Takut kebablasan karena Amel yang masih forbidden, Bastian cuma bisa meluk dan mencium Amel yang Amel sendiri tentu saja tidak menolak, Bastian mengajak Amel untuk jalan-jalan.
Iyalah, Bastian yang sudah berusia kepala tiga, baru menikah setelah tiga kali gagal, dapat istri, berusia dua puluh dua tahun, lagi seger-segernya.
Semula Amel memang masih nolak dan benci dengan Bastian, tapi mendapati sikap Bastian yang dewasa dan jauh berbeda dari sepuluh tahun yang lalu, membuat percikan api kebencian dan dendam yang bersemayam di hati Amel, cepat sirna.
Ketika Amel diciumi Bastian, Amel hanya diam dan tersenyum, kan membuat Bastian bisa khilaf.
" Kita mau ke mana Pak ? "
" Mel, katanya kamu sudah memaafkan saya, kok masih manggil Bapak ? "
" Iya iya.
Kita mau kemana ? "
" Kamu sendiri mau kemana ? "
" Terserah Mas mau membawa aku kemana, yang penting bersama Mas Bas " Beuh.
Bastian terkekeh.
" Gombal kamu Mel "
" Eh Mas, lihat tuh ! Itu Tante Nindy kan ? Sama siapa dia ? "
Amel menunjuk Nindy yang tengah berada dalam boncengan sepeda motor besar dengan seorang pria berusia matang.
Mereka sama-sama berhenti di traffic light.
" Suaminya mungkin "
Bastian juga tidak tahu suaminya Nindy seperti apa, yang Bastian tahu, suaminya sering berlayar, melihat dari posturnya sih, pria yang tadi pulang membawa koper ke rumah Nindy.
Jangan lupakan rambut Nindy yang terlihat masih basah, dibiarkan saja tergerai, helm yang seharusnya di pakai di kepala, justru Nindy pegang dan di tumpukan pada sebelah pahanya.
" Kenapa senyum sendiri ? Ada yang lucu ? "
Melihat Amel yang senyum-senyum, Bastian tidak tahan untuk tidak bertanya.
" Rambutnya basah, pasti telah terjadi sesuatu tadi, kenapa gak dikeringkan dulu ? Kaya' emak-emak komplek kalau lagi manas-manasin tetangga sebelah yang sudah janda "
Bastian terkekeh, sebelah tangannya mengusap rambut dikepala Amel.
" Kita kan memang tinggal di komplek, tapi gak tahu ada janda atau enggak, atau kamu yang panas ? "
Amel mencebik, iya sih, gara-gara si merah nih, gak jadi unboxing.
Sampai lampu berubah dari merah, kuning lalu hijau, Amel terus melihat ke arah Nindy yang memeluk pinggang pria yang ada didepannya.
Berjalan di dalam Mal, Bastian terus menggenggam tangan Amel menyusuri toko demi toko.
" Jeng, bukankah itu anaknya Jeng Dina, siapa ? Bastian ya ? "
Lima orang perempuan separuh baya yang berkumpul dalam satu meja melihat ke arah Bastian dan Amel yang saat ini berhenti di sebuah toko perhiasan.
Bastian ke Mal mengajak Amel untuk menukar cincin Amel yang kebesaran, agar Amel tidak lagi mendapatkan ejekan jika tanpa sengaja akan bertemu dengan mantan-mantannya Bastian.
" Eh, sepertinya iya, anak dan mantuku "
Wajah Tante Dina ibunya Bastian terlihat langsung berubah cerah melihat Bastian dan Amel yang bergandengan tangan.
Tante Dina sudah berharap namanya akan keluar di pertemuan arisan kali ini, ternyata enggak.
" Jadi bener nih, Bastian sudah menikah ? Gak ngundang-ngundang Jeng ? "
Mbak Susi bertanya antusias.
" Iya, anak satu-satunya, nikah kok diam-diam saja Jeng, apa jangan-jangan...."
Imbuh yang lain.
" Enggaklah, masa' anak saya mau seperti itu, dia seorang pengajar, malulah kalau berbuat seperti itu.
Kalian kan tahu sendiri kalau Bastian tiga kali gagal menikah, nah yang satu ini, sengaja buru-buru dan gak mengundang banyak orang, kuatir gagal lagi "
" Oooh, gitu..."
Sahut ke empat ibu serempak.
" Tapi Jeng, kelihatannya masih muda ya "
" Ho-oh "
Para gank sosialita kelas anak teri saling berkomentar.
" Iya, mantu saya beda sebelas tahun dari Bastian, bagus kan ? Masih gres dan subur, gak sabar nunggu bulan depan "
Tante Dina tertawa renyah seperti bunyi rempeyek.
" Hihihi, pasti di gempur habis tuh siang malam sama Bastian "
" Panas...Panas..."
Kelima perempuan yang pastinya sudah pada memiliki cucu kecuali Mamanya Bastian tertawa-tawa.
" Makanya saya kirimkan jamu kemarin, biar kaya' kuda, saya kan juga pengen kaya' situ-situ yang sudah punya cucu "
Tuh ibu-ibu terus saja meng-ghibahi Bastian dan Amel yang sedang memilih-milih perhiasan.
" Kita tukar saja keduanya ya Mel, biar enak makainya "
Bastian juga mencopot cincin yang melingkari jari manisnya.
" Punya Mas kan sudah pas, kenapa di tukar ? "
" Gap pa pa, kemarin waktu membelinya kan enggak sama kamu, nah sekarang, kamu pilih mana model yang kamu suka "
Amel menatap wajah Bastian, Amel merasa seperti mimpi.
Bastian yang pernah dibencinya sekaligus dicintai oleh Amel remaja, sekarang jadi suaminya.
Gak penting usia Bastian yang lebih tua sepuluh tahun lebih, karena cinta tidak melihat usia dan kedudukan.
Apakah karena Amel merindukan sosok orang tua ? Sehingga Amel merasa nyaman bersama Bastian saat ini ? Entahlah.
Amel hanya mengikuti rasa dendamnya ingin melihat Bastian kecewa setelah mengetahui bahwa perempuan yang dinikahinya adalah orang yang sama yang pernah dihinanya.
Tapi ternyata Amel keliru, Bastian kecewa ? Hanya Bastian yang tahu.
" Kenapa ? Mas memang tampan, kamu bisa melihatnya nanti dirumah sepuasnya, sekarang, pilih cincinnya ! "
" Aku boleh memeluk sebentar gak ? "
Bastian melirik kesana kemari, ada yang memperhatikan mereka tidak ? Kan gak enak kalau ada salah satu yang Bastian kenal atau diantara mahasiswa atau mahasiswinya berada di Mal, melihat Bastian bermesraan di tempat umum.
Setelah memastikan aman, Bastian mengangguk.
Tepat saat Amel memeluk Bastian, Anwar yang memang Dinas siang melintas, kebetulan juga tatapan mereka sama sama bertemu.
Amel cepat-cepat melepaskan pelukannya, terlihat Anwar mencibir.
@Anwar
[ Gak tahan suami cakep dianggurin ? Di tempat umum pakai peluk-peluk segala.
Eh, tadi enggak berantem kan ? ]
Amel membaca sebentar pesan yang dikirimkan Anwar barusan, dia lupa kalau sudah berjanji dengan Anwar akan menghubungi setelah sampai di rumah.
" Siapa yang kirim pesan ? Pilih cincinnya, gak enak tuh sama mbaknya yang sudah nunggui "
Teguran Bastian membuat Amel tersentak kaget.
Amel cuma menggeleng lalu memilih apa yang menurut Amel tidak terlalu mencolok, khususnya buat Bastian.
Ketika Bastian membayar biaya penambahan sedikit, Amel memiliki kesempatan membalas pesan Anwar.
@ Amel
[ Aman, dia sedikit cemburu padamu, artinya, dia memiliki perasaan suka kan ? Iya kan ? Jawab iya lho, kan kita temen ]
Amel maksa.
@Anwar
[ Iya, biar kau senang, walaupun aku ragu hahaha ]
@Amel
[ Jahat, aku do'akan kau segera menikah ]
@Anwar
[ Jangan sekarang Mel, tabunganku belum cukup, tahun depan ya ! ]
" Kalian beneran teman ? "
Suara Bastian dari belakang telinga Amel, sekali lagi membuat Amel terkejut sehingga ponselnya terlepas dari genggaman lalu mendarat mulus di atas lantai, untungnya lantai toko dilapisi karpet karet.
" Alhamdulillah masih selamat, hampir pecah, bisa rugi aku "
Amel mengelus-elus ponselnya.
" Makanya jangan diam-diam membalas pesan dari pria lain selain suaminya, kualat lho "
" Anwar Mas, temen aku "
" Tapi dia pria kan Mel ? "
" Hah ? "
" Sudah, sekarang kita kemana ? "
Bastian tidak mau memperpanjang masalah Amel yang berbalas pesan karena tanpa sepengetahuan Amel, Bastian tadi mengintip obrolan Amel dan Anwar di aplikasi warna hijau berlogo telepon itu.
" Boleh nonton ? Aku ingin merasakan nonton bioskop dengan pacar "
Ternyata Amel bisa malu-malu juga.
Bastian mengangguk sembari menggandeng tangan Amel menuju lantai atas.
Truk saja gandengan, masa Bastian dan Amel enggak.
...******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Safitri Agus
Genk sosialita kelas teri,🤣
2023-09-02
0
Kecombrang
ya deh...., ya deh thor
2023-04-01
0
Malem Sihombing
jangan kecewakan mertua mu yang baik itu ya mel
2021-10-25
0