu sampai seperti perempuan yang mau melahirkan "
Omel Bastian setelah Amel sudah keluar dari dalam toilet.
" Ya tahulah Pak "
" Terus, kenapa gak pakai persiapan ? "
" Saya lupa Pak, mungkin karena Minggu kemarin sibuk mempersiapkan pernikahan, jadi gak kepikiran ke situ.
Eh, tapi makasih ya Pak, gak salah kalau dulu saya jatuh cinta pada Bapak, ternyata Bapak memang tipe suami idaman, tapi mulut pedesnya di kurangi Pak "
Bastian cuma melengos.
Amel dan Bastian kembali mencari barang barang yang belum semua terbeli semuanya.
" Mas Bas "
Amel dan Bastian menoleh ke arah perempuan tadi yang bertemu dengan Bastian ketika Bastian memilah milih CD untuk Amel.
" Siapa ya ? "
Bastian bener bener lupa atau pura pura lupa karena ada Amel.
" Anne, Mas, adik sepupunya kak Dahlia, calon istri Mas Bas, yang meninggal lima tahun yang lalu, masa lupa ? "
" Oh, maaf ! "
Bastian hanya tersenyum tipis.
" Dia siapa Mas ? Adik Mas Bas ? Eh, Mas Bas kan anak tunggal, saudara ya ? "
Tunjuk Anne pada Amel yang berdiri diam di sebelah Bastian
" Saya istrinya, perkenalkan, Amelia Putri "
Amel menyodorkan tangannya ke arah Anne, tetapi Anne tidak menyambutnya, dia hanya melihat Amel dan Bastian secara bergantian, membiarkan tangan Amel menggantung di udara, Amel memutar bola matanya jengah menghadapi perempuan tipe sombong seperti Anne.
" Ayo Mas Bas, belanja kita sudah selesai, anak kita sudah menunggu di rumah "
Amel menggandeng lengan Bastian mengajak pergi dari hadapan Anne.
Sebelah tangan Bastian, menarik troli belanjaan, tanpa mengucapkan apa apa.
Bastian hanya merasa lucu saja saat Amel mengatakan anak kita, anak dari mana ? Dari Hongkong.
Anne mengikuti dan berdiri belakang Bastian ketika Bastian dan Amel meletakkan barang-barang belanjaan di depan kasir.
" Mas Bas, beneran dia istri Mas Bas ? Pasti bukan kan ? Kok masih kelihatan sangat muda, beda jauh dari Almarhum kak Dahlia "
Bisik Anne melirik ke arah Amel dengan tatapan tidak suka.
" Ya ela Tante, masa' Mas Bas harus mencari istri yang sama dengan yang sebelumnya, memang ada perempuan yang mau disama samakan dengan mantannya ? Itu perempuan bodoh namanya "
Bastian menaikkan alis matanya sebelah.
" Tante ? Aku tidak setua itu ? "
Sahut Anne tidak senang dipanggil Tante.
" Lantas aku mau manggil siapa ? Situnya yang terlalu sombong di ajak berkenalan enggak mau, apa masih kurang yakin kalau aku istrinya ? "
Amel kembali menggandeng tangan Bastian.
" Sini kita perlihatkan jari kita, sayang ? "
Amel mengangkat telapak tangan Bastian, ada cincin yang sama yang melingkari jari Amel dan jari Bastian, walaupun punya Amel sedikit kebesaran, namanya juga belinya gak pakai ngukur jari kecil Amel terlebih dahulu.
" Hahahaha, katanya cincin kawin, kok makainya di jari telunjuk, pasti itu bukan milikmu "
Bastian justru baru tahu kalau cincin yang dibelinya kebesaran di jari Amel, salah Joko sih, Bastian mau mengajak Amel keluar enggak dikasih, alasannya masa pingitan, gak boleh ketemu, Joko sok memegang tradisi, tapi pilih pilih.
" Suka suka aku dong, mau makainya di telunjuk, di jempol kaki, cincin, aku yang punya, suami, juga suami aku, kenapa situ yang sibuk.
Eh Tante, tidak usah ngurusin dan mencari tahu aku istri Mas Bas beneran atau bohongan, memangnya situ siapanya Mas Bas ? Cuma sepupu dari calon istri Mas Bas yang sudah meninggal kan ? Ingat ya, su-dah me-ninggal, Mas Bas-nya entah masih ingat atau enggak.
Jangankan mantan yang sudah meninggal, yang masih hidup saja coba dilupakan, situ terlalu percaya diri kisanak "
Amel mencibir.
Bastian cuma nyengir, dia sengaja diam saja, sampai seberapa jauh Amel bisa mendebat Anne, sepupu Almarhum Dahlia yang dari dulu sedikit ganjen dengan Bastian.
Sudah tahu Bastian calon suami sepupunya, tapi Anne terlalu mengakrabkan diri diluar batas.
" Kamu, gak pantes jadi istri Mas Bas yang seorang dosen, masa' istri dosen bar bar seperti kamu "
" Jadi yang pantes siapa ? Situ ? Hellow...."
Amel menjentik -jentikkan jari telunjuk dan jempolnya di depan wajah Anne.
" Kalau situ pantes buat Mas Bas, harusnya situ yang jadi istrinya setelah calon Mas Bas meninggal, nyatanya enggak kan, percaya dirinya di turunkan dikit Tante, ketinggian, nanti nyungsep "
Amel dilawan, mana saat ini dia tengah datang bulan lagi, sudah pengen nyakar nyakar orang saja bawa'annya.
" Dia memang istriku, An, kau kan bisa melihat sendiri, barang apa yang aku pilih tadi, kalau bukan untuk istriku, apa mungkin aku mau memegang pakaian dalam perempuan di tempat seperti ini ? Lagi pula percuma kau mendebat dia, itu akan mempermalukan dirimu sendiri, sudah jangan ganggu dia ! "
Bastian berkata datar, karena mbak yang sedang bertugas di kasir sampai berhenti mentotal barang barang belanjaan mereka, apalagi sudah ada beberapa pelanggan yang mulai ikut mengantri dibelakang mereka.
Bastian harus segera menghentikan tanya jawab itu, jika ada salah satu mahasiswa atau mahasiswinya yang tahu jika istri dari salah satu dosennya perang mulut di tempat umum, mau taruh di mana wajah Bastian, bisa hancur nama baiknya.
Karena sudah diusir oleh Bastian, Anne beralih ke meja kasir yang lain untuk melakukan pembayaran barang belanjaannya sendiri.
" Mel, kamu kenapa tidak memberitahukan saya kalau cincin kamu kebesaran, saya kan bisa malu Mel, masa' cincin nikah dipakai di jari telunjuk ? "
Lirih Bastian dari atas kepala Amel, Bastian sengaja berlaku mesra karena Anne terus menatap mereka dari tempat dia mengantri.
Amel juga tahu jika Anne terlihat masih tidak percaya, makanya Amel membiarkan saja Bastian sedikit menempel padanya.
" Gak sempet ngasih tahunya Pak, lagian masa' Bapak tidak memperhatikan ketika saya menandatangani buku nikah "
' Saya kira itu style kamu "
Bastian terkekeh.
Amel cemberut.
" Eh, ternyata Pak Bas bisa tertawa juga ya ? "
" Maksud kamu apa saya bisa tertawa ? "
Ya... Bastian galak lagi.
" Habisnya, bibir Pak Bas itu manyuuunnn terus "
" Saya sebel sama kamu, kalau di depan Mama dan orang lain, kamu manggilnya Mas, coba kalau cuma berdua, Pak, menyebalkan "
Bastian berdecak, gantian Amel yang terkekeh.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Amel dan Bastian berlalu tanpa melihat ke arah Anne yang menatap kesal dari tempat dia mengantri.
...******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
maya dhaniel
oooo ini kisah kakek Bastian sama nenek Amel ya, mertuanya birru samudera, hhmmmhhhh, cerita d lapak sebelah udah khatam, makanya pindah ksini, pokok e disusuri novelnya 😁😁
2025-02-09
0
Mryn
😄😄😄
2024-06-03
0
Bee mi amore
titisan kucing.mw nyakar nyakar😂😂😂
2022-04-19
0