POV Bastian
Bocah yang dulu, dekil, rambutnya kaku karena mungkin jarang di sentuh oleh shampo, sedikit bau lagi, nah sekarang, see, rambutnya lembut, kulitnya mulus, bagaimana bisa berubah sebening ini ? Pasti bukan dia.
Si Joko ? Seperti pria kelas menengah kebanyakan, berkulit coklat, dan penampilan biasa saja, aku sendiri tidak percaya jika dia keponakan Joko.
Lihatlah lagaknya ? Dia terlihat biasa saja, sepertinya dia memang sudah merencanakan membalas perbuatanku dulu.
" Terus mau kamu apa ? "
Kenapa harus itu yang aku tanyakan ? Bodoh.
" Terserah Bapak, mau menceraikan aku ? Silahkan ! Gak ada ruginya juga "
Enak bener jawabannya, lima puluh juta itu diambil dari tabunganku sendiri, masa belum satu malam sudah bercerai, jika Papa dan Mama tahu, bisa habis aku, bakalan di coret namaku dari kartu keluarga.
Lebih baik mengalah.
" Enggak, enak saja, itu kan masa lalu, saya minta maaf ! "
Kulihat dirinya cuma melirik sekilas, ah mungkin permintaan maaf ku kurang menyakinkan.
" Waktu itu kamu kan masih kecil, ngapain kirim kirim surat cinta ? "
" Tapi kan tidak harus melemparkan jijik surat dariku, ingat Pak, jangankan aku, selebriti kelas dunia waktu masih anak anak juga gak sekeren sekarang, semua bermetamorfosis, bukan cuma kupu-kupu saja yang dari ulat yang menggelikan menjadi kupu-kupu yang cantik "
Bener juga sih ucapannya, tapi kan harusnya dia mengerti, jika itu kan dulu, usiaku juga baru berapa ? Baru jalan dua tiga, pola pikirku belum dewasa, geli, murid SD mengucapkan kata cinta, membayangkan saja, aku masih tergidik geli.
" Iya, saya minta maaf "
" Cuma minta maaf aja ? "
" Terus mau kamu apa ? Saya harus bersujud di kaki-mu gitu ? Gak takut dosa kamu ? Saya suami kamu, ingat itu, dan jangan pernah bermimpi jika saya akan melepaskan kamu, tidak akan, masih untung saya tidak meminta hak saya malam ini juga, kalau saya maksa, kamu bisa apa ? Mau teriak ? Ya teriak saja ! Paling juga Papa dan Mama kira, kita lagi memproses cucu untuk mereka "
Kepalang tanggung, mau melepaskan itu tidak mungkin, tiga kali gagal menikah, sial, kenapa justru dengan dirinya pernikahan berjalan dengan lancar, apa jangan jangan ini semua karena kutukan dirinya waktu itu.
Ah, gak mungkin, memangnya ini cerita dongeng atau legenda yang masih mempan kutuk mengutuk ?
Do'a karena terzolimi dengan ucapanku ? Bisa jadi, ah tidak masalah, dia sekarang cantik, mau aku kena batunya kek, atau apalah bodo, toh dia sekarang sudah cantik dan jadi istriku.
Setiap orang kan pernah melakukan kesalahan, begitu juga dengan aku, yang penting kedepannya harus berubah lebih baik dan jangan melakukan kesalahan yang sama.
...****************...
Bastian masih menatap Amel yang duduk anteng di tepi ranjang, kakinya yang terjuntai kebawah di goyang goyangkan.
Dia masih tidak percaya jika perempuan yang sudah menjadi istrinya itu adalah bocah yang pernah menulis surat cinta untuknya.
Pelan Bastian melangkah mendekati ranjang.
" Eh, Bapak mau ngapain ? "
Amel sudah siap siap dengan memeluk bantal.
" Tidurlah, ngantuk, memang kamu kira mau ngapain ? Atau kamu mau melakukannya malam ini ? Kalau kamu mau, saya juga gak nolak "
Bastian bener bener merasa capek, capek badan dan pikirannya, dia masih merasa semua hanya mimpi buruk, lalu terbangun, dan Amel, bukan gadis kecil yang dihinanya dulu, agar rumah tangga yang baru di bangunnya bisa mulus dan rata seperti meja kaca.
" Gak mau ! "
" Kalau saya maksa "
" Saya teriak "
" Teriak saja, gak ada yang melarang "
" Bapak jangan tidur di sini dong ! "
" Terus saya harus tidur di mana, inikan ranjang saya "
" Ngalah dong Pak, tidur dimana gitu "
" Gak mau, enak saja, kalau kamu tidak mau tidur dengan saya, kamu boleh tidur di lantai "
Bastian mulai memejamkan matanya sembari memeluk bantal guling.
Mau tidak mau, akhirnya Amel membiarkan Bastian tidur di sebelahnya.
...******...
Sampai menjelang pagi keduanya tidur saling memunggungi.
Bastian bangun lebih dahulu, karena dia sebenarnya tidak benar benar tidur, kilas balik peristiwa sepuluh tahun yang lalu terus berputar di dalam kepalanya, seperti sebuah film.
Setelah memakai pakaian rapi, Bastian lebih dulu turun ke bawah tanpa menunggu Amel yang masih bersiap siap.
" Duh yang penganten baru, lemes bener, Bas ? Jangan di forsir, ntar malam kan masih bisa, kasihan Amel, dia masih muda dan baru pertama kali lagi "
Goda ibunya menggeser kursi makan.
Bastian tidak menanggapi, dia mengesap kopi buatan mbak Nuri, ART-Mamanya.
Papanya Bastian hanya terkekeh kecil.
Tidak lama Amel sudah ikut bergabung, keadaan Amel berbanding terbalik dengan Bastian, jika Bastian lesu karena tidak bisa tidur, Amel justru tidur dengan nyenyak.
Ranjang empuk dan wangi, kan bertabur kelopak bunga mawar, untung gak dikasih irisan daun pandan, kalau tidak, sudah seperti kuburan baru, selimut tebal, beuh, nikmat.
Amel justru lupa kalau ada Bastian yang terbaring di sebelahnya, karena biasa dirumah Om Joko, hampir setiap malam akan mendengar Alif yang menangis karena popoknya basah atau terbangun dikarenakan minta mimi', kalau malam tadi kan enggak, Pak Bas kan belum berani minta buatkan susu di tengah malam.
Memangnya Pak Bas masih bayi Mel ?
" Wah, menantu Mama makin cantik aja, sini sayang, duduk dekat Mama ! Jangan dekat dekat Bastian, nanti kamu dimakannya lagi "
Tante Dina, Mamanya Bastian menarik tangan Amel untuk duduk di sebelahnya.
Amel menurut, sedikit melirik ke arah Bastian yang tersenyum kecut.
" Bastian gak main kasar kan sama kamu ? Kalau dia minta gaya aneh aneh dan memaksa, teriak saja, panggil Mama, biar Mama getok kepalanya, secara dia sudah kelama'an baru punya istri, pasti lagi kemaruk "
Tante Dina ngomong asal nyeplos, suaminya hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.
Bastian melotot.
" Jadi kalau Mas Bas, maksa, aku boleh teriak ya Ma ? "
Amel melirik sinis ke arah Bastian.
" Oh boleh sayang, teriak saja yang kenceng ya, sekarang makan yang banyak, biar stamina kamu kembali pulih "
Tante Dina menggeser ayam goreng bumbu mendekat ke arah Amel, dan menyenduk-kan nasi kuning ke dalam piringnya.
Didepan Mama menyebut aku Mas, tapi coba di dalam kamar, Pak, pandai sekali dia bersandiwara.
Bastian menyendok nasi ke dalam mulutnya dengan suapan besar, dia jengkel melihat Amel, padahal niatnya mau memaksa Amel, secara waktu Bastian berkata akan meminta haknya dan tidak perduli jika Amel berteriak, Mamanya tidak akan perduli, dan Amel diam saja, nyatanya apa?
Lihatlah senyum kemenangan itu ? Menyebalkan.
Percuma juga sudah punya istri kalau masih nganggur juga.
Bastian mendesah putus asa, dia masih belum tahu menggunakan cara bagaimana agar Amel mau melupakan peristiwa sepuluh tahun yang lalu dan menerima Bastian sebagai suaminya tanpa dendam masa lalu.
...******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Mryn
😄😄😄
2024-05-29
0
Safitri Agus
ngulang baca asyik juga,bebas ngakak,🤣🤣🤣
2023-09-01
0
maharastra
disayang,diperhatiin bas
2022-04-10
0