Enak juga mau nikah sama perjaka tua, eh tunggu dulu, belum tentu dia masih perjaka, secara sudah setua gitu, emang selama ini ngapain aja ? Tiduran ? Atau cuma nonton TV sepulang dari mengajar.
Ah, gak perduli, yang penting kawin, eh nikah maksudnya, dari pada badan terus meriang setiap melihat Om Joko ndusel ndusel Tante Widuri, lebih baik kan nikah, sama Pak Bas lagi, wuih.
Baru membayangkan saja, Amel sudah kebelet pipis.
Nervous, maksudnya.
" Mel, jangan lupa nanti beli baju tidur yang kaya' saringan tahu itu, ya, ! Kata orang orang sih lingerie, bahasanya, biar suami kamu klepek klepek enggak bisa nahan "
Tante Widuri cekikikan sendiri.
Itu pesan Tante Widuri sebelum Amel pergi untuk membeli perlengkapan pribadi, dari daleman atas sampai ke bawah.
" Tante mau sekalian aku belikan ? Mumpung banyak uang "
Amel mengipas ngipaskan satu gepok uang berwarna biru, didepan wajahnya, pagi tadi sebelum Om Joko berangkat ke sekolah, dia memberikan uang yang diberikan oleh orang tua Bastian pada Amel, untuk membeli keperluan pribadinya.
" Gak perlu Mel, pakai daster lusuh saja, Om-mu sudah panas saja bawa'annya, apa lagi pakai yang begituan ? "
Amel cuma bisa nyengir.
Sebenarnya Amel malas, apa gunanya beli daleman yang semua serba baru dan berenda renda, enakan tidur pakai sarung aja, ntar juga dibuka lagi, menghemat waktu, eh.
Ke tempat Anwar Ah.
Anwar, temen Amel dari SD dan dari kampung, sama sama pindah ke ibu kota provinsi untuk merubah nasib.
Nasib Anwar sih berubah, dia bisa bekerja sebagai security di sebuah pusat perbelanjaan, Amel yang gak berubah rubah, hanya terus sebagai penunggu rumah.
Entah sudah berapa banyak dia membuat surat lamaran kerja, tapi hasilnya belum ada.
Hari ini Anwar libur kerja, Amel nyamperin Anwar di kos kos'an tempat Anwar yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan tempat dia bekerja
" Kau beneran mau nikah sama Pak Bas ? Kok bisa ? Memang dia tahu siapa kau sebenarnya ? "
Anwar tidak percaya ketika Amel mengajaknya untuk menemani dirinya mencari segala macam yang dipesankan Tante Widuri tadi.
" Bener lah, ini buktinya "
Amel menunjukkan cincin bermata hijau yang tersemat di jari telunjuknya, kok bukan di jari manis ? Iya kalau di letakkan di jari manisnya sedikit kedodoran, Amel takut cincinnya terlepas dari jarinya, ntar hilang, rugi kan ?
" Dia enggak tahu, tenang saja, setelah akad nikah, dan saat dia akan meminta begituan, aku akan membongkar siapa aku yang sebenarnya "
" Ntar dia jijik lho sama kamu, ingat bagaimana dia ngehina kau, Mel "
" Biarin, biar kapok dia, syukur syukur jika dia gak jadi nyentuh aku, biar kalau aku di ceraikan, aku masih Ting Ting, dijamin masih Ting Ting "
Kok nyanyi Mel
" Kau tidak takut jadi janda ? "
" Ngapain takut, jadi janda lebih menarik banyak peminat, atau kalau enggak, aku bisa nikah sama kamu kan, War ? "
Amel menarik turunkan alisnya lucu.
Anwar cuma mesem.
...*****...
" Mel, masa' beli beginan ngajak aku sih ? Calon suami kamu buka aku Mel "
Anwar protes, di ajak Amel beli untuk daleman.
" Gak pa pa lah, War, siapa tahu setelah aku di cerai, kau yang akan melihat aku memakai pakai kaya' gini "
Busyaeet si Amel, dari tadi ngomongnya nyerempet nyerempet terus, gak tahu apa ya kalau aku udah meriang dan kebelet pipis.
" Jangan ngaco deh Mel, nikah aja belum udah mikirin di cerai "
" Siapa tahu War, jaga jaga, kau jangan kawin dulu, tunggu aku ! "
" Nikah Mel, nikah "
Amel terkekeh, dia jadi ketularan Om Joko.
Teringat dengan Om-nya yang baik hati dan tidak sombong itu, Amel mengubungi Om Joko.
[ Om, aku lagi belanja nih, Om ada nitip gak ]
[ Baru bawa uang lima juta, gayamu sudah sok kaya Mel, tapi emang iya sih, kau kan belum pernah pegang uang sebanyak itu ]
Om Joko tergelak di seberang sana.
[ Jangan ngejek Om, ntar kalau aku udah jadi nyonya Bastian, pasti uangku ada segini, buruan Om ! Pulsaku udah mau habis nih ]
Om Joko berdecak
[ Pegang uang segitu masa gak bisa beli pulsa ]
[ OOO....Om ]
[ Iya iya, belikan baju tidur yang sexy ya Mel, hadiah untuk Tante Widuri, biar....]
Belum selesai Om Joko berbicara pulsa di ponsel Amel tinggal kenangan.
" Mel, suaramu bisa lebih kenceng lagi gak ? Tuh, kita jadi bahan perhatian "
Amel mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko yang menjual pakaian dalam perempuan, beberapa pasang mata menatap Amel dengan tatapan terganggu, sebagian lagi mencemooh, sisanya kepo.
Amel cuek,
" Biarin aja, kita gak kenal mereka "
Amel melanjutkan memilih milih apa yang akan dibelinya termasuk dengan pesanan Om Joko.
...*****...
" Cintaku, nanti malam pakai ini ya ! "
Om Joko memberikan tiga helai lingerie pilihan Amel, kepada Tante Widuri yang tengah menyuapi Carla makan bubur kacang ijo.
Kedua mata Tante Widuri membulat dengan sempurna.
" Untuk apa aku pakai baju beginian Bang, belum sempat di pakai, Alif udah keburu bangun, ogah ah, ntar masuk angin "
" Pakai dong sayang, biar kaya' di film film gitu "
Rayu Om Joko sambil nowal nowel dagu Tante Widuri.
Carla, dianggap boneka hidup yang sebagai hiasan diruang tamu, hanya diam dan membuka mulutnya ketika ibunya menyuapkan bubur kacang ijo kedalam mulutnya
Amel, anggap saja dia orang orangan sawah.
" Kalau di film film itu bang, kamarnya pakai AC, jadi tidurnya pakai selimut tebal, bukan selimut tetangga ya, nah kita, ada Alif yang tidur bersama kita, pakai kipas angin yang bunyinya wush wush wush bisa koyak tuh baju, kasih Amel aja, dia sebentar lagi jadi pengantin "
" Gak perlu Tan, aku sudah beli, satu lusin malah "
" Ah, yang bener, Mel, untuk apa sebanyak itu ? "
Om Joko kepo.
" Di jual lah Om,
Ngapain juga aku beli sampai satu lusin, dua aja cukup, palingan juga di pakai satu malam aja, selanjutnya...."
" Selanjutnya apa Mel ? "
Tante Widuri ikutan pengen tahu.
" Gak perlu pakai begituan, aku mau tidur pakai kebaya, biar Pak Bas gak bisa macam macem "
Tante Widuri cekikikan.
" Sekarang aja kamu bilang gitu Mel, karena belum tahu rasanya, coba kalau udah tahu, beuh...."
" Rasa apa Om, durian ? Di belakang rumah nenek kan banyak, sekarang lagi musimnya lagi "
Amel sengaja membelokkan omongan Om Joko, kalau di biar biarkan, Om Joko suka lepas kontrol.
" Eh iya ya Mel, sekarang kan lagi musimnya, mendingan tanah di kampung kita jual aja Mel, bagian ibukmu, bisa untukmu "
Mulai Om Joko yang kepengen kaya, buntut buntutnya mau menjual tanah warisan.
" Terserah Om aja, aku terima bersih "
Sama aja Mel.
...******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Devi Sihotang Sihotang
ngakak aku baca nya thor
2023-05-02
0
Riska Wulandari
aku setujuuuuuu banget rencana Amel..ntar pas mau malam pertama kasih tau rahasiamu Mel...biar kelimpungan tuh si Babas 🤣🤣
2021-12-25
1
Hatija Lapengo Lapaola
dr awal baca d a lucu
2021-10-31
0