Tidur Alana terusik saat telinganya mendengar suara alarm pada ponselnya. Tangannya terulur untuk mencari ponselnya, tetapi tidak mendapatkannya.
“Di mana ponselku?” batin Alana.
Alana bangun dan langsung mengambil posisi duduk. Dikuceknya matanya menggunakan punggung tangannya.
Mata Alana mulai berkedip beberapa kali, agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu. Saat matanya terbuka dengan sempurna, Alana terkejut saat ia merasa ada di tempat yang asing.
“Hah, di mana aku?” seru Alana.
Alana nampak bingung melihat sekelilingnya, seingatnya dirinya sedang ada di dalam mobil bersama Erlangga dan setelah itu dirinya tidak ingat apapun lagi.
“Apa aku ada di rumah mami? Lalu bagaimana bisa aku sampai ke kamar ini?” batin Alana.
“Ya ampun aku harus telepon nenek. Beliau pasti khawatir.” Alana langsung mengambil tas miliknya yang ada di sampingnya. Lalu merogoh tas itu untuk mengambil ponselnya.
Alana membuka ponselnya dan ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dari neneknya. Telepon genggamnya dalam mode silent, pantas saja semalam ia tidak mendengar ponselnya berdering.
Alana menekan tombol panggil pada nomor ponsel neneknya. Alana menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya. Panggilannya tersambung dan Alana mulai berbicara pada neneknya.
Alana berbicara dengan neneknya. Perasaan Alana begitu lega, ternyata mami Monica sudah memberitahukan pada neneknya jika dirinya menginap di rumahnya. Setelah selesai berbicara dengan neneknya, Alana pun mengakhiri sambungan telepon itu.
Alana langsung beranjak dari atas tempat tidur. Setelah merapikan rambutnya dan melipat selimut, Alana pun masuk ke dalam kamar mandi.
Alana memutuskan untuk mandi lebih dulu sebelum nanti ia keluar dari kamar itu. Selesai mandi Alana kembali memakai baju yang semalam ia pakai.
Selesai berpakaian Alana keluar dari kamar itu. Alana membuka pintu itu secara pelan. Alana lebih menyumbulkan kepalanya untuk melihat situasi di luar kamar.
Jam dinding di ruang tengah itu menunjukan waktu pukul setengah enam pagi. Masih sepi. Namun, lampu di dapur sudah menyala. Alana pun memutuskan untuk keluar dari kamar itu.
“Mami sudah bangun belum ya?” batin Alana.
Alana melihat ke sana ke mari belum ada orang. Alana pun memutuskan untuk pergi ke dapur.
“Selamat pagi, Bi,” sapa Alana.
“Selamat pagi juga, Mba Alana,” sapa balik bibi.
“Ada yang bisa Alana bantu gak?” tanya Alana.
“Gak usah, Mba. Biar bibi saja yang kerjain, nanti Ibu Monica marah,” ucap Bibi.
“Mami gak akan marah kok, Bi,” sahut Alana.
“Bagaimana jika aku yang cuci piring saja,” tawar Alana.
Tanpa menunggu persetujuan dari bibi, Alana langsung menuju tempat cuci piring dan mencuci perabotan yang kotor.
“Eh, tapi, Mba ....”
“Gak apa-apa, Bi,” ucap Alana tanpa menghentikan aktivitasnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, Alana pun harus bergegas untuk segera pulang. Dirinya harus berangkat ke sekolah, karena tidak membawa pakaian ganti Alana harus lebih dulu pulang ke rumahnya.
Alana melingkarkan tali tasnya ke pundaknya. Selesai dengan itu Alana keluar dari kamar itu. Ia langsung pulang tanpa berpamitan kepada Monica maupun Erlangga, Alana tidak ingin mengganggu mereka.
Akan tetapi tanpa Alana tidak tahu, Erlangga sudah bangun dan sedang berolahraga pagi di halaman depan rumah itu.
Mata Alana tidak sengaja melihat Erlangga sedang berlari kecil di depan rumah itu. Laki-laki itu sangat mempesona dengan kaos berwarna hitam tanpa lengan dipadukan dengan celana training panjang. Keringat yang mengucur di wajah dan lehernya membuat laki-laki itu makin terlihat segar.
Alana merasa tidak percaya jika laki-laki itu sebentar lagi akan menjadi suaminya, bagi Alana hal itu adalah anugrah bagi dirinya. Namun, Alana berpikir kedatangannya adalah musibah untuk Erlangga.
“Mas Erlangga,” panggil Alana lirih.
Erlangga tidak menyahut. Mungkin karena suara Alana terlalu kecil untuk didengar.
Alana memutuskan untuk mendekat ke tempat Erlangga dan kembali memanggilnya.
“Mas Erlangga.” Kali ini Alana memanggilnya dengan menepuk pundak Erlangga.
Merasa ada yang memanggilnya Erlangga menoleh ke asal suara. Matanya langsung menatap sosok Alana.
“Selamat pagi, Mas ...,” sapa Alana.
“Pagi juga,” balas Erlangga dengan suara yang datar.
“Mas lagi ngapain?” tanya Alana bermaksud berbasa-basi dengan Erlangga.
“Kamu lihatnya aku lagi ngapain” tanya Erlangga.
“Lagi olah raga,” jawab Alana.
“Kalau sudah tahu ... kenapa bertanya?” ucap Erlangga dengan suara ketus.
Alana tersenyum canggung. Dalam hatinya Alana tahu jika Erlangga tidak suka terhadap dirinya.
“Ya sudah, Mas lanjutin saja olah raganya. Saya pamit dulu,” ucap Alana. “Saya minta tolong sampein maaf sama mami. Aku pulang gak bilang sama mami, aku gak mau ganggu tidur mami.”
“Ya nanti aku sampein,” ucap Erlangga.
Alana memutar tubuhnya lalu kembali melangkah ke arah pintu depan. Namun, langkahnya kembali terhenti saat Erlangga memanggilnya.
“Alana ... tunggu!” panggil Erlangga.
Alana menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya menghadap Erlangga.
“Ya, Mas ... ada apa?” tanya Alana.
“Aku anterin. Kamu tunggu sebentar,” suruh Erlangga.
“Tapi, Mas —” Ucapan Alana terpotong oleh Erlangga.
“Pagi-pagi jangan ngajak berdebat,” ucap Erlangga. “Tunggu sebentar.”
Alana mencengkram tali tasnya seraya mengangguk. “Iya.”
Alana menunggu Erlangga di teras rumah itu. Tidak lama ada bunyi klakson yang mengejutkannya. Alana menoleh dan melihat Erlangga sudah duduk di dalam mobilnya dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil yang dama dengannya.
Alana membuka pintu mobil kemudian masuk ke dalamnya. Alana duduk telat di bangku di sebelah Erlangga yang sudah bersiap untuk mengemudi.
“Pakai sabuknya!” suruh Erlangga.
“I-ya,” gagap Alana.
Setelah Alana memakai sabuk pengaman ke tubuhnya, Erlangga mulai melajukan mobilnya keluar dari rumah itu.
“Kenapa pulang pagi-pagi?” tanya Erlangga yang langsung memecah keheningan di antara mereka.
“Aku harus sekolah, Mas,” jawab Alana.
“Ya kita langsung ke sekolah saja kalau gitu,” usul Erlangga.
“Ya gak bisa lah, Mas,” ucap Alana.
“Kenapa gak bisa?” Erlangga bertanya lagi.
Alana rasanya heran kepada calon suaminya, kenapa laki-laki itu jadi banyak bertanya.
“Aku kan belum pakai seragam sekolah dan aku juga belum bawa buku pelajaran. Jadi bagaimana aku akan berangkat sekolah tanpa itu semua?” ucap Alana. “Semua itu ada di rumah, makanya aku harus pulang dulu.”
“Ohw.” Erlangga manggut-manggut untuk merespon perkataan Alana.
“Ya sudah aku harus antar kamu ke mana sekarang?” tanya Erlangga.
“Ya rumahku lah, Mas,” jawab Alana dengan polosnya.
Erlangga mendelik ke arah Alana. Ingin rasanya Erlangga menelan hidup-hidup calon istrinya itu.
“Kok melotot sih, Mas? Kan serem," ucap Alana seraya bergidik ngeri.
“Aku bahkan ingin memakan kamu hidup-hidup,” ucap Erlangga.
“Kok, Mas jadi kanibal.” Alana makin merasa ketakutan.
“Kamu nyebelin bangat sih?” ucap Erlangga.
Erlangga benar-benar dibuat frustasi menghadapi sikap Alana. Gadis itu seolah senang menguji kesabaran dirinya.
Erlangga mengambil napasnya dalam-dalam untuk meredam kekesalannya. Setelah itu Erlangga kembali berkonsentrasi mengemudi.
“Ya sudah alamat rumah kamu di mana? Aku anterin sekarang,” ucap Erlangga.
“Jalan Merdeka, Gang mawar nomor 10,” jawab Alana.
Mendengar jawaban Alana, Erlangga merasa terkejut hingga membuat Erlangga menginjak rem mobil secara mendadak. Mobil yang berhenti secara mendadak itu membuat tubuh keduanya terhuyung ke depan.
Beruntung pada saat itu tidak ada mobil di belakang mobilnya.
“Mas Erlangga, ada apa?” tanya Alana.
Erlangga menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa.”
Akan tetapi tangannya mencengkram gagang setir dengan kuat, seolah Erlangga sedang menahan emosi dalam tubuhnya.
Tin Tin Tin
Suara klakson mobil di belakang mobilnya membuat Erlangga tersadar dari lamunannya. Tanpa bicara apapun lagi Erlangga kembali melajukan mobilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Jus Maniar
lanjutkan
2022-10-10
1
Endang Purwati
is something, with Alana's address...??
2021-12-29
0
Uthie
kenapa kaget atau apa yaa Erlangga? 🤔
2021-08-06
0