Daffin dan sekretarisnya sedang menunggu Presiden direktur perusahaan Black pearl. Dia akan mengajukan proposal permohonan kerjasama. Dia tidak tau siapa pemilik perusahaan nomor dua terbesar di Eropa itu.
" Apa kamu yakin mereka akan datang?" tanya Daffin pada sekretarisnya.
" Yakin Pak"
Tak berselang lama terdengar langkah kaki mendekati ruangan VIP itu. Pintu ruangan itu terbuka, menampakkan dua sosok wanita cantik.
Daffin dan sekretarisnya menoleh kearah pintu masuk. Daffin terpesona melihat kecantikan salah satu gadis yang baru masuk itu.
Kiran kaget melihat lelaki yang ada di hadapannya itu. Dia tidak akan menyangka bertemu Daffin lagi. Tapi beberapa detik kemudian dia sudah bisa menormalkan kembali perasaannya.
" Apa saya terlambat?" tanya Kiran sambil duduk di kursi berseberangan dengan Daffin.
" Tidak, kami juga baru datang nona" kata sekretaris Daffin.
" Baiklah, saya tidak mau membuang-buang waktu. Mana proposal permohonan perubahan kalian?"
" Ini nona" kata sekretaris Daffin sambil memberikan dokumen proposal milik perusahaan mereka.
Kiran mulai membaca isi proposal itu. Dia harus membaca dengan teliti isi proposal itu. Daffin sesekali mencuri-curi pandang pada Kiran. Dia benar-benar kagum melihat wanita yang sekarang ada di hadapannya itu.
Nadia tidak suka melihat Daffin yang selalu menatap sahabatnya. Dia tau siapa lelaki yang ada di hadapannya itu. Lelaki yang sudah mencampakkan sahabatnya.
" Saya suka dengan proposal kalian"
" Terima kasih nona" ucap sekretaris Daffin.
Kiran membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen kerjasama antara perusahaannya dengan perusahaan milik Daffin.
" Semoga kerja sama kita berjalan dengan baik nona" kata Daffin.
" Semoga tuan Daffin. Kalau begitu saya permisi dulu" kata Kiran sambil bangkit dari duduknya.
" Tunggu! bisa bicara empat mata dengan kamu princess?"
" Tidak" jawab Nadia.
" Saya tidak bertanya dengan anda nona Nadia"
" Baiklah, saya kasih waktu 5 menit untuk anda bicara" kata Kiran.
" Kamu keluar dulu" titah Daffin pada sekretarisnya.
" Baik Pak"
" Nad, tinggalkan aku sama tuan Daffin sebentar"
" Nggak mau!"
" Cuma 5 menit Nad"
" Kamu janji akan baik-baik saja"
" Aku janji"
" Baiklah. Waktu anda cuma 5 menit tuan Daffin" kata Nadia sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Sekarang hanya tinggal Kiran dan Daffin yang ada di dalam ruangan itu.
" Apa yang anda mau bicara sama saya tuan Daffin?"
" Bisakah kamu tidak bicara formal dengan ku princess"
" Emang anda siapa saya tuan, sahabat? pacar? keluarga?"
Daffin diam, dia tidak tau harus menjawab apa. Dia juga tidak tau posisinya sekarang di mata wanita cantik itu.
" Princess"
" Berhenti memanggil saya dengan sebutan itu"
" Kenapa?"
" Karena yang boleh manggil saya dengan nama itu hanya orang terdekat saya. Sedangkan anda, bukan siapa-siapa saya"
Daffin merasa sakit mendengar ucapan Kiran tadi. Seperti ada ribuan batu yang menghimpit hatinya. " Kenapa kamu berubah princess"
" Tidak ada yang berubah dengan saya tuan" kata Kiran sambil tersenyum getir.
" Kamu bukan seperti princess yang ku kenal dulu"
" Gadis manja yang anda kenal dulu sudah mati 3 tahun yang lalu. Baiklah, waktu anda sudah habis. Saya permisi dulu"
Daffin menahan tangan Kiran, kemudian dia membawa Kiran kedalam pelukannya. Kiran hanya diam, dia tidak membalas pelukan Daffin.
" I Miss you so much " ucap Daffin tepat di telinga Kiran.
Kiran tetap diam. Mungkin kalau dulu dia sangat menantikan ucapan itu keluar dari mulut Daffin, tapi sekarang tidak lagi. Karena rasanya pada Daffin sudah mati 3 tahun lalu.
Daffin merasa tidak ada balasan dari Kiran, dia pun melepaskan pelukannya. " Princess"
" Anggap saja pelukan tadi, pelukan terakhir dari saya tuan. Karena saya paling tidak suka di sentuh sama orang yang lain" kata Kiran sambil berlalu pergi meninggalkan Daffin yang masih diam mematung di sana.
Kiran membanting pintu ruangan itu dengan kencang. Suara pintu yang keras itu menyadarkan Daffin dari lamunannya. Dia melihat sekelilingnya, tidak ada lagi sosok yang dia peluk tadi. Dia keluar dari ruangan VIP itu dengan perasaan kecewa.
Nadia agak kesusahan mengikuti langkah kaki sahabatnya. Dia tau sudah terjadi sesuatu antara sahabatnya dengan Daffin tadi. Tapi belum berani bertanya, karena dia tau bagaimana sifat sahabatnya itu.
Kiran masuk kedalam mobil, diikuti sama Nadia di belakang. Kiran menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Tanpa terasa air matanya menetes dari kedua mata indahnya.
" Kenapa rasa sakit ini masih ada Nad?" tanya Kiran di sela tangisnya.
Nadia memeluk sahabatnya, Dia tau pasti rasa sakit yang di katakan sahabatnya itu. Dia membiarkan Kiran mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hati sahabatnya itu.
" Berani sekali dia bilang kangen, setelah apa yang dia lakukan sama aku dulu" lanjut Kiran.
Ya masih jelas dalam ingatannya bagaimana Daffin menolaknya didepan keluarganya. Bahkan dengan lantangnya mengatakan kalau dia tidak suka dengan gadis manja yang tidak bisa apa-apa seperti dirinya.
" Sudah, lupakan rasa sakit itu. Bukankah kamu sudah melupakan lelaki bodoh itu?"
" Hhmm"
" Jangan buang air mata kamu lagi untuk laki-laki seperti Daffin itu. Mana Dewi kematian yang kuat yang pernah aku kenal " kata Nadia.
Kiran membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Sekarang adalah waktu dimana dia akan membuktikan pada lelaki itu kalau dia baik-baik saja walau tanpa dia.
" Terima kasih" ucap Kiran.
" Aku sahabat mu, sudah seharusnya aku ada untukmu bukan?" kata Nadia.
" Ia, kamu benar" kata Kiran sambil tersenyum pada sahabatnya itu.
" Nah gitu dong senyum. Kamu tau, senyum kamu jauh lebih manis dari tangis kamu"
" Ck.. sejak kapan seorang jomlo bisa bicara puitis seperti itu" ledek Kiran.
" Hai nona muda! ingat, status kita sama. Jadi jangan meledek ku dengan berkata kalau aku ini jomlo"
" Emang kenyataanya begitu kan?"
" Kamu juga jomlo, jadi sesama jomlo tidak boleh menghina"
" Ya, setidaknya kita jomlo berkelas" kata Kiran.
" Benar sekali. Oh ya, gimana kabar Presiden direktur perusahaan Danendra Group ya?" tanya Nadia.
" Mana aku tau" jawab Kiran.
" Cari tau dong, siapa tau kalian bisa jadian"
" Ngaco kamu, aku nggak akan pernah suka sama cowok aneh kek dia itu"
" Eits jangan takabur nona, ntar jadi bucin baru tau rasa" kata Nadia.
" Kok kamu malah berpihak pada cowok aneh itu sih"
" Aku nggak berpihak sama dia, tapi kata orang bijak ne ya. ' Jangan pernah membenci seseorang orang itu dengan terlalu dalam, karena suatu saat nanti rasa benci itu akan berubah menjadi rasa suka" kata Nadia.
" Ck.. sejak kapan jomlo kek kamu tau kata-kata kek begitu. Lagian aku nggak percaya kata-kata kek begitu"
" Idih.. dibilangin malah ngeyel, kalau udah bucin baru tau rasa kamu" kata Nadia.
" Nggak akan"
" Kita liat aja nanti "
" Ok, siapa takut"
Sekarang kamu bicara seperti itu, tapi liat nanti kalau udah bucin. Aku akan ledek kamu habis-habisan. Tapi sekarang aku harus mencari cara untuk mendekatkan kalian berdua.
To be continue.
Kiran.
Happy Reading 😚😚
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 225 Episodes
Comments
Marnisa Nisa
Gaspol nadia
2024-01-17
0
HARTIN MARLIN
kamu harus mendekatkan Kiran dengan Darren agar menjadi pasangan
2023-03-19
0
andi hastutty
semangat Nadia buat jodohin Kiran ma darren
2022-08-18
0