Erlangga bingung saat Alana tertidur di sampingnya dalam perjalanan pulang. Sudah beberapa kali Erlangga mencoba membangunkannya tetap saja Alana tidak menunjukan tanda-tanda jika ia akan bangun.
“Kebo banget sih tidurnya!” ucap Erlangga.
Erlangga ingin memeriksa tas Alana untuk mencari sesuatu. Mungkin saja ada kartu identitasnya? Akan tetapi Erlangga urungkan takut dikira tidak sopan.
Mau telepon maminya untuk menanyakan alamat rumah Alana, pasti maminya sudah tidur. Mau bawa ke apartemen, tetapi takut dikira culik anak orang.
“Apa aku bawa ke rumah saja ya?” batin Erlangga.
Erlangga berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk membawa Alana pulang saja.
“Aku bawa pulang sajalah, dari pada kena omel mami kalau aku bawa ke apartemen,” ucap Erlangga. “Nanti dikira aku apa-apain nih bocil.”
Erlangga melajukan mobilnya, kali ini Erlangga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung jalanan malam itu sudah kosong, membuat Erlangga lebih leluasa memacu kendaraannya.
Sesekali Erlangga menoleh ke arah Alana. Ada rasa bersalah yang Erlangga rasakan. Coba kalau dirinya tidak membuat Alana menunggu lama, pasti anak kecil itu sudah tidur pulas di kamarnya.
“Ck, bisa habis aku dimarahin sama mami nih,” gumam Erlangga.
Erlangga membunyikan klakson mobilnya saat ia sampai di depan gerbang kediaman Pramuja. Setelah seorang penjaga membuka pintu gerbangnya, Erlangga kembali melajukan mobilnya masuk ke halaman rumahnya.
“Hei, bocil ... bangun!” Erlangga menepuk pipi Alana, tetapi Alana tidak bangun juga.
“Pules banget tidurnya,” ucap Erlangga.
Erlangga menarik napas dalam-dalam sebelum menggaruk kepalanya.
“Terpaksa deh aku gendong dia. Gak mungkin aku ninggalin dia di dalam mobil.”
Erlangga keluar dari mobil lalu berjalan memutar ke sisi Alana. Erlangga mengangkat tubuh Alana dan membawanya masuk ke dalam rumah.
“Pak Maman, tolong bukain pintu depan,” suruh Erlangga.
“Baik, Mas,” sahut pak Maman.
Erlangga masuk ke dalam rumah dengan Alana yang masih ada dalam gendongannya. Sampai di dalam rumah Erlangga dikejutkan dengan suara maminya.
“Ya ampun, Erlangga ....” Monica berjalan mendekati Erlangga.
“Stttt, jangan berisik, Mam. Alana tidur,” pinta Erlangga.
“Kok bisa?” tanya Monica.
“Nanti saja ceritanya, Mam. Berat nih,” keluh Erlangga.
“Bawa dia ke kamar tamu,” suruh Monica yang langsung diangguki oleh Erlangga.
Erlangga berjalan ke arah ruang tamu diikuti oleh maminya. Monica langsung membukakan pintu kamar tamu untuk membantu Erlangga.
Erlangga merebahkan tubuh Alana ke atas tempat tidur, dan kembali menarik napasnya.
“Badannya kecil ... tapi kok berat banget ya,” ucap Erlangga. “Keberatan dosa kayaknya.”
“Husst, sembarangan kalau ngomong. Memangnya kamu,” ejek Monica disambut kekehan Erlangga.
Monica menyelimuti tubuh Alana dengan selimut sebelum meninggalkannya.
Erlangga merangkul pundak maminya saat mereka keluar dari kamar tamu. Bagi Erlangga, maminya bukan hanya sekedar orang tua, tetapi juga sebagai seorang sahabat.
“Mami kok belum tidur?” tanya Erlangga.
“Mami tadi sudah tidur, tapi neneknya Alana telepon. Beliau bilang Alana belum juga sampai di rumah,” jawab Monica.
“Kalian dari mana saja?” tanya Monica.
Erlangga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Bilang gak ya sama mami?” batin Erlangga.
“Hei, mami tanya kok bengong?” Monica menepuk pipi anaknya.
“Sebenarnya Erlangga tadi telat jemput Alana,” jawab Erlangga.
“Kok bisa? Kamu gak main dulu sama Dinda, 'kan?” Ada nada kesal dalam nada bicara Monica.
“Bukan, Mam ...,” jawab Erlangga.
“Lalu?” Monica sudah bertolak pinggang untuk menanti jawaban dari Erlangga.
“Sebenarnya aku sampai tepat waktu. Aku pengin saja ngerjain dia —” Ucapan Erlangga langsung dipotong oleh Monica.
“Apa? Kamu ngerjain Alana!” Mata Monica melebar.
“Bukan, Mam. Anggap saja itu sebagai uji kesabaran. Erlangga cuma ingin tahu saja dia sesabar apa sih nungguin Erlangga. Dia marah gak kalau Erlangga telat jemput dia,” jawab Erlangga.
“Tapi ...,” ucap Erlangga.
“Dia tetap nungguin kamu, tidak marah, tetapi justru minta maaf,” tebak Monica.
“Kok mami tahu?” Erlangga bertanya balik pada maminya.
“Karena mami kenal sifat Alana dengan baik,” jawab Monica.
“Mami tegaskan sekali lagi ya, Erlangga! Alana gadis baik-baik dia tidak pernah neko-neko, dia masih fresh dan juga masih perawan.” Monica sengaja menekan kata 'perawan' untuk menyindir Erlangga.
“Kok mami yakin banget kalau Alana masih perawan?” tanya Erlangga. “Emang mami sudah mastiin?”
Monica merasa gemas sekali dengan anak bungsunya itu. Ingin sekali Monica menelan hidup-hidup anaknya yang satu itu.
“Jangan pura-pura polos kamu. Dari fisiknya saja sudah kelihatan kalau Alana itu masih fresh. Memangnya kamu! Mami malah meragukan keperjakaan kamu,” sindir Monica.
Erlangga melongo mendengar perkataan maminya, tetapi setelah itu Erlangga terkekeh. Keraguan maminya itu memang benar. Dirinya sudah tidak perjaka setelah lulus SMA.
“Jangan ketawa mulu kamu. Awas kalau kamu sampai mengulangi ini lagi,” ancam Monica.
“Iya, Mami ... gak akan lagi deh. Erlangga gak mau gendong dia ... berat,” keluh Erlangga.
Monica menggeleng pelan seraya berdecak. “Itu balasan buat kamu.”
“Ya sudah mami mau telepon neneknya Alana, dia pasti khawatir sama cucunya,” ucap Monica.
“Oh iya kamu sudah makan malam?” tanya Monica.
“Belum, Mam,” jawab Erlangga.
“Mami telepon neneknya Alana dulu. Nanti mami panaskan makanan yabg ada du kulkas,” ucap Monica.
“Gak usahlah, Mam. Aku makan roti saja, habis itu Erlangga mau tidur. Aku sudah mengantuk,” ucap Erlangga.
“Ya sudah. Mami ke kamar dulu. Selamat malam,” ucap Monica.
“Malam juga, Mam.” Erlangga mencium pipi maminya sebelum pergi ke dapur.
Erlangga menarik salah satu kursi di meja makan. Lalu mendaratkan bokongnya di atas kursi itu. Erlangga meraih roti tawar yang ada di meja dan mengolesnya dengan selai kacang kesukaannya.
“Loh, Mas Erlangga kok cuma makan roti?”
Erlangga menoleh ke asal suara, ada bibi pengasuhnya berjalan ke arah dapur.
“Eh, bibi ... ngagetin aja,” ucap Erlangga.
“Bibi habis dari kamar mandi terus gak sengaja lihat Mas Erlangga,” jawab bibi.
“Kok Mas Erlangga cuma makan roti? Bibi panaskan makanan saja ya,” tawar bibi.
“Gak usah, Bi. Aku lagi pengin makan roti saja,” tolak Erlangga.
“Ya sudah, bibi panaskan susu coklat saja bagaimana?” tawar bibi lagi.
“Kalau itu boleh, Bi,” seru Erlangga.
Dua tumpuk roti isi selai kacang dan segelas susu cokelat sudah membuat Erlangga kenyang. Setelah makan malam, Erlangga pergi ke kamarnya.
“Aku sudah kenyang. Aku ke kamar dulu ya, Bi,” ucap Erlangga. “Selamat malam.”
“Selamat malam juga, Mas Erlangga,” balas Bibi.
Erlangga melangkah naik di anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Sampai di dalam kamarnya Erlangga langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri, Erlangga mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai, dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menjadikan tangannya sebagai bantal.
Erlangga tidak langsung memejamkan matanya. Justru Erlangga memikirkan tentang Alana. Malam itu Erlangga memutuskan untuk mempertimbangkan ucapan maminya untuk mencoba lebih dekat dengan Alana.
Sudah ada dua sifat baik Alana yang dirinya ketahui, mandiri dan sabar. Tentu dua sifat itu sudah bisa menjadikan Alana sebagai istri yang baik. Akan tetapi apa Alana mampu melayaninya dengan baik saat mereka berada di atas ranjang.
Erlangga tidak akan munafik akan hal itu. Dirinya laki-laki normal yang butuh kepuasan, kenikmatan, dan kehangatan.
Erlangga kembali bangun saat merasakan darahnya berdesir. Hasrat laki-lakinya bangkit saat mengingat setiap pergulatannya dengan Dinda.
“Ck, terpaksa mandi air dingin.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Endang Purwati
ampun daahh Erlangga....hhheeerrr 🙈🙈🙈🙈
2021-12-29
0
Clara
icghh amit"nih orng pkiran nya sex mulu...
2021-10-16
0
Greenindya
kyknya alana bapaknya orang yg pernah ditabrak Erlangga nih
2021-07-15
6