Bastian yang sedang bersantai sembari menonton TV, mengalihkan tatapannya dan melihat kearah Amel yang baru keluar dari dalam kamar mereka.
Amel mengenakan kaus kebesaran berwarna putih dengan motif abstrak di bagian dada, celana jeans robek robek di lutut dan di pahanya, serta topi yang menutupi sebahagian kepalanya, rambut panjangnya di ikat ekor kuda.
" Mau kemana Mel ? "
" Pasar, kan semalam sudah aku bilang, kalau hari ini aku mau ke pasar tradisional "
" Dengan penampilan seperti ini ? "
Bastian menunjuk penampilan Amel dengan ujung jari telunjuknya.
" Iya, kenapa ? "
" Kamu seperti mau ngamen, Amel, pakailah pakaian seperti biasa, kamu sudah menikah, pakai dress, kamu terlihat cantik dan anggun "
Amel memutar bola matanya malas, ke pasar tradisional di suruh memakai dress ? Selebriti saja pakai daster dan sendal jepit.
" Pak, aku mau ke pasar ikan, dan membeli segala keperluan dapur, yang pastinya di sana tidak senyaman Supermarket.
Pakaian yang aku kenakan ini sudah cukup nyaman, untuk bergerak kesana kemari "
" Oh, gitu ya, Saya boleh ikut ? "
" Gak boleh, sudah aku katakan kemarin kalau aku mau sendirian, Bapak di rumah saja, atau...."
Amel mulai berpikir.
Ke pasar membutuhkan waktu tidak sebentar, duh tuh ulet keket bisa aja datang kemari, sementara aku gak ada di rumah, oh, gak bisa dibiarkan.
" Dari pada Bapak bengong, ntar digigit nyamuk, Bapak boleh ikut, tapi tunggu di parkiran ya ? "
Bastian hanya bisa menghembuskan napas pelan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, gak ngerti dengan keputusan Amel yang gampang berubah rubah.
Gaya Amel yang seperti gadis remaja, berbanding terbalik dengan Bastian.
Mengantar Amel dengan memakai stelan celana bahan dan kaus berkerah, dimasukkan ke dalam lagi.
" Rapi bener Pak ? Padahal cuma didalam nunggu di parkiran "
Ujar Amek berjalan mendahului, membiarkan Bastian mengunci pintu rumah.
" Mau kemana Mas Bas ? "
Tuh kan, baru juga di rasani, suara manja Mak Lampir mulai kedengeran.
Ingat, hanya Bastian yang ditegur, Amel yang sudah berdiri diam disebelah pintu mobil, tidak dipandang, seakan Amel mahluk Astral yang tak kasat mata.
" Ke pasar tradisional mbak, nemani istri "
" Ih, ke pasar tradisional kan jorok, berdesak desakan, pasti bau ketek "
Nindy menutup hidungnya dengan jijik.
Amel melotot.
Bastian hanya tersenyum melirik ke arah Amel yang mulai ancang ancang membalas perkataan Nindy.
" Tante, gak perlu menunggu di pasar untuk bisa mencium bau ketek, disini aja, dari tadi udah tercium dari jarak sepuluh meter "
Amel mengibas ngibaskan telapak tangannya di depan hidung.
" Apa maksud kamu ? "
" Gak nyadar ? Tuh, bulu ketek Tante melambai lambai mengucapkan sayonara, gak kecium ya ? Ya iyalah, karena udah terbiasa, jadi aromanya sudah akrab sama hidung situ "
Amel tergelak sembari masuk ke dalam mobil.
Bastian hanya bisa menahan tawanya ikut masuk dan duduk di belakang kemudi.
Terlihat jika Nindy tengah mengendus endus keteknya yang terbuka lebar, Amel sampai memukul mukul dasbor mobil saking gelinya melihat tingkah Nindy yang seperti guk guk pelacak.
" Mel, kamu sepertinya senang sekali mengerjai mbak Nindy "
" Siapa suruh dia kegatelan, terus menerus menegur Bapak, Mas Bas, Mas Bes, Mas Bos "
Mulut Amel merot merot memperagakan gaya Nindy memanggil Bastian, membuat Bastian terkekeh geli.
" Mungkin dia hanya butuh temen, Mel "
" Butuh temen gak gitu juga kale, bukan hanya Bapak yang ditegurnya, ada aku dan tetangga lainnya, kan banyak kanan kiri, komplek perumahan ini, banyak penghuninya, bukan cuma kita "
" Memangnya kamu mau berteman dengan mbak Nindy ? "
" Oh tidak, ntar dia rajin kerumah, lama lama nginep alasan kesepian, bisa jadi setelah itu...."
Amel melirik tajam pada Bastian yang mulai membelokkan mobilnya ke parkiran yang ada di depan pasar tradisional, jarak yang tidak terlalu jauh dari komplek perumahan tempat tinggal mereka.
Amel maupun Bastian tidak lagi melanjutkan obrolan tentang Nindy, karena Amel buru buru keluar dari dalam mobil, meninggalkan Bastian di parkiran.
Memasuki pasar ikan, Amel mulai menggunakan masker mulut.
" Hei janda-ku "
Rangkulan di bahu mengejutkan Amel, hampir saja Amel menendang kakinya jika tidak melihat dulu siapa yang merangkul pundaknya.
" Anwar, aku pikir siapa, tau aja kalau aku rindu "
Tanpa sadar Amel melingkari tangannya ke pinggang Anwar.
Anwar melengos lalu melepaskan tangannya dari pundak Amel.
" Lebay, baru berapa hari udah rindu, memang kau masih ingat sama aku ? Kau kan sedang pengantin baru, pastinya cuit cuit "
Anwar bersiul nakal.
Amel tidak menanggapi
" Eh, War, gak kerja ! Ngapain di sini ? "
" Shift ku nanti sore, aku sedang mencari sepatu second untuk kerja, tapi yang dari luar, walaupun second, mutunya gak kalah bagus dengan yang baru "
" Tambah dikit bisa beli yang baru, kenapa musti yang second ? "
Anwar akhirnya menemani Amel berbelanja ikan, Ayam dan daging serta sayuran.
Dia lupa kalau semula melarang Bastian untuk masuk ke dalam pasar biar enggak mahal. Sekarang justru berdua dengan Anwar, semua kebutuhan yang dibelinya dibayar tanpa menawar terlebih dahulu.
" Istri saja menunggu kau jadi janda, apa gak second tuh ? "
Anwar menowel dagu Amel yang sebahagian tertutup masker.
" Jadi kau mendo'akan aku jadi janda ? Jahat "
" Lho, kan kamu sendiri yang bilang, kalau Pak Bas tahu bahwa, kau adalah Amel yang item, kurus, dekil dan idup itu, dia akan menceraikan dirimu, dan aku akan menggantikan posisinya, tenang saja, aku akan menerima dirimu apa adanya "
Anwar ngakak.
" Aku sudah memberitahukan dirinya siapa aku War "
" Terus, apa tanggapannya ? "
" Gak ngaruh tuh, walaupun semula dia enggak percaya "
" Yah, gagal deh aku menunggu jandamu "
" Anwaaaarrrr, jangan jahat sama temen sendiri ! "
Suara Amel yang kenceng membuat beberapa orang pedagang dan pembeli yang ada disekitar mereka menatap bingung, melihat Amel dan Anwar justru cengengesan, mereka kembali ke aktivitasnya semula.
Amel juga lupa jika Bastian sudah terkantuk kantuk menunggu dirinya di parkiran, Amel justru berkeliling pasar mencari sepatu yang diinginkan Anwar, untungnya Amel sudah membeli semua yang dibutuhkan untuk keperluan dapurnya.
Sudah dua jam lebih Amel berada di dalam pasar, Bastian merasa ada yang tidak beres.
Memang apa yang dibelinya di dalam pasar, kenapa bisa lama sekali, yang makan cuma aku dan dia, bukan mau pesta.
Dengan menggerutu, Bastian mulai masuk ke dalam pasar, mencari cari sosok Amel.
Penampilan Amel yang memakai topi, membuat Bastian tidak sulit mencari Amel diantara kerumunan orang yang berlalu lalang
" Saya menunggui kamu hampir lumutan, eee...Kamu-nya malah dua dua'an disini "
Suara Bastian mengejutkan Amel yang tengah memilih milih sepatu untuk Anwar, dan Anwar-nya sedang berjongkok mencoba sepatu yang sudah dipilihkan Amel.
" Bapak, kok nyusul ? "
" Kenapa ? Takut ketahuan kalau kamu bertemu dengan...."
Bastian menatap Anwar yang juga tengah menatapnya dengan tatapan tidak suka.
...******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀
nggak kebayang saat nindy lagi end*s ket*k, hi-hi-hi,🤣🤣🤣
ada nggak sih, stiker yang ngakak guling guling
😆😆🤣🤣🤣
2021-12-06
0
Malem Sihombing
Amel sama Anwar jangan dibawa candaan dong pernikahan Amel nya, takut suka beneran si Anwar sama Amel kan bahaya
2021-10-25
0
Ran_kudo
nahh lohh ketahuan Mel...
2021-08-06
0