Malam pertama tidur di rumah milik Bastian sendiri, Amel jadi tidak bisa tidur, perutnya terasa keram, pinggangnya pegel pegel, bawa'annya miring terus, selain takut bocor, juga karena Amel merasa tidak nyaman.
" Perutnya sakit "
Bastian jadi ikutan tidak bisa tidur juga karena ranjang terus bergoyang-goyang.
" Sedikit "
" Beneran ? "
Bastian tidak percaya, sakit sedikit tapi kedua alisnya Amel menyatu, dahinya juga berkerut, belum lagi wajah Amel yang terlihat pucat dan meringis menahan sakit.
Bastian keluar dari kamar, tidak berselang lama, dia sudah kembali.
" Coba ini diletakkan di atas perutmu, biasanya bisa mengurangi rasa nyerinya "
Bastian menyerahkan air hangat didalam botol kaca.
Amel diam saja.
Dari mana dia tahu hal seperti ini, pasti mantan pacarnya lagi.
Amel mendengkus sebal, lalu memejamkan matanya.
" Dulu, mantan eh calon istri saya kalau nyeri datang bulan, selalu menggunakan cara tradisional seperti ini "
Tuh kan, nyebelin.
" Berapa banyak sih mantan calon istri, Bapak ? "
Walaupun Amel sudah tahu dari Om Joko, pura pura saja tidak tahu.
Dengan cemberut Amel mengambil botol yang berisi air hangat dari tangan Bastian
" Nanti kalau saya kasih tahu, kamu cemburu lagi "
Bibir Amel mencibir.
" Tante Nindy itu siapa ? Centil banget, pakai tahu kalau Bapak suka brownies lagi "
" Lah, kan kamu tahu sendiri kalau dia tetangga depan rumah "
" Bukan itu maksud pertanyaan-ku "
" Iya, saya tahu, rumahnya berada persis di seberang rumah ini, suaminya seorang pelaut, dia tahu saya suka brownies, waktu saya membeli rumah ini dan memasukkan perabotan rumah, dia datang memperkenalkan diri sembari membawa brownies, lalu ...."
" Lalu Bapak bilang kalau Bapak suka brownies ? "
Potong Amel mencebikkan bibirnya.
" Sayakan cuma basa basi sebagai balasan atas keramahan pada tetangga, hal biasa kan ? "
" Dengan tetangga kegatelan seperti itu gak perlu ramah ramah, apalagi suaminya jarang pulang, huh, minta aku olesin sambel terasi aja tuh yang gatel "
Wajah Amel terlihat emosi, sampai botol yang berisi air hangat di tekan tekan di atas perutnya.
Melihat itu, Bastian tergidik ngeri.
" Kamu cemburu ya, Mel "
Bastian mencolek bahu Amel.
" Enggak, ngapain cemburu "
" Masa' sih ? "
" Enggak percaya ya udah, aku cuma gak suka ada perempuan yang keganjenan sama suamiku, itu aja "
Amel menyodorkan air dalam botol yang sudah dingin.
" Ya udah kalau enggak mau ngaku, terserah kamu saja.
Perutnya udah enak'kan ? "
" Udah, sekarang aku ngantuk sekali "
Amel memejamkan kedua matanya.
Bastian mengecup dahi Amel pelan, Amel langsung melotot.
" Saya kan suami kamu, Mel, masa' ngecup dahi aja gak boleh "
" Nanti minta yang lain ? "
" Mel, Kalau tidak karena tamu bulanan kamu datang tadi siang, harusnya kan malam ini kamu memenuhinya kewajiban kamu sesuai janji "
" Ya ampun Pak, inget ke situ terus "
" Wajar'kan ? Om kamu saja anaknya sudah dua, nah saya ? "
" Apa Bapak gak geli ngelihat aku ? Jelek, dekil, kurus, idup lagi ? "
" Mel, itu kan dulu, sekarang kamu sudah dewasa, sudah jadi istri saya, jadi gak perlu ingat yang dulu lagi ! "
Amel menghembuskan napas kuat, kembali memejamkan kedua matanya.
Kalau lagi datang bulan gini, bawa'an Amel itu males, dan maunya tiduran saja, tapi kalau ada yang ngajak berantem, Amel layani.
...*****...
Amel bangun lebih lama dan lebih siang dari Bastian, kerena ketika Amel membersihkan diri dan keluar kamar, Bastian sedang berolahraga di halaman, tepatnya di depan pintu dapur.
" Pak, Olahraga kok ditempat yang sempit gitu, di depan atau keliling komplek kan lebih luas "
Bastian yang sedang bermain skipping menghentikan gerakannya.
" Tidur kamu nyenyak sekali ya, sampai gak nyadar kalau celana yang saya kenakan terkena noda darah kamu "
" Hah ? Jangan ngada-ngada deh Pak ! Mana mungkin bisa seperti itu ? "
" Ngapain saya ngada-ngada, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa ngecek di keranjang kain kotor, buktinya akan terpampang secara nyata "
Amel memicingkan kedua matanya menatap Bastian yang sekarang tengah mengangkat barbel seberat dua kilogram dengan satu tangan secara bergantian, pantas saja lengan dan badan Bastian kencang berotot, rupanya dia tipe pria yang doyan berolahraga.
Eh, tunggu dulu, jangan-jangan Pak Bas emang enggak bohong, pantesan aja celana yang aku kenakan tadi banyak noda, tapi bagaimana bisa sampai mengenai celana Pak Bas ? Gak mungkin kan Pak Bas sengaja menempelkan ke celananya ?
Membayangkan itu, Amel bergidik geli.
" Sepanjang malam, kamu menjadikan sebelah kaki saya sebagai bantal guling Amel, sampai pegel rasanya, mau saya lepaskan, saya gak tega lihat kamu, udah tidur dengan mulut melongo lagi, gak ada cakep cakep-nya, untung gak ngences "
Bastian mencibir.
" Ngina aja terus ! Mau aku kutuk lagi ? "
" Eh, jangan dong Mel, saya suami kamu lho, jangan berdo'a yang tidak tidak, nanti yang rugi kamu sendiri "
Amel cuma melengos.
Bastian aja yang aneh, masa' percaya dengan kutukan, memangnya ini zaman apa ? Emang Bastian itu jodoh Amel, makanya Bastian selalu gagal ketika hendak menikah.
Kalau soal Amel yang mengeluarkan sumpah serapahnya, itu hanya kebetulan saja.
" Pak, kalau mau olah raga, didepan sana ! Aku mau mencuci "
" Apa hubungannya ? "
" Merusak konsentrasi aku mencuci Pak, jika Bapak terus bergoyang goyang disini "
Bastian menaikkan sebelah alisnya,
" Aneh, bergoyang bagaimana ? Saya mengangkat barbel Amel, bukan bergoyang "
" Sama saja, kan Bapak bergerak juga "
" Bergerak dengan bergoyang itu beda Amelia Putri "
" Sama "
Bastian ngalah, daripada perang mulut sama Amel yang sedang PMS, lebih baik di iyakan saja.
Bastian berjalan ke depan, tidak lama kembali lagi, Amel saja baru juga mulai memilih milih mana pakaian kotor yang hendak di giling terlebih dahulu.
" Kok bentar aja ? Udahan ? "
" Kamu lihat saja kedepan sendiri, nanti kalau saya olah raga di depan, kamu pasti marah marah "
Tanpa banyak bertanya, Amel berjalan ke depan mengikuti saran dari Bastian.
Kedua mata Amel melotot menatap penampakan di seberang rumah.
Ulet keket, eh Nindy, sengaja berpura pura menyiram tanaman dan menyapu halaman dengan menggunakan hotpants warna merah menyala dan kaus you can see my ketiak.
Bolak balik melihat arah ke rumah Bastian.
" Gak perlu olah raga di luar Pak, kamar kosong itu saja untuk Bapak berolah raga, aku bisa juga pakai pakaian seperti dia, gak perlu Bapak lihat istri orang lain "
Amel berdecak jengkel, bisa tensi terus menerus dia punya tetangga kegatelan seperti itu.
" Jangan sekarang kalau mau pakai pakaian seperti itu Mel, Minggu depan aja "
" Kenapa ? "
" Amel, kamu kan sendang..."
" Iya iya, pokoknya Bapak gak boleh beramah tamah dengan Nindy ! "
" Siap Nyonya ! "
Sahut Bastian ngeloyor melanjutkan olahraganya di halaman samping.
Melihat Bastian yang keringetan, Amel yang kepanasan sendiri.
...******...
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
pur wati
suami istri klop bangettttttt🤩🤩🤩🤩 tapi seru juga.👍👍
2023-06-03
0
Vera Diani
Cemburu jg kau Mel 🤣😂🤣🤣
2022-11-10
0
Jenni Johanis
lucu banget🥰😘
2022-02-13
0