Tin Tin Tin
Mobil yang Evano kendarai berhenti di depan rumah besarnya. Sudah dari semalam dirinya tidak pulang ke rumahnya. Tarikan napas Evano begitu lega. Akhirnya ia bisa beristirahat di rumahnya juga.
Evano berlari kecil saat memasuki rumahnya. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan anak kembarnya dan juga keluarganya.
“Kamu sudah pulang, Nak? Bagaimana dengan keluarga itu? Apa mereka akan menuntut adik kamu?Jika iya ... berikan saja separuh dari harta mami untuk mereka untuk menukar kebebasan adik kamu.” Monica menodong Evano dengan banyak pertanyaan saat melihat anak sulungnya masuk ke dalam rumah.
“Mami ... tenanglah! Biarkan kak Evano duduk dulu,” ucap Evelyn.
“Mami tenanglah! Aku akan membersihkan tubuhku dulu, baru aku akan bercerita kepada Mami,” ucap Evano.
“Baiklah, lebih baik kamu mandi dulu. Wajahmu terlihat sangat kacau,” ucap Monica.
Evano masuk ke dalam kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Evano mandi dengan terburu-buru ia tidak ingin membuat maminya menunggunya terlalu lama. Setelah berganti pakaian Evano langsung keluar dari kamarnya. Langkahnya menuntunnya ke tempat maminya berada.
“Bagaimana, Nak?” Monica bertanya dengan tidak sabarannya.
“Mami ... tenanglah!” Evano menuntun maminya untuk duduk di sofa yang tidak jauh dari mereka. “Duduklah, Mam.”
“Semuanya baik-baik saja, Mam. Aku sudah bicara dengan keluarga itu. Mereka bahkan tidak akan menuntut Erlangga tanpa aku harus membujuknya,” jelas Evano.
“Tapi ....” Evano meredam perkataanya.
“Tapi apa, Nak?” Ada rasa cemas pada nada bicara Monica.
“Ternyata orang yang Erlangga tabrak adalah tulang punggung keluarga kecil itu. Orang itu meninggalkan seorang anak perempuan berumur 7 tahun dan juga ibunya,” ucap Evano.
“Jadi sebagai gantinya aku akan membantu kebutuhan mereka, terutama anak perempuan itu. Aku akan kebutuhan mereka sampai anak perempuan itu bisa mandiri,” jelas Evano.
“Tidak, Nak. Biar mami saja yang melakukan itu. Kamu fokus saja pada anak-anak dan istri kamu,” ucap Monica. “Besok antar mami ke rumah mereka. Mami ingin berterima kasih kepada mereka.”
“Baik, Mam,” ucap Evano. “Dan aku juga sudah menyuruh Alex untuk membawa Erlangga pulang. Mereka sudah dalam perjalanan ke mari,” ucap Evano.
Monica akhirnya bisa bernafas lega mendengar jika Erlangga akan segera pulang. Meskipun amarahnya sangat besar kepada Erlangga, tetapi dia juga seorang ibu, yang akan merasa sedih jika anaknya berada dalam masalah.
“Syukurlah,” ucap Monica.
“Mami sudah dengar itu, 'kan? Sekarang mami makan ya,” ucap Violetta.
“Nanti ya, sebentar lagi. Tunggu Erlangga pulang,” ucap Monica.
“Ya, sudah. Tapi janji ya, mami akan makan setelah Erlangga pulang,” ucap Violetta.
“Iya, mami janji,” ucap Monica. “Kalian makan dulu saja. Mami mau main sama si kembar sambil nunggu Erlangga,” ucap Monica.
“Baiklah, terserah mami saja,” ucap Violetta.
Monica pergi ke kamar Kenzo dan juga Kenzi. Setelah Egi meninggal, kedua cucunya adalah semangat hidup bagi dirinya.
“Ayo, Sayang kita makan dulu. Biarkan mami main sama Kenzo dan juga Kenzi,” ajak Violetta. “Ayo Evelyn, Pasha.” Violetta pun mengajak Evelyn dan juga Pasha untuk makan malam.
“Iya, ayo Kak. Aku juga sudah sangat kelaparan,” imbuh Evelyn.
“Kamu harus jaga kesehatan kamu dan juga bayi dalam kandungan kamu ini,” ucap Violetta.
“Iya, Kakak iparku,” ucap Evelyn.
Keempatnya pun melangkah bersama menuju meja makan. Mereka menarik kursi yang ada di meja makan sebagai tempat duduk mereka masing-masing.
Saat keempatnya tengah makan, suara klakson mobil milik Alex terdengar di telinga mereka. Evano beranjak dari kursinya untuk melihat Alex.
“Kalian lanjutkan makannya. Aku yang akan melihat mereka,” ucap Evano yang langsung dianggukki oleh istri dan adiknya serta adik iparnya.
Evano melangkah ke arah pintu utama. Sampai di teras Evano langsung memeluk adiknya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Evano.
Erlangga mengangguk dalam pelukan kakaknya. “Maafin aku, Kak ....”
“Sudahlah, ayo masuk! Mami sudah menunggumu,” ajak Evano.
Erlangga masuk lebih dulu ke dalam rumah meninggalkan kakaknya yang sedang bicara dengan Alex.
“Mampir dulu, Al,” tawar Evano.
“Beres, Bos. Numpang makan sekalian ya,” ucap Alex diikuti kekehanya.
“Makanya cari istri! Jadi gak numpang makan terus di rumah orang,” gurau Evano yang disambut tawa kecil oleh Alex.
Evano dan Alex menyusul masuk ke dalam rumah. Mereka langsung menuju meja makan, sedangkan Erlangga langsung menemui maminya yang ada di dalam kamar si kembar.
Saat akan masuk ke kamar Kenzo dan juga Kenzi, pintu kamar itu terbuka lebih dulu dan memunculkan maminya dari balik pintu.
“Mami ....” Erlangga langsung memeluk maminya dan terisak di sana. Tidak lupa juga Erlangga mengucapkan kata maaf berulang kali pada perempuan yang sudah melahirkannya.
“Maafin Erlangga, Mam. Maaf sudah bikin Mami kecewa, bikin Mami malu, dan bikin Mami marah,” ucap Erlangga. “Erlanga janji gak akan melakukan itu lagi.”
“Mami sudah maafin kamu, Nak.” Monica melepaskan pelukannya dan memberikan kecupan di wajah anak bungsunya. “Maafin, mami juga karena sudah menampar kamu tadi.”
“Iya, Mam,” ucap Erlangga.
“Ini pasti sakit.” Monica menyentuh salah satu luka yang ada di wajah anaknya. Membuat Erlangga meringis menahan sakit.
“Gak apa-apa, Mam. Lebih sakit jika Mami marah sama Erlangga,” ucap Erlangga.
“Ayo, Mami obatin. Kamu juga pasti lapar, 'kan? Mami akan suapin kamu.” Monica membawa Erlangga ke ruang tengah dan meminta pada asisten rumah tangga di rumah itu untuk mengambilkan kotak P3K.
“Ini, Bu kotak P3K-nya.” Asisten rumah tangga itu memberikan kotak P3K kepada Monica.
“Mba, sekalian ambilkan makanan untuk Erlangga ya,” suruh Monica.
“Baik, Bu,” sahutnya.
“Tidak usah, Mam. Aku sudah membawakannya.”
Monica dan Erlangga menoleh ke asal suara. Mereka melihat Evelyn sedang melangkah ke arah mereka dengan membawa nampang berisi makanan serta minuman.
Evelyn duduk di samping Erlangga, lalu menyuapi adiknya.
“Maafin, kakak ya udah marah-marah sama kamu tadi siang,” ucap Evelyn seraya menyuapkan makanan ke mulut Erlangga.
“Aku yang salah, kok,” ucap Erlangga.
“Sini, biar mami yang suapin Erlangga. Kamu lanjutkan makan malam kamu sana.” Monica meminta piring yang Evelyn pegang.
“Aku sudah selesai makan kok Mam,” sahut Evelyn. Akan tetapi Evelyn tetap memberikan piring itu kepada Monica. Agar maminya bisa menyuapi adiknya.
Tidak lama Evano, Violetta, dan Pasha datang ke tempat itu. Mereka sama-sama duduk pada sofa yang ada di ruangan itu.
“Erlangga, kamu harus bersyukur keluarga itu tidak menuntut dirimu. Jika iya, kami semua tidak bisa menolong kamu,” ucap Evano.
“Iya, Kak ....” Erlangga mengangguk dengan wajah tertunduk.
“Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kamu dan jangan mengulanginya lagi,” ucap Evano yang langsung dianggukki oleh Erlangga.
“Erlangga janji pada kalian semua tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi,” ucap Erlangga.
“Dan mulai sekarang kakak akan mencabut semua fasilitas kamu. Berikan kartu kredit, kartu ATM, dan kunci mobil yang pernah papi berikan padaku,” pinta Evano.
“Berikan, Nak,” sambung Monica.
Erlangga memberikan kartu kredit dan kunci mobil kepada Evano. Namun, Evano kembali memberikan kartu ATM kepada Erlangga.
“Ini kamu pegang. Setiap bulan kakak akan kirim uang ke kamu ... hanya 5 juta. Dan kakak minta itu cukup untuk memenuhi kebutuhan kamu,” ucap Evano.
Erlangga pun mengangguk saja. Meskipun uang yang diberikan oleh kakaknya hanya separuh dari uang yang biasa papinya berikan kepadanya dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Nina Sonia
aku sih udah di bilang banyak sebulan 5 juta 😁😝
2021-12-11
0
Fatonah
semngat mba echa
2021-07-09
0
🌼⃝⭕Tunik
semangat terus thor
2021-07-06
0