Happy reading
Plaaak
Belum sembuh luka dari amukan masa, pukulan dari kakaknya, sekarang giliran Erlangga mendapat tamparan keras yang diberikan oleh maminya, Monica.
“Apa yang kamu lakukan, Erlangga? Kamu bilang sama mami jika kamu belajar bersama teman-teman kamu, tapi kenapa kamu jadi balapan liar di jalanan? Jadi kamu bohong sama mami.” Monica berteriak untuk melampiaskan kemarahannya pada anak bungsunya.
“Maafin Erlangga, Mam ...,” ucap Erlangga lirih.
“Jangan panggil saya Mami!” Monica langsung pergi meninggalkan Erlangga yang sedang memohon maaf padanya dengan menyatukan kedua tangannya.
“Mam ... Mami ... maafin Erlangga, Mam,” mohon Erlangga.
Rasa kecewa yang begitu dalam terhadap anaknya, membuat Monica tidak ingin melihat anak bungsunya itu.
“Sudah puas kamu, Erlangga! Sudah puas kamu membuat kami semua kecewa, hah! Kamu memang pembuat masalah.” Evelyn yang datang bersama mami dan suaminya pun tidak bisa menahan amarahnya pada adiknya.
“Mami masih sedih karena papi meninggal dan sekarang kamu menambah kesedihan mami. Aku membencimu, Erlangga!” teriak Evelyn.
“Kak ....” Erlangga menangis saat Evelyn juga meninggalkan dirinya.
“Erlangga ....” Pasha menepuk pundak adik iparnya. “Tenangkan diri kamu. Kamu tahu 'kan? Mereka masih sangat terpukul dengan kepergian papi. Sekarang ditambah dengan masalah kamu ini ... mereka pasti sangat sedih,” ujar Pasha.
Erlangga mengusap air matanya. Sejujurnya Erlangga juga merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri.
“Mereka benar kok, Kak. Aku ini memang pembuat masalah.” Tanpa bicara lagi, Erlangga pergi meninggalkan Pasha.
“Erlangga ... tunggu!” Pasha hanya mampu menarik napas beratnya melihat nasib adik iparnya.
Pasha memutuskan untuk pergi dari kantor polisi menyusul istri juga ibu mertuanya. Pasha menghampiri istrinya yang sedang menunggunya di parkiran mobil.
“Evelyn ... di mana mami?” tanya Pasha.
“Mami sudah pulang,” jawab Evelyn di sela isak tangisnya.
“Evelyn, berhentilah menangis. Ini tidak baik untuk kehamilanmu.” Pasha mengusap kepala istrinya yang sedang hamil empat bulan.
“Erlangga itu keterlaluan! Dia membuat mami bersedih,” maki Evelyn.
“Ya, aku tahu. Tapi kamu juga harus memperhatikan kondisi adikmu,” ucap Pasha. “Kalau kalian seperti ini terus padanya, siapa yang akan membela dia. Siapa yang akan mendukungnya dalam keadaannya yang seperti ini.”
“Aku tidak peduli dengan Erlangga! Aku mau pulang sekarang,” ucap Evelyn penuh amarah.
“Evelyn ...,” panggil Pasha.
“Jangan mencoba untuk membujukku, Kak Pasha,” ucap Evelyn.
Evelyn masuk ke dalam mobil lebih dulu meninggalkan suaminya. Melihat kemarahan Evelyn, dalam hal ini Pasha tidak akan bisa membujuk Evelyn.
Pasha pun menyusul istrinya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Pasha berjalan memutar dan duduk di bangku kemudi.
“Lebih baik kita ke rumah mami untuk melihat kondisi mami,” usul Pasha.
“Tidak, kita ke rumah kak Evano saja. Pasti mami memilih ke sana untuk bertemu baby twins ... untuk menghibur dirinya,” ucap Evelyn.
“Ya baiklah,” sahut Pasha.
Pasha menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukan mobilnya meninggalkan kantor polisi dan menuju kediaman Evano.
Waktu menunjukan pukul satu siang. Jalanan siang itu sangatlah panas, bahkan panasnya sampai terasa di dalam mobil.
Evelyn menyetel pendingin di dalam mobilnya dengan mode sangat dingin. Hawa dingin langsung terasa di tubuh serta pikiran Evelyn. Membuat pikirannya sedikit tenang.
Pasha yang sedang mengemudi sekilas memperhatikan istrinya. Masih ada air mata yang mengalir dari matanya. Pasha tahu jika istrinya juga masih sangat terpukul dengan kematian papinya yang sangat tiba-tiba ditambah masalah yang menimpa adiknya.
“Anak papa kepanasan ya?” Pasha mengusap perut istrinya yang sudah mulai menonjol.
Usapan lembut tangan Pasha di perutnya terasa sampai ke hati Evelyn. Evelyn pun langsung menoleh ke arah suaminya. Melihat senyum di wajah suaminya membuat perasaan Evelyn lebih tenang.
“Kak Pasha ...,” panggil Evelyn disusul tetesan air matanya.
Beruntung jalan dalam keadaan macet total, membuat Pasha lebih leluasa bicara pada istrinya.
“Jangan menangis ....” Pasha mengusap air mata yang jatuh ke pipi istrinya. “Kalau kamu bersedih, anak kita bakalan ikut sedih.”
“Aku hanya lagi keinget sama papi. Papi ninggalin kita secara tiba-tiba, dan bahkan papi pergi sebelum melihat anak kita,” ucap Evelyn di sela isak tangisnya.
“Aku tahu, Sayang. Bukan hanya kamu yang merasa bersedih. Semua orang juga merasa bersedih, terutama mami dan Erlangga,” ucap Pasha.
“Kamu lihat 'kan? Adik kamu sangat terpukul dengan kematian papi, bahkan dia melampiaskan rasa sedihnya dengan cara seperti itu,” ucap Pasha lagi.
Evelyn hanya mampu mengangguk-anggukkan kepalanya untuk merespon perkataan Pasha.
“Sekarang hapus air mata kamu. Jangan tunjukkan wajah sedihmu di hadapan mami. Kamu tidak mau 'kan jika mami akan bertambah sedih,” ucap Pasha.
Untuk sesaat Evelyn berdiam diri, mencoba untuk mencerna perkataan dari suaminya. Sesaat kemudian Evelyn menghapus jejak air matanya yang masih tertinggal di pipinya.
“Iya, Kak.” Evelyn mengangguk.
Bersamaan dengan itu mobil-mobil yang ada di depan mobil mereka sudah mulai melaju. Pasha pun kembali melajukan mobilnya.
Jalanan sudah kembali longgar membuat laju mobil yang Pasha kendarai tidak tersedat lagi.
Pasha memberhentikan laju mobilnya saat sampai di depan gerbang rumah Evano. Benar saja ibu mertuanya berada di rumah Evano
“Sepertinya mami sudah sampai di sini,” ucap Pasha.
Pasha melihat mobil milik ibu mertuanya terparkir di depan rumah Evano.
“Tebakanku benar, 'kan?” ucap Evelyn.
Pasha kembali melajukan mobilnya saat pintu gerbang sudah dibuka. Keduanya pun langsung turun dari mobil setelah Pasha memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil milik Monica.
“Ayo kita masuk,” ajak Pasha.
Pasha melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Evelyn, menuntun istrinya masuk ke dalam rumah.
“Awas hati-hati. Perhatikan langkahmu,” ucap Pasha.
“Iya, Sayangku. Kamu ini cerewet sekali,” ucap Evelyn.
Kadang Evelyn merasa jengah saat Pasha terlalu berlaku over protective kepadanya.
“Bukan begitu, Evelyn. Aku takut kamu jatuh,” ucap Pasha.
“Aku ini hamil, Sayang. Bukan sakit parah,” ucap Evelyn disusul tawa kecilnya. Apapun itu Evelyn bahagia karena suaminya selalu memperhatikan dirinya.
Evelyn dan Pasha masuk ke dalam rumah kakaknya. Mereka dibuat heran saat mendengar suara tawa mami Monica. Merasa penasaran Evelyn dan Pasha mempercepat langkah mereka.
Ternyata yang membuat mami Monica tertawa adalah baby twins. Bayi kembar berumur 8 bulan itu sedang merangkak ke sana kemari.
Sepertinya kakak iparnya sengaja memakaikan bayi kembarnya dengan kostum anak beruang, membuat mereka benar-benar seperti anak beruang.
“Baby twins ... kalian memang sangat menggemaskan,” seru Evelyn.
Mendengar suara Evelyn, mami Monica dan Violetta menolehkan pandangan mereka ke asal suara. Keduanya melihat Pasha dan Evelyn sedang berjalan ke arah mereka.
“Kalian ke sini?” tanya Monica.
“Karena aku tahu Mami pasti pergi menemui baby twins. Makanya kami menyusul ke sini,” jawab Evelyn.
Evelyn duduk tepat di samping maminya dan langsung memberikan pelukan pada perempuan yang telah melahirkannya.
“Mami baik-baik saja, 'kan?” tanya Evelyn.
Monica mengangguk, “Iya, Nak. Mami baik-baik saja. Mami hanya memikirkan Erlangga. Bagaimana jika keluarga yang dia tabrak menuntut adik kamu dengan hukuman yang berat.”
Monica menitihkan air matanya. Jujur hatinya sakit melihat nasib anak bungsunya. Dirinya merasa gagal menjadi seorang ibu dan gagal mengemban amanah dari mendiang suaminya untuk menjaga anak-anaknya terutama Erlangga.
“Mami sabar ya. Kita tunggu kabar dari kak Evano,” ucap Evelyn seraya mengusap kedua pundak maminya.
Jangan lupa tekan jempol, vote, rate, love, dan komentarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Endang Purwati
belom.bisa komentar banyak. .masih mode nyimak dan lanjut baca..
2021-12-29
0
Septiana Tri Rahayu
kyak e sih bagus
2021-10-02
0
Agustin
Bayi kenzo lucu ya
Skrg aq lanjutin kenzo sm feli
2021-10-01
0