Seminggu sudah cuti Bastian berlalu, tetapi si merah, tamu bulanan Amel masih tinggal menunggu jejaknya yang terlihat samar tapi belum tuntas untuk pergi, mungkin besok, Bastian sudah boleh meninggalkan jejak pertamanya pada tubuh Amel.
Selama lima hari kemarin, Bastian dan Amel hanya bisa mesra-mesra'an sedikit dan sebentar, takut Bastian ke bablasan tidak ada tempat untuk mencurahkan, dijepit ke pintu ? Sakit sudah pasti, remuk, apalagi
Eh, bukan Bastian saja yang bakalan uring-uringan, Amel apalagi, namanya juga belum pernah.
Sekalinya merasakan, maunya di sosor terus. Untungnya Bastian mengerti dengan Amel yang masih muda dan masih kemaruk, lagi doyan-doyannya.
Dengan senang hati Bastian melayani Amel pacaran.
" Mas, aku nanti main ke rumah Om Joko, boleh ? Kangen sama Carla dan Alif "
Bastian yang sudah hendak membuka pintu mobilnya menuju ke kampus, seketika berbalik menatap Amel yang mengantarkan dirinya sampai di depan pintu mobil.
" Jangan lama-lama, atau mau di jemput nanti pulangnya ? "
" Gak perlu, aku bisa naik ojek online "
" Ya sudah, hati-hati, matanya jangan jelalatan melihat cowok ganteng ! "
Pesan Bastian masuk ke dalam mobil.
" Satu saja belum di cicipi gimana rasanya, boro-boro, memikirkan yang lain "
" Apa, Mel ? "
" Enggak, sejak malam pertunjukan drama itu, Tante Nindy kok gak pernah kelihatan ya ? Pengen lihat apa dia masih bisa bermanis-manis pada Mas "
Amel melihat ke arah pintu rumah Nindy yang selalu tertutup rapat, hanya sesekali terbuka, itu juga jika ada tukang sayur keliling yang muter di komplek perumahan.
" Amel "
Bastian menggelengkan kepala tanda tidak suka.
Amel nyengir.
" Maaf "
" Gak boleh gitu ! "
" Iya "
" Pintar, Mas pergi dulu ! Assalamualaikum "
" Waalaikumussalam "
Setelah mobil yang Bastian kendarai menghilang di ujung jalan, Amel gegas membereskan semua piring kotor sisa dirinya dan Bastian tadi makan pagi, untuk urusan beberes rumah, cukup ala kadarnya, kan belum ada yang mengacak- acak perabotan rumah, paling juga, Amel besok yang bakal di acak-acak oleh Bastian, eh.
Setelah semua beres, Amel gegas mengunci pintu rumah, dan pergi ke rumah Om Joko dengan menggunakan ojek online.
...******...
" Om, kok gak ngajar ? "
Terlihat Om Joko yang tengah menggendong Alif di teras rumah, Carla pastinya ada disekolah.
" Enggak, Om sakit "
Wajahnya dibuat memelas mungkin.
" Sakit kok gendong Alif, sini ! Biar aku yang gendong "
Amel meraih Alif dari tangan Om Joko.
" Om sakit apa ? "
" Sakit rindu padamu, Mel, mentang-mentang kau sudah menikah, lupa dengan kami disini "
" Hallah, Om-mu lebay, Mel, gak usah di dengerin, Om sedang permisi karena sudah janjian dengan orang yang mau membeli tanah milik Almarhum nenek-mu, Mel "
Sela Tante Widuri muncul dari arah dapur.
" Iya Mel, bentar lagi kita jadi horang kaya, Mel, Om mau beli mobil, gak perlu yang mahal, cukup mobil keluarga Indonesia, mobil apa ? Sejuta umat, lalu merenovasi rumah ini...."
" Bang, mengayalnya jangan ketinggian ! Memangnya rumah dan lahan itu kalau dijual, laku berapa "
Tante Widuri menghancurkan khayalan Om Joko dalam sekejap.
" Adalah, laku setengah M, itu juga harus pakai golok panjang ketika meminta yang membeli untuk membayar segitu "
Om Joko tergelak.
Amel menggeleng gelengkan kepalanya.
" Eh, Mel, gimana ? Enak kawin 'kan ? Bastian itu kan baik orangnya "
" Nikah Om, bukan kawin "
" Tau nih Abang, gak juga bisa merubah gaya bahasanya "
Tante Widuri mengambil alih Alif dari gendongan Amel, bocah itu kelihatan sudah mengantuk.
" Ck, sama saja, toh sekarang Amel juga sudah tahu beda nikah dengan kawin "
Om Joko ngeyel.
Amel cuma melengos.
" Eh Mel, untuk bagian milikmu, nanti mau kamu belikan apa ? "
Om Joko mulai serius.
" Gak ada Om, disimpan aja dulu, aku kan pengen merasakan bagaimana punya uang banyak, setengah M "
Amel ikutan berkhayal.
Om Joko nyengir.
" Memangnya kamu enggak dikasih uang sama Bastian ? Gak mungkin 'kan ? "
" Adalah Om, tapi kan beda, uang dari Mas Bas, aku gak enak kalau boros-boros, baru jadi istrinya, kalem dikit Om, ntar, kalau udah agak lama dikit, baru tuh, mulai banyak maunya "
" Dasar matre "
Ejek Om Joko.
" Dengan istri sendiri enggak masalah Om, dari pada dia kebanyakan pegang uang ? Penyakit laki-laki kan gitu, gak boleh kantong tebal dikit, bawa'annya pengen nyantuni janda-janda.
Kalau janda tua, miskin, gak masalah, anak-anaknya jadikan anak asuh, sekolahkan.
Nah ini, yang disantuni janda-janda bohai, lebih cantik dari pada bini di rumah, apa gak minta disunat untuk kedua kali tuh "
Om Joko melongo.
" Sadis bener Mel "
" Iya, biar Abang enggak coba-coba mulai lirik- lirik janda kompleks sebelah, belum juga tanda tangan jual beli, udah mulai gatel aja "
Tante Widuri nyambar dari arah dalam, sepertinya Alif sudah tidur.
" Enggak ada sayang, dek Loli cuma minta tolong pasangkan gas elpiji-nya, dia mau masak tapi takut masang gas sendiri "
Om Joko membela diri.
" Alasan, dia takut gas-nya meledak ? Memangnya Abang enggak kuatir kalau gas meledak, aku jadi janda "
" Iya, Tan, marahin saja Om Joko, laki-laki jangan dikasih celah, ntar terus cari-cari kesempatan "
Amel ngompor- ngomporin.
" Mel, kamu sebenarnya keponakan siapa sih, Tante Widuri apa Om ? "
Om Joko mangkel lihat Amel, ntar kalau Widuri istrinya ngambek, dirinya bakalan gak dapat jatah malam, kan nganggur burung perkutut-nya.
Amel cengengesan.
" Aku pembela kebenaran, Om "
Om Joko mencibir.
Suasana saling ledek di rumah Om Joko begitu, yang membuat Amel menjadi rindu untuk pulang ke rumah Om Joko.
Tamu yang di tunggu-tunggu oleh Om Joko, tidak lama sudah sampai di depan rumah.
Transaksi sudah di sepakati, Om Joko dan Amel,sebagai wakil atau ahli waris dari Bapaknya juga sudah tanda tangan.
Uang sudah ditransfer ke rekening Om Joko.
" Mel, bagian-mu mau cash atau Om transfer ? "
" Transfer saja ya Om, tapi aku belum punya rekening, namanya juga pengangguran selama tiga tahun "
" Ya sudah, yuk, Om temani buka rekening sekalian nanti bisa Om transfer uangnya "
" Oke itu Om.
Eh, Tan, ikutan yuk, sekali-kali bersenang-senang, mumpung Om Joko sedang kaya, daripada nanti diam-diam Om Joko mentraktir janda kompleks sebelah "
" Mel, jangan mulai deh ! "
Om Joko berdecak.
Amel tertawa.
" Oke juga ide mu, Mel, Bang, jemput Carla dulu dong, aku mau siap-siap "
" Baik istriku sayang, tapi jangan lupa ya, ntar malam boleh nambah "
Om Joko mengedipkan matanya genit.
Amel memukul dahinya sendiri.
Bagaimana Otak Amel gak gresek, nah Om Joko kaya' gitu, untung Amel sudah ada Bastian, coba kalau enggak ? Gigit jari Amel membayangkan yang tak terbayangkan.
...******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Mryn
🤣🤣🤣
2024-06-25
0
Yayoek Rahayu
bisa aja si amel....
2022-04-09
0
Januar
bikin ngakak thor🤣🤣🤣🤣
2021-12-24
0