-Galih PoV-
Aku Galih Adiwarman 25 Tahun, saat ini aku bekerja bersama sahabatku di perusahaan RJP (Roy Jaya Putra) sebagai kepala Tim IT banyak hal yang kubisa, tentu saja. Aku tampan, cerdas dan mapan, belum lagi aku adalah anak bungsu dari keluarga Adiwarman yang merupakan pengusaha tambang Emas dan berlian.
5 tahun yang lalu aku mengenal gadis kecil yang sangat membuatku kagum, dia cantik, cerdas dan bisa menarik perhatian ku. Sejak saat itu perhatian ku hanya tertuju kepadanya. Namun sayangnya gadis itu sangat lambat dalam hal perasaan, sungguh sangat mengguras pikiran sebenarnya untuk mendekatinya.
Awalnya aku tidak menyangka bahwa ketertarikan ku ternyata sebagai seorang pria tertarik kepada seorang wanita, ingin menjaganya dan memilikinya. Aku baru menyadarinya beberapa tahun terakhir. Aku cemburu saat gadis kecil itu lebih dekat dengan Roy dan Jun kedua sahabatku. Sungguh aku hanya menginginkannya hanya untuk diriku sendiri.
Namun sayang sekali pertemuan ku dengan gadis itu terlambat, lebih dahulu Roy bertemu dengan gadis kecil itu ketimbang dengan diri ku. Sehingga gadis itu menjadikan Roy sebagai tempatnya bersandarnya.
Hal yang membuat ku terakhir kali merasakan sangat sakit di bagian dada seolah-olah jantungku di remas-remas adalah ketika melihat gadis kecil itu rapuh dan terluka namun dia ada di dalam pelukan laki-laki lain meskipun itu adalah sahabat ku sendiri aku sungguh cemburu dan iri. Ingin rasanya aku menarik gadis itu dan memeluknya erat di tubuhku menyandarkan kepalanya pada dadaku, mengelus rambutnya dan menenangkannya dengan tangan ku sendiri, aku ingin menjadi fondasi terkuatnya.
Namun keinginan ku dan kenyataan berbeda jauh gadis itu lebih memilih bahu Roy sebagai sandarannya, dan jika dengan ku dia selalu saja berdebat segala hal, gak peka, atau kadang malah bersikap dingin.
Seperti pagi ini, tak bisakah dia pura-pura kesal karena kau tidak jadi bisa mengantarnya ke rumah sakit untuk menemui seseorang yang dia baru kenal. Dia malah tampak biasa-biasa saja malah lebih tampak tak peduli. Astaga sungguh menyebalkan.
Urusan ku di kantor sudah selesai, tadi ada hal darurat penting yang harus segera aku selesaikan. Kulihat kini jam setengah 12 siang, sebentar lagi adalah jam makan siang. Aku melihat lokasi keberadaan gadis kecil itu, ya aku menginstal pelacak pada handphonenya. Tunggu aku bukan stalker, tetapi memang dalam Tim inti kita di pasangi pelacak itu untuk memudahkan jika terjadi sesuatu nantinya. Bukan hanya aku yang bisa melihat di mana lokasi gadis itu berada, namun Jun dan Roy pun bisa melihatnya.
Namun ya memang ini bukan hal mendesak dan aku malah melihat di mana lokasi gadis kecil itu di mana, tetapi bagaimanapun juga aku hanya ingin mengajaknya untuk makan siang bukan untuk melukainya atau melakukan kejahatan apapun. Tak masalah kan?
Aku melihatnya masih di dalam rumah sakit. Aku merencanakan akan menjemputnya ke rumah sakit dan mengajaknya untuk makan siang, setelah itu kita bisa berbarengan ke kantor.
Aku pergi tergesa-gesa kearah mobil ku dan melajukan mobilku dengan kecepatan sedang kalian tau ini mau jam makan siang jalanan sudah mulai agak ramai.
Tak lama aku sampai di dalam parkiran. Aku memarkirkan mobilku tak jauh dari pintu lift. Aku melepas seatbelt ku dan akan mencabut kunci mobilku ketika aku tidak sengaja melihat sosok gadis yang ku puja sedang berjalan dengan seorang pria. Gadis itu tampak mengekori sang pria dan menuju mobil pria itu. Pria itu membukakan pintu untuknya dan melaju menuju ke suatu tempat.
Tentu saja aku tidak membuang waktuku aku menyalakan kembali mobilku dan mengekori mobil pria itu. Aku ingat jelas dalam target-target kami pria itu tidak ada di dalam list itu. Lalu untuk apa gadis itu bersama pria itu, dan siapa pria itu.
“Astaga,, sungguh apakah aku malah berubah jadi stalker.” Ucapnya pada diri sendiri.
Mereka menuju lapangan parkir sebuah mall, aku tetap mengekori mereka agak sedikit jauh namun tetap bisa mengawasi mereka. Ternyata mereka makan siang di sana di restoran jepang. Aku pun mengikuti mereka dan makan di kursi yang lumayan jauh dari mereka tetapi tetap bisa memantau mereka. Aku melihat mereka berbicara dan bersenda gurau, terkadang aku melihat senyum manis Alice. Astaga hatiku panas di buatnya. Mengapa dia bisa memberikan senyuman semanis itu kepada pria itu sedangkan jika denganku pasti kebanyakan juteknya. Aku sudah tidak kuat lagi, aku segera menyelesaikan makan siang ku dan berjalan menuju mejanya.
“Wahh Al kebetulan sekali, apa yang kau lakukan di sini?” Tanya ku pura-pura bodoh.
‘Tentu saja makan jika kau berada di sebuah restoran kan.’ Ucap batin ku sendiri.
“Ahh Galih,, kita lagi main golf.” Ucap Al cuek.
“Astaga mode pedasnya udah keluar nih.” Ucapku dan tanpa ragu aku menggeser kursi di sebelah Alice dan duduk di sana.
“Aku tak mengganggu kan? Kalian gak lagi ngdate kan?” Ucapku basa-basi. Meskipun mereka bilang aku mengganggu aku tak akan pergi dari sini.
“Oh tidak, silakan.” Ucap pria di depan Alice.
“Ah perkenalkan aku Galih.” Ucap ku. Aku berinisiatif memperkenalkan diriku sendiri, karena aku yakin gadis ini adalah gadis yang tidak akan peduli dengan hal kecil itu, dia terlalu tidak peka.
“Aku Antonius.” Ucap pria di depan Alice.
Alice santai saja sambil makan desert makanan yang dia pesan dia tidak merasa terganggu dengan kehadiranku. Karena aku yakin kini fokusnya ada pada makanannya itu, dia sungguh seperti anak kecil.
“Apakah kau kekasih Ara?” Tanya Antonius.
“Ahh.. Bukan aku temannya.” Ucapku gugup.
‘Astaga bodohnya aku, aku tadi memanggil gadis itu dengan sebutan Al, aku harap telingga pria ini tak sebagus itu.’ Batin ku.
“Astaga bocah ini benar-benar seperti bocah kecil saja.” Ucap ku sambil mengambil tisu dan mengelap sudut bibirnya Alice.
“Aku bisa sendiri.” Ucap Al.
“Tetapi kau tidak bisa melihatnya bocah nakal.” Ucapku menolak dia merebut tisu yang akan aku usapkan lagi pada sudut bibirnya.
Dia fokus lagi memakan desertnya Anmitsu berupa parfait khas jepang, terbuat dari agar-agar jeli. Agar-agar di larutkan di dalam air atau jus buah yang akan menghasilkan gelatin di sajikan di dalam mangkuk dengan tambahan anko/kacang merah, kacang polong, dan aneka buah seperti peach, nanas, ceri, jeruk satsuma, mochi, es cream dan stroberi kesukaannya.
“Sepertinya kalian sangat dekat.” Ucap pria di depan ku Antonius. Nada suaranya terdengar tidak nyaman, aku tidak tau mengapa.
“Ahh ya,, kami sudah berteman 5 Tahunan.” Ucap ku membanggakan diriku.
“Ahh,, begitu ternyata.” Ucap pria di depan ku.
“Aku sudah selesai makan, aku akan membayar tagihannya.” Ucap Al.
“Tidak perlu, biar makan siang ini aku yang traktir.” Ucap pria di depan ku itu.
‘Ahh dia gentleman juga.’ Batin ku.
“Tetapi aku kan sudah berjanji pada mu. Lagi pula aku kan berhutang mentraktirmu.” Tolak gadis itu.
“Kau berhutang makan malam Nona, aku akan menantikan traktiran makan malammu.” Ucap pria di depan ku dengan tersenyum menghadapku.
Darah ku mendidih tentu saja. Dia bukan gentleman tetapi memang menginginkan pertemuan lain dengan Alice. ‘sial.’ Keluhku.
“Ahh benar juga.. baiklah kalau begitu.” Ucap Alice.
‘Apa?? Mengapa Alice mengiyakan permintaan lelaki ini. Siapa lelaki ini.’ Batin ku.
“Al,, ehemm Ara siapa dia?” Tanyaku.
“Ahh dia Anton, bukankah tadi kalian berkenalan?” Tanya Alice.
“Aku tahu, maksudku bagaimana kamu bisa kenal dia?” Tanyaku lagi.
“Ahh bilang dong yang jelas.. Anton dokter yang menangani pasien yang aku kunjungi hari ini.” Jelas Alice.
“Lalu mengapa kau mau makan siang dengannya?” Tanyaku.
“Aku lapar.. dan hanya berterimakasih.” Jawabnya cuek.
Pria itu masih memperhatikan interaksi kami. Kemudian kami pergi menuju basement untuk pulang, Alice mengekori pria itu.
“Mari Ara kita pulang.” Ucap Anton. Ara mengekor di belakangnya aku menarik tangannya.
“Apa maksudnya?” Tanya ku pada Alice.
“Maksud apa?” Tanya Alice balik.
“Mengapa kau akan masuk ke mobilnya lagi?” Tanyaku pada Alice, dia hanya tampak bingung, sedangkan si Anton itu hanya memandangi interaksi kami.
“Aku kesini tadi naik mobilnya, aku tidak bawa mobil.” Ucap Alice dengan santai.
“Kau ikut pulang dengan ku.” Ucap ku kesal.
“Tetapi mobilku masih di basement rumah sakit.” Tolak Alice.
“Nanti aku suruh orang ku mengambil mobilmu. Yaudah yuk.” Paksa ku kepada Alice.
“Ohh yaudah,, dok aku ikut dengan teman ku saja.” Ucap gadis itu pada pria itu.
“Kau lupa ya.” Ucap Pria itu. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
“Ahh yaa,, maksudku Anton.” Ucap Alice membenarkan ucapannya.
“Ya,, kau pulanglah hati-hati di jalan, jangan lupa aku menantikan traktiranmu.” Ucap pria itu sambil tersenyum manis kearah Alice. Tentu saja aku langsung menarik tangan Alice sebelum Alice sempat membalas pertanyaan pria itu.
Pria itu hanya melihat ku menarik tangan Alice, membukakan pintu untuk alice dan membawanya masuk kedalam mobil. Pria itu masih setia berdiri di samping mobilnya sambil melihat mobil kami pergi menjauh.
“Siapa pria itu?” Tanya ku pada Alice.
“Apa kah kau terkena penyakit alzheimer? Atau amnesia Anterograde? Yang membuat si penderita penyakit lupa ingatan yang sulit membentuk sebuah ingatan baru. Padahalkan baru saja terjadi. Astaga..” Keluah Al dengan kesal.
“Bukan begitu Al, maksudku mengapa pria itu menginginkan makan malam denganmu dan mengapa juga kau mengiyakan permintaan lelaki itu. Kau bilang dia hanya seoang dokter kenalan yang baru kau temui, lalu mengapa kau seperti terlalu terikat dengannya. Aku tidak suka.” Paparku tanpa basa-basi.
“Ada apa hari ini dengan mu, kau aneh sekali Galih. Pertanyaan macam apa yang kau lontarkan.” Kesal gadis itu.
Aku menghentikan mobil ku di tepi jalan tol. Aku menyalakan lampu Hazard dan membuka seatbelt ku. Aku menghadap ke Al dan aku memegang bahunya agar berhadapan dengan ku.
“Alice Anatasya, aku tau mungkin ini aneh bagimu dan mungkin ini juga terlalu cepat untukmu. Tetapi bagiku ini tidak terlalu cepat karena aku sudah memperhatikan mu 5 tahun ini, bukan hanya saat kau masuk ke dalam perusahaan ataupun tim inti, namun jauh dari saat itu. Aku mengetahui mu sejak saat kau bertemu dengan Roy. Awalnya aku hanya penasaran kepadamu kemudian aku mulai memperhatikan mu dan akhirnya hingga saat kau masuk dalam tim aku benar-benar sudah menyukaimu dan aku baru menyadarinya saat itu.”
“Ahh benarkah? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Alice.
“Astaga Alice, bukan itu inti pembahasannya.”
‘Astaga bocah ini benar-benar menguras emosi.’ Batin ku kesal.
“Aku bingung bagaimana dalam ujian kau selalu mendapatkan nilai sempurna, serta dalam misi kau selalu berhasil dengan sangat baik, tetapi dalam hal ini kau seperti bocah Taman Kanak-kanak.” Kesal ku padanya.
“Kau yang bocah Taman Kanak-kanak, seluruh keluargamu yang bocah Taman Kanak-kanak. Kau yang bicaranya yang tidak jelas belum lagi amnesia atau alzeimer.” Kesal Gadis itu sambil melepaskan pegangan tanganku di bahunya.
“Alice….” Ucapku sambil memegang bahunya lagi dan memposisikannya lagi agar dia menatapku.
“Aku menyukaimu, Aku Galih Adiwarman menyukaimu, mencintaimu Alice Anatasya layaknya seorang pria kepada seorang wanita. Aku tak butuh jawaban balasan atas perasaan ku saat ini, tetapi yang mau aku jelaskan adalah aku mau kau tau akan kehadiran ku ini, aku ingin kau memperhatikanku layaknya seorang pria yang menginginkan wanitanya. Jadi jika suatu saat kau sudah mengerti akan perasaan seperti ini, kumohon ingatlah kejadian ini dan berikan jawabanmu untuk ku. Kau mengertikan maksudku.”
“Aku tak mengerti..” Ucap gadis itu bingung.
“Aku mengerti, karena saat ini kau belum merasakan perasaan seperti ini, maka dari itu aku tidak memaksamu. Namun jika suatu hari nanti kau sudah mulai mengerti perasaan menginginkan seseorang seperti ini, tolong beri tau aku. Izinkan aku untuk menjadi orang pertama dalam daftarmu.”
“Selain itu kau saat ini sudah tau perasaan ku, kumohon perhatikan aku, dan jangan terlalu dekat dengan pria lain. Dan aku akan melakukan pendekatan langsung padamu agar kamu melihatku.. Ya..”
‘Terutama pria tadi, jangan terlalu dekat dengannya.’ Batin ku.
“Aku tau aku egois, tetapi kumohon ya Alice Anatasya.” Pintaku memelas.
“Yaa.. Akan aku ingat.” Jawab gadis itu.
“Terimaksih.” Ucapku sambil mengelus kepalanya.
Sesungguhnya aku ingin mengecup kepalanya tetapi jika aku lakukan seperti itu, aku takut nanti yang ada dia malah kabur. Hadehh susah bicara sama bocah yang benar-benar belum mengerti. Aku harus lebih sabar dan sabar dan sabar.
“Udah kan .. Ayoo.” Keluhnya.
“Hadehh.. kau menghancurkan suasana saja.” Keluhku padanya dengan sedikit ku cubit hidungnya.
“Ya sudah ayo.” Ujarku dan mengenakan kembali seatbelt dan mematikan lampu hazard. Aku kembali melajukan mobil menuju perusahaan.
“Kau baru datang?” Tanya Juna ketika melihatku dan Al berjalan menuju ruangan Al.
“Ya, tadi aku makan siang dengannya.” Ucapku pada Juna sambil menunjuk Al dengan daguku.
“Kau sudah tak apa Al?” Tanya Juna.
“Ya Kak Jun aku baik-baik saja.” Ucap gadis itu.
“Aku akan ke ruangan ku dahulu menaruh barangku, nanti aku ke ruang meeting.” Ucap gadis itu.
“Ya.. hati-hati.” Ucapku sambil mengelus kepalanya dan gadis itu hanya diam dan berlalu menuju ruangannya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 317 Episodes
Comments
M.J.M
mampir Thor 💪
2021-10-30
1
Miracle Tree
mampir 🖤
2021-10-21
1
Caca🌹
mangats
2021-09-11
1