Erlangga berjalan di belakang Monica seperti anak ayam mengekori induknya. Keduanya berjalan ke meja makan untuk bergabung dengan Alana dan yang lainnya
Sampai di meja makan Monica melihat Alana sedang membatu Violetta untuk mempersiapkan makan siang mereka.
Erlangga dan Monica menarik kursi yang akan mereka duduki.
“Nah, ini baru calon mantu idaman. Sopan, baik, gak lebay, dan sayang sama mami,” puji Monica.
Erlangga mengerucutkan bibirnya, ia tahu jika maminya sedang menyindirnya.
“Mami kalau muji jangan tinggi-tinggi. Nanti dia makin besar kepala,” balas Erlangga.
“Mami yakin itu sih gak berlaku buat Alana,” ucap Monica. “Gak kaya yang sebelum-sebelumnya.”
Erlangga kembali memberikan cibiran pada Monica.
“Ayo, Alana duduk deketan sama Erlangga,” suruh Monica.
“Baik, Mam.” Dengan langkah penuh keraguan Alana berjalan ke samping Erlangga. Alana menarik kursi dan duduk tepat di samping Erlangga.
“Kalau yang ini sih sudah gak bisa diragukan lagi. Sudah pinter masak, ngurusin pekerjaan rumah tangga —”
“Mami nyariin istri buat aku atau nyari pembantu sih?” tanya Erlangga.
“Pembantu yang bisa ngurusin kamu, ngelonin kamu kalau mau tidur,” ucap Monica.
Erlangga melebarkan matanya sebelum akhirnya tersedak jus yang sedang ia minum. Sedangkan Alana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sejujurnya Alana tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh calon ibu mertuanya dan juga calon suaminya.
“Oma, om Erlangga kan sudah besar? Kok tidurnya masih di kelonin?” tanya Keisa.
Monica diam dan bingung bagaimana caranya menjelaskan ucapannya pada Keisa, cucunya.
“Mami bisa menjelaskan?” tanya Erlangga.
Erlangga merasa puas karena maminya terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan Keisa.
“Nanti kalau Keisa sudah besar pasti Keisa tahu jawabannya,” ucap Monica.
“Oh begitu,” ucap Keisa. Nada bicara Keisa yang masih belum jelas membuat itu terdengar sangat lucu.
Monica bernapas lega karena Keisa tidak bertanya lagi. Monica jadi teringat Rangga, adiknya itu dulu bertanya pada dirinya tentang bagaimana bisa ada bayi di dalam perutnya.
“Nyari istri itu yang baik, yang bisa ngurus rumah tangga. Jangan yang cuma bisa dijadikan pajangan,” sindir Monica.
Violetta yang mendengar dan melihat perdebatan adik ipar dan mertuanya hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Violetta pun akhirnya menengahi keduanya.
“Ayo, kita mulai makan siangnya,” ajak Violetta.
Untuk sesaat tidak terdengar suara orang mengobrol yang terdengar hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
“Erlangga, nanti kalau sudah selesai ... kamu anterin Alana pulang ya,” pinta Monica.
“Iya, Mam.” Erlangga menyahut dengan malas-malasan.
Makan siang bersama sudah selesai. Alana berinisiatif untuk membereskan piring-piring kotor bekas mereka makan. Akan tetapi Monica mencegahnya.
“Gak usah, kamu pergi saja sama Erlangga. Biar lebih dekat,” suruh Monica.
“Tapi, Mam ... ini ....” Alana menunjuk piring-piring kotor yang ada di atas meja makan.
“Gak apa-apa. Biar bibi yang beresin nanti,” ucap Monica.
“Sudah, ayo aku anterin kamu pulang. Jangan cari muka sama mami,” sindir Erlangga.
“Lah ngapain saya cari muka sama mami. Ini muka saya di sini.” Alana menunjukkan wajahnya kepada Erlangga.
Monica dan Violetta tidak bisa lagi menahan tawa mereka. Sedangkan Erlangga merasa sudah tidak sabar dengan kepolosan Alana.
“Dia memang polos atau cuma pura-pura polos sih?” batin Erlangga seraya menggaruk kepala secara kasar.
“Mami nemu perempuan ini di mana sih?” tanya Erlangga dengan kesal.
“Nemu di rumahnya lah,” jawab Monica.
“Alana, jangan dengerin omongan Erlangga,” pinta Monica. “Dia memang suka bicara asal, tapi hatinya sebenarnya baik kok,” ucap Monica.
“Iya, Mam,” sahur Alana. “Kalau begitu Alana pamit ya, Mam,” izin Alana.
“Iya, Sayang kalian hati-hati di jalan,” pesan Monica.
Alana menyalami tangan Monica dan Violetta secara bergantian. Tidak lupa juga Alana mencium punggung tangan mereka.
“Dah, Kenzo, Kenzi, Keisa.” Alana melambaikan tangannya pada ketiga keponakan Erlangga.
“Dah, Aunty.” Ketiga anak itu melambaikan tangannya pada Alana.
“Ayo, Mami antar sampai depan” ucap Monica.
Monica dan Violetta mengantar Alana serta Erlangga sampai teras rumah. Keduanya membiarkanmu Alana dan Erlangga masuk ke dalam mobil.
“Hati-hati di jalan,” ucap Monica.
“Dah, Mami ... sampai ketemu lagi.” Alana melambaikan tangannya kepada calon keluarga barunya.
“Erlangga pergi dulu, Mam,” pamit Erlangga.
“Hati-hati di jalan. Dan tolong dengerin saran dari mami tadi,” pinta Monica.
“Iya, Mam,” sahut Erlangga.
Erlangga menaikkan kaca mobil di samping Alana lalu mulai melajukan mobil meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan keduanya saling diam sebelum akhirnya Erlangga mendadak menghentikan mobilnya.
“Astaga, Dinda ... aku lupa.” Erlangga menepuk keningnya saat teringat akan Dinda.
“Dia masih nunggu di kamar mandi gak ya?” batin Erlangga. “Tapi kalau dia pintar, pasti dia sudah pergi dari apartemen.”
“Siapa, Dinda? Pacar kamu?” tanya Alana.
“Lebih dari pacar,” jawab Erlangga seraya kembali melajukan mobilnya.
“Kenapa gak dikenalin sama mami. Biar Om gak dijodohin sama aku?” tanya Alana.
“Bisa gak sih kamu gak panggil aku dengan sebutan itu,” protes Erlangga.
Alana mengangguk dengan begitu polosnya.
“Kamu kenapa mau terima saja perjodohan ini?” tanya Erlangga. “Kamu masih muda ... bisa cari yang se-umuran sama kamu.”
“Aku gak enak nolaknya. Apalagi mami mohon-mohon sama aku,” jawab Alana.
“Mami bilang kalau Mas gak laku-laku,” ucap Alana.
“Terus kamu percaya?” tanya Erlangga.
“Percaya! Buktinya Mas belum juga menikah sampai umur segini,” jawab Alana.
“Itu karena aku belum mau menikah. Dan asal kamu tahu saja ... pacar aku itu banyak,” ucap Erlangga dengan penuh percaya diri.
“Pacar yang mau masukin mami ke panti jompo.” Perkataan dari Alana membuat Erlangga tidak bisa membalasnya.
“Aku mau menerima perjodohan ini untuk membalas semua kebaikan mami ke aku dan nenek. Aku gak bisa membalas itu semua, mungkin dengan cara ini aku bisa membalas semua kebaikan yang mami lakukan untuk aku,” jelas Alana.
Erlangga diam seribu bahasa. Entah penilaian seperti apa yang cocok ia berikan pada Alana. Dia polos, tetapi bisa bersikap bijak.
“Berhenti, Mas ... aku turun di sini saja,” ucap Alana.
Erlangga menepikan mobilnya lalu mengedarkan pandangannya ke luar mobil.
Sebuah taman kota?
“Kok di sini? Rumah kamu mana?” tanya Erlangga.
“Rumah aku masih jauh dari sini. Tapi —” Ucapan Alana dipotong oleh Erlangga.
“Terus kenapa kamu minta turun di sini?” tanya Erlangga. “Oh iya aku tahu ... kamu pasti habis ini mau ngadu sama mami ... bilang kalau aku gak mau anterin aku sampai rumah. Mau cari perhatian sama mami, ’kan?” tuduh Erlangga.
Erlangga mencondongkan tubuhnya ke hadapan Alana. Alana langsung mendorong pelan tubuh Erlangga agar menjauh sedikit dari dirinya.
“Gak, Mas ... bukan begitu,” jawab Alana.
Pandangan Alana mengarah keluar lalu menunjuk sebuah stand di taman itu.
“Mas lihat stand itu, 'kan?” tanya Alana yang langsung dianggukki oleh Erlangga. “Itu stand milik aku. Setiap pulang sekolah atau libur ... aku berjualan es cream di sini.”
“Mami juga tahu, kok. Bahkan Mami yang pinjemin aku modal untuk buka usaha kecil-kecilan ini. Jadi mami pasti tahu aku mau ngapain di sini,” ucap Alana lagi.
“Oh,” ucap Erlangga.
“Ya sudah, aku turun dulu. Terima kasih sudah nganterin aku sampai sini,” ucap Alana.
“Ya.” Erlangga mengangguk.
Setelah Alana keluar dari mobilnya, Erlangga tetap memperhatikan Alana sampai gadis kecil itu masuk ke dalam stand miliknya.
“Pantes mami suka banget sama Alana. Dia perempuan mandiri. Itu sih favorit mami banget,” guman Erlangga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
re
Nah betul tuh Erlangga
2022-04-10
0
Endang Purwati
demeennn niihh dengn. cerita yg begini...Yg karakter utama perempuannya tdk dri keluarga kaya...tapi dri keluarga sederhana yg mandiri dan berjuang hingga mencapai kesuksesan...dan satu lagi...punya prinsip dna pendirian yg kuat....
2021-12-29
0
Khanza
lucu banget om" GK laku 😂😂😂😂👍👍keren ceritanya kayak dikehidupan nyata
2021-10-22
0