Amel meletakkan semua makanan yang baru dipesannya diatas meja, menghitung hitung, uang yang baru di keluarkan dengan apa yang baru di belinya.
" Pemborosan "
Gumamnya pelan.
Panggil Pak Bas, ah, ntar kalau dia kenapa kenapa karena gak makan, bisa gak disayang mertua aku.
" Pak, makan yuk ! "
Amel hanya melongokkan kepalanya dari balik pintu.
Terlihat Bastian yang sedang bermain ponsel.
Bastian melirik petunjuk waktu pada ponselnya, hmm, baru jam segini, makan apa namanya ?
" Kamu pesan apa ? "
" Pizza "
" Gayamu, seperti yang tahu aja makanan seperti itu "
Tapi Bastian turun juga dari atas ranjang.
" Jangan menghina dong Pak, cuma makanan seperti itu, sudah banyak yang jualan di gerobak pinggir jalan, gak pakai mahal, apa Bapak gak bisa lihat kalau mata saya sudah biru karena kebanyakan makan roti ? "
Amel berjalan mendahului Bastian yang baru menutup pintu kamar.
" Pak, aku suka makan, kita gak mungkin beli terus, mulai besok aku akan masak sendiri "
" Memang kamu bisa masak ? "
Sudah dua potong Bastian memasukkan pizza kedalam perutnya, sepertinya Bastian juga lapar.
" Bisa dong "
" Terserah kamu, awas saja kalau masakan kamu gak enak "
" Enak, jangan lupa uangnya ! "
Uhuk uhuk, Bastian tersedak.
Cepat Amel menyodorkan air minum pada Bastian.
" Uang kemarin ? "
" Uang yang mana ? "
Amel pura pura amnesia.
Bastian menghembuskan napasnya kuat, dasar Joko, untung keponakannya cuma satu, kalau banyak, bisa cepat kaya dia.
" Jangan tau minta uang saja, ingat kewajiban kamu ! "
Idih, kesitu lagi.
Amel pura pura serius dengan makanannya.
" Jangan pura pura gak dengar "
Ketus Bastian.
" Iya Pak, tapi bolehkan kalau aku minta waktu, aku mengenal Bapak kan sepuluh tahun yang lalu, masih belum tahu apa apa, masih lugu dan polos "
Amel menutup mulutnya.
Polos ? Gak salah Mel ?
Bastian mencibir.
" Lugu ? Polos ? Gak salah ? Yang ada saya yang akan molosin kamu ntar malem "
" Duh Bapak, ngomongnya jangan bikin serem gitu dong ! Saya jadi takut beneran nih "
Bastian kembali mencomot satu potong lagi, Amel juga, satu kotak pizza berukuran sedang habis hanya dimakan mereka berdua.
Bastian ngakunya gak laper, tapi doyan.
" Waktu saya tulis surat itu, anggap saja sedang puber, namanya juga masa pancaroba "
Amel ngasal
" Kamu kira iklim, pancaroba "
" Ya perasaan dan tingkah laku remaja yang mengalami pubertas kan gak jelas, sama seperti iklim dan cuaca.
Ketika itu, dimata saya yang tinggal di perkebunan, Bapak itu paling cakep di sana, wajarkan kalau saya jatuh cinta "
Ups, Amel kembali menutup mulutnya, Bastian cuma melirik.
" Namanya juga jatuh cinta, masih anak anak, gak nyadar diri kalau antara Bapak dan saya sangat jauh berbeda, ibarat bumi dan planet mars "
" Sudah tahu masih kecil, tapi keganjenan ! "
" Hellow Bapak, namanya juga masa puber Pak, puber.
Apakah Bapak tidak pernah yang namanya mengalami masa pubertas ?
Bapak begitu lahir, langsung tua ya ? "
" Sudahlah, jangan dibahas itu, pokoknya malam ini saya mau hak saya, tunaikan kewajiban kamu ! "
Bastian bangun dari duduknya, melangkah menuju ruang keluarga, lalu menghidupkan TV.
Amel mengikutinya, duduk di sebelah Bastian.
" Pak, isi kulkas, kosong, kebutuhan dapur dari garam, minyak dan teman temannya semua gak ada, dari pada duduk nonton TV, belanja yuk Pak, besok kalau ke pasar, biar aku sendiri deh, Bapak gak usah nemani "
Bastian menolehkan kepalanya menatap Amel yang juga tengah menatapnya.
Ternyata dia memang sudah siap untuk menjadi istri sepenuhnya.
" Kenapa ? Kamu mau nggodai Abang Abang di pasar ? "
" Ya enggaklah Pak, kalau Bapak ikut ntar yang ada semua barang pada mahal, aku jadi gak bisa nawar, udah ayok, kita belanja ! "
Amel menarik narik tangan Bastian agar mau berdiri.
" Ya sudah sana siap siap ! "
...*****...
Amel sudah mencatat semua kebutuhan rumah biar enggak kelupaan.
Bastian mendorong troli, Amel mengambil barang barang sesuai list yang sudah dibuatnya.
Gambaran bahagia kek di film film gitu, Amel aja gak nyangka kalau hidupnya bakalan bisa berubah seperti sekarang.
Hidup belasan tahun hanya berdua dengan neneknya, kebutuhan hidup sehari hari mengandalkan uang pensiun dari Almarhum Kakeknya yang pensiunan dari karyawan perkebunan.
Uang tidak seberapa yang harus keduanya irit irit biar cukup sebulan, sembari menunggu bantuan kiriman dari Om Joko yang juga tidak banyak.
Om Joko, PNS yang mengajar di bidang bahasa Indonesia di sekolah SMPN, uang gajinya harus dibagi untuk menghidupi satu istri dan dua orang anak, Amel dan neneknya tidak bisa berharap banyak.
Setelah menamatkan SMU-nya di kota kecamatan, Amel mencoba peruntungan dengan ngekost sembari mencari pekerjaan dengan berbekal ijazah SMU-nya, tapi tidak ada satupun yang menerimanya untuk bekerja.
Padahal Amel cantik, berkulit putih, sedikit kurus sih, tapi kan banyak gadis gadis yang kurus, yang bekerja di Mal atau di toko, tapi sekarang ? Sejak tinggal di rumah Om Joko, bodi Amel mah, wuih, goals mah men, tapi mungkin memang belum rezeki.
Sampai empat bulan yang lalu neneknya meninggal, uang pensiun juga tidak lagi di terima, tidak ada yang bisa membiayai hidup Amel, akhirnya Om Joko dan Tante Widuri, mengajak Amel tinggal bersama.
Ingat Om Joko, Amel jadi rindu
" Pak, pulang dari sini, kita main main tempat Om Joko, yuk ! Aku rindu mereka semua "
Bastian menghentikan langkah kakinya.
" Baru satu malam sudah rindu, bulan depan kalau mau main kesana "
Amel cemberut, kembali melanjutkan menyusuri rak demi rak, sampai Amel merasa aneh ketika Bastian terlalu mepet di belakangnya.
" Pak, jangan dempet dempetan gini ! Kaya' bayi kembar Siam saja "
Amel melangkah lebih cepat, tapi Bastian menahannya.
" Diam, ikuti saya, jangan jauh jauh ! "
Bastian semakin menempel dengan menahan lengan Amel
" Pak, sabar, ini kita diluar, kan janjinya nanti malam "
" Ssstttt, diam-lah, ambil pembalut, sekarang berjalan menuju ke toilet ! "
Perintah Bastian pelan.
" Unt...."
Amel menutup mulutnya, lalu melihat ke bawah.
Shit.
Amel seperti perempuan yang sedang mengalami pendarahan, cairan merah mulai mengaliri kakinya hingga sampai ke betis.
Mana saat ini Amel dalam mode kemayu pakai dress setinggi lutut, namanya jalan jalan sama suami untuk pertama kalinya, harus terlihat anggun dong, biar Pak Bas gak malu.
" Astagfirullah, kok mau datang gak pakai kirim surat atau SMS, gitu "
Amel menggerutu sendiri berjalan cepat menuju toilet.
Untungnya supermarket yang mereka kunjungi memiliki toilet di ujung ruangan, kalau harus keluar toko, mau ditaruh kemana muka Amel.
Amel di toilet, Bastian melanjutkan belanja dengan melihat catatan yang ditinggalkan Amel.
Ting.
Pesan masuk di ponsel Bastian, yang ada di saku celananya.
@Amel.
[ Pak, belikan CD size M ya ! Yang ini tidak mungkin dipakai lagi, buruan Pak ! ]
Oh Tuhan, pembalasannya jauh lebih kejam.
Bastian mencari cari apa yang di pesan Amel dengan mulut menggerutu.
Merasakannya saja belum, tapi sudah disuruh beli yang beginian.
Bastian terlalu fokus melihat lihat ukuran CD sampai tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikan gerak geriknya.
" Mas Bas ? "
Panggilnya lembut.
...******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
pur wati
tau aja tuh tamu bulanan datang di saat yg tepat.harus....extra sabarrrrrr pak bastian.nganggur lagi tuh.🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mana seminggu lagi .pusing" deh tuh burungnya ndak bisa masuk sangkar.
2023-06-03
0
Kecombrang
🤣🤣🤣🤣🤣
2023-04-01
0
Suhartati
sakit perut ku mel ....ketawa mulu...
2021-12-14
0