13.Hei janda-ku

Bastian yang sedang bersantai sembari menonton TV, mengalihkan tatapannya dan melihat kearah Amel yang baru keluar dari dalam kamar mereka.

Amel mengenakan kaus kebesaran berwarna putih dengan motif abstrak di bagian dada, celana jeans robek robek di lutut dan di pahanya, serta topi yang menutupi sebahagian kepalanya, rambut panjangnya di ikat ekor kuda.

" Mau kemana Mel ? "

" Pasar, kan semalam sudah aku bilang, kalau hari ini aku mau ke pasar tradisional "

" Dengan penampilan seperti ini ? "

Bastian menunjuk penampilan Amel dengan ujung jari telunjuknya.

" Iya, kenapa ? "

" Kamu seperti mau ngamen, Amel, pakailah pakaian seperti biasa, kamu sudah menikah, pakai dress, kamu terlihat cantik dan anggun "

Amel memutar bola matanya malas, ke pasar tradisional di suruh memakai dress ? Selebriti saja pakai daster dan sendal jepit.

" Pak, aku mau ke pasar ikan, dan membeli segala keperluan dapur, yang pastinya di sana tidak senyaman Supermarket.

Pakaian yang aku kenakan ini sudah cukup nyaman, untuk bergerak kesana kemari "

" Oh, gitu ya, Saya boleh ikut ? "

" Gak boleh, sudah aku katakan kemarin kalau aku mau sendirian, Bapak di rumah saja, atau...."

Amel mulai berpikir.

Ke pasar membutuhkan waktu tidak sebentar, duh tuh ulet keket bisa aja datang kemari, sementara aku gak ada di rumah, oh, gak bisa dibiarkan.

" Dari pada Bapak bengong, ntar digigit nyamuk, Bapak boleh ikut, tapi tunggu di parkiran ya ? "

Bastian hanya bisa menghembuskan napas pelan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, gak ngerti dengan keputusan Amel yang gampang berubah rubah.

Gaya Amel yang seperti gadis remaja, berbanding terbalik dengan Bastian.

Mengantar Amel dengan memakai stelan celana bahan dan kaus berkerah, dimasukkan ke dalam lagi.

" Rapi bener Pak ? Padahal cuma didalam nunggu di parkiran "

Ujar Amek berjalan mendahului, membiarkan Bastian mengunci pintu rumah.

" Mau kemana Mas Bas ? "

Tuh kan, baru juga di rasani, suara manja Mak Lampir mulai kedengeran.

Ingat, hanya Bastian yang ditegur, Amel yang sudah berdiri diam disebelah pintu mobil, tidak dipandang, seakan Amel mahluk Astral yang tak kasat mata.

" Ke pasar tradisional mbak, nemani istri "

" Ih, ke pasar tradisional kan jorok, berdesak desakan, pasti bau ketek "

Nindy menutup hidungnya dengan jijik.

Amel melotot.

Bastian hanya tersenyum melirik ke arah Amel yang mulai ancang ancang membalas perkataan Nindy.

" Tante, gak perlu menunggu di pasar untuk bisa mencium bau ketek, disini aja, dari tadi udah tercium dari jarak sepuluh meter "

Amel mengibas ngibaskan telapak tangannya di depan hidung.

" Apa maksud kamu ? "

" Gak nyadar ? Tuh, bulu ketek Tante melambai lambai mengucapkan sayonara, gak kecium ya ? Ya iyalah, karena udah terbiasa, jadi aromanya sudah akrab sama hidung situ "

Amel tergelak sembari masuk ke dalam mobil.

Bastian hanya bisa menahan tawanya ikut masuk dan duduk di belakang kemudi.

Terlihat jika Nindy tengah mengendus endus keteknya yang terbuka lebar, Amel sampai memukul mukul dasbor mobil saking gelinya melihat tingkah Nindy yang seperti guk guk pelacak.

" Mel, kamu sepertinya senang sekali mengerjai mbak Nindy "

" Siapa suruh dia kegatelan, terus menerus menegur Bapak, Mas Bas, Mas Bes, Mas Bos "

Mulut Amel merot merot memperagakan gaya Nindy memanggil Bastian, membuat Bastian terkekeh geli.

" Mungkin dia hanya butuh temen, Mel "

" Butuh temen gak gitu juga kale, bukan hanya Bapak yang ditegurnya, ada aku dan tetangga lainnya, kan banyak kanan kiri, komplek perumahan ini, banyak penghuninya, bukan cuma kita "

" Memangnya kamu mau berteman dengan mbak Nindy ? "

" Oh tidak, ntar dia rajin kerumah, lama lama nginep alasan kesepian, bisa jadi setelah itu...."

Amel melirik tajam pada Bastian yang mulai membelokkan mobilnya ke parkiran yang ada di depan pasar tradisional, jarak yang tidak terlalu jauh dari komplek perumahan tempat tinggal mereka.

Amel maupun Bastian tidak lagi melanjutkan obrolan tentang Nindy, karena Amel buru buru keluar dari dalam mobil, meninggalkan Bastian di parkiran.

Memasuki pasar ikan, Amel mulai menggunakan masker mulut.

" Hei janda-ku "

Rangkulan di bahu mengejutkan Amel, hampir saja Amel menendang kakinya jika tidak melihat dulu siapa yang merangkul pundaknya.

" Anwar, aku pikir siapa, tau aja kalau aku rindu "

Tanpa sadar Amel melingkari tangannya ke pinggang Anwar.

Anwar melengos lalu melepaskan tangannya dari pundak Amel.

" Lebay, baru berapa hari udah rindu, memang kau masih ingat sama aku ? Kau kan sedang pengantin baru, pastinya cuit cuit "

Anwar bersiul nakal.

Amel tidak menanggapi

" Eh, War, gak kerja ! Ngapain di sini ? "

" Shift ku nanti sore, aku sedang mencari sepatu second untuk kerja, tapi yang dari luar, walaupun second, mutunya gak kalah bagus dengan yang baru "

" Tambah dikit bisa beli yang baru, kenapa musti yang second ? "

Anwar akhirnya menemani Amel berbelanja ikan, Ayam dan daging serta sayuran.

Dia lupa kalau semula melarang Bastian untuk masuk ke dalam pasar biar enggak mahal. Sekarang justru berdua dengan Anwar, semua kebutuhan yang dibelinya dibayar tanpa menawar terlebih dahulu.

" Istri saja menunggu kau jadi janda, apa gak second tuh ? "

Anwar menowel dagu Amel yang sebahagian tertutup masker.

" Jadi kau mendo'akan aku jadi janda ? Jahat "

" Lho, kan kamu sendiri yang bilang, kalau Pak Bas tahu bahwa, kau adalah Amel yang item, kurus, dekil dan idup itu, dia akan menceraikan dirimu, dan aku akan menggantikan posisinya, tenang saja, aku akan menerima dirimu apa adanya "

Anwar ngakak.

" Aku sudah memberitahukan dirinya siapa aku War "

" Terus, apa tanggapannya ? "

" Gak ngaruh tuh, walaupun semula dia enggak percaya "

" Yah, gagal deh aku menunggu jandamu "

" Anwaaaarrrr, jangan jahat sama temen sendiri ! "

Suara Amel yang kenceng membuat beberapa orang pedagang dan pembeli yang ada disekitar mereka menatap bingung, melihat Amel dan Anwar justru cengengesan, mereka kembali ke aktivitasnya semula.

Amel juga lupa jika Bastian sudah terkantuk kantuk menunggu dirinya di parkiran, Amel justru berkeliling pasar mencari sepatu yang diinginkan Anwar, untungnya Amel sudah membeli semua yang dibutuhkan untuk keperluan dapurnya.

Sudah dua jam lebih Amel berada di dalam pasar, Bastian merasa ada yang tidak beres.

Memang apa yang dibelinya di dalam pasar, kenapa bisa lama sekali, yang makan cuma aku dan dia, bukan mau pesta.

Dengan menggerutu, Bastian mulai masuk ke dalam pasar, mencari cari sosok Amel.

Penampilan Amel yang memakai topi, membuat Bastian tidak sulit mencari Amel diantara kerumunan orang yang berlalu lalang

" Saya menunggui kamu hampir lumutan, eee...Kamu-nya malah dua dua'an disini "

Suara Bastian mengejutkan Amel yang tengah memilih milih sepatu untuk Anwar, dan Anwar-nya sedang berjongkok mencoba sepatu yang sudah dipilihkan Amel.

" Bapak, kok nyusul ? "

" Kenapa ? Takut ketahuan kalau kamu bertemu dengan...."

Bastian menatap Anwar yang juga tengah menatapnya dengan tatapan tidak suka.

...******...

...🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵...

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀

☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀

nggak kebayang saat nindy lagi end*s ket*k, hi-hi-hi,🤣🤣🤣
ada nggak sih, stiker yang ngakak guling guling
😆😆🤣🤣🤣

2021-12-06

0

Malem Sihombing

Malem Sihombing

Amel sama Anwar jangan dibawa candaan dong pernikahan Amel nya, takut suka beneran si Anwar sama Amel kan bahaya

2021-10-25

0

Ran_kudo

Ran_kudo

nahh lohh ketahuan Mel...

2021-08-06

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 2. Lamaran
3 3. Aku terima bersih
4 4. Pernikahan
5 5. Kalian menjebak saya ?
6 6. Percuma
7 7. Sudah jinak.
8 8. Mencari Alasan
9 9. Membeli CD
10 10. Jadi siapa yang pantas ?
11 11. Pengen meluk tapi gengsi
12 12. Bastian yang keringetan, Amel yang kepanasan
13 13.Hei janda-ku
14 14. Bastian Ngambek
15 15. Keluh kesah Amel
16 16. Jangan menunggu jandamu
17 17. Tidak sabar
18 18. Jadi bahan gosip di toilet
19 19. PPKM
20 20. Jadi horang kaya
21 21. Aku sudah ready
22 22. Apa enaknya ?
23 23. Beda dengan milik Alif
24 24. Gaya pasrah
25 25. POV Bastian
26 26. Akhirnya tahu juga rasanya
27 27. Bertemu lagi
28 28. Kemarahan Bastian
29 29. Usaha Amel
30 30. Seperti seorang matador
31 31. Protesan Amel.
32 32. Kedatangan Om Joko
33 33. Abang jadi pengen
34 34. Bastian ketagihan
35 35. Turunan.
36 36. Status WA.
37 37. Mas sih oke
38 38. Kehilangan
39 39. Bastian kena amuk
40 40. Menyesali diri
41 41. Pulang
42 42. Lebih beruntung
43 43. Pertemuan yang tidak terduga.
44 44. Tidak ada tempat untuk pengkhianat
45 45. Bertemu Wulan kembali
46 46. Kegiatan yang lebih menyenangkan
47 47. Bertemu ibu
48 48. Tergantung
49 49. Cara Bastian menghibur Amel
50 50. Keputusan
51 51. Kata maaf itu akhirnya terucap juga
52 52. Ikut menyalahkan
53 53. Dua garis merah
54 54. Menyelesaikan misi
55 55. Bastian kena sawan
56 56. Latihan
57 57. Mengucapkan selamat tinggal
58 58. Permintaan pertama
59 59. Puas dari Hongkong?
60 60. Datang pada Papa!
61 61. Tidak akan ada siaran ulang.
62 62. Pesan
63 63. Nasehat yang menyakitkan
64 64. Buang saja ke laut
65 65. CCB
66 66. Ancaman santet
67 67. Banyak larangan
68 68. Merasa tua
69 69. Drama rumah tangga
70 60. Jamur salah nama
71 71. Kelas kehamilan
72 72. Ternyata
73 73. Bekerja lebih ekstra
74 74. Andai dia bisa aku miliki
75 75. Balik mengancam
76 76. Tahanan rumah
77 77. Kandang Serigala
78 78. Melimpahkan kesalahan
79 79. Amel, Kamu dimana ?
80 80. Seperti Rahwana
81 81. Firasat
82 82. TAU GITU DIBUANG KE LAUT
83 83. Masih takut
84 84. BASTIAN YANG LEBAY
85 85. PERMINTAAN ANWAR
86 86. TANGGUNG
87 87. ENDING
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Prolog
2
2. Lamaran
3
3. Aku terima bersih
4
4. Pernikahan
5
5. Kalian menjebak saya ?
6
6. Percuma
7
7. Sudah jinak.
8
8. Mencari Alasan
9
9. Membeli CD
10
10. Jadi siapa yang pantas ?
11
11. Pengen meluk tapi gengsi
12
12. Bastian yang keringetan, Amel yang kepanasan
13
13.Hei janda-ku
14
14. Bastian Ngambek
15
15. Keluh kesah Amel
16
16. Jangan menunggu jandamu
17
17. Tidak sabar
18
18. Jadi bahan gosip di toilet
19
19. PPKM
20
20. Jadi horang kaya
21
21. Aku sudah ready
22
22. Apa enaknya ?
23
23. Beda dengan milik Alif
24
24. Gaya pasrah
25
25. POV Bastian
26
26. Akhirnya tahu juga rasanya
27
27. Bertemu lagi
28
28. Kemarahan Bastian
29
29. Usaha Amel
30
30. Seperti seorang matador
31
31. Protesan Amel.
32
32. Kedatangan Om Joko
33
33. Abang jadi pengen
34
34. Bastian ketagihan
35
35. Turunan.
36
36. Status WA.
37
37. Mas sih oke
38
38. Kehilangan
39
39. Bastian kena amuk
40
40. Menyesali diri
41
41. Pulang
42
42. Lebih beruntung
43
43. Pertemuan yang tidak terduga.
44
44. Tidak ada tempat untuk pengkhianat
45
45. Bertemu Wulan kembali
46
46. Kegiatan yang lebih menyenangkan
47
47. Bertemu ibu
48
48. Tergantung
49
49. Cara Bastian menghibur Amel
50
50. Keputusan
51
51. Kata maaf itu akhirnya terucap juga
52
52. Ikut menyalahkan
53
53. Dua garis merah
54
54. Menyelesaikan misi
55
55. Bastian kena sawan
56
56. Latihan
57
57. Mengucapkan selamat tinggal
58
58. Permintaan pertama
59
59. Puas dari Hongkong?
60
60. Datang pada Papa!
61
61. Tidak akan ada siaran ulang.
62
62. Pesan
63
63. Nasehat yang menyakitkan
64
64. Buang saja ke laut
65
65. CCB
66
66. Ancaman santet
67
67. Banyak larangan
68
68. Merasa tua
69
69. Drama rumah tangga
70
60. Jamur salah nama
71
71. Kelas kehamilan
72
72. Ternyata
73
73. Bekerja lebih ekstra
74
74. Andai dia bisa aku miliki
75
75. Balik mengancam
76
76. Tahanan rumah
77
77. Kandang Serigala
78
78. Melimpahkan kesalahan
79
79. Amel, Kamu dimana ?
80
80. Seperti Rahwana
81
81. Firasat
82
82. TAU GITU DIBUANG KE LAUT
83
83. Masih takut
84
84. BASTIAN YANG LEBAY
85
85. PERMINTAAN ANWAR
86
86. TANGGUNG
87
87. ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!