16. Jangan menunggu jandamu

Bastian terus memeluk Amel, membiarkan Amel menumpahkan semua emosinya.

" Maafkan saya ya, walaupun saya tidak tahu kamu sebenarnya siapa, yang saya tahu, kamu keponakan Joko, saya melamar kamu bukan karena terpaksa, dan setelah tahu kamu ternyata anak perempuan itu, juga tidak masalah Mel ! Bisakah kamu melupakan kata-kata saya sepuluh tahun yang lalu ? Kita melihat ke depan Mel, rumah tangga kita baru saja mulai "

Bastian melepaskan pelukannya, lalu mengusap wajah Amel yang basah dengan tissue.

" Tergantung Bapak "

" Kok tergantung saya ? "

" Iyalah, apa Bapak menerima cinta saya atau Bapak menikah karena Bapak sudah tua, jadi tidak penting cinta atau tidak, apalagi Bapak sudah tiga kali gagal kan ? "

Bastian tertawa sembari mengacak-acak rambut di kepala Amel.

" Saya tidak ingin berbohong dengan kamu, Mel.

Mungkin benar, saya belum cinta sama kamu, tapi kamu sudah jadi istri saya, semoga cinta itu akan tumbuh bersama seiring berjalannya waktu.

Kamu sendiri ? Masa' masih cinta sama saya ? Itukan dulu cinta monyet ? "

" Iya, Bapak monyetnya "

Amel tertawa, padahal matanya masih basah.

Bisa-bisanya sehabis menangis Amel tertawa.

" Hus, suami sendiri kok di bilang monyet, kualat lho "

" Habisnya Bapak, wong aku cinta beneran dibilang cinta monyet "

Amel cemberut, Bastian Kembali terkekeh.

" Sampai sekarang kamu cinta sama saya ? Ah yang bener ? Pasti kamu lagi ngegombal kan ? Kamu bilang kamu dendam sama saya, sakit hati, yang mana yang bener ? "

" Cinta dan dendam kan jaraknya dekat Pak, seperti bibir dengan hidung. Sama seperti cinta dengan nafsu, hanya di batasi dengan dinding tipis yang tidak kasat mata, bisa saling melihat. Gak jelas mana cinta dan mana nafsu "

Bastian tergelak, analisa yang sangat ngawur.

" Darimana kamu belajar batasan-batasan yang sama sekali ngasal gitu ? "

Bastian bisa menilai, sebenarnya Amel cerdas, cuma faktor ekonomi dan tidak mendapatkan didikan dari orang tuanya membuat Amel menjadi perempuan yang sedikit bar bar, tapi disitu uniknya.

Diantara mantan calon istri Bastian, tidak ada yang seperti Amel. Semuanya anggun dan kemayu, tapi ternyata busuk.

" Ya lihat saja ketika kita mencium seseorang, pipi dan bibir pasti sama-sama menyentuh, tetapi ada rongga keduanya sebagai batas "

Amel membaringkan kembali badannya diatas kasur.

Tangannya memeluk bantal guling.

" Kalau cinta dan Nafsu.... Cinta tanpa nafsu, bohong besar. Memangnya ada seseorang yang jatuh cinta tidak ingin menyentuh orang tersebut ? Enggak kan ? Tapi kalau nafsu tanpa cinta, banyak lah ? Banyak tuh pria -pria yang suka jajan diluaran sana, tanpa cinta, mereka juga bisa melakukannya. Apalagi kalau sesudah melakukan itu, mulut laki-laki akan lemes mengucapkan sayang, cinta, kaya' di novel-novel gitu "

Amel semakin sok tahu.

Bastian cuma nyengir.

" Kamu sendiri, pernah di cium atau mencium sebelumnya ? "

Bastian menatap tajam gerak gerik Amel, terutama wajahnya.

" Ya pernah lah Pak "

" Sama siapa ? Pacar kamu ? "

Tiba-tiba ada perasaan marah yang menyusup di sudut hati Bastian mengetahui jika Amel pernah berciuman.

" Enggak, aku kan pernah bilang kalau aku enggak pernah pacaran. Yang ada, aku sering dicium Carla, Mama waktu selesai akad nikah, terus...."

Amel melirik ke arah Bastian yang wajahnya mendadak suram.

" Terus...."

" Pengen sih dicium sama mo...."

Amel tidak meneruskan kalimatnya.

" Pak, tidur yuk ! Ngantuk, aku capek, jalan-jalannya kan bisa sore atau malem "

Amel menepuk-nepuk bantal yang ada disebelahnya.

" Kamu belum menjawab pertanyaan saya, Mel "

Ya'ela, udah tua tapi gak peka, sudah dipancing-pancing gak ngerti juga.

" Yang mana ? Mencium ? Pernah juga, mencium Alif "

Bastian menghembuskan napas jengkel.

Karena tahu jika Amel barusan mengisengi dirinya.

" Mel, temen kamu itu kan, ya, lumayan ganteng, apa kamu tidak tertarik dengan dirinya "

Dengan terpaksa Bastian memuji Anwar.

" Perempuan yang kita temui di supermarket juga cantik, kenapa Bapak gak nikah saja dengan dia ? Sebagai pengganti calon istri Bapak yang sudah meninggal "

" Kamu itu, ditanya malah balik bertanya, saya bisa melihat kemarahan di raut wajahnya tadi, apa dia cemburu karena kamu menikah dengan saya ? "

" Dia masih sebal dengan Bapak karena Bapak melukai hatiku. Anwar itu jodoh abadi aku, Pak "

" Maksud kamu ? "

" Iya, kalau sampai umur dua lima aku belum juga nikah, Anwar yang akan menikahiku. Atau kalau setelah malam aku mengungkapkan siapa aku, lalu Bapak nyesal dan menceraikan aku, Anwar siap menerima aku "

Amel tersenyum penuh kemenangan.

" Pantesan kamu begitu percaya diri malam kemarin ya ? Jangan mimpi saya akan menceraikan kamu, Mel.

Tidak akan pernah, ingat itu ! Suruh dia segera menikah, jangan menunggu jandamu "

" Ih Bapak, nyuruh-nyuruh dia cepat nikah, dia baru berusia satu tahun diatas aku, Pak, masih terlalu muda "

" Ya sudah, ayo tidur ! Atau mau saya keloni ? "

Bastian akhirnya ikut berbaring di samping Amel.

" Pak "

Bastian hanya melihat ke arah Amel.

" Kita kembali ke rumah orang tua Bapak yuk ! "

" Kamu gak betah disini ? Atau gak suka punya tetangga seperti mbak Nindy ? "

Amel hanya diam menatap wajah Bastian.

" Mel, di manapun kita tinggal, akan ada orang-orang seperti dia yang suka beramah tamah dengan pria-pria yang sudah bersuami atau pria yang menarik bagi pandangannya "

" Tapi Bapak jangan tebar pesona gitu dong ? "

" Saya tidak tebar pesona Mel, saya memang mempesona, buktinya kamu, masih kecil sudah terpesona dengan saya "

Bastian menjepit puncak hidung Amel dengan jari telunjuk dan jempolnya.

" Sakit Pak "

Amel menepis tangan Bastian.

" Gitu saja sakit, belum yang lain "

Amel hanya diam, menatap wajah Bastian yang tampan dan dewasa terus menerus hingga matanya letih dan terpejam.

Melihat Amel yang sudah tertidur, Bastian mengecup dahi Amel pelan lalu beranjak dari atas tempat tidur.

Bastian tidak mengantuk karena dirinya sudah cukup kenyang tidur ketika Amel beberes di dapur pulang dari pasar tadi.

Bastian lebih memilih keluar dari dalam kamarnya, berjalan ke dapur dan memeriksa semua isi lemari dan kulkas.

Dia benar-benar sudah matang untuk menjadi seorang istri, rumah ini baru bisa di sebut rumah setelah ada Amel di sini.

Iseng Bastian menatap ke luar jendela, tepat di

seberang jalan, rumah mbak Nindy.

Hemm, sepertinya suaminya baru pulang, syukurlah, Amel tidak perlu repot-repot membalas ucapan mbak Nindy, pasti dia akan sibuk dengan suaminya.

Tidak tahu mau melakukan apa, Bastian masuk lagi ke dalam kamar.

Memperhatikan Amel yang tertidur pulas, pelan Bastian naik ke atas ranjang, berbaring di belakang Amel, dengan gerakan hati-hati Bastian membawa Amel ke dalam pelukannya.

Amel merasa terganggu, membuka matanya perlahan, sedikit tersenyum, kembali memejamkan matanya.

Bastian jadi gemes.

Tidak perduli Amel akan terbangun dan memberontak, Bastian mencium dahi dan kedua pipi Amel berulang-ulang

...******...

...🌻🌻🌻🌻🌻...

Terpopuler

Comments

Vera Diani

Vera Diani

Cium Bibir atu Pak Bas 😂🤣

2022-11-10

0

Revita Elisa

Revita Elisa

lucu juga ya mereka jdi gumuuuusss....

2021-12-27

0

Riska Wulandari

Riska Wulandari

cieee Babas udah berani cium2..

2021-12-25

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 2. Lamaran
3 3. Aku terima bersih
4 4. Pernikahan
5 5. Kalian menjebak saya ?
6 6. Percuma
7 7. Sudah jinak.
8 8. Mencari Alasan
9 9. Membeli CD
10 10. Jadi siapa yang pantas ?
11 11. Pengen meluk tapi gengsi
12 12. Bastian yang keringetan, Amel yang kepanasan
13 13.Hei janda-ku
14 14. Bastian Ngambek
15 15. Keluh kesah Amel
16 16. Jangan menunggu jandamu
17 17. Tidak sabar
18 18. Jadi bahan gosip di toilet
19 19. PPKM
20 20. Jadi horang kaya
21 21. Aku sudah ready
22 22. Apa enaknya ?
23 23. Beda dengan milik Alif
24 24. Gaya pasrah
25 25. POV Bastian
26 26. Akhirnya tahu juga rasanya
27 27. Bertemu lagi
28 28. Kemarahan Bastian
29 29. Usaha Amel
30 30. Seperti seorang matador
31 31. Protesan Amel.
32 32. Kedatangan Om Joko
33 33. Abang jadi pengen
34 34. Bastian ketagihan
35 35. Turunan.
36 36. Status WA.
37 37. Mas sih oke
38 38. Kehilangan
39 39. Bastian kena amuk
40 40. Menyesali diri
41 41. Pulang
42 42. Lebih beruntung
43 43. Pertemuan yang tidak terduga.
44 44. Tidak ada tempat untuk pengkhianat
45 45. Bertemu Wulan kembali
46 46. Kegiatan yang lebih menyenangkan
47 47. Bertemu ibu
48 48. Tergantung
49 49. Cara Bastian menghibur Amel
50 50. Keputusan
51 51. Kata maaf itu akhirnya terucap juga
52 52. Ikut menyalahkan
53 53. Dua garis merah
54 54. Menyelesaikan misi
55 55. Bastian kena sawan
56 56. Latihan
57 57. Mengucapkan selamat tinggal
58 58. Permintaan pertama
59 59. Puas dari Hongkong?
60 60. Datang pada Papa!
61 61. Tidak akan ada siaran ulang.
62 62. Pesan
63 63. Nasehat yang menyakitkan
64 64. Buang saja ke laut
65 65. CCB
66 66. Ancaman santet
67 67. Banyak larangan
68 68. Merasa tua
69 69. Drama rumah tangga
70 60. Jamur salah nama
71 71. Kelas kehamilan
72 72. Ternyata
73 73. Bekerja lebih ekstra
74 74. Andai dia bisa aku miliki
75 75. Balik mengancam
76 76. Tahanan rumah
77 77. Kandang Serigala
78 78. Melimpahkan kesalahan
79 79. Amel, Kamu dimana ?
80 80. Seperti Rahwana
81 81. Firasat
82 82. TAU GITU DIBUANG KE LAUT
83 83. Masih takut
84 84. BASTIAN YANG LEBAY
85 85. PERMINTAAN ANWAR
86 86. TANGGUNG
87 87. ENDING
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Prolog
2
2. Lamaran
3
3. Aku terima bersih
4
4. Pernikahan
5
5. Kalian menjebak saya ?
6
6. Percuma
7
7. Sudah jinak.
8
8. Mencari Alasan
9
9. Membeli CD
10
10. Jadi siapa yang pantas ?
11
11. Pengen meluk tapi gengsi
12
12. Bastian yang keringetan, Amel yang kepanasan
13
13.Hei janda-ku
14
14. Bastian Ngambek
15
15. Keluh kesah Amel
16
16. Jangan menunggu jandamu
17
17. Tidak sabar
18
18. Jadi bahan gosip di toilet
19
19. PPKM
20
20. Jadi horang kaya
21
21. Aku sudah ready
22
22. Apa enaknya ?
23
23. Beda dengan milik Alif
24
24. Gaya pasrah
25
25. POV Bastian
26
26. Akhirnya tahu juga rasanya
27
27. Bertemu lagi
28
28. Kemarahan Bastian
29
29. Usaha Amel
30
30. Seperti seorang matador
31
31. Protesan Amel.
32
32. Kedatangan Om Joko
33
33. Abang jadi pengen
34
34. Bastian ketagihan
35
35. Turunan.
36
36. Status WA.
37
37. Mas sih oke
38
38. Kehilangan
39
39. Bastian kena amuk
40
40. Menyesali diri
41
41. Pulang
42
42. Lebih beruntung
43
43. Pertemuan yang tidak terduga.
44
44. Tidak ada tempat untuk pengkhianat
45
45. Bertemu Wulan kembali
46
46. Kegiatan yang lebih menyenangkan
47
47. Bertemu ibu
48
48. Tergantung
49
49. Cara Bastian menghibur Amel
50
50. Keputusan
51
51. Kata maaf itu akhirnya terucap juga
52
52. Ikut menyalahkan
53
53. Dua garis merah
54
54. Menyelesaikan misi
55
55. Bastian kena sawan
56
56. Latihan
57
57. Mengucapkan selamat tinggal
58
58. Permintaan pertama
59
59. Puas dari Hongkong?
60
60. Datang pada Papa!
61
61. Tidak akan ada siaran ulang.
62
62. Pesan
63
63. Nasehat yang menyakitkan
64
64. Buang saja ke laut
65
65. CCB
66
66. Ancaman santet
67
67. Banyak larangan
68
68. Merasa tua
69
69. Drama rumah tangga
70
60. Jamur salah nama
71
71. Kelas kehamilan
72
72. Ternyata
73
73. Bekerja lebih ekstra
74
74. Andai dia bisa aku miliki
75
75. Balik mengancam
76
76. Tahanan rumah
77
77. Kandang Serigala
78
78. Melimpahkan kesalahan
79
79. Amel, Kamu dimana ?
80
80. Seperti Rahwana
81
81. Firasat
82
82. TAU GITU DIBUANG KE LAUT
83
83. Masih takut
84
84. BASTIAN YANG LEBAY
85
85. PERMINTAAN ANWAR
86
86. TANGGUNG
87
87. ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!