Pagi hari.
Darren sudah rapi dengan pakaian kantornya. Pagi ini dia akan ke rumah gadisnya untuk mengantarkan mobil milik sang gadis kecil itu.
Dia mengambil kunci mobil, setelah itu dia keluar dari kamarnya.
Para pelayan dan bodyguard sudah berbaris di bawah untuk menyambut tuan muda mereka turun dari kamarnya.
Tap.
Tap.
Tap.
Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Para bodyguard dan juga pelayan membungkukkan badan memberi hormat pada sang tuan muda.
" Pagi tuan muda"
" Pagi"
" Apa tuan muda mau sarapan?" tanya kepala pelayan.
" Tidak! saya mau numpang sarapan di rumah calon istri saya"
Para bodyguard dan juga pelayan itu kaget mendengar ucapan tuan muda mereka. Sejak kapan tuan muda itu mau numpang makan di tempat orang lain. Karena mereka tau, tuan mudanya tidak menyukai makanan yang di masak sama sembarangan orang.
" Apa mobil saya sudah disiapkan?"
" Sudah tuan muda"
Darren berjalan menuju tempat mobilnya terparkir. Pagi ini dia akan mengendarai mobil Lamborghini Aventador SV milik calon istrinya itu. Tapi sebelum itu, dia menghubungi Romy untuk menjemputnya di rumah gadis kecilnya.
Laki-laki tampan itu melajukan mobilnya meninggalkan mansion miliknya. Dia melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Beruntung suasana jalan raya pagi itu tidak terlalu rame, jadi Darren selamat dari umpatan para pengendara lain.
Tidak butuh waktu lama untuk dia sampai di rumah pujaan hati. Darren membunyikan klakson mobilnya di depan pintu gerbang rumah Vandy.
Satpam yang mengenal mobil milik tuannya langsung membukakan pintu. Pak satpam tidak tau siapa yang mengendarai mobil milik tuannya itu.
" Makasih Pak"
" Eh, anda siapa?"
" Saya Darren, calon tuan muda kalian " jawab Darren sambil melajukan mobilnya menuju rumah utama kediaman Vandy.
Pak satpam masih diam mematung memandang kepergian mobil mewah itu. Se perkian detik barulah pak satpam tersadar.
" Apa pemuda tampan itu kekasihnya nona muda ya?" tidak mau memikirkan hal yang bikin pusing kepalanya, Pak satpam menekan tombol lagi. Pintu pagar tertutup kembali.
Darren sampai di rumah milik Vandy. Darren dibuat takjub oleh bangunan bergaya Eropa yang ada di depan matanya itu. Walaupun rumah itu tidak sebesar mansion miliknya.
Ting..nong.
Darren memencet tombol bel yang ada di sana. Karena belum ada yang membukakan pintu, Dia memencet tombol itu kembali.
Ting.. nong.
" Sebentar"
Ceklek.
Bik Mirna terpaku melihat pemuda tampan yang ada di depannya itu. Mata wanita paruh baya itu tidak berkedip melihat Darren.
" Assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam kasep. Mau cari siapa?"
" Gadis kecil"
" Gadis kecil?" tanya Mirna.
" Maksud saya Kiran"
" Oh, nona muda. Dia masih ada di kamarnya, mari masuk" ajak Mirna.
Darren masuk kedalam rumah utama milik keluarga Vandy. Mirna memintanya untuk duduk di sofa ruang tamu, sementara dirinya pergi ke dapur untuk membuatkan minum.
Vandy dan Anggun baru turun dari kamarnya, saat menuju ruang makan dia melihat ada seorang lelaki duduk santai di ruang tamu.
" Kok berhenti Mas?"
Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, dia malah balik bertanya. " Itu siapa sayang?"
" Mana?"
" Itu laki-laki yang duduk di ruang tamu"
Anggun menoleh kearah ruang tamu. Dia juga bingung kenapa pagi-pagi begini ada lelaki tampan duduk di sana. Anggun dan suaminya menghampiri pemuda itu.
" Kamu!" kaget Vandy.
" Hallo Om, Tante"
" Kamu kenal sama pemuda ini Mas?" tanya Anggun.
" Tentu saja, siapa tidak mengenal anak dari pengusaha nomor satu di Eropa"
" Maksud Mas dia putra dari tuan Jonathan Narendra"
" Ia sayang"
" Pantas wajahnya nggak asing. Tapi ada perlu apa anda ke sini?" tanya Vandy.
" Saya mau bertemu putri Om"
" Maksud kamu Kiran?"
" Ia Om"
" Apa kamu mengenal putri saya"
Belum sempat Darren menjawab, terdengar suara Kiran dan Nadia sedang tertawa bersama sambil menuruni anak tangga. Semua itu tidak luput dari pandangan mata Darren.
" Dek?" panggil Anggun.
" Ya Mom"
" Sini, ada yang mau ketemu sama adek"
" Siapa?"
" Makanya sini dulu"
Kiran berjalan menghampiri sang mommy, diikuti sama Nadia di belakang. Alangkah kagetnya Kiran melihat siapa yang ingin bertemu dengannya.
" Anda!"
Darren tersenyum melihat ekspresi kaget gadis kecilnya. " Hai"
" Kenapa anda bisa ada disini?" tanya Kiran.
" Tentu saja mau menemui kamu, serta mengembalikan kunci mobil" kata Darren sambil menggoyangkan kunci mobil yang ada di tangannya.
Anggun dan Vandy hanya melongo melihat interaksi putri mereka dengan putra Jonathan Danendra.
" Kalian berdua saling kenal?" tanya Vandy.
" Ia " kata Darren.
" Tidak" kata Kiran.
Kiran menatap tajam lelaki yang ada dihadapannya itu. Sedangkan yang ditatap hanya cuek bebek saja. Vandy dan Anggun tersenyum melihat tingkah kedua sejoli itu.
" Sepertinya jodoh putri kita Mom" bisik Vandy di telinga sang istri.
" Sepertinya begitu Dad"
" Mommy sama daddy kenapa bisik-bisik gitu?" tanya Kiran.
" Ini, kuping mommy kemasukan debu, jadi Daddy tiup" jawab Vandy asal.
Mirna datang dengan membawa nampan berisi teh untuk tamu nona mudanya.
" Teh untuk siapa Bik?" tanya Kiran.
" Untuk Aden kasep nona?"
" Aden kasep siapa?" tanya Kiran lagi.
" Itu pemuda di samping nona"
Kiran melirik kearah Darren. " Tampan apanya Bik, nyeremin yang ada"
" Sayang nggak boleh gitu" kata Anggun.
" Nggak apa-apa Tante, saya suka liat Kiran galak kek gitu"
" Ck..anda kira saya dogi apa?"
" Sudah-sudah. Apa tuan muda Narendra sudah sarapan?" tanya Vandy.
" Alhamdulillah belum Om"
" Wah kebetulan sekali, yuk ikut sarapan sama kami" tawar Vandy.
" Ck.. nggak nyangka seorang Presiden Direktur perusahaan Narendra Group numpang makan di rumah orang" kata Kiran.
" Sayang, jangan begitu" nasihat Anggun.
" Yuk kita keruang makan sekarang?" ajak Vandy.
Darren dengan santai mengikuti Vandy menuju ruang makan. Dia tidak peduli dengan gadis kecilnya yang masih ngomel-ngomel di belakang.
Sampai di meja makan, Vandy meminta Darren untuk duduk di kursi yang di tempati oleh putranya dulu. Sekarang putranya itu sudah menikah, jadi sekarang kursi itu kosong tanpa ada penghuninya.
" Siapa yang suruh anda duduk di sana?" Tanya Kiran.
" Daddy yang suruh" jawab Vandy.
" Kenapa Daddy suruh dia duduk di sana?"
" nggak apa-apa, lagipula kursi itu juga kosongkan?"
Darren tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya dia mendekati calon mertuanya itu, setelah itu baru dia akan meluluhkan hati gadis kecilnya itu.
" Dek ambilkan nasi untuk tuan muda Narendra dong" pinta Anggun.
" Dia punya tangan Mom, jadi bisa ngambil sendiri"
" Nggak boleh gitu sama tamu, sayang" kata Anggun.
Lampu hijau dari mertua sudah ada nih.
" Bisa tolong ambilkan nasinya nona muda" kata Darren menyodorkan piringnya pada Kiran.
Kiran menarik piring itu dengan kasar. Darren mengedipkan matanya sebelah pada Kiran.
" Najis!" kata Kiran.
Darren tertawa mendengar ucapan gadis kecilnya itu. Entah kenapa melihat wajah gadisnya kesal seperti itu membuat dia senang.
To be continue.
Udah up dua nih, jadi minta hadiah dong🤗🤗
Happy Reading 😚😚
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 225 Episodes
Comments
HARTIN MARLIN
semoga aja hati Kiran luluh dengan usaha Darren untuk menjadi kekasihnya
2023-03-19
0
andi hastutty
senyum sendiri aku Thor 😘🥰😍😍
2022-08-18
0
Wanda Everdine Kambey
Asyikkk mksh ya Thor
2022-07-09
0