Erlangga mengetahui satu hal lagi tentang Alana. Ternyata meskipun Alana terlihat lugu, tetapi Alana juga sangat pintar membalikan keadaan. Alana dalam sekejap bisa menerbangkan dirinya lalu dalam sekejap menjatuhkannya kembali.
Erlangga merasa putus asa saat jika harus meninggalkan perempuan-perempuan yang selama ini menghibur dirinya. Bisa kusut kejantanannya, itulah yang ada dipikiran Erlangga.
Erlangga mendadak merasa frustasi.
“Ngobrolnya udahan deh, Mas! Makanannya udah dateng tuh,” ucap Alana santai seakan tidak pernah terjadi sesuatu.
Hufff, untung makanannya datang.
Iya beruntung, percakapan mereka tentang pacar-pacarnya tidak berlanjut lagi.
“Mas Erlangga, boleh gak aku tanya?” tanya Alana.
“Tanya apa?” Erlangga balik bertanya.
“Mas Erlangga gak keberatan 'kan kalau kita makan di sini?” tanya Alana. “Pasti Mas Erlangga biasanya makan di tempat yang bagus selama ini.”
“Kata siapa? Aku sama keluargaku gak asing sama makanan di pinggir jalan. Asal makannya enak dan tempatnya nyaman ... kami sama sekali tidak masalah,” jawab Erlangga.
“Benarkah?” Erlangga langsung mengangguk. “Kalau begitu aku yang traktir makanannya. Mas Erlangga 'kan sudah bantu aku tadi jualan es cream,” ucap Alana.
“Gak usah. Kamu simpan saja uang kamu,” tolak Erlangga.
“Gak apa-apa. Tadi banyak yang bayar lebih kok,” ucap Alana. “Boleh ya, aku traktir Mas Erlangga.”
Mungkin cuma Alana perempuan pertama yang memaksa untuk mentraktir dirinya.
“Ya sudah kalau kamu maksa,” ucap Erlangga.
“Yei,” seru Alana.
Erlangga mengeleng kecil diikuti senyum tipisnya melihat tingkah Alana.
Dua porsi ayam goreng kremes kini sudah tersaji di hadapan Erlangga dan Alana. Keduanya nampak sangat antusias melihat ayam goreng kremes yang nampak sangat menggoda. Tidak menunda lagi mereka langsung melahap makanan itu.
Keheningan datang di antara Alana dan Erlangga, mereka terlihat sangat menikmati makanan mereka. Hingga tidak ada yang bersuara.
Alana diam-diam memperhatikan Erlangga. Senyum tipis muncul di bibirnya saat melihat Erlangga sangat menikmati ayam kremes itu.
“Ada apa?” tanya Erlangga.
Alana tersentak saat Erlangga mendadak bertanya. Alana benar-benar merasa malu saat Erlangga memergokinya sedang memperhatikan dirinya.
“Eh, gak ada apa-apa kok,” kilah Alana.
“Kok ngeliatin aku sampai mata kamu gak berkedip?” tanya Erlangga.
“Emmm, seneng aja lihat Mas Erlangga makannya lahap,” jawab Alana.
“Ini enak, gak kalah sama masakan di restauran,” puji Erlangga.
“Bagus deh kalau Mas Erlangga suka,” balas Alana diikuti senyumnya.
Mereka kembali memakan makanan mereka, tetapi Alana masih diam-diam mencuri pandang pada Erlangga. Rasa bahagia timbul di dalam hati Alana saat melihat Erlangga sangat menikmati makanan itu bahkan sampai menjilati jarinya.
“Mas Erlangga mau lagi?” tanya Alana.
Erlangga menggeleng. “Tidak, aku sudah sangat kenyang.”
Erlangga tidak sengaja melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan hampir pukul satu malam.
“Ini sudah malam. Sebaiknya kita pulang,” ajak Erlangga. “Nenek kamu pasti khawatir.”
“Aku sudah izin kok sama nenek tadi waktu masih di stand,” ucap Alana. “Aku bilang mau pergi sama Mas.”
“Bagus kalau gitu,” ucap Erlangga.
“Aku bayar dulu ya, Mas.” Alana beranjak dari tempat duduknya. Namun, Erlangga menahannya.
“Gak usah. Aku yang bayar saja,” larang Erlangga.
“Tapi 'kan aku sudah janji tadi mau traktir Mas Erlangga,” ucap Alana.
Erlangga menghela napas beratnya. Gengsi dong kalau sampai dirinya ditraktir sama perempuan.
“Mau ditaruh di mana mukaku kalau ditraktir makan sama perempuan,” ucap Erlangga.
“Tapi —” Ucapan Alana dipotong oleh Erlangga.
“Jangan banyakkan tapi. Pokoknya jangan nolak. Aku yang traktir, no debat,” ucap Erlangga.
“Iya ....” Alana mengangguk seperti seorang anak kecil.
“Lain kali saja traktirnya, oke!” ucap Erlangga yang langsung diangguki oleh Alana.
Setelah membayar tagihan makanan mereka, keduanya keluar dari warung tenda itu. Keduanya kembali ke dalam mobil.
Erlangga melajukan mobilnya ke arah gang masuk ke rumah Alana yang tidak jauh dari warung tenda itu.
Sampai pada tempat tujuan mereka, Erlangga memarkirkan mobilnya di sebelah gang. Keduanya kembali turun dari dalam mobil secara bersamaan.
“Aku anterin sampai rumah,” ucap Erlangga yang langsung diangguki oleh Alana.
Meskipun sudah sepuluh tahun dirinya tidak ke rumah Alana, tetapi Erlangga masih ingat jalan ke rumah Alana.
“Eh, Alana ... baru pulang?” tanya seorang wanita seumuran neneknya.
“Iya, Bu,” sahut Alana.
“Pacarnya ganti lagi, nih?” sindir wanita yang merupakan tetangga Alana.
“Bukan, Bu. Mereka temen Alana ... bukan pacar,” jelas Alana seraya melihat ke arah Erlangga.
“Temen sekamar ya,” sindir ibu itu lagi.
“Bukan ....” Alana terdiam saat Erlangga menyuruhnya untuk diam.
“Maaf, ada urusan apa Anda dengan kehidupan Alana?” tanya Erlangga.
“Saya memang tidak ada urusan dengan hidup Alana. Tapi saya cuma tidak ingin ada perempuan yang gak bener tinggal di lingkungan kami,” jawab ibu itu.
“Perempuan gak bener? Maksud Anda apa?” Nada bicara Erlangga sudah mulai meninggi. “Anda menuduh Alana perempuan gak bener?”
“Mas... sudah biarkan saja. Aku sudah biasa kok ngadepin beliau,” ucap Alana.
“Tapi omongan dia gak bisa didiemin begitu saja. Dia sudah fitnah kamu. Ngatain kamu perempuan gak bener,” ucap Erlangga.
“Itu bukan fitnah ... itu kenyataan. Setiap hari pulang malam, diantar sama laki-laki,” tuduh ibu itu. “Ngakunya jualan es cream. Tapi kayaknya jual diri.”
“Jangan menuduh jika belum ada bukti,” ucap Erlangga.
“Bukti sudah di depan mata kok,” ucap ibu itu lagi.
Erlangga mengepalkan tangannya untuk menahan amarah. Jika saja yang ada di hadapannya bukanlah seorang wanita, mungkin Erlangga akan menghadiahinya dengan bogem mentah.
“Mas, sudah ... jangan dihiraukan,” ucap Alana.
“Lebih baik, Mas Erlangga pulang saja. Ini juga sudah malam,” suruh Alana.
“Oke,” sahut Erlangga.
“Terima kasih sudah ngenter aku pulang dan terima kasih juga untuk ayamnya,” ucap Alana.
“Sama-sama. Salam juga buat nenek. Dan satu lagi, jangan biarkan orang itu menindasmu,” ucap Erlangga sebelum pergi dari tempat itu.
Alana mengangguk untuk merespon perkataan Erlangga.
“Sampai jumpa,” ucap Alana seraya melambaikan tangannya ke arah Erlangga.
Alana terus melihat Erlangga sampai bayangan calon suaminya lenyap dari pandangnya.
“Permisi, Bu. Saya masuk dulu,” pamit Alana.
Erlangga sendiri sedang berjalan kembali ke tempat mobilnya terparkir. Entah mengapa, Erlangga kesal saat ada yang bicara buruk tentang Alana.
Meskipun ia tidak ada perasaan kepada Alana, tetapi hatinya tidak rela jika Alana difitnah, dicap sebagai perempuan tidak benar.
Sampai di mobilnya Erlangga tidak menunggu waktu lama untuk melajukan mobilnya. Erlangga kembali melajukan mobilnya membelah jalanan malam.
Tujuannya bukan pulang ke rumah atau ke apartemennya, tetapi tujuan Erlangga ke salah satu club malam. Erlangga akan menemui teman-temannya di tempat mereka biasa berkumpul.
Sepanjang perjalanan Erlangga memikirkan Alana. Perjalannya terasa sepi tanpa Alana. Erlangga membayangkan kepolosan Alana yang membuat dirinya tertawa. Hingga tanpa sadar Erlangga tertawa sendiri.
“Ganggu banget nih bocil,” gumam Erlangga diikuti tawanya.
Erlangga menggusar rambutnya ke belakang sebelum kembali menambah laju kecepatan mobilnya.
Beberapa menit kemudian Erlangga sampai ke tempat tujuannya. Setelah memarkirkan mobilnya Erlangga masuk ke dalam club. Langkah Erlangga menuju ruangan VIP di club malam itu.
Erlangga membuka pintu ruangan itu dan mendapati dua orang temannya, Hendri dan Zaki. Tidak ketinggalan dua orang perempuan malam yang mereka sewa.
“Ini dia sang casanova ... akhirnya datang juga,” sambut Hendri salah seorang teman Erlangga.
“Tutup mulut lo! Berisik,” sungut Erlangga.
Erlangga mendudukkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Erlangga menuang brendi ke gelas berukuran kecil.
“Kenapa wajah lo kusut begitu? Kurang pelepasan?” ledek Hendri.
Erlangga mengangkat kedua bahunya, rasanya malas membalas ejekan temannya itu.
“Tadi si Dinda ke sini. Dia nyariin lo,” ucap Hendri. “Kasian si Dinda, dia sampai putus asa nyariin lo.”
Erlangga masih tidak ingin merespon perkataan teman-temannya. Erlangga hanya fokus pada batang bernikotin yang terselip di antara jarinya. Bersamaan dengan asap rokok yang mengepul wajah Alana melintas di pikirannya.
“Lo dari mana? Tumben gak main sama si Dinda itu?” tanya Zaki.
“Lagi males,” sahut Erlangga.
Iya males main sama Dinda, karena seorang anak kecil yang sedang menganggu pikirannya.
“Wih ... kayaknya sudah punya mainan baru nih,” ledek Zaki.
“Kalau sudah bosan ... boleh nih gue sikat,” ucap Hendri. “Lumayan juga kayaknya si Dinda.”
Erlangga tersenyum sinis seolah sedang mengejek Hendri. “Ambil kalau lo mau bekas gue.”
Tawa ketiganya seolah menggema di ruangan itu. Entah alasan apa yang membuat mereka tertawa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Fe
kasian bgt Alana ya, dapat nya bekas, rusak pula 😭
2023-06-08
0
Endang Purwati
bebaaass klo mau ambil Dinda mas Zakky sma mas Henry.....ssookk atuuuhh ambil aja....
2021-12-30
0
Bundanya Robby
ambil aja klw mau sama Dinda...gak butuh juga akunya😂😂
2021-07-25
0