Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk keluar dari dunia liar yang sebelumnya Erlangga masuki. Setelah keluar dari penjara, Erlangga harus merasakan yang namanya kecanduan obat-obatan terlarang yang sangat menyiksa dirinya. Hal itu membuat dirinya harus dimasukkan ke dalam pusat rehabilitasi.
Hati Monica saat itu sangat hancur. Bahkan ia berpikir untuk menyusul suaminya saja. Monica merasa sangat berat menjalani hidupnya sendiri dan mengurus anak tanpa sosok suami di sisinya.
“Lebih baik mami menyusul papi kalian saja,” ucap Monica.
Mendengar perkataan maminya Erlangga bertekad untuk membebaskan dirinya dari yang namanya kecanduan. Setelah keluar dari pusat rehabilitasi Erlangga kembali melanjutkan hidupnya, dimulai dari pendidikannya dan juga mulai berbisnis kecil-kecilan.
Kata-kata maminya itu masih terngiang di telinga Erlangga, bahkan sampai 10 tahun kemudian kini Erlangga sudah berumur 29 tahun. Erlangga sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang mapan, yang jelas juga tampan.
Dalam usianya yang hampir memasuki kepala tiga, Erlangga sudah mempunyai bisnis sendiri. Dari 3 showroom mobil mewah, beberapa tempat gym, dan 5 buah minimarket. Namun, sayangnya Erlangga masih belum memiliki seorang istri. Bukan karena tidak laku, tetapi Erlangga masih belum ingin terikat oleh hubungan yang resmi.
Erlangga tidak kekurangan stok perempuan, karena tampa mencari para wanita itu sudah berdatangan ke dekat dirinya. Namun, belum ada satupun yang berhasil menguasai hatinya.
Erlangga tidak seperti kakaknya, Evano dan juga mendiang papinya, Egi Pramuja, yang setia pada satu perempuan. Erlangga justru tidak bisa setia dengan satu perempuan saja. Tidak jarang Erlangga juga melakukan cinta satu malam bersama wanita.
Akan tetapi Erlangga merasa dirinya tidak salah. Para perempuan itu sendiri yang rela membuka kakinya lebar-lebar untuk dirinya. Erlangga hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Tepat pukul 12 malam Erlangga sedang ada di apartemen pribadinya. Erlangga sedang berbicara dengan seorang perempuan yang berpakaian mini, yang menampilkan lekuk tubuhnya.
“Sayang, jangan marah dong.” Erlangga sedang mencoba membujuk seorang wanita yang merupakan partner ranjangnya.
“Aku kemarin tidak datang karena aku sibuk,” ucap Erlangga.
“Sibuk dengan perempuan lain,” tuduh wanita yang memiliki nama Dinda.
“Aku 'kan kemarin sudah bilang ... aku pergi sama mami ke rumah kak Evano. Untuk menghadiri acara ulang tahun keponakanku,” jelas Erlangga.
“Bohong!” Dinda masih berdiri membelakangi Erlangga.
“Gak, Sayang,” ucap Airlangga.
Ugh rasanya sangat mual jika merayu seorang wanita yang sedang marah itu.
Erlangga maju untuk menghampiri Dinda. Erlangga langsung memberikan pelukan pada Dinda dari belakang.
“Sayang, sudah dong marahnya,” bujuk Erlangga. “Bagaimana kalau kita main sekarang!” Erlangga berbisik di telinga Dinda. “Aku akan puasin kamu,” ucap Erlangga.
Erlangga mau membujuk Dinda karena malam itu dirinya butuh pelepasan. Bukan tidak mampu mencari wanita lain, tetapi malam itu Erlangga hanya menginginkan Dinda, yang selalu tahu bagaimana memuaskan dirinya.
Dinda berbalik ke arah Erlangga lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Erlangga. “Benar ya, kemarin kamu cuma pergi ke rumah kamu. kamu gak pergi dengan perempuan lain.”
“Gak sayang,” ucap Erlangga.
“Ya sudah, kita ke kamar sekarang yuk,” ajak Dinda dengan antusiasnya.
“Di sini saja. Kalau ke kamar ... kelamaan,” bisik Erlangga.
“Kamu gak sabaran ya,” ucap Dinda dengan suara manja.
Padahal yang tidak sabaran adalah Dinda sendiri. Tangan yang mulai bergerak membuka kaitan kancing kemeja yang Erlangga pakai. Dengan tidak sabarnya juga Dinda mendaratkan kecupan dibibir Erlangga. Membuat Erlangga sedikit kewalahan.
Erlangga menggerakkan tangannya untuk menjauhkan tubuh Dinda.
“Santai, Din,” ucap Erlangga.
Dinda tidak semudah itu menyerah. Dinda menanggalkan seluruh kain yang melekat di tubuhnya lalu merebahkan tubuh polosnya di atas sofa, dengan posisi menantang. Dinda tahu jika Erlangga mudah ia pancing hasratnya.
Erlangga menyunggingkan senyum sinisnya. Wanita dihadapannya selalu tahu bagaimana memulai permainan. Erlangga pun membuka seluruh kain yang masih tersisa di tubuhnya lalu menyusul Dinda yang ada di atas sofa.
Saat tubuh mereka menyatu, erangan kecil keluar dari mulut Dinda dan juga Erlangga, makhluk yang sama-sama saling menginginkan kepuasan.
Suara decitan sofa bercampur racauan Dinda seolah menggema di ruangan tengah apartemen mewah itu. Suara itu makin membuat Erlangga bersemangat.
“Aku sudah mau sampai, Din,” ucap Erlangga.
“Aku juga,” ucap Dinda dengan nafas yang terengah-engah.
Erlangga makin mempercepat gerakan tubuhnya, hingga suara desahan panjang keluar dari mulut keduanya secara bersamaan. Suara itu menjadi pertanda berakhirnya pergulatan mereka.
Erlangga masih ada di atas tubuh Dinda dengan nafas yang tidak beraturan. Erlangga dan Dinda sama-sama meraup udara untuk mengisi kembali pasokan oksigen di dalam paru-paru mereka.
Setelah nafas mereka kembali normal, Erlangga memisahkan tubuhnya dengan Dinda.
“Sudah puas?” tanya Dinda.
“Sangat,” jawab Dinda. “Kamu memang selalu tahu apa yang aku mau,” ucap Dinda.
“Kamu juga,” balas Erlangga.
Erlangga mencium sekelas bibir Dinda. Setelah itu Dinda beranjak dari sofa untuk memunguti pakaiannya. Lalu Dinda memakainya kembali ke tubuhnya.
“Aku pulang ya. Hari ini aku nggak nginep ya,” ucap Dinda.
“Kenapa?” Erlangga bertanya seraya memakai celana pendeknya.
“Besok aku ada banyak pekerjaan,” jawab Dinda.
“Nginep ya. Kalau nanti malam aku ingin lagi bagaimana?” tanya Erlangga layaknya seorang anak kecil yang meminta dibelikan es cream.
Erlangga menarik pinggang Dinda untuk mengikis jarak di antara mereka.
“Masa kamu tega buat aku mandi air dingin tengah malam,” rengek Erlangga.
“Baiklah, aku menginap,” ucap Dinda. “Asal kamu menjadikan aku perempuan satu-satunya di sisimu,” pinta Dinda.
“Baiklah,” balas Erlangga.
“Untuk kali ini ya. Aku tidak janji jika nanti ada perempuan yang lebih darimu,”batin Erlangga.
Dinda adalah salah satu karyawati di showroom miliknya. Dinda bekerja di bagian marketing. Hubungan mereka terjalin atas dasar ketidaksengajaan. Namun, dari ketidaksengajaan itu hubungan mereka berlanjut hingga setengah tahun lamanya.
Bagi Erlangga Dinda adalah wanita spesial. Bukan karena Erlangga mencintai Dinda, melainkan karena dia wanita satu-satunya yang saat itu tahu bagaimana memuaskan hasratnya.
Hubungan mereka juga seperti simbiosis mutualisme, yang sama-sama saling menguntungkan. Erlangga butuh Dinda untuk memuaskan hasratnya, sedangkan Dinda butuh uang Erlangga untuk memenuhi gaya hidupnya.
“Aku mandi dulu,” ucap Dinda.
“Mau mandi bersama?” tawar Erlangga.
“Apakah hanya mandi?” tanya Dinda dengan nada menggoda.
“Jika kamu ingin melakukan hal lain ... aku juga tidak keberatan,” ucap Erlangga dengan senyum nakalnya.
Dinda merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan pada Erlangga untuk menggendongnya. Erlangga tidak menolaknya karena sebentar lagi Dinda akan kembali membuat tubuhnya serasa melayang, ditambah kenikmatan yang tiada tara yang akan ia dapatkan nanti.
Erlangga masuk ke dalam kamar mandi bersama Dinda di gendongannya. Lebih dari 1 jam mereka berada di dalam kamar mandi untuk mandi dan kembali semua saling memuaskan.
Rasa lelah pada diri mereka membuat mereka harus menyudahi permainan panas itu.
“Aku sudah sangat lelah,” ucap Dinda.
“Ayo kita tidur,” ajak Erlangga.
Keduanya sama-sama merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur, di bawah satu selimut. Rasa lelah membuat mereka cepat ke masuk ke alam mimpi.
*****
Keesokan harinya suara bel yang berulang kali di apartemen yang mengusik tidur Erlangga. Erlangga menyibakkan selimut dan bangun dengan rasa kesal. Sama halnya dengan Dinda.
“Siapa yang menekan bek seperti itu?” tanya Dinda dengan kesalnya.
“Aku akan melihatnya,” ucap Erlangga.
Erlangga berjalan keluar dari kamarnya untuk membuka pintu. Sebelum membuka pintu, Erlangga lebih dulu melihat siapa yang datang melalui lubang kecil yang ada di pintu.
“Mami! Mati aku.” Erlangga terkejut melihat maminya mendadak datang ke apartemennya.
Segera Erlangga berlari ke kamarnya untuk menyembunyikan Dinda. Bisa gawat jika ibu negara itu sampai tahu ada di dalam apartemennya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
rika mayanti
ga pake pengaman ya..jijik x nnti yg dpat beks erlangga
2022-07-25
1
Endang Purwati
kaann Kanjeng mami dateenngg...
2021-12-29
0
Uthie
nakal banget emang si El ini 😅
2021-08-06
1