Selesai sarapan, Bastian berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, dia menyesal mengambil cuti selama seminggu tidak tahu mau melakukan apa.
Bayangan indah yang akan Bastian habiskan di dalam kamar saja karena memiliki istri yang bening dan masih muda, terbang menguap seperti debu yang tertiup angin.
Kalau seandainya belum bisa melakukan hal yang intim, setidaknya Bastian akan mengajak Amel berpacaran dulu, mungkin, pendekatan, tidak mungkin juga Bastian akan langsung hantam kromo, bisa menjerit-jerit anak orang ketakutan, apalagi Bastian dan Amel baru bertemu dua kali.
Satu ketika lamaran, kedua setelah akad nikah.
Menurut Bastian.
Bastian kira dia akan mudah melancarkan rayuan pada wanita muda, lalu takluk dibawah kendalinya, secara Bastian kan tidak bodoh bodoh amat dengan yang namanya urusan dengan perempuan.
Tiga kali hampir menikah, apakah itu tidak membuktikan bahwa Bastian jago merayu ?
Walaupun dua diantaranya justru Bastian yang kena tipu.
Amel masuk ke dalam kamar, sebenarnya dia malas, enakan nonton TV sembari ngemil, tadi sebelum meninggalkan ruang bawah, mata Amel melihat penampakan banyak toples yang berisi cemilan berjejer di rak dekat sofa di depan TV tetapi karena Mama mertuanya yang baik menyuruh Amel menyusul Bastian yang lebih dahulu naik ke kamar, Amel tidak memiliki alasan untuk menolak.
Bastian hanya melirik sekilas melihat Amel yang masuk ke dalam kamar, dia pura pura tidur dengan menutup kedua matanya.
" Masih jam sembilan pagi udah bobo', gak baik lho "
Amel ikutan naik ke atas ranjang.
" Memang mau ngapain lagi ? "
Tukas Bastian membuka matanya sedikit.
" Apa kek Pak, bawa daku pergi, kemana gitu, kalau cuma tidur, dirumah Om Joko juga bisa tidur, gak perlu nikah sama Bapak "
Amel, baru setengah hari di rumah mertuanya sudah bosan, ngapain ngapain gak boleh, sudah ada mbak Nuri yang mengerjakan semua pekerjaan rumah, begitu kata ibu mertuanya.
Amel takut khilaf kalau di kamar terus dengan Pak Bas, bagaimana pun, Pak Bas kan ganteng, asal dia jangan ngomong pedes saja.
Kalau ingat ucapan Pak Bas yang nyelekit, rasa pengen Amel gigit tuh lidahnya.
" Semua orang yang baru menikah juga kebanyakan tidur Mel, bukan kelayapan "
" Kebanyakan tidur ntar matanya bisa busuk lho Pak "
" Sembarangan, itulah, masih kecil yang kamu pikirin cinta, makanya analisa kamu ngawur "
Bastian kembali memejamkan matanya, dia benar benar ngantuk, karena malam tadi kurang tidur, perut kenyang, apalagi sekarang sedang cuti, kan enak'kan bobo', ada istri yang nemani lagi.
" Biarin, buktinya, sekarang aku jadi istri bapak, we "
Amel menjulurkan lidahnya mengejek.
Bastian diam saja, kalau dilayani, ntar Amel sakit hati, lebih baik no komen.
Amel memperhatikan wajah Bastian yang sepertinya sudah terlelap.
Merasa sepi tidak ada yang diajaknya ngobrol, Amel akhirnya ikut tertidur.
...*****...
" Pak, mau kemana ? "
Terlihat Bastian memasukkan beberapa helai pakaiannya ke dalam tas pakaian setelah selesai makan siang.
" Kemas pakaian mu ! "
" Iya tapi kita mau kemana ? Kan baru satu malam disini "
Amel tidak perlu berkemas karena pakaiannya masih berada di dalam koper yang dibawanya dari rumah Om Joko.
" Kerumah kita sendirilah, disini saya bukan seperti anak orang tua saya sendiri, tapi kamu anaknya, ntar kalau saya ngapain ngapain kamu, pasti kamu teriak, biar Mama datang ? Iyakan ? "
Amel nyengir, tau aja Pak Bas.
Amel sudah sangat percaya diri, jika Bastian macem macem dia akan berteriak sekencang kencangnya, apalagi jika Bastian memaksa untuk iya iya, Amel belum mau, dia masih benci dengan Bastian.
Setiap menatap bibir tipis Bastian yang terkatub rapat, kata kata Bastian sepuluh tahun yang lalu kembali berputar di pikiran Amel.
" Pak kita tinggal disini saja dong, biar kenal dulu, akrab, baru Bapak boleh membawa aku kemanapun Bapak mau, tapi jangan dibawa hidup menderita ya Pak, aku sudah bosen "
Dih, Amel, sempat sempatnya dia merayu Pak Bas.
Bastian yang sudah berkemas, menatap Amel dengan sebelah alis naik ke atas.
" Ah masa kamu belum mengenal saya ? Berarti bukan kamu kan bocah ganjen yang menulis surat itu ? "
Kedua mata Bastian menyipit memindai sosok Amel dari ujung kepala sampai kakinya.
" Hah ? Enggak, aku anak perempuan itu, kalau bukan aku, bagaimana bisa aku menggambarkan secara jelas kejadian sepuluh tahun yang lalu "
Gagap Amel.
Bastian menyeringai.
" Ya sudah, berati kita sudah cukup kenal dan cukup akrab "
Tidak mau menunggu penolakan dari Amel lagi, Bastian mengangkat dua tas sekaligus, tas yang berisi pakaiannya dan tas milik Amel.
Dengan muka cemberut Amel ikut menuruni anak tangga.
" Bas, kalian mau kemana ? Bulan madu ? "
Tante Dina, Mamanya Bastian menatap Bastian yang memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.
" Hari ini kami pindah ke rumah yang sudah aku beli, dari sana lebih dekat dengan kampus, aku sudah terlalu lama bersama Papa dan Mama, sekarang kan sudah ada istri yang akan mengurus aku, lebih baik rumah itu ditempati segera kan ? Dari pada dibiarkan kosong lama lama, nanti makhluk lain pula yang menghuni "
Bastian melirik sekilas ke arah Amel yang mendadak pucat mendengar kata makhluk lain.
Ternyata kau takut dengan makhluk astral itu ya, asik nih.
" Iya juga ya.
Ya sudah, baik baik kalian di sana, cepat kasih Mama cucu ya, lagi pula kau sudah tua Bas, berusahalah lebih sering dan lebih keras, untuk jamu racikan dari nenek, nanti sore di antar oleh mbak Nuri, biar makin Joss "
Bastian tersenyum kecut.
" Ma, kenapa ngomongnya ke situ terus sih ? "
" Terus Mama harus ngomong apa ? Manusia menikah kan agar bisa berkembang biak "
" Ma, aku putramu, bukan sapi yang berkembang biak "
Bastian bisa senewen jika berlama lama ada di depan ibunya, gegas Bastian masuk ke dalam mobilnya.
Amel sendiri tidak berdaya, padahal tadi dia masih memiliki harapan jika ibu mertuanya akan menahan mereka agar jangan pindah dulu, ini justru mau di beri jamu.
Semoga saja jamu sari rapet yang akan di kirimkan Mama, biar Pak Bas harus menggunakan mesin bor untuk bisa membobol gawang.
Amel cekikikan dalam hati.
" Ma, aku pengen disini dulu "
( Amel memonyong-monyongkan bibirnya di imut-imutkan, matanya di kedip-kedipkan seperti orang kelilipan, berharap air mata buayanya bisa keluar, tapi gagal )
" Tidak boleh sayang, istri harus mengikuti kemana suaminya pergi, Bastian sudah jinak, tidak akan menggigit, paling juga gigit sayang yang membuat kamu ketagihan, hihihi.
Nanti kalau Bastian sudah mulai ke kampus kembali, Mama akan sering main kesana supaya kamu tidak kesepian "
Tante Dina segera menuntun Amel memasuki mobil, karena Bastian sudah bolak balik menekan klakson.
*Habis kau malam ini Amelia Putri
...******...
...🌵🌵*🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Mryn
😁😁😁
2024-05-30
0
Safitri Agus
🤣🤣🤣
2023-09-01
0
via via@84
aku gak sadar ngakak
2023-06-22
0