Erlangga berlari kembali ke kamarnya dengan langkah yang menggebu-gebu, untuk cepat menyembunyikan Dinda. Erlangga tidak menduga maminya akan datang ke apartemennya.
Tumben sekali?
Erlangga membuka pintu dengan kasar membuat Dinda terkejut. Erlangga dengan cepat memunguti barang-barang milik Dinda.
“Dinda, cepat kamu masuk ke dalam kamar mandi!” suruh Erlangga.
Dinda merasa heran pada Erlangga, kenapa Erlangga terlihat sangat panik.
“Sayang, ada apa? Kenapa kamu panik seperti ini?” tanya Dinda.
“Mami datang,” jawab Erlangga.
“Bagus, dong. Sekalian kamu kasih tahu ibu Monica tentang hubungan kita,” ucap Dinda.
“Bagus dari mana? Mami akan melenyapkan aku detik ini juga jika dia tahu kamu ada di sini,” ucap Erlangga.
“Sudah cepat sana masuk ke dalam kamar mandi dan ... ini bawa barang-barangmu.” Erlangga memberikan semua barang-barang Dinda.
“Tapi —”
“Jangan banyak bertanya lagi! Cepat masuk atau Mami akan mengamuk nanti,” ucap Erlangga.
“Satu lagi! Jangan pernah keluar dari kamar mandi sebelum aku menyuruhmu,” ucap Erlangga.
Erlangga merasa kesal karena Dinda banyak bicara dan bunyi bel tidak juga berhenti berbunyi.
Setelah Dinda masuk ke dalam kamar mandi, Erlangga kembali keluar dari kamarnya untuk membuka pintu utama apartemennya.
Sebelum membuka pintu, Erlangga lebih dulu menarik napasnya dalam-dalam. Saat pintu terbuka Erlangga bisa melihat wajah garang maminya.
“Mami ... tumben main ke sini?” tanya Erlangga basa-basi.
Monica menghentakkan kakinya sebelum masuk ke dalam apartemen milik anaknya. Monica pun menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu apartemen itu.
“Apa kamu ingin membuat kaki mami pegal dengan berdiri di depan pintu selama hampir satu jam?” omel Monica. “Kamu lagi ngapain sih sebenarnya?”
“Baru bangun, Mi,” jawab Erlangga tanpa rasa berdosa sedikitpun.
“Baru bangun? Memang kamu gak ke showroom?” tanya Monica.
“Bentar lagi, Mam. Aku semalam capek banget,” jawab Erlangga.
“Memangnya semalam kamu habis ngapain?” Monica menatap wajah anaknya dengan tatapan curiga.
“Lembur lah, Mam,” jawab Erlangga.
Lemburin anak orang.
“Kamu gak ada niatan ambilin mami minum apa?” tanya Monica.
“Iya, Mam. Erlangga lupa.” Erlangga tersenyum dengan menunjukan deretan giginya.
Erlangga beranjak dari kursi dan menuju ke dapur. Satu gelas jus mangga kemasan, Erlangga tuang jus itu ke gelas untuk ia berikan kepada maminya nanti. Setelah itu ia kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas jus untuk dirinya dan juga maminya.
“Ini, Mam.” Erlangga memberikan segelas jus mangga kepada Monica.
Setalah memberikan jus kepada maminya Erlangga kembali duduk di sofa. Erlangga kembali mengobrol dengan maminya dan melupakan Dinda yang masih berada di dalam kamar mandi.
“Terima kasih,” ucap Monica.
Monica menaruh gelas jus yang isinya tinggal setengah ke atas meja. Pandanganya kini ia arahkan ke arah Erlangga.
“Kamu gak baca pesan dari mami semalam apa?” tanya Monica.
“Aku gak pegang hp dari semalam, Mam. Aku terlalu sibuk,” jawab Erlangga.
Sibuk bergulat dengan Dinda di atas sofa.
“Dari tadi pagi mami juga telponin kamu ... kenapa gak diangkat?” tanya Monica lagi.
“Masih tidur, Mam,” jawab Erlangga.
“Banyak alasan kamu,” ucap Monica. “Makanya dari pada Mami nungguin kamu kelamaan di rumah ... mami nyusul ke sini saja.”
“Ada apa sih, Mam? Kayaknya penting banget?” tanya Erlangga.
“Ini tuh sangat penting. Karena ini menyangkut kehidupan kamu,” jawab Monica.
“Kok aku, Mi? Memang ada apa sih?” Erlangga bertanya lagi.
“Mami ada rencana mau jodohin kamu,” jawab Monica.
Perkataan Monica berhasil membuat Erlangga tersedak jus yang sedang ia minum.
“Mami mau jodohin Erlangga?” tanya Erlangga yang langsung diangguki oleh Monica. “Yang benar saja, Mam.”
“Ini memang benar,” ucap Monica.
“Yang benar saja, Mam. Memang aku ini gak laku,” protes Erlangga.
“Laku apanya, Erlangga? Kalau kamu laku ... pasti saat ini kamu sudah menikah?” balas Monica.
“Teman-teman se-usia kamu semua sudah menikah dan sudah punya anak. Lah kamu ... sampai sekarang belum menikah bahkan sepertinya tidak ada niatan untuk menikah,” ucap Monica.
“Ck, Mami ....” Erlangga berdecak kesal. “Jangan main jodoh-jodohanlah. Malu-maluin aja. Kan kesannya Erlangga gak laku.”
“Tidak! Mami tetap pada pendirian Mami. Kamu tetap akan mami jodohin dengan perempuan pilihan mami,” kekeh Monica.
“Mami ... aku sudah punya punya perempuan pilihan aku sendiri,” ucap Erlangga.
“Maksud kamu si Cintya? Perempuan yang langsung minta pulang setelah mami bilang suruh ngurus mami jika mami sudah tua dan gak bisa jalan lagi?” ucap Monica.
“Atau si Naila? Perempuan yang mau naruh mami di panti jompo?” tanya Monica lagi. Kali ini dengan nada yang sangat kesal.
“Atau si Anita? Perempuan yang ke-iris pisau waktu ngupas bawang terus nangis-nangis minta dipanggilin ambulan?” ucap Monica lagi.
“Atau si Dinda ... karyawati kamu yang ada di showroom? Perempuan yang sukanya pake baju seksi yang suka pamer tubuh itu, yang hanya melihat uang kamu saja,” ucap Monica.
“Perempuan pilihan kamu gak ada yang bagus,” ejek Monica. “Mereka cantik, tapi cuma cantik luarnya doang.”
Kali ini Erlangga benar-benar tidak bisa membalas perkataan maminya, karena semua yang dikatakan maminya benar semua.
“Pilihan mami ini, sudah dijamin kualitasnya bagus,” ucap Monica penuh keyakinan. “Mami yakin dia masih tersegel.”
“Sudah jangan banyak protes! Cepat ikut mami pulang. Sebentar lagi dia akan datang ke rumah,” ucap Monica.
“Ayo cepat!” Dengan seenaknya Monica menarik tangan anaknya. Membawanya keluar dari apartemennya tanpa membiarkan Erlangga untuk mandi lebih dulu.
“Mami, tunggu! Setidaknya biarkan aku mandi dulu,” ucap Erlangga.
“Kelamaan. Nanti mandi di rumah saja. Biar masih seger pas waktu ketemu sama calon istri kamu, gak lecek kaya sekarang,” ucap Monica tanpa berhenti menarik tangan anaknya.
Duh Mami kuat banget tenaganya.
Erlangga pasrah saat tubuhnya dibawa masuk maminya ke dalam mobil dan pergi meninggalkan gedung apartemennya.
Sementara itu di kamar mandi, Dinda masih menunggu Erlangga dengan rasa kesalnya.
“Duh, Erlangga lama banget sih?” gerutu Dinda.
Dinda akhirnya memutuskan untuk berendam di bak berukuran besar di dalam kamar mandi itu. Saking lamanya menunggu, Dinda sampai tertidur di bak mandi.
Sudah terhitung 3 jam Dinda berada di dalam kamar mandi. Tubuhnya sudah terasa dingin membuatnya terbangun dari tidurnya.
“Ya ampun aku sudah kedinginan. Apa aku keluar saja ya?” batin Dinda.
Dinda keluar dari bak mandi lalu membilas tubuhnya di tempat mandi. Setelah selesai, Dinda memakaikan handuk kimono ke tubuhnya.
Dinda membuka sedikit pintu kamar mandi. Mengintip dari celah itu, memeriksa apakah ada orang di dalam kamar itu.
Tidak ada.
Dinda pun akhirnya keluar dari kamar mandi dan segera memakai baju. Dinda kembali membuka pintu kamar itu sedikit untuk mengintip dan memeriksa situasi di luar kamar.
Sepi!
Dinda membuka pintu kamar dan berjalan keluar dengan mengendap-endap. Dinda heran karena tidak mendengar suara Monica ataupun Erlangga yang sedang mengobrol.
Sunyi dan sepi, bahkan Dinda seolah bisa mendengar suara jangkrik. Ternyata sudah tidak ada siapapun di dalam apartemen itu. Dinda menggeram kesal tenyata Erlangga sudah pergi.
“Erlangga!” teriak Dinda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Endang Purwati
aamppuunnn dengn gaya hidup Erlangga...
2021-12-29
0
niktut ugis
Dinda...wajah cantik tapi akhlak zero
2021-09-30
0
Uthie
Kirain Dinda bakalan nunggu di kamar mandi sampai sore 😂😂😂😂
2021-08-06
0