Tanpa menyapa Anwar yang memasang wajah tidak bersahabat.
Bastian langsung membalikan badannya.
" Ayo pulang ! "
Ucapnya datar tanpa mau membantu Amel membawakan barang belanjaannya.
" War, aku pulang, nanti aku hubungi ya ! "
Amel berjalan mengikuti langkah kaki Bastian yang panjang-panjang.
Setelah meletakkan semua barang belanjaan dalam bagasi mobil dengan hati hati, jangan sampai mengotori bagasi mobil milik Bastian, kan gak asik, mobil bagus bagus tapi bau amis.
Amel menatap kedua telapak tangannya yang memerah karena membawa beban yang lumayan berat untuk jari-jari tangannya yang panjang dan ramping.
Bastian hanya diam dan menatap lurus kedepan, tidak ada melirik-lirik ke Amel.
Bukankah laki-laki memang seperti itu ya ?
" Pak, tadi itu..."
Bastian melirik Amel dengan tatapan yang tajam, Amel sampai tergidik ngeri.
Mulutnya langsung tertutup, tidak berani menjelaskan apa pun pada Bastian.
Sampai di rumah, Amel gegas membawa semua belanjaan tadi ke belakang tanpa meminta bantuan pada Bastian, karena melihat wajah Bastian yang tanpa senyuman sama sekali.
Memang sih, Bastian jarang tersenyum, tetapi wajahnya lebih sering datar dan tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Cuma sejak menyusul Amel masuk ke dalam pasar dan menemukan Amel yang sedang menemani Anwar membeli sepatu, Bastian diam saja dengan wajah di tekuk.
Amel menelpon mertuanya, menanyakan makanan apa yang disukai Bastian, Amel ingin mengembalikan mood Bastian yang mendadak buruk
" Dia suka ikan bakar sambal kecap, Mel, kamu bisa membuatnya sayang ? "
" Insya Alloh bisa Ma, ikannya ikan apa Ma ? "
" Apa saja, tetapi dia lebih suka ikan gurame "
" Alhamdulillah, untungnya tadi membeli ikan itu Ma, oke Mama sayang, terimakasih infonya "
" Iya sama-sama, eh, gimana jamunya, oke kan ? "
" O-Oke Ma, oke sekali "
Terdengar suara Mama mertuanya yang tertawa cekikikan disana, tidak mau ketahuan berbohong, Amel segera menutup teleponnya.
Amel berkutat di dapur selama dua jam lebih, jangan di tanya bagaimana rupa Amel sekarang, tampangnya awut awutan dan keringat bercucuran membasahi wajah yang dan badannya.
Bastian kemana ? Dia mengurung diri di dalam kamar.
Setelah semua dapur rapi, bahan bahan masakan juga sudah Amel masukkan kedalam kulkas.
Hidangan sudah masak dan terhidang di atas meja, semua Amel tata seindah mungkin, Amel segera melesat masuk ke dalam kamar mandi. Terlihat Bastian yang tengah tidur meringkuk atau pura pura tidur, Amel juga tidak tahu.
Setelah rapi dan wangi, mengenakan dress rumahan seperti yang di mau'i Bastian, Amel mencolek bahu Bastian.
Merayu ya Mel, tahu Pak Bas ngambek.
" Pak, makan yuk ! Aku sudah memasak makanan kesukaan Bapak lho "
Bastian tidak bergeming.
" Pak "
Amel mencolek lagi.
Lama kelamaan Pak Bas jadi sabun colek Mel.
" Memangnya saya Bapak, kamu ? "
Sahut Bastian judes tanpa membalikkan badannya.
" Iya, memang Bapak sama dengan Bapak saya yang tidak bertanggung jawab, seperti pohon pisang, punya jantung tapi gak punya hati "
Amel sudah mau nangis.
Deg.
Bastian langsung membalikan badannya dan duduk menatap Amel yang kedua matanya sudah berembun.
" Kok kamu yang marah, harusnya saya yang marah sama kamu, Mel.
Saya, kamu larang menemani kamu masuk kedalam pasar dengan alasan nanti barang-barang yang kamu beli akan mahal karena gak bisa nawar, tapi kamu justru berdua'an dengan pacar kamu.
Apa kamu lupa kalau saya menunggu kamu diparkiran dengan gelisah ?
Kuatir kamu kenapa-kenapa di dalam pasar, tapi yang ada apa ? "
Bastian membuang tatapannya ke arah lain, dia malas menatap wajah Amel yang tadi sudah mau menangis, tetapi sekarang terlihat melongo.
Bagaimana Amel tidak terkejut, Bastian ternyata bisa ngomel panjang kali lebar.
" Dia bukan pacar ku, Pak, dia teman aku dan satu-satunya dari SD, dia saksi hidup ketika Bapak dulu mencampakkan surat dariku dan menghina penampilanku.
Kami tadi tidak sengaja bertemu di dalam pasar, karena dia yang membawakan barang belanjaan, jadi gantian aku menemani Anwar mencari sepatu kerjanya "
" Jadi namanya Anwar ? Bukan pacar kamu ? "
" Bukanlah, kalau dia pacar aku, mana mungkin aku mau menerima lamaran Bapak waktu itu "
Amel mencebikkan bibirnya.
Bastian sekarang jadi enggak enak ati, dihatinya sudah menuduh Amel yang enggak-enggak, rada-rada nyesal sih
" Dia baik dan mengerti aku selain Om Joko dan Tante Widuri, hanya dia teman terbaik yang aku punya.
Selebihnya, tidak ada yang perduli padaku "
Amel mengusap ingusnya yang hampir ke luar.
Lho, bukan air mata Mel ?
Bukan, Amel sengaja menahan agar air matanya enggak keluar, dia enggak mau kelihatan cengeng di depan Bastian. Jadi ya gitu, yang keluar justru dari kedua lubang hidungnya.
" Kok kamu nuduh saya, Mel, kamu katakan saya sama seperti byapak kamu yang punya jantung tapi gak punya hati, sekarang menuduh saya tidak perduli sama kamu.
Kalau saya tidak perduli sama kamu, saya tidak akan menyusul kamu ke dalam pasar, Mel, saya biarkan saja kamu, mau keluar dari pasar jam berapa terserah, saya bisa tiduran dalam mobil, tapi gak itu yang saya lakukan kan ? "
Gila, ternyata Pak Bas cerewet sekali, jadi selama tiga hari ini dia jaim ya ? Pura pura kalem, gak taunya....Bawel.
" Kalau Bapak perduli padaku, harusnya Bapak sebagai pria dan seorang suami, Bapak membantu aku membawa barang belanjaan bukan melenggang kangkung begitu saja, beda dengan Anwar, dia selalu membantu aku dalam segala hal, sampai aku sakit hati karena ulah Bapak, dia yang selalu menghibur aku, mendo'akan aku yang baik baik. Nah ini, apa yang Bapak lakukan ? Ngambek seperti Carla "
" Siapa Carla ? "
" Anak Om Joko "
Terdengar ketus suara Amel.
Bastian melotot, bisa bisanya dia disamakan dengan anak Om Joko yang masih duduk di sekolah TK.
" Ya sudah, saya minta maaf !"
Bastian memelankan suaranya, dia baru nyadar jika tadi karena jengkel dengan Amel, meninggalkan Amel dengan banyak tentengan begitu saja, tanpa niat untuk membantu membawakan barang belanjaan Amel yang banyak.
Kebiasaan ya Pak Bas, biasa Mbak Nuri yang belanja ke pasar, atau dengan Mamanya.
Bastian ? Boro-boro ngikut ke pasar, memang kurang kerjaan apa ?
Ketiga calon istri yang semuanya gagal ? Mereka tahunya ketemu di cafe, minta temani shopping sekalian bayarin, nonton, pokoknya happy fun.
Bastian mengambil telapak tangan Amel, semula Amel menariknya, tapi Bastian memaksa.
Bastian bisa melihat jika kedua telapak tangan Amel terasa panas.
Bastian meniup niup pelan telapak tangan Amel dengan bibirnya yang mengerucut menggemaskan, wajah Amel bersemu merah.
Cie cie, malu ni ye.
" Nanti saya pijitin tangan dan kaki kamu, pasti capek kan ? Sekarang kita makan, saya lapar, dan saya pengen tahu, masakan kamu itu seenak apa ? "
Bastian mengedipkan matanya genit.
" Tadi pagi kan sudah "
" Cuma nasi goreng, saya juga bisa, ayo ! Saya mau lihat kamu masak apa "
Amel tidak menolak atau menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman tangan Bastian, ketika pria yang sudah menjadi suaminya itu, membawanya berjalan ke meja makan.
...******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Riska Wulandari
''idup lagi'' adalah dua kata yg g terlupakan d cerita ini..bikin ngakak..🤣🤣
2021-12-25
0
Fani Tsao
aku jadi senyum2 gak jelas ini hhhh
2021-08-09
0
Haryanti Rayyan
cie cie cie author y bisa bgd bikin Amel&bastianjd bucin.kaya micin gurih"eneg gitu.hihihi
2021-08-08
0