“Calon pacarnya Alana.”
Hah?
Ucapan Satria berhasil membuat Alana dan Erlangga sama-sama tercengang. Erlangga langsung menoleh ke arah Alana seolah meminta penjelasan dari gadis yang ada di sampingnya.
“Calon ... pacar?” tanya Erlangga.
“Eh, bukan kok. Dia teman sekolah aku,” jawab Alana.
“Sudah deh ,Alana ... ngapain malu sih ngakuin sama 'om' ini?” ucap Satria.
“Om?” Erlangga mendelik ke arah Alana.
Mendapatkan tatapan tajam dari Erlangga, Alana hanya tersenyum saja seperti tidak ada dosa.
“Issssh, Satria ... kamu jangan bikin gosip. Nanti kalau tidak sengaja ada temen sekolah kita dengar bagaimana?” tanya Alana. “Aku gak maulah kena bully di sekolah karena dikira ngejar-ngejar kamu.”
“Ngapain takut? Lagi pula aku kok yang ngejar-ngejar kamu bukan kamu yang ngejar-ngejar aku,” ucap Satria.
Oke, Erlangga sekarang merasa jenuh mendengar perdebatan antara Alana dengan Satria. Dirinya merasa tidak dianggap oleh mereka.
Ternyata begini rasanya tidak dianggap.
“Ehhhhm.” Erlangga berdehem untuk menghentikan obrolan Alana dan Satria.
“Sepertinya aku sudah mengganggu kalian. Sebaiknya aku pergi,” ucap Erlangga.
“Eh, tapi Mas ... es creamnya ....” Alana mencoba menghentikan Erlangga, tetapi tidak bisa.
Mungkin karena Erlangga terlalu kesal karena dirinya merasa tidak dianggap oleh Alana membuat laki-laki itu tidak menghentikan langkahnya.
Alana yang merasa tidak enak hati tidak menyerah untuk mengejar Erlangga. Alana berhasil menyusul dan menghentikan langkah Erlangga.
“Mas Erlangga ... tunggu!”
Erlangga berbalik ke arah Alana, tetapi belum ingin melihat ke arah Alana.
“Mas, maaf ya. Setidaknya kalau mau pergi makan es creamnya dulu,” ucap Alana.
“Gak usah, aku sudah kenyang,” tolak Erlangga.
Kenyang dengerin pembicaraan kalian yang sok romantis itu.
“Lagian kamu kayaknya sibuk sama calon pacar kamu itu.” Erlangga menekan kata 'calon pacar' untuk menyindir Alana.
“Isssh, sudah dibilangin ... dia bukan calon pacar aku. Dia hanya temen sekelas aku,” jelas Alana. “Aku gak mau jadi pacarnya dia kok, pacarnya juga sudah banyak.”
“Ngapain kamu kasih tahu ini ke aku? Gak penting juga,” ucap Erlangga.
“Mas Erlangga kok kayaknya marah? Mas cemburu?” tanya Alana.
“Apa? Cemburu? Jangan mimpi!” Erlangga menyentil kening Alana.
“Kalau gak cemburu ... kenapa Mas Erlangga marah-marah?” Alana berucap seraya mengusap keningnya.
“Males dengerin obrolan kalian yang gak bermutu,” jawab Erlangga.
“Aku ke sini tadinya mau jemput kamu, mau ngajak kamu jalan-jalan ... eh, gak tahunya kamu lagi pacaran sama si Satria itu,” ucap Erlangga.
“Tadi katanya cuma kebetulan lewat. Kok tiba-tiba sekarang mau ngajak aku jalan-jalan?” Alana menatap Erlangga dengan tatapan curiga.
Eh dia inget. Sial! Pake acara kelepasan bicara lagi.
“Mas Erlangga sebenarnya ke sini kebetulan lewat atau sengaja datang buat jemput aku?” tanya Alana dengan polosnya.
Erlangga berpikir sejenak untuk memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Alana.
“Sudah jangan cerewet! Tuh banyak pembeli. Pacar kamu juga kayaknya kewalahan,” ucap Erlangga.
“Tapi Mas jangan pergi dulu ya. Aku ambilin es cream dulu,” pinta Alana.
“Iya, aku tunggu di sini,” sahut Erlangga.
Erlangga memandangi Alana sampai gadis itu masuk ke dalam stand miliknya. Tidak sengaja pandangan Erlangga bertemu dengan Satria. Api kebencian seolah menyala dari mata mereka.
Entah mengapa semenjak Satria pertama kali melihat Erlangga rasa tidak suka pada Erlangga muncul. Satria merasa ia memiliki rival untuk mendapatkan Alana.
Sementara dari tempat Erlangga duduk, Entah sengaja atau tidak, Erlangga melihat Satria sedang mencoba menunjukkan kedekatannya dengan Alana. Seharunya Erlangga tidak harus terpengaruh dengan tindakan Satria kepada Alana, tetapi tidak! Nyatanya Erlangga sangat tidak menyukai itu.
“Sok banget tuh anak. Gak tahu apa ... di sini ada calon suaminya,” batin Erlangga.
Eh?
Tidak lama Alana datang menghampiri Erlangga dengan membawa satu cup es cream dengan berbagai varian rasa.
“Maaf ya, Mas ... jadi nunggu lama,” ucap Alana. “Kalau malam minggu memang ramai banget.”
“Ya, bagus dong kalau rame. Lagian aku juga lagi gak ada acara,” ucap Erlangga.
“Oh iya ... ini es creamnya.” Alana menyerahkan satu cup es cream berukuran besar pada Erlangga.
“Terima kasih.” Erlangga menerima cup es cream yang diberikan oleh Alana.
“Duduk sini,” suruh Erlangga.
Erlangga menyuruh Alana untuk duduk di sampingnya. Mata Erlangga melirik ke arah Satria. Dia tidak akan membiarkan Alana untuk dekat dengan pemuda itu. Jiwa gengsi dalam dirinya memberontak. Erlangga tidak ingin kalah dari pemuda yang masih bau kencur itu.
“Dia sering datang ke sini?” tanya Erlangga.
“Dia ... siapa?” tanya balik Alana.
“Tuh!” Erlangga menunjuk Satria dengan dagunya.
“Oh, Satria. Dia kadang membantuku kalau hari libur,” jawab Alana.
“Oh,” sahut Erlangga singkat.
“Kenapa memangnya, Mas?” tanya Alana.
“Gak apa-apa, cuma nanya saja,” jawab Erlangga.
Obrolan Erlangga dan Alana terhenti saat Satria mendadak menghampiri mereka. Bukan hanya itu Satria bahkan sengaja duduk di tengah-tengah, di antara Alana dan Erlangga.
“Eh ....” Alana dan Erlangga terkejut akan tindakan yang diambil oleh Satria.
“Apa yang kamu lakukan, anak kecil?” sungut Erlangga.
Satria nampak malas untuk menanggapi Erlangga. Satria lebih fokus pada Alana.
“Alana, es cream kamu tinggal sedikit. Aku membelinya agar kamu bisa tutup cepat,” ucap Satria. “Ayo buka mulutmu ... aaa!”
“Tidak usah, aku bisa makan sendiri,” tolak Alana.
“Tidak apa-apa, sekali-kali aku nyuapin kamu. Aku ini calon pacar kamu, 'kan?” Satria memaksa Alana untuk membuka mulutnya.
“Dih ... dasar tidak tahu malu! Perempuannya gak mau masih maksa juga,” sindir Erlangga.
“Eh, Om ... ini namanya perjuangan. Cinta itu gak kenal lelah,” balas Satria.
Erlangga menoyor kepala Satria. “Cinta, cinta! Sekolah dulu yang bener. Kerja dulu ... baru mikirin cinta.”
“Om, saya yang mau ... kenapa jadi Om yang repot sih? Memang ini masalah buat, Om?” tanya Satria.
Ya masalahlah! Yang kamu kejar itu calon istriku.
Eh? Lagi-lagi menyebut Alana calon istri.
Tapi dipikir-pikir bagus juga sih kalau Alana punya pacar. Jadi mami gak bisa maksa Alana buat nikah sama aku.
“Jangan kebanyakan mikir, Om. Nanti cepet tua.” Perkataan Satria berhasil memecah lamunan Erlangga.
“Kamu bisa gak sih bicara sopan sama orang yang lebih tua?” Erlangga terlihat kesal sekali dengan Satria.
“Eh, sudahlah kalian berhentilah. Tidak baik berdebat di pinggir jalan seperti ini,” ucap Alana. “Kalau ada yang lihat ... apa kalian tidak malu?”
“Nih, calon pacar kamu duluan.” Lagi-lagi Erlangga menekan kata 'calon pacar' pada Alana.
“Om, tuh yang duluan,” balas Satria.
Alana menarik napasnya mencoba bersabar karena dua laki-laki di hadapannya tidak juga berhenti berdebat.
Alana kembali ke stand karena ada pembeli. Satria menggunakan kesempatan itu untuk kembali dekat dengan Alana.
Sama halnya Satria yang menggunakan kesempatan untuk dekat dengan Alana, Erlangga menggunakan kedekatan Alana dan Satria untuk mencoba membatalkan perjodohannya.
Erlangga mengambil foto Alana dan Satria lalu mengirimkannya kepada maminya, beserta sebuah kalimat.
(Erlangga)
Mam, Alana sudah memiliki pacar. Apa baik jika mami tetap memaksa Alana untuk menikah denganku.
Erlangga yakin seratus persen jika kali ini maminya akan membatalkan perjodohannya dengan Alana. Namun, balasan pesan dari maminya membuat Erlangga tercengang.
(Monica)
Baru pacar, bukan suami.
(Erlangga)
Tapi kasihan Alana, Mam. Jika mami tetap maksa dia untuk nikah sama aku.
(Monica)
Kemarin dia sudah setuju kok. Pokoknya mami maunya mantu Alana. Ingatnya waktu kamu tinggal 3 hari lagi. Kalau kamu nemuin perempuan kaya Alana baru mami tidak akan maksa kamu untuk menikah dengan Alana.
(Erlangga)
Tapi, Mami.
(Monica)
Dari pada bingung nyari perempuan lain, lebih baik cepat rebut Alana dari pemuda itu? Masa iya kamu kalah sama pemuda itu. Bukannya kamu lebih berpengalaman. Kalau sampai kamu kalah sama pemuda itu, malu sama umur kamu dan predikat kamu sebagai penakluk hati wanita.
Kalau sudah begitu mana mungkin Erlangga membiarkan Alana jatuh ke tangan laki-laki lain. Bisa tercoreng harga dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Endang Purwati
saya malah fokus smaa perdebatan Satria sama Erlangga...😂😂😂😂 lucuuu...walaupun merka debat, tapi justru saya malah merasakan kehangatan disitu...kehangatan layaknya Om ke ponakan beneran ..😂😂😂😂
2021-12-30
1
Uthie
Mamy emang paling bisa matahin argumen Erlangga 👍😁😅
2021-08-06
1
Maria Agustina Bungalay
panik....gak....panik...gak
2021-07-26
1