Amel menatap Bastian yang makan dalam diam tanpa komentar.
" Pak "
Tidak ada sahutan.
" Pak "
Bastian mengangkat kepalanya, menatap Amel dengan tatapan tidak suka.
Yang sedang PMS ini sebenarnya siapa sih, aku atau dia ? Kenapa dia yang emosinya angin anginan.
" Rasanya bagaimana ? "
" Jengkel, kesal dan rasanya pengen njitak kepala kamu, tapi saya gak tega "
Bastian menyudahi acara makannya padahal baru juga setengah piring.
" Masa' cuma karena masakan-ku enggak sesuai dengan selera lidah Bapak, Bapak mau memukul kepala aku "
Amel jadi pengen nangis.
Bastian mendesah.
" Mel, bukan karena masakan kamu, tapi kapan kamu bisa merubah panggilan ke saya, terus saja kamu manggil Pak, pek, pok. Tapi kenapa di depan mbak Nindy, kamu bisa memanggil saya, Mas ? Apa harus Mbak Nindy dipanggil ke sini biar kamu bisa manggil saya, Mas ? Saya bukan Bapak kamu, Mel "
Bastian meletakkan sendok dan garpu-nya dengan sedikit membanting.
Dia bener bener kesel.
" Tapi aku suka manggil Bapak, kalau cuma berdua, serasa aku menghapus peristiwa buruk sepuluh tahun yang lalu, aneh ya Pak ? "
Bastian memutar bola matanya jengah.
" Terserah kamu, asal di depan orang kamu tidak memanggil saya, Bapak "
Bastian menyerah, mungkin dengan membiarkan Amel memanggilnya Bapak, anggap saja menghilangkan kesalahan yang pernah Bastian lakukan.
Selepas makan siang dan membereskan sisa makan tadi, Amel menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.
Bastian juga gak tahu mau melakukan apa.
" Mel, jalan jalan yuk ! "
Amel yang letih, apalagi dia sedang datang bulan, males kalau cuma mau jalan jalan dan tidak punya tujuan.
" Kemana ? "
" Kemana saja yang kamu suka, saya bosen dirumah, mau nyicil buat saya junior, Kamu-nya sedang gak bisa diapa-apain "
Amel cuma melengos, bener sih kata Pak Bas, pengantin baru cuma dirumah saja, kalau sudah bisa unboxing sih gak apa-apa, nah ini.
Tapi kan ada yang lain, ibarat makanan, coba saja testernya dulu, kalau cocok baru bungkus.
Bastian saja yang tidak mau, icip-icip kek.
" Tapi aku capek, tadi katanya mau mijitin, kapan ? Tahun depan ? "
Amel cemberut, menelungkupkan badannya diatas kasur, jadi ibu rumah tangga ternyata melelahkan, waktu kemarin tinggal dengan Om Joko, Amel tidak seletih ini.
Dirinya, Om Joko dan Tante Widuri, mereka biasa berbagi tugas.
Om Joko menjaga Alif dan Carla, Amel bersama Tante Widuri mengerjakan pekerjaan rumah.
Nah kalau sekarang ? Semua Amel yang mengerjakan, belum lagi harus menghadapi Nindy yang menguras energi, karena Amel harus pintar menjawab dan pakai siasat cantik agar Nindy tidak lagi keganjenan pada Bastian.
Apakah cinta monyet yang Amel rasakan dulu seyogyanya adalah cinta sejati Amel.
Buktinya sekarang, Amel gak rela jika Bastian beramah tamah dengan Nindy.
Amel tersentak kaget ketika telapak tangan Bastian menyentuh betis kaki Amel.
" Telungkup saja ! Bukankah kamu capek ? "
Bastian mencegah ketika Amel hendak membalikkan badannya mau telentang.
Bastian terus mengurut betis mulus milik Amel.
Masih gak nyangka dan tidak percaya jika dia yang jadi istriku, gadis kecil yang, ish....
Bastian menghembuskan napas pelan.
" Pak, bisa gak kalau Bapak jangan tebar tebar pesona diluaran sana, aku sebenarnya males ribut, aku cuma ingin memiliki suami yang tidak menarik bagi perempuan lain "
Bastian yang memijat pelan betis Amel mengerutkan dahinya.
" Saya gak tebar pesona Mel, kalau yang kamu maksudkan Anne, yang kita temui di supermarket itu, itu kan sebuah ketidaksengajaan.
Mbak Nindy, dia tetangga depan "
Amel membalikkan badannya, menatap Bastian yang duduk di dekat bagian kakinya.
" Bapak nyesal ya menikah denganku yang ternyata bocah yang dulu...."
" Mel, kamu sudah jadi istri saya, apa yang harus saya sesali "
Potong Bastian
" Kalau dari awal Bapak tahu, jika aku, anak perempuan yang dulu itu, apakah Bapak akan tetap menikahi aku ? "
Bastian mengamati wajah Amel yang terlihat sedikit sendu, sepertinya dia sedang melow.
" Kamu sendiri, bukankah kamu dari awal tahu jika saya adalah pria yang telah menghina dan menyakiti hati kamu, kenapa kamu tidak menolak ? Atau kamu memang sengaja membiarkan saya tidak tahu, lalu kamu akan membalas dendam ? Saya menyesal, lalu menceraikan kamu, seperti katamu malam kemarin ? "
Bastian kini menatap tajam wajah Amel yang tersentak kaget, Amel tidak menyangka jika Bastian menebak dengan benar.
" Apakah pernikahan kamu anggap seperti itu ? "
Amel pelan menggeser posisi, dari tiduran menjadi duduk bersila.
Amel menundukkan kepalanya, ia tahu jika dari awal dirinya salah, makanya dia tidak terlalu serius dengan pernikahan yang baru dijalaninya dengan Bastian.
Tetapi setelah menghadapi dua perempuan berusia matang, yang satu berpenampilan dewasa, sudah pasti menarik, siapa lagi kalau bukan Anne.
Dan yang satu lagi Mbak Nindy, wanita cantik dan seksi yang ada di depan rumah.
" Maaf, Pak, semula aku memang ingin membalaskan sakit hatiku.
Bapak tidak pernah merasakan jadi anak seperti aku yang tidak pernah diinginkan.
Kedua orang tuaku lebih memilih meninggalkan aku sendiri demi hidup bahagia dengan keluarga baru mereka, tanpa perduli ada aku, bukti cinta mereka dahulu.
Apakah setelah pernikahan itu berakhir lalu aku tidak berarti ? Ibaratkan barang, aku sudah usang ? "
Glek.
Bastian menelan salivanya.
" Hidup hanya bersama Kakek dan nenek, mereka, yang pernah menjadi orang tuaku, sekalipun tidak pernah melihat aku.
Lalu datang Bapak dan teman-teman Bapak ke perkebunan, aku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Aku beranikan diri untuk menulis surat itu pada Bapak, tanpa aku menyadari bagaimana wajah dan fisikku. itulah cinta di masa remaja Pak, tapi Bapak justru menghancurkan hatiku.
Andai Bapak bisa sedikit saja memiliki perasaan untuk tidak menghina diriku.
Aku hanya menyampaikan rasa cintaku, bukan berharap Bapak akan menerimanya.
Pak, melukai hati gadis remaja yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, seperti merusak sebuah lembaran kertas, walaupun berusaha untuk merapikan kembali, bekasnya masih kelihatan.
Apakah aku salah jika menaruh dendam pada Bapak ? "
Kedua mata Amel mengembun, sebisa mungkin dia tidak mau menangis.
" Jadi sekarang mau kamu apa ? Kamu ingin mengakhiri rumah tangga ini ? Kamu masih sakit hati dengan saya ? "
Tenggorokan Bastian terasa tercekat, dia bisa merasakan perasaan Amel saat itu.
" Aku...."
Amel tidak tahu mau ngomong apa lagi, segala uneg-unegnya sudah ia keluarkan.
" Mel "
Bastian menyentuh telapak tangan Amel.
" Kalau Bapak menerima aku bukan karena terpaksa, tentu saja aku...."
Bastian menarik Amel dan membenamkan wajah Amel dalam pelukannya.
Bastian tahu jika Amel mungkin sangat terganggu dengan Nindy, rumah tangga mereka baru juga berusia dua hari, tapi Amel sudah harus perang urat leher untuk mengusir jauh wanita kesepian seperti Nindy agar jangan kegatelan pada suami orang lain.
Akhirnya, tangis yang Amel tahan-tahan, pecah juga dalam pelukan Bastian.
...*******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Safitri Agus
sini Mel kupeluk juga,🥺
2023-09-02
0
Suzieqaisara Nazarudin
Kasian deh Amel..Kalau kita gak suka seseorang jangan lah kita menghina fizik nya..itu memang sangatlah sensitif,bisa bikin orang jadi down..
2022-07-31
0
Revita Elisa
aku mulai suka alur cerita ini yg keren dan kocak...
maaf thoor tdi nya aku cumn baca like udah...
skrang aku koment and vote...
2021-12-27
0