“Tapi aku gak cinta sama Alana, Kak.”
Kalimat itu Erlangga utarakan pada kakak tertuanya, Evano. Siang itu mendadak kakaknya datang ke showroom-nya.
“Cinta?” Evano menunjukan senyum seolah sedang meledek adik bungsunya. “Memang kamu kenal yang namanya cinta?”
“Ya kenallah, Kak. Aku punya hati,” kilah Erlangga.
“Jangan dikira kakak gak tahu kelakuan kamu di luar sana ya?” tegur Evano.
Dag Dig Dug
Jantung Erlangga berdegup kencang mendengar perkataan Evano. Apa yang kakaknya itu tahu?
“Kamu sering kencan dengan perempuan di luar sana, 'kan? Dan bukan hanya itu ... kamu juga sering bergonta-ganti pasangan,” tebak Evano.
Erlangga tertawa bodoh dengan menunjukan deretan giginya. Harusnya Erlangga tidak perlu terkejut jika kakaknya mengetahui semua itu, mengingat mata dan telinga kakaknya ada di mana-mana.
“Jadi menurut kakak, mana mungkin orang kaya kamu kenal dengan yang namanya cinta,” ejek Evano.
Erlangga diam dan tidak membalas ejekkan kakaknya. Memang semua itu benar adanya.
“Lagi pula Alana itu gadis yang baik?” imbuh Evano. “Sebenarnya kakak kasihan sama Alana ... dia gadis yang baik, tapi mami menjodohkan dia dengan kamu.”
Kini Erlangga membalas ejekan kakaknya dengan cibiran.
“Kakak sudah tahu siapa Alana?” tanya Erlangga.
“Tahu,” jawab Evano. “Dia anak dari orang yang pernah kamu tabrak.”
“Kak ... jujur sampai sekarang aku masih merasa bersalah atas kejadian sepuluh tahun yang lalu itu. Ditambah lagi jika aku menikah dengan Alana, rasa bersalah itu akan makin terlihat jelas. Itu pasti bisa membuat aku makin tersiksa,” jelas Erlangga.
“Kalau begitu anggap saja kamu menikahi Alana untuk menebus kesalahan kamu padanya. Dan soal cinta ... itu masalah gampanglah,” ucap Evano.
“Tapi, Kak —” Ucapan Erlangga terpotong oleh Evano.
“Percaya saja sama mami, Erlangga!” sela Evano. “Mami gak mungkin asal menjodohkan kamu dengan Alana.”
Obrolan mereka terhenti saat terdengar ketukan pintu dari depan ruangan itu. Dinda muncul dari balik pintu itu.
“Permisi, saya bawakan minuman untuk Anda,” ucap Dinda.
“Kamu kerja di bagian marketing, 'kan? Saya rasa ini bukan tugas kamu,” ucap Evano.
“Tidak apa-apa, saya juga sedang tidak ada pekerjaan,” sahut Dinda.
“Oke, terima kasih.” Evano berucap tanpa melihat ke arah Dinda.
“Oh iya, Erlangga! Sebelum kakak pergi ... kakak mau berpesan sama kamu ... cari istri yang benar-benar tulus. Jangan cuma karena uang ataupun status sosial.” Perkataan Evano melesat tepat mengenai jantung Dinda.
“Oke ...,” sahut Erlangga.
“Ya, sudah kakak pulang dulu. Ingat nasihat kakak tadi,” pinta Evano yang langsung diangguki oleh Erlangga.
Sebelum pergi Evano melirik sekilas ke arah Dinda. Dari lirikan itu Erlangga bisa melihat rasa ketidaksukaannya kepada Dinda.
Evano beranjak dari sofa dan keluar dari ruangan kerja adiknya.
Erlangga kembali menutup pintu ruangan kerjanya setelah Evano pergi.
Braaak
Erlangga terkejut saat Dinda membanting nampan yang ada di tangannya.
“Apa yang kamu lakukan, Dinda!” bentak Erlangga.
“Sudah cukup, Erlangga! Aku lelah. Aku sudah berusaha untuk menjaga sikapku di depan keluargamu, tapi lihatlah! Keluargamu bahkan sama sekali tidak menghargaiku,” protes Dinda.
“Lagi pula kenapa juga mereka mengurusi kehidupanmu. Kamu yang akan menikah dan kamu yang akan menjalani kehidupan kamu sendiri.” Dinda meluapkan semua emosinya.
Erlangga diam seraya memperhatikan Dinda. Sikap Alana sangat jauh dari Dinda. Meskipun usia Alana jauh lebih muda dari Dinda, tetapi Alana masih bisa bersikap jauh lebih sabar.
“Sudah marah-marahnya?” tanya Erlangga.
“Kalau sudah ... keluar gih! Kepalaku bertambah pusing lihat kamu marah-marah kaya gini,” usir Erlangga.
Dinda mengepalkan telapak tangannya untuk menahan emosinya setelah mendapat pengusiran dari Erlangga. Sebelum pergi Dinda menghentakkan kakinya lebih dulu.
Erlangga berdiri dengan bertolak pinggang seraya memijit keningnya. Pikirannya kacau memikirkan perjodohannya dengan Alana.
Erlangga bingung siapa yang akan membantunya untuk menghentikan perjodohan itu. Kakak pertamanya sudah mendukung maminya, kakak keduanya, Evelyn? Sudah pasti dia akan mendukung maminya, mengingat Evelyn 11-12 dengan maminya.
Di dalam keluarganya tidak ada yang menolak perjodohan itu, kecuali dirinya.
“Apa aku terima saja ya? Lagi pula Alana juga gadis yang baik. Meski gak cantik-cantik banget, tapi lumayanlah,” batin Erlangga.
“Lagi pula waktu yang diberikan oleh mami tinggal beberapa hari lagi. Tidak mungkin juga dalam waktu se-singkat itu aku mendapatkan perempuan yang memenuhi kriteria mami.” Erlangga membatin di ruangan kerjanya.
Hufff
Erlangga menarik napas panjang untuk menetralkan kekacauan dalam dirinya. Dilihatnya jam dipergelangan tangannya menunjukan waktu pukul 4 sore.
Erlangga memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya dan menyerahkan sisa pekerjaannya pada sekertarisnya.
“Titip showroom ya, Den,” pesan Erlangga pada Deni, sekretarisnya sekaligus orang kepercayaannya.
“Beres, Bos,” sahut Deni. “Mau kencan ya? Sama Dinda atau yang lainnya nih?” ledek Deni.
“Mau tahu saja,” balas Erlangga. “Sudahlah, aku pergi dulu. Kabari aku kalau ada sesuatu yang penting,” perintah Erlangga dibalas anggukan kepala oleh Deni.
Erlangga berjalan keluar dari showroom, ia berjalan melewati Dinda begitu saja. Dinda makin merasa sangat kesal saat Erlangga mengacuhkannya.
“Jika bukan karena uangnya, sudah aku tinggalin jauh-jauh,” batin Dinda.
Erlangga terus berjalan ke tempat mobilnya terparkir. Erlangga langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan showroom.
Setelah berputar-putar tak tentu arah, akhirnya Erlangga memutuskan untuk ke tempat Alana berjualan es cream. Sudah lebih dari satu minggu juga dirinya tidak bertemu dengan anak kecil itu.
Dalam perjalanan mendadak laju mobil Erlangga dihadang oleh laju kendaraan lainnya. Semua kendaraan di kota itu seolah tumpah ke jalanan.
Jalanan sudah mulai padat membuat laju mobil Erlangga tersendat. Erlangga tidak akan terkejut, itu terjadi setiap malam minggu.
“Kenapa malam minggu selalu macet kaya gini?” umpat Erlangga.
Padahal perjalanan ke tempat Alana tidak jauh lagi, tetapi karena jalanan sangat macet membuat jaraknya menjadi terlihat begitu jauh.
Sambil menunggu giliran mobilnya untuk melaju, Erlangga mendengarkan musik di dalam mobil. Ternyata mendengarkan musik DJ dalam mobil menyenangkan juga. Padahal saat kecil dirinya selalu protes pada kakaknya jika menyetel musik di dalam mobil.
Harusnya tempat Alana bisa ditempuh oleh Erlangga hanya dalam waktu setengah jam saja. Akan tetapi karena dirinya terjebak macet, membuat Erlangga sampai satu jam lebih lama.
“Akhirnya sampai juga,” ucap Erlangga.
Erlangga memarkirkan mobilnya setelah sampai di taman kota. Setelah itu Erlangga langsung melangkah menuju ke stand milik Alana.
Erlangga menghentikan langkahnya saat mendengar tawa Alana. Merasa penasaran, Erlangga kembali berjalan mendekati stand Alana. Erlangga melihat Alana sedang bercanda dengan seorang pemuda, yang mungkin seumuran Alana.
“Ehmmmm.” Erlangga berdehem yang langsung mengejutkan Alana dan temannya.
Alana serta pemuda itu menolehkan pandangannya ke asal suara.
“Mas Erlangga ...,” ucap Alana tanpa mengeluarkan suaranya.
“Sorry, kayaknya aku ganggu kalian,” ucap Erlangga.
“Eh, gak kok ....” Alana keluar dari stad-nya dan melangkah mendekati Erlangga. “Mas Erlangga ... ngapain ke sini?”
“Aku gak sengaja lewat sini. Jadi aku pikir untuk mampir,” jawab Erlangga.
“Ayo, Mas ... duduk dulu,” ucap Alana. “Mas mau es cream?” tanya Alana.
“Boleh,” jawab Erlangga.
“Mau yang rasa apa?” tanya Alana.
Belum sempat Erlangga menjawab, pemuda yang bersama Alana memanggil Alana.
“Alana?”
Alana dan Erlangga sama-sama menoleh ke arah pemuda yang baru saja memanggil Alana. Pemuda itu terlihat sedang berjalan mendekati Alana dan Erlangga.
“Lana ... dia siapa?” tanya pemuda itu pada Alana.
“Ini mas Erlangga ... anaknya mami Monica,” jawab Alana.
“Dia siapa?” Kini Erlangga yang bertanya pada Alana.
Belum sempat Alana menjawab, pemuda itu sudah lebih dulu menyerobot.
“Aku Satria. Calon pacarnya Alana,” jawab Satria.
Hah?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Endang Purwati
bbaaggoosss...panaasskaann thooorrr...mainkan peran Satria disini....😘😘
2021-12-29
1
Maria Agustina Bungalay
mantap jiwa
jangan sok kegantengan dan merasa punya duit banyak Erlangga
tks thor
2021-07-26
0
✿⃝⭕🌼Ohti
semangat y
2021-07-22
0