Rumah milik Bastian tidak terlalu besar, hanya ada halaman yang kecil dengan beberapa pot tanaman hias yang tanpa berbunga, ruang tamu, ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan, hanya lemari untuk meletakkan TV dan hiasan atau partisi yang membatasi antara keduanya.
Rumah tipe tujuh lima yang Bastian beli sekitar setengah tahun yang lalu, jaga-jaga jika bertemu jodoh, Bastian bisa langsung membawanya pindah kerumah miliknya sendiri, gak mungkin gabung dengan kedua orang tuanya.
Sudah usia diatas kepala tiga, masa' masih terus ngumpul dengan Papa dan Mamanya, lagi pula mana mungkin nyaman istrinya kelak bila bercampur dengan mertua.
Ruang dapur, lalu pintu belakang yang mentok dinding, di tembok setinggi tiga meter, teras depan, halaman kecil di samping untuk menjemur pakaian, sebelah kiri kanan rumah tetangga.
Komplek perumahan yang lumayan ramai.
" Pak, selain kamar ini, ada kamar yang lain gak ? "
Amel mengikuti Bastian yang sudah meletakkan kedua tas di dalam kamar.
" Ada "
" Ah, saya dikamar yang lain saja ya, saya tidurnya suka ngorok, ntar bapak terganggu "
Amel mengangkat kopernya, dia lupa kalau tadi malam mereka sudah tidur bersama.
" Kamar mandi, tuh pintunya "
Bastian menunjuk dengan dagunya.
Amel cemberut karena di usilin oleh Bastian.
Bastian hanya tersenyum tipis.
Amel berkeliling sendiri menyusuri semua isi rumah, ada sih kamar satu lagi yang berseberangan dengan kamar yang baru mereka masuki, tapi isinya kosong, tidak ada apapun, kalau Amel tidur di situ, berarti cuma diatas lantai, dingin, keras, badan Amel bisa sakit sakit semua.
Amel membuka isi kulkas, kosong juga, perutnya yang biasa di isi dengan berbagai macam cemilan ketika berada di rumah Om Joko, mendadak berbunyi.
" Pak, ini rumah sudah berapa lama sih enggak ditempati ? Apa pun tidak ada, saya lapar "
Suara Amel lumayan kencang membuat Bastian yang masih berada didalam kamar, buru buru berjalan ke dapur.
" Suara kamu bisa di pelan-kan sedikit gak Mel, malu sama tetangga, jangankan kamu berteriak, berbisik saja tetangga akan mendengar "
Bastian lebay.
" Jadi kita harus menggunakan bahasa isyarat, gitu ? "
" Ya enggak juga, intinya bicara dengan intonasi biasa, ada apa ? "
" Saya lapar Pak, di kulkas tidak ada apa apa, bapak harus bertanggung jawab memberi saya makan "
" Pesan Online saja, lagi pula ini masih jam berapa ? Kenapa sudah lapar lagi, kamu cacingan ya ? "
" Enggaklah, makan-ku memang banyak, makanya siap siap bapak kerja keras untuk ngasih makan aku, atau kalau tidak sanggup, kita pulang kerumah orang tua Bapak, disana kan banyak makanan "
Bastian memutar bola matanya jengah, berjalan semakin mendekat ke arah Amel yang masih berdiri di dekat kulkas.
" Kamu kira saya tidak mampu untuk memberi makan kamu, jangankan memberi makan perutmu, yang lainnya juga saya mampu, apa kamu mau membuktikannya sekarang ? "
Otak Amel cepat menangkap kemana arah pembicaraan Bastian.
" Oh, tidak perlu Pak, saya yakin bapak mampu "
Amel mundur kebelakang hingga mentok ke pintu kulkas.
" Dari mana kamu tahu? Kamu kan belum membuktikan, kita baru semalam menikah "
Amel tertawa canggung.
" Dari badan bapak yang segede Bima, saya sudah bisa menilainya "
" Bima ? Bima siapa ? Mantan pacar kamu ? "
" Ya ela Pak, masa' Bima enggak tahu, itu lho salah satu saudara di Pandawa Lima, yang menikah dengan raksasa wanita, yang...."
" Diam ! Jangan menyamakan saya dengan tokoh tokoh imajinasi penulis buku itu, saya mau hak saya kamu berikan sekarang juga "
Bastian menarik tangan Amel, menggeretnya menuju ke kamar.
" Eh, jangan maksa dong Pak, ini masih siang menjelang sore, ntar keringetan lho, keringet saya bau "
Amel berusaha menahan kakinya, tapi mana mungkin berhasil, tubuh Bastian yang tinggi proposional, sementara Amel yang memiliki tinggi rata rata dan sedikit kurang berdaging kalah tenaga dengan Bastian.
Bastian hanya menyeringai.
" Dikamar ada AC, jangan banyak alasan "
" Saya lagi datang bulan Pak "
" Jangan menipu saya, kamu tunjukkan pada saya, apa kamu benar-benar datang bulan "
Bastian mendorong Amel hingga jatuh ke atas ranjang, lalu Bastian mengunci kamar, kunci kamar dimasukkan ke dalam saku celananya.
" Malu dong Pak, masa' seperti itu diperlihatkan ke Bapak "
" Kenapa harus malu, saya suami kamu, nanti juga akan saya lihat semuanya, atau saya akan mengecek sendiri apakah kamu memakai pembalut atau tidak "
Gila, sudah tidak waras Pak Bas ini.
Bastian naik ke atas ranjang, wajah Amel mulai memucat.
Tidak, Amel tidak mau menyerahkan diri dengan cara dipaksa, Amel tidak rela.
" Saya teriak lho Pak, kalau Bapak memaksa "
" Teriak saja, mereka juga tahu kalau kita pengantin baru, anggap saja kita menggunakan gaya yang sedikit ekstrim "
Berpikir, berpikir berpikir.
Amel berusaha keras mencari cara bagaimana agar Bastian tidak jadi melakukannya untuk saat ini, melihat Bastian mulai melepaskan satu demi satu pengait kancing kemeja yang dikenakannya, badan Amel semakin menggigil.
" Pak, kita kan belum membersihkan rumah, pasti disini berdebu "
" Hei, gadis sok pintar, saya sudah menyuruh mbak Nuri membersihkan rumah ini kemarin "
" Pak, nanti malam ya, saya lapar, masa bapak tega sih membiarkan perut istrinya kelaparan, nanti saya tidak punya tenaga lho untuk melayani bapak "
Shit, Amel ingin menabok mulutnya sendiri sekencang kencangnya, bisa bisanya dia mengatakan hal yang memalukan seperti itu.
Bastian menghembuskan napas kuat, lalu menjatuhkan badannya di sebelah Amel yang sudah terpojok di kepala ranjang.
" Pesanlah makanan yang kamu mau, awas saja kalau nanti malam kamu banyak alasan lagi, saya perkosa kamu "
Bibir Bastian membentuk seringaian puas karena berani menakut nakuti Amel.
Amel buru buru turun dari ranjang, berdua saja di dalam kamar bersama Bastian, bahaya.
" Pak, pintunya dikunci "
Amel sudah berdiri di depan pintu.
Bastian mengambil kunci dalam saku celananya lalu melemparkan ke arah Amel.
Amel lebih memilih duduk di teras sembari menunggu pesanan makanannya sampai, Amel berbalas pesan pada Anwar.
@Amel
[ Fren, aku sudah tidak tinggal di rumah orang tua Pak Bas, kalau kau libur, main kesini ya ]
Terlihat Anwar sedang mengetik.
@Anwar
[ Maaf maaf saja ya, aku ogah melihat mantan guru songong itu, kau tidak jadi dicerai-nya ? ]
@Amel
[ Belum ]
@ Anwar
[ Gak jadi dong aku menunggu jandamu, hahahaha
Eh, pengantin baru kok masih ingat aku, kemana suamimu ]
@Amel
[ Menyiapkan stamina untuk penyerangan nanti malam, hihihi ]
@Anwar
[ Mesum, kau mengharapkan juga ternyata, muna ]
@ Amel
[ Jangan nuduh dong, enak saja ]
Entah berapa banyak keduanya berbalas chat sampai makanan yang Amel pesan datang, baru keduanya berhenti.
Bastian masih berada di dalam kamar, entah ngapain dia, Amel juga tidak perduli, makanan lebih menarik untuk saat ini.
...******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Murni Agani
kirain minta dipulangin krmh omny😂🤣
2022-02-09
0
☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀
ngakak abis😁😁😁🤣🤣🤣
2021-12-06
0
Surtia Ningsih
pengen deh temenan ma Anwar😁
2021-10-30
1