Sean memukul dada goblin itu berkali-kali dengan lengan tangan kiri logamnya. Bahkan gerakan pukulannya semakin cepat.
BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!
BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!
JLEB..!!
Pukulan terakhirnya tembus ke dada. Sean menarik tangan kirinya. Goblin itu mati, karena jantungnya telah berada di genggaman Sean. Sean membuang jantung itu. Lalu ia turun dari tubuh mahluk hijau itu
Melihat Sean yang turun dari tubuh goblin itu, salah satu dari mereka berjalan mendekati orang itu yang baru saja menyelamatkan mereka.
"Terimakasih telah menyelamatkan kami." ucap salah satu dari mereka yang merupakan laki-laki.
Sean menoleh dan menatapnya. Ia mengangguk kepalanya. "Tidak masalah. Tapi kenapa kalian bisa berada di dalam hutan ini ?"
"Kami ber-4 adalah petualang yang menjalankan salah satu misi."
"Misi ?" sahut Sean heran.
"Benar kami mengambil misi untuk mengalahkan salah satu kelompok bandit yang suka merampok para pedagang yang sedang berpegian mengirim dagangannya."
"Bandit ? Maksudmu penjahat ?" ucap Sean.
Laki-laki itu mengangguk kepalanya mendengar pertanyaan dari Sean. "Sebenarnya kami sedang mencari jalan pintas melalui hutan ini. Tetapi kami malah bertemu sekelompok goblin."
"Goblin ? Maksudmu mahluk hijau ini ?" tanya Sean sambil menunjukkan mayat-mayat mahluk hijau yang dibunuhnya.
Laki-laki itu mengangguk kepalanya. Sean mencerna ucapan laki-laki didepannya. Bandit yang suka merampok, lalu para petualang mencari jalan pintas, berarti sebentar lagi akan akan ada jalan keluar dari hutan.
"Apa kamu tau dimana kota terdekat dari sini ?" tanya Sean.
"Ya, kota terdekat dari sini adalah tempat asal kami. Kota Kerajaan Erlang."
Dalam hatinya, Sean. "Kerajaan ?"
"Kalau kamu dari mana ?" tanya Brian.
"Aku sebenarnya tersesat." jawab Sean asal. Ia tidak mungkin kasih tau kalau dirinya dari Dunia Lain.
"Bagaimana kalau kamu ikut dengan kami. Setelah menyelesaukan misi, mungkin kami mengantarmu sampai ke kota."
"Ahh, baiklah." jawab Sean.
"Sebelumnya, namaku Brian." kata laki-laki muda itu memperkenalkan dirinya yang bernama Brian.
"Namaku Sean." ucap Sean singkat.
"Sikap orang ini sedikit dingin." batin Brian.
"Kau tidak perlu bersikap seperti padaku. Ayo, aku kenalkan teman-teman party-ku denganmu." ucap Brian sambil mengajak Sean.
"Party ?"
Namun Sean mengangguk kepalanya. Brian dan Sean berjalan mendekati ketiga manusia yang merupakan teman-temannya Brian. Salah satunya, perempuan yang terluka saat serangan tadi.
Brian pun memperkenalkan Sean kepada temannya, dan menjelaskan kalau Sean akan ikut sementara dengan kelompok party-nya, karena setelah berhasil menjalankan misi, hingga sampai mereka pulang.
"Namaku Lisa." kata salah satu perempuan yang kakinya terluka namun telah diobati.
"Namaku Erza." ucap anggota laki-laki satunya.
"Namaku Rin." ucap perempuan yang telah mengobati temannya.
"Lisa, apa lukamu sudah baik-baik saja ?" tanya Brian.
"Tenang saja, Brian. Lukaku sudah sembuh setelah diobati oleh Rin dengan Sihirnya." jawab Lisa tersenyum sambil berdiri normal.
Sean mengerut dahinya, ia berguman dalam harinya. "Sihir ? Sihir penyembuh ?"
Pasalnya dalam diri Sean memiliki kekuatan regenerasi. Ia mengira kalau Sihir Cahaya memiliki hubungan dengan kekuatan regenerasinya.
Pikiran Sean kini banyak sekali rasa penasaran tentang dunia tempatnya sekarang. Sungguh bisa dibilang luar biasa atau tidak wajar. Padahal ia memiliki kekuatan yang diluar nalar.
Brian tersenyum karena anggotanya sudah baik-baik saja. Lalu ia mengajak semua melanjukan perjalanannya. Mereka tetap memilih jalan pintas yaitu lewat hutan.
Namun sebelum itu, dari mereka mengajak Sean untuk memotong telinga kanan para Goblin itu, terutama jantung goblin berbadan besar tadi.
"Untuk aku lakukan itu ?" tanya Sean heran.
Brian tersenyum, lalu ia menjawab. "Karena sebagai bukti kalau kamu telah mengalahkan sekelompok kecil goblin ini. Kamu akan mendapat bayarannya jika menukarkannya sebagai bonus dalam misi."
"Apalagi goblin yang berbadan besar itu kemungkinan ada di level 35. Sudah dipastikan bayarannya cukup banyak." tambahnya.
Sean beguman dalam hatinya. "Level ?"
Sean menghela nafasnya. "Lebih baik itu untuk kalian, sebagian upahku kepada kalian karena mau membimbingku mencari jalan keluar dari hutan ini."
"Benarkah ?" sahut dari mereka.
Sean mengangguk kepalanya. Mereka ber-4 terlihat bersemangat, dan segera memotong telinga dari kelima mayat goblin itu, lalu mereka menyimpannya ke dalam cincin penyimpanan milik mereka masing-masing. Setelah selesai mereka memulai perjalanan.
Keuntungan lewat hutan, bisa lebih cepat, dan bisa saja langsung menemukan sekelompok bandit jika bersembunyi. Erza, berjalan di dibelakang, bersama Lisa dan Rin. Sedangkan Brian, ia paling depan bersama Sean.
"Sean, apa aku boleh bertanya sesuatu ?" tanya Brian.
Anggotanya yang dibelakang ingin ikut mendengar apa yang ingin ditanyakan oleh ketua partynya.
"Silahkan." sahut Sean, namun pandangannya ke arah depan.
"Apa lengan tangan kirimu dari logam." tanya Brian, ia sudah penasaran dengan lengan tangan kirinya Sean.
Pandangannya masih ke arah depan, tapi dibalik menutup mulutnya, ia tersenyum simpul. "Ya, lengan tangan kiriku terbuat dari logam."
"Hebat !! Aku belum pernah melihat ada logam dibuat untuk dijadikan lengan." kata Brian kagum.
Teman-temannya yang berjalan mengikutnya di belakang, hanya bisa diam. Namun dalam hatinya mereka juga kaget bukan main, dan kagum.
Pasalnya mustahil di dunia mereka ada manusia yang menggunakan logam atau besi sejenisnya untuk menjadikannya salah satu organ di tubuhnya.
"Ya, ini adalah hasil percobaan ayahku. Karena saat perang aku kehilangan tangan kiriku. Kamu pasti mengerti apa maksudku bukan ?" kata Sean, ia tidak menjelaskan kelebihan tangan kirinya.
"Ya, intinya ayahmu menginginkanmu agar bisa hidup dengan tubuh yang lengkap." kata Brian.
"Tapi, aku melihat tangan logammu mampu membunuh dengan cara menusuk dada goblin tadi." kata Erza.
"Erza, dimana-mana logam pastinya keras. Untuk memukulmu dengan pelan saja, pasti sudah bisa membuatmu pingsan." ucap Rin.
"Benar juga." sahut Erza yang terlihat sepertu orang bodoh.
"Lalu senjata apa yang kau pakai tadi senjata jenis apa ?" tanya Lisa kepada Sean.
"Itu adalah senjataku, yang bisa digunakan untuk menyerang dari jarak yang tidak jauh dari targetnya." jawab Sean asal tentang pistolnya.
"Lalu untuk yang ke-4 goblin yang berbadan kecil tadi, kamu juga yang membunuhnya dengan senjatamu ?" tanya Rin.
Sean mengangguk kepalanya, namun pandangannya masih ke arah depan. "Ya, itu juga dari serangan dari salah satu senjataku."
Mereka mulai fokus dengan perjalanan mereka. Hampir satu jam, akhirnya mereka melihat wilayah terbuka. Sean tersenyum, karena semenjak ia datang dari dunianya, ia belum menemukan jalan keluar dari hutan yang lebat.
Diwaktu yang sama, mereka mendengar suara ribut dari luar hutan. Mereka segera berlari ke arah sumber suara itu. Sedangkan Sean, ia berjalan santai. Ia hanya menebak-nebak, siapa apa di depan sana.
Terlihat 6 manusia berbadan besar. Pakaian mereka terlihat sangat, dan mereka menggunakan senjata. Senjata yang digunakan Mereka ber-6 rata-rata menggunakan pedang.
Brian, Lisa, Erza, dan Rin telah keluar dari hutan. Mereka melihat dua kereta kuda milik pedagang tengah dihadang oleh 6 orang bandit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Risa
hari ? atau hati ?
2022-07-02
1
M Ferdi
party nya aneh ngelawan goblin aja gak bisa itu malah ngelawan bandit kan aneh
2022-01-09
1
Jenenku Sopo
oke lanjut makin seru aja hhhhh
2021-11-28
0