9. Membeli CD

Amel meletakkan semua makanan yang baru dipesannya diatas meja, menghitung hitung, uang yang baru di keluarkan dengan apa yang baru di belinya.

" Pemborosan "

Gumamnya pelan.

Panggil Pak Bas, ah, ntar kalau dia kenapa kenapa karena gak makan, bisa gak disayang mertua aku.

" Pak, makan yuk ! "

Amel hanya melongokkan kepalanya dari balik pintu.

Terlihat Bastian yang sedang bermain ponsel.

Bastian melirik petunjuk waktu pada ponselnya, hmm, baru jam segini, makan apa namanya ?

" Kamu pesan apa ? "

" Pizza "

" Gayamu, seperti yang tahu aja makanan seperti itu "

Tapi Bastian turun juga dari atas ranjang.

" Jangan menghina dong Pak, cuma makanan seperti itu, sudah banyak yang jualan di gerobak pinggir jalan, gak pakai mahal, apa Bapak gak bisa lihat kalau mata saya sudah biru karena kebanyakan makan roti ? "

Amel berjalan mendahului Bastian yang baru menutup pintu kamar.

" Pak, aku suka makan, kita gak mungkin beli terus, mulai besok aku akan masak sendiri "

" Memang kamu bisa masak ? "

Sudah dua potong Bastian memasukkan pizza kedalam perutnya, sepertinya Bastian juga lapar.

" Bisa dong "

" Terserah kamu, awas saja kalau masakan kamu gak enak "

" Enak, jangan lupa uangnya ! "

Uhuk uhuk, Bastian tersedak.

Cepat Amel menyodorkan air minum pada Bastian.

" Uang kemarin ? "

" Uang yang mana ? "

Amel pura pura amnesia.

Bastian menghembuskan napasnya kuat, dasar Joko, untung keponakannya cuma satu, kalau banyak, bisa cepat kaya dia.

" Jangan tau minta uang saja, ingat kewajiban kamu ! "

Idih, kesitu lagi.

Amel pura pura serius dengan makanannya.

" Jangan pura pura gak dengar "

Ketus Bastian.

" Iya Pak, tapi bolehkan kalau aku minta waktu, aku mengenal Bapak kan sepuluh tahun yang lalu, masih belum tahu apa apa, masih lugu dan polos "

Amel menutup mulutnya.

Polos ? Gak salah Mel ?

Bastian mencibir.

" Lugu ? Polos ? Gak salah ? Yang ada saya yang akan molosin kamu ntar malem "

" Duh Bapak, ngomongnya jangan bikin serem gitu dong ! Saya jadi takut beneran nih "

Bastian kembali mencomot satu potong lagi, Amel juga, satu kotak pizza berukuran sedang habis hanya dimakan mereka berdua.

Bastian ngakunya gak laper, tapi doyan.

" Waktu saya tulis surat itu, anggap saja sedang puber, namanya juga masa pancaroba "

Amel ngasal

" Kamu kira iklim, pancaroba "

" Ya perasaan dan tingkah laku remaja yang mengalami pubertas kan gak jelas, sama seperti iklim dan cuaca.

Ketika itu, dimata saya yang tinggal di perkebunan, Bapak itu paling cakep di sana, wajarkan kalau saya jatuh cinta "

Ups, Amel kembali menutup mulutnya, Bastian cuma melirik.

" Namanya juga jatuh cinta, masih anak anak, gak nyadar diri kalau antara Bapak dan saya sangat jauh berbeda, ibarat bumi dan planet mars "

" Sudah tahu masih kecil, tapi keganjenan ! "

" Hellow Bapak, namanya juga masa puber Pak, puber.

Apakah Bapak tidak pernah yang namanya mengalami masa pubertas ?

Bapak begitu lahir, langsung tua ya ? "

" Sudahlah, jangan dibahas itu, pokoknya malam ini saya mau hak saya, tunaikan kewajiban kamu ! "

Bastian bangun dari duduknya, melangkah menuju ruang keluarga, lalu menghidupkan TV.

Amel mengikutinya, duduk di sebelah Bastian.

" Pak, isi kulkas, kosong, kebutuhan dapur dari garam, minyak dan teman temannya semua gak ada, dari pada duduk nonton TV, belanja yuk Pak, besok kalau ke pasar, biar aku sendiri deh, Bapak gak usah nemani "

Bastian menolehkan kepalanya menatap Amel yang juga tengah menatapnya.

Ternyata dia memang sudah siap untuk menjadi istri sepenuhnya.

" Kenapa ? Kamu mau nggodai Abang Abang di pasar ? "

" Ya enggaklah Pak, kalau Bapak ikut ntar yang ada semua barang pada mahal, aku jadi gak bisa nawar, udah ayok, kita belanja ! "

Amel menarik narik tangan Bastian agar mau berdiri.

" Ya sudah sana siap siap ! "

...*****...

Amel sudah mencatat semua kebutuhan rumah biar enggak kelupaan.

Bastian mendorong troli, Amel mengambil barang barang sesuai list yang sudah dibuatnya.

Gambaran bahagia kek di film film gitu, Amel aja gak nyangka kalau hidupnya bakalan bisa berubah seperti sekarang.

Hidup belasan tahun hanya berdua dengan neneknya, kebutuhan hidup sehari hari mengandalkan uang pensiun dari Almarhum Kakeknya yang pensiunan dari karyawan perkebunan.

Uang tidak seberapa yang harus keduanya irit irit biar cukup sebulan, sembari menunggu bantuan kiriman dari Om Joko yang juga tidak banyak.

Om Joko, PNS yang mengajar di bidang bahasa Indonesia di sekolah SMPN, uang gajinya harus dibagi untuk menghidupi satu istri dan dua orang anak, Amel dan neneknya tidak bisa berharap banyak.

Setelah menamatkan SMU-nya di kota kecamatan, Amel mencoba peruntungan dengan ngekost sembari mencari pekerjaan dengan berbekal ijazah SMU-nya, tapi tidak ada satupun yang menerimanya untuk bekerja.

Padahal Amel cantik, berkulit putih, sedikit kurus sih, tapi kan banyak gadis gadis yang kurus, yang bekerja di Mal atau di toko, tapi sekarang ? Sejak tinggal di rumah Om Joko, bodi Amel mah, wuih, goals mah men, tapi mungkin memang belum rezeki.

Sampai empat bulan yang lalu neneknya meninggal, uang pensiun juga tidak lagi di terima, tidak ada yang bisa membiayai hidup Amel, akhirnya Om Joko dan Tante Widuri, mengajak Amel tinggal bersama.

Ingat Om Joko, Amel jadi rindu

" Pak, pulang dari sini, kita main main tempat Om Joko, yuk ! Aku rindu mereka semua "

Bastian menghentikan langkah kakinya.

" Baru satu malam sudah rindu, bulan depan kalau mau main kesana "

Amel cemberut, kembali melanjutkan menyusuri rak demi rak, sampai Amel merasa aneh ketika Bastian terlalu mepet di belakangnya.

" Pak, jangan dempet dempetan gini ! Kaya' bayi kembar Siam saja "

Amel melangkah lebih cepat, tapi Bastian menahannya.

" Diam, ikuti saya, jangan jauh jauh ! "

Bastian semakin menempel dengan menahan lengan Amel

" Pak, sabar, ini kita diluar, kan janjinya nanti malam "

" Ssstttt, diam-lah, ambil pembalut, sekarang berjalan menuju ke toilet ! "

Perintah Bastian pelan.

" Unt...."

Amel menutup mulutnya, lalu melihat ke bawah.

Shit.

Amel seperti perempuan yang sedang mengalami pendarahan, cairan merah mulai mengaliri kakinya hingga sampai ke betis.

Mana saat ini Amel dalam mode kemayu pakai dress setinggi lutut, namanya jalan jalan sama suami untuk pertama kalinya, harus terlihat anggun dong, biar Pak Bas gak malu.

" Astagfirullah, kok mau datang gak pakai kirim surat atau SMS, gitu "

Amel menggerutu sendiri berjalan cepat menuju toilet.

Untungnya supermarket yang mereka kunjungi memiliki toilet di ujung ruangan, kalau harus keluar toko, mau ditaruh kemana muka Amel.

Amel di toilet, Bastian melanjutkan belanja dengan melihat catatan yang ditinggalkan Amel.

Ting.

Pesan masuk di ponsel Bastian, yang ada di saku celananya.

@Amel.

[ Pak, belikan CD size M ya ! Yang ini tidak mungkin dipakai lagi, buruan Pak ! ]

Oh Tuhan, pembalasannya jauh lebih kejam.

Bastian mencari cari apa yang di pesan Amel dengan mulut menggerutu.

Merasakannya saja belum, tapi sudah disuruh beli yang beginian.

Bastian terlalu fokus melihat lihat ukuran CD sampai tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikan gerak geriknya.

" Mas Bas ? "

Panggilnya lembut.

...******...

...🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵...

Terpopuler

Comments

pur wati

pur wati

tau aja tuh tamu bulanan datang di saat yg tepat.harus....extra sabarrrrrr pak bastian.nganggur lagi tuh.🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mana seminggu lagi .pusing" deh tuh burungnya ndak bisa masuk sangkar.

2023-06-03

0

Kecombrang

Kecombrang

🤣🤣🤣🤣🤣

2023-04-01

0

Suhartati

Suhartati

sakit perut ku mel ....ketawa mulu...

2021-12-14

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 2. Lamaran
3 3. Aku terima bersih
4 4. Pernikahan
5 5. Kalian menjebak saya ?
6 6. Percuma
7 7. Sudah jinak.
8 8. Mencari Alasan
9 9. Membeli CD
10 10. Jadi siapa yang pantas ?
11 11. Pengen meluk tapi gengsi
12 12. Bastian yang keringetan, Amel yang kepanasan
13 13.Hei janda-ku
14 14. Bastian Ngambek
15 15. Keluh kesah Amel
16 16. Jangan menunggu jandamu
17 17. Tidak sabar
18 18. Jadi bahan gosip di toilet
19 19. PPKM
20 20. Jadi horang kaya
21 21. Aku sudah ready
22 22. Apa enaknya ?
23 23. Beda dengan milik Alif
24 24. Gaya pasrah
25 25. POV Bastian
26 26. Akhirnya tahu juga rasanya
27 27. Bertemu lagi
28 28. Kemarahan Bastian
29 29. Usaha Amel
30 30. Seperti seorang matador
31 31. Protesan Amel.
32 32. Kedatangan Om Joko
33 33. Abang jadi pengen
34 34. Bastian ketagihan
35 35. Turunan.
36 36. Status WA.
37 37. Mas sih oke
38 38. Kehilangan
39 39. Bastian kena amuk
40 40. Menyesali diri
41 41. Pulang
42 42. Lebih beruntung
43 43. Pertemuan yang tidak terduga.
44 44. Tidak ada tempat untuk pengkhianat
45 45. Bertemu Wulan kembali
46 46. Kegiatan yang lebih menyenangkan
47 47. Bertemu ibu
48 48. Tergantung
49 49. Cara Bastian menghibur Amel
50 50. Keputusan
51 51. Kata maaf itu akhirnya terucap juga
52 52. Ikut menyalahkan
53 53. Dua garis merah
54 54. Menyelesaikan misi
55 55. Bastian kena sawan
56 56. Latihan
57 57. Mengucapkan selamat tinggal
58 58. Permintaan pertama
59 59. Puas dari Hongkong?
60 60. Datang pada Papa!
61 61. Tidak akan ada siaran ulang.
62 62. Pesan
63 63. Nasehat yang menyakitkan
64 64. Buang saja ke laut
65 65. CCB
66 66. Ancaman santet
67 67. Banyak larangan
68 68. Merasa tua
69 69. Drama rumah tangga
70 60. Jamur salah nama
71 71. Kelas kehamilan
72 72. Ternyata
73 73. Bekerja lebih ekstra
74 74. Andai dia bisa aku miliki
75 75. Balik mengancam
76 76. Tahanan rumah
77 77. Kandang Serigala
78 78. Melimpahkan kesalahan
79 79. Amel, Kamu dimana ?
80 80. Seperti Rahwana
81 81. Firasat
82 82. TAU GITU DIBUANG KE LAUT
83 83. Masih takut
84 84. BASTIAN YANG LEBAY
85 85. PERMINTAAN ANWAR
86 86. TANGGUNG
87 87. ENDING
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Prolog
2
2. Lamaran
3
3. Aku terima bersih
4
4. Pernikahan
5
5. Kalian menjebak saya ?
6
6. Percuma
7
7. Sudah jinak.
8
8. Mencari Alasan
9
9. Membeli CD
10
10. Jadi siapa yang pantas ?
11
11. Pengen meluk tapi gengsi
12
12. Bastian yang keringetan, Amel yang kepanasan
13
13.Hei janda-ku
14
14. Bastian Ngambek
15
15. Keluh kesah Amel
16
16. Jangan menunggu jandamu
17
17. Tidak sabar
18
18. Jadi bahan gosip di toilet
19
19. PPKM
20
20. Jadi horang kaya
21
21. Aku sudah ready
22
22. Apa enaknya ?
23
23. Beda dengan milik Alif
24
24. Gaya pasrah
25
25. POV Bastian
26
26. Akhirnya tahu juga rasanya
27
27. Bertemu lagi
28
28. Kemarahan Bastian
29
29. Usaha Amel
30
30. Seperti seorang matador
31
31. Protesan Amel.
32
32. Kedatangan Om Joko
33
33. Abang jadi pengen
34
34. Bastian ketagihan
35
35. Turunan.
36
36. Status WA.
37
37. Mas sih oke
38
38. Kehilangan
39
39. Bastian kena amuk
40
40. Menyesali diri
41
41. Pulang
42
42. Lebih beruntung
43
43. Pertemuan yang tidak terduga.
44
44. Tidak ada tempat untuk pengkhianat
45
45. Bertemu Wulan kembali
46
46. Kegiatan yang lebih menyenangkan
47
47. Bertemu ibu
48
48. Tergantung
49
49. Cara Bastian menghibur Amel
50
50. Keputusan
51
51. Kata maaf itu akhirnya terucap juga
52
52. Ikut menyalahkan
53
53. Dua garis merah
54
54. Menyelesaikan misi
55
55. Bastian kena sawan
56
56. Latihan
57
57. Mengucapkan selamat tinggal
58
58. Permintaan pertama
59
59. Puas dari Hongkong?
60
60. Datang pada Papa!
61
61. Tidak akan ada siaran ulang.
62
62. Pesan
63
63. Nasehat yang menyakitkan
64
64. Buang saja ke laut
65
65. CCB
66
66. Ancaman santet
67
67. Banyak larangan
68
68. Merasa tua
69
69. Drama rumah tangga
70
60. Jamur salah nama
71
71. Kelas kehamilan
72
72. Ternyata
73
73. Bekerja lebih ekstra
74
74. Andai dia bisa aku miliki
75
75. Balik mengancam
76
76. Tahanan rumah
77
77. Kandang Serigala
78
78. Melimpahkan kesalahan
79
79. Amel, Kamu dimana ?
80
80. Seperti Rahwana
81
81. Firasat
82
82. TAU GITU DIBUANG KE LAUT
83
83. Masih takut
84
84. BASTIAN YANG LEBAY
85
85. PERMINTAAN ANWAR
86
86. TANGGUNG
87
87. ENDING

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!