Erlangga merasakan sakit di kepalanya saat ia bangun dari tidurnya. Keningnya ia pijit untuk mengurangi rasa pening di kepalanya.
Untuk sesaat Erlangga memejamkan matanya erat-erat. Setelah rasa pening di kepalanya mereda Erlangga kembali membuka matanya. Beberapa kali Erlangga mengedipkan matanya agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di dalam kamarnya.
Erlangga mengambil posisi duduk dengan bersandar pada kepala ranjang. Pandangannya ia arahkan ke atas seraya menarik napasnya.
Erlangga melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Waktu menunjukan pukul 5 pagi, itu artinya dirinya hanya tidur selama 3 jam saja.
Erlangga ingin tidur kembali. Namun, tidak bisa. “Lebih baik aku olah raga saja.”
Erlangga bangun dari atas tempat tidur. Sebelum ke kamar mandi Erlangga lebih dulu mengganti dengan pakaian olah raganya.
Setelah mencuci muka Erlangga keluar dari kamarnya dan melangkah ke taman belakang rumah. Erlangga berlari mengelilingi kolam berenang sambil memikirkan tentang perjodohannya dengan Alana.
Sejujurnya Erlangga masih belum sepenuhnya menerima perjodohan itu. Masih ada banyak hal yang Erlangga pikirkan tentang Alana.
“Bagaimana bisa mami mau jodohin aku sama anak-anak yang polosnya kebangetan kaya dia sih?” batin Erlangga.
Memikirkan tentang Alana membuat Erlangga hampir saja terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Erlangga pun mengumpat kesal.
“Shit! Tuh anak kecil ganggu banget sih,” umpat Erlangga.
Erlangga memilih untuk pergi ke halaman depan rumahnya. Cahaya matahari akan lebih dulu menyinari bagian depan rumah megah keluarganya itu.
Saat sedang berlari kecil di depan rumah, suara Alana masuk ke dalam indra pendengarannya.
“Mas Erlangga lagi ngapain?” tanya Alana.
“Kamu lihat aku sedang ngapain?” Erlangga balik bertanya pada Alana.
“Olah raga,” jawab Alana.
“Kalau sudah tahu kenapa bertanya.” Erlangga berucap dengan sedikit rasa kesal.
“Ya sudah kalau begitu aku permisi pulang dulu. Sampaikan maaf pada mami karena aku pulang tanpa pamit. Aku gak mau ganggu tidur mami,” ucap Alana.
“Hmmm,” sahut Erlangga singkat.
Erlangga melihat Alana mulai menjauh. Namun, Erlangga memanggilnya kembali. Erlangga mengatakan jika ia akan mengantar Alana pulang.
“Gak usah, Mas. Nanti ngerepotin lagi,” tolak Alana.
“Sudah deh jangan ngajak debat pagi-pagi,” ucap Erlangga. “Kamu tunggu di sini sebentar.”
Erlangga masuk ke dalam rumahnya untuk mencuci wajahnya dan juga meminum segelas air. Setelah itu Erlangga kembali ke luar rumahnya melalui pintu yang menghubungkan rumah dengan garasi mobil.
Erlangga masuk ke dalam mobilnya dan duduk di hadapan kemudi mobil. Klakson Erlangga bunyikan untuk mengalihkan perhatian Alana.
“Ayo masuk!” suruh Erlangga.
Setelah Alana masuk ke dalam mobil, Erlangga melajukan mobilnya. Sebenarnya Erlangga malas untuk mengantar Alana, tetapi dari pada kena ceramah dari maminya mending ia antarakan saja Alana.
Dalam perjalanan Erlangga kembali dibuat kesal oleh kepolosan Alana. Sungguh ia tidak habis pikir, bagaimana jadinya kalau mereka menikah.
Bukan hanya itu saja sekali lagi Erlangga dibuat terkejut oleh Alana, saat anak kecil itu mengatakan alamat rumahnya.
“Jalam Merdeka, Gang Mawar no. 10,” ucap Alana.
Erlangga menginjak rem mobilnya secara mendadak. Beruntung mereka tidak celaka atas tindakan Erlangga.
*****
Erlangga masih duduk di dalam mobilnya sambil menunggu Alana. Pikirannya melayang memikirkan Alana. Alamat rumah Alana sangatlah tidak asing baginya.
Alamat rumah Alana mengingatkan akan masa lalunya yang kelam.
“Apakah Alana anak dari orang yang dulu ia tabrak?” batin Erlangga.
“Aku harus menanyakan ini pada mami nanti,” ucap Erlangga.
Erlangga menarik napas panjang untuk menghilangkan rasa sesak di dalam dadanya karena mengingat masa lalunya.
Sesaat kemudian Erlangga menolehkan pandangannya ke luar mobil. Sudah sekitar lima belas menit dirinya menunggu Alana, tetapi perempuan itu belum juga kembali.
“Lama banget sih?” gerutu Erlangga.
Erlangga ingin menyusul Alana. Namun, baru ia akan membuka pintu matanya melihat Alana sedang sedang berjalan ke arahnya.
Erlangga terus memandang Alana sampai gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
“Maaf ya nunggu lama,” ucap Alana.
“Lama banget sih? Dandan dulu,” omel Erlangga. “Dandan gak dandan juga sama saja,” ejek Erlangga.
Erlangga kembali menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju ke sekolah Alana.
Jarak dari rumah ke sekolahnya Alana tidak begitu jauh. Jika berjalan kaki mungkin hanya setengah jam saja. Dan pada saat itu juga Erlangga baru tahu jika Alana bersekolah di sekolah elit tempat dulu ia dan kedua kakaknya menimba ilmu.
“Kamu sekolah di sini?” tanya Erlangga.
“Iya, aku dapat beasiswa penuh di sini,” jawab Alana.
“Beasiswa? Dari mami?” tanya Erlangga.
“Kok pikirannya ke mami?” Alana balik bertanya.
“Karena keluarga kami adalah salah satu penyumbang terbesar di sekolah ini,” jawab Erlangga.
“Hah, aku baru tahu tentang itu,” ucap Alana. “Tapi kata kepala sekolah ... karena aku selalu jadi juara umum di sekolah jadi aku dapat beasiswa penuh.”
“Ya sudah, aku turun dulu. Terima kasih sudah nganterin aku sampai ke sekolah,” ucap Alana.
“Hmmm,” sahut Erlangga.
“Oh iya aku mau ngucapin terima kasih untuk satu hal lagi ...,” ucap Alana.
“Apalagi Alana? Aku merasa bosan dengar kamu minta maaf dan berterimakasih terus.” Erlangga merasa kenyang dengan ucapan terima kasih dari Alana.
Alana tersenyum dengan menunjukan deretan giginya. “Terima kasih sudah gendong aku ke kamar semalam.”
“Jangan tertawa, aku tidak akan melakukan itu lagi,” ucap Erlangga. “Heran aku, badan kamu kecil tapi berat.”
“Hehehe,” tawa Alana.
“Sudah sana turun! Bentar lagi masuk,” suruh Erlangga.
Alana keluar dari mobil Erlangga. Setelah menutup pintu mobil Alana melambaikan tangannya kepada Erlangga. Alana berjalan memutari mobil itu untuk masuk ke dalam sekolah.
Sementara di dalam mobil Erlangga terus memperhatikan Alana, sampai tubuh perempuan itu hilang dari pandangannya. Erlangga kembali melajukan mobilnya kembali ke rumahnya.
Ada sesuatu yang harus ia pastikan kepada maminya. Erlangga harus bertanya pada maminya siapa Alana sebenarnya? Apakah benar Alana adalah anak dari penjual nasi goreng yang meninggal karena ulah dirinya?
Erlangga sampai di rumahnya satu jam kemudian. Segera Erlangga memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam rumah untuk mencari maminya.
“Bibi, mami mana?” tanya Erlangga.
“Ibu ada di kamar,” jawab bibi. “Mungkin sedang mandi.”
Erlangga segera melangkah ke kamar maminya. Tanpa menunggu lagi, Erlangga mengetuk pintu kamar maminya.
Tok tok tok
“Mam,” panggil Erlangga.
Erlangga tidak mendengar sahutan dari maminya.
Erlangga ingin mengetuk pintu lagi, tetapi pintu itu lebih dulu terbuka dari dalam.
“Ada apa, Erlangga? Mami habis mandi,” ucap Monica.
“Ada yang mau Erlangga tanyain sama Mami,” ucap Erlangga tanpa basa-basi.
“Ya sudah, ayo masuk.” Monica kembali masuk ke dalam kamarnya diikui oleh Erlangga.
“Apa yang ingin kamu tanyakan tentang Alana?” tanya Monica.
“Apa Alana adalah anak dari penjual nasi goreng yang meninggal gara-gara Erlangga?” tanya Erlangga.
“Iya,” jawab Monica dengan santainya.
“Mam ... ini maksudnya apa sih? Jadi mami nyuruh aku untuk menebus kesalahan aku dengan menikahi Alana?” tanya Erlangga. “Apa tidak cukup dengan kita bertanggung jawab selama ini dengan menghidupi mereka dan sekarang Mami nyuruh aku untuk menikahi dengan Alana.”
Monica nampak tidak suka dengan perkataan yang dilontarkan oleh Erlangga.
“Dengar Erlangga! Apa yang kita berikan pada mereka itu tidak akan cukup untuk menebus kesalahan kamu,” ucap Monica.
“Mami sama sekali tidak pernah berniat untuk menjodohkan kamu sama Alana. Tapi melihat kamu seperti ini ... mami jadi punya niatan untuk itu,” jawab Monica.
“Memang Erlangga kenapa, Mam? Erlangga merasa baik-baik saja. Aku merasa tidak ada yang salah dengan diriku,” ucap Erlangga.
“Tidak ada yang salah?” Monica menggelengkan kepalanya seraya mendesah kesal. “Kamu sudah berumur hampir 30 tahun, tapi kamu belum menikah juga. Sampai kapan kamu akan main-main terus seperti ini?”
Erlangga diam sejenak untuk memikirkan apa yang ingin ia katakan pada maminya. Erlangga harus hati-hati bicara dengan maminya karena maminya pintar membalikan keadaan.
“Erlangga gak mau dijodohin sama Alana,” protes Erlangga.
“Kamu gimana sih? Kemarin mau sekarang gak mau? Gak punya pendirian banget sih!” omel Monica.
“Yang kemarin jawabnya terpaksa, Mam. Tapi kali ini Erlangga benar-benar tidak mau dijodohin sama Alana,” ucap Erlangga.
“Terus kamu mau jadi perjaka tua selamanya?” tanya Monica.
“Ya, gaklah, Mam!”
“Terus?”
“Erlangga mau cari jodoh sendiri,” ucap Erlangga.
“Baik! Mami kasih kamu jangka waktu dua minggu! Jika kamu tidak menemukan perempuan yang pinter masak, rajin, sabar, sayang sama keluarga, dan mandiri kaya Alana ... pokoknya kamu harus tetap menikah dengan Alana,” ucap Monica.
“O-o-ke,” gagap Erlangga.
“Ingat ya ... dua minggu,” ulang Monica.
Deal
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Endang Purwati
si Mama...ngasih waktunya 2 Minggu...😂😂🙈🙈
2021-12-29
1
Ilan Irliana
jan 2 mnggu dwonk mom...2 bln z gt...spya alana jg bs mnata ht dlu..hihi..biar erlangga bucin dlu gt..haha
2021-07-17
2
✿⃝⭕🌼Ohti
semangat y
2021-07-17
2