Malam minggu itu untuk pertama kalinya Erlangga tidak berkencan di dalam kamar hotel ataupun dalam kamar di dalam apartemennya bersama seorang wanita, tetapi Erlangga berkeliling dengan Alana di jalanan kota.
Erlangga cukup menikmati kebersamaanya dengan Alana. Apalagi kepolosan Alana selalu bisa membawa tawa untuk dirinya.
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Itu berati keduanya sudah duduk di dalam mobil yang melaju itu selama satu jam. Selama itu mereka mengobrol.
“Kamu serius belum pernah pacaran?” tanya Erlangga.
Alana menggelengkan kepalanya. “Belum. Siapa yang mau pacaran sama aku?”
“Lah ... itu si Satria! Dia kayaknya suka sama kamu,” tebak Erlangga.
“Tapi aku gak suka sama dia,” aku Alana.
“Kenapa? Apa karena dia punya pacar banyak?” tanya Erlangga.
“Isssh, bukan. Aku gak suka sama Satria karena dia itu sahabat baik aku,” jawab Alana. “Aku gak pernah ada perasaan apapun sama Satria kecuali perasaan sebagai teman.”
“Bagus kalau begitu,” ucap Erlangga.
“Oh iya, Mas ... sebenarnya kita mau pergi ke mana?” tanya Alana.
“Ke mana saja,” jawab Erlangga.
“Menang Mas gak cape nyetir mobil?” tanya Alana.
“Gaklah. Ini belum apa-apa, aku ke Bali juga kadang naik mobil,” ucap Erlangga.
“Sekarang kita gak akan ke Bali, 'kan?” Alana bertanya lagi dengan begitu polosnya.
“Boleh kalau kamu mau. Aku akan mengajakmu ke Bali sekarang,” gurau Erlangga.
“Tapi aky belum bawa pakaian ganti,” ucap Alana.
“Tinggal beli,” ucap Erlangga.
“Aku belum izin sama nenek," ucap Alana lagi.
“Tinggal telepon,” ucap Erlangga lagi.
“Hah? Tapi —” Ucapan Alana dipotong oleh Erlangga.
“Tapi apa lagi, Alana?” tanya Erlangga.
Belum sempat Alana menjawab, perut Alana lebih dulu menjawab.
“Baiklah, perutmu sudah lebih dulu menjawabnya,” ucap Erlangga diikuti rawa kecilnya.
“Kita sekarang cari tempat makan saja,” ajak Erlangga. Ke Bali-nya kita tunda.”
Alana mengangguk dengan wajah tertunduk merasa malu pada Erlangga.
Erlangga tidak akan mungkin membawa Alana ke Bali pada malam itu juga. Tidak akan mungkin, mami Monica bisa marah besar dan detik itu juga mereka akan langsung dinikahkan.
Erlangga berputar-putar mencari tempat makan. Waktu yang sudah malam itu tidak mungkin ada restoran yang masih buka. Meskipun ada, tetapi tempatnya sangat jauh dari tempat mereka sekarang.
Mata Erlangga melihat ke kanan dan kiri jalan, hanya ada warung tenda di sepanjang jalan yang mereka lalui.
“Kamu mau makan apa?” tanya Erlangga.
“Apa saja. Aku gak pilih-pilih makanan,” jawab Alana.
“Mas sendiri mau makan apa?” tanya Alana.
“Apa saja,” jawab Erlangga.
“Mas suka ayam goreng kremes ya?” tebak Alana penuh dengan keraguan. Ia takut jika tebakannya salah.
“Kok kamu tahu kalau aku suka ayam goreng kremes?” tanya Erlangga. “Mami yang bilang?”
Alana menggeleng.
“Terus kamu tahu dari mana?” tanya Erlangga.
“Emm ... waktu pertama kali aku ketemu Mas di rumah mami, aku lihat Mas lahab banget makan ayam kremesnya,” jawab Alana.
“Oh. Iya aku suka banget sama ayam kremes dan —” Belum sempat Erlangga melanjutkan kalimatnya, Alana sudah lebih dulu menyelanya.
“Kue coklat yang ada di toko kue mami Monica,” sela Alana.
“Pasti mami yang kasih tahu ke kamu,” tebak Erlangga.
Alana langsung menjawab dengan anggukan kepalanya.
“Oh iya, Mas ... kebetulan. Di dekat tempat tinggal aku ada warung tenda yang jual ayam kremes. Mas mau gak kalau kita makan di sana saja?” tanya Alana.
“Boleh,” jawab Erlangga. “Tapi masih agak jauh. Apa kamu masih bisa tahan lapar kamu?” tanya Erlangga.
Alana tidak tahu kenapa, tetapi mendengar Erlangga mengkhawatirkan dirinya, rasanya Alana begitu senang.
“Masih kok ....” Alana berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari Erlangga.
“Ya sudah, ayo kita ke sana,” ucap Erlangga.
Erlangga menambah laju kecepatan mobilnya. Beruntung kondisi jalanan saat itu sedang kosong, membuat Erlangga bisa melajukan mobilnya dengan leluasa.
Dalam waktu setengah jam saja, Erlangga sampai ke tempat tujuan mereka.
“Ini 'kan tempatnya?” tanya Erlangga.
Alana menganggukkan kepalanya untuk merespon pertanyaan Erlangga.
“Ya sudah, kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita turun!” Erlangga bicara tanpa melihat wajah tegang Alana.
Erlangga keluar dari mobilnya lebih dulu. Langkahnya terhenti saat Alana masih duduk diam di dalam mobil. Erlangga pun kembali ke mobilnya dan bertanya pada Alana.
“Kamu kenapa?” tanya Erlangga.
“Kakiku lemes, Mas. Mas bawa mobilnya cepat banget,” jawab Alana.
“Ck, ya ampun.” Erlangga tertawa kecil melihat wajah Alana yang terlihat tegang.
Erlangga berjalan memutar ke sisi lain mobil. Erlangga membuka pintu untuk membantu Alana keluar dari mobil.
“Terima kasih, Mas,” ucap Alana.
“Sudah, jangan takut lagi,” suruh Erlangga yang langsung diangguki oleh Alana.
Erlangga menuntun Alana untuk masuk ke sebuah warung tenda. Mereka duduk di lesehan, Alana memesan dua porsi ayam goreng kremes. Mereka lalu mengobrol sambil menunggu pesanan mereka.
“Kamu sering makan di sini?” tanya Erlangga.
“Gak terlalu sering, kalau lagi kepengin saja,” jawab Alana.
“Oh iya, kamu kalau pulang dari stand naik apa?” tanya Erlangga.
“Aku biasanya naik ojek online, kadang juga Satria yang jemput,” jawab Alana.
Oh jadi Satria sering jemput Alana.
“Kenapa gak naik motor sendiri saja?” Erlangga bertanya lagi.
“Aku juga belum punya sim,” jawab Alana.
Erlangga hanya manggut-manggut untuk merespon perkataan Alana. Calon istrinya benar-benar sangat lugu, padahal banyak anak yang masih di bawah umur mengendarai motor meski tidak punya sim.
“Kamu ada di akhir sekolah ... harusnya kamu fokus pada sekolah kamu. Bukan bekerja seperti ini,” ucap Erlangga.
“Aku berusaha untuk bisa bagi waktu kok,” ucap Alana.
“Kebutuhan aku juga mulai banyak. Gak mungkin aku selalu ngandelin nenek terus,” jelas Alana. “Dan ....”
“Dan apa?” Erlangga merasa penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Alana selanjutnya.
“Gak mungkin 'kan kalau aku dan nenek selalu hidup bergantung dengan mami. Meskipun aku tidak tahu secara langsung, tapi aku tahu mami sering kasih uang ke nenek untuk biaya kami sehari-hari,” jelas Alana.
“Aku kadang sering bertanya-tanya ... kenapa mami begitu baik sama kami,” curah Alana.
Deg deg deg
Jantung Erlangga mendadak berdegup kencang. Perkataan Alana menjawab pertanyaan yang ada di benak Erlangga. Ternyata Alana belum tahu jika dirinya yang menjadi penyebab kematian ayahnya.
“Ya sudah, mulai besok aku yang akan ****** kamu dari stand,” ucap Erlangga.
“Eh, jangan. Aku gak mau ngerepotin kamu,” tolak Alana.
“Kenapa? Atau kamu lebih suka dijemput sama Satria?” tuduh Erlangga.
“Eh, bukan gitu ....”
“Terus?”
“Aku cuma gak mau repotin Mas saja,” jelas Alana.
“Tapi aku gak merasa direpotin kok,” ucap Erlangga.
“Tapi —”
“No debat!”
“Ya sudah, terserah Mas saja.” Alana akhirnya mengalah.
“Awas ya kalau besok-besok aku lihat Satria ada di stand kamu lagi,” ancam Erlangga.
“Memang kenapa, Mas?” tanya Alana.
“Aku gak suka,” jawab Erlangga.
“Mas Erlangga benar-benar cemburu ya,” ledek Alana.
“Gak,” kilah Erlangga.
“Tapi kok dari tadi marah-marah mulu kalau bahas soal Satria?” tanya Alana.
“Aku gak suka saja sama Satria. Dia orangnya gak sopan,” jawab Erlangga.
“Tapi dia temen baik aku,” ucap Alana.
“Aku calon suami kamu,” balas Erlangga.
“Pokoknya kamu gak boleh deket-deket lagi sama si Satria itu,” larang Erlangga.
“Kenapa?” tanya Alana.
“Karana aku gak suka saja,” jawab Erlangga.
“Aku gak boleh deket-deket Satria, jadi biar adil Mas Erlangga juga gak boleh dekat-dekat sama perempuan lain,” balas Alana.
Eh?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
fulana anonymous
demen nih ma karakternya
2023-07-20
1
Haikal Rizik
pinter,,,,bagus alana
2022-04-19
2
Endang Purwati
pinteeerrr....Alana ...memang harus digituin juga tuuhh si Erlan. .. klo Alana gak boleh deket ma Satria...maka Erlan juga gak boleh deket ma cewek lain....mantuullll
dan itu mas Erlan....cciieee cburu gak ngakuuuu....cieeee mulai posesif....cciieee sok2am bilang enggak padahal iyaaaa....
2021-12-30
1