Nasihat dari Leonard itu akan selalu ia ingat sampai kapan pun bahwa ia sebagai seorang yang terlahir istimewa seharusnya bisa menjalaninya dengan baik tanpa ada rasa beban takut yang melandanya di masa yang akan datang.
FLASHBACK OFF
Kembali lagi pada Theo anak dari Andra dan Ella itu yang sedang berada di kamar itu tengah melamunkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Entah mengapa hatinya merasa sedikit gelisah dan ia tak mengerti dengan semua itu.
Mengingat selama ini ia selalu bermimpi di datangi oleh seseorang yang wajahnya sangat mirip dengan ayahnya tersebut.
Ia selalu berusaha untuk bertanya pada sang ayah, namun semua itu harus ia simpan rapat-rapat tak kala ketika ia menyebutkan hal itu pada sang ayah, yang mana membuatnya menatap dengan sorotan mata yang dingin.
Dan tentu saja ia hanya bisa menyimpannya rapat di dalam lubuk hatinya yang terdalam.
******
Sementara itu lebih tepatnya dari arah lain tak jauh beberapa meter jarak rumah Andra tersebut terdapat makhluk tak kasat mata atas suruhan dari seorang dukun, yang merupakan ayah dari Andra yang juga kakek dari Theo itu pun menimbang kembali atas perintah langsung dari tuan mereka yang meminta untuk menyampaikan permintaan darinya secara pribadi.
“Apa ini rumah yang di bicarakan oleh mbah?” tanya salah makhluk tak kasat mata yang tengah memandangi sebuah rumah yang terlihat sangat sederhana.
“Benar ... Rumah ini yang di maksud oleh mbah!” sahut salah satu temannya dengan menjawab serta menatap rumah dengan menelisik lebih dalam sebelum masuk ke dalamnya.
“Ada apa?”
“Ah tak ada.”
“Ngomong-ngomong apa cucu mbah nanti tak takut dengan kedatangan kita?” tanya salah satu makhluk tinggi dengan kulit berwarna hijau.
“Aku tak tahu,” jawab temannya. “Justru yang sedang aku takutkan nanti cucu mbah pasti menangis melihat kedatangan kita.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan? Bukankah lebih baik kita harus segera menyampaikan pesan mbah pada cucunya, karena aku merasakan firasat buruk terhadap maksud sirat dari pesan mbah itu!”
“Kau ada benarnya juga! Aku juga sama denganmu walaupun kita sebagai makhluk rendahan yang selalu di perintah oleh manusia serakah. Akan tetapi aku sangat bisa melihat dengan jelas sorotan mata sendu dari mbah, dan sebaiknya mau tak mau kita harus segera menemui cucunya untuk menyampaikan semua pesan permintaan dari mbah.”
Ujarnya pada teman-temannya sekaligus mengajak beberapa temannya untuk menemui Theo cucu dari tuan mereka.
Dan saat mereka masuk ke dalam kamar tersebut, seketika pandangan mereka semua itu bertemu dengan seorang anak lelaki yang terlihat sedang melamun.
Mereka pun juga merasakan kegelisahan yang sedang mendera di hati anak lelaki tersebut tak kala sedang memikirkan tuannya tercinta.
“Hei kali ini siapa yang akan menyapanya?” tanya salah di antaranya yang saat ini tengah berada di dalam kamar seorang anak lelaki yang merupakan cucu dari tuan mereka.
“Bagaimana caranya?” tanya yang lain dengan balik. “Bukankah dia selalu takut dengan keberadaan kita?”
“Sttttt ... Sudahlah jangan selalu di bahas,” sahut di antaranya ketiganya yang sedari tadi hanya diam menyimak. “Biarkan aku yang menyampaikan permintaan pesan dari mbah yang memang di tuju untuknya.”
Tanpa menunggu jawaban dari lainnya, salah di antara melesat dengan cepat ke arah cucu tuannya tersebut.
Setelah sampai ke tempat tersebut kemudian ia di suguhkan dengan pemandangan cucu dari tuannya itu tengah melamun, untuk bisa berkomunikasi dengan cucu tuannya secara langsung maka ia pun memutuskan untuk melakukan pendekatan guna mengurai rasa takut yang selalu mendera Theo cucu dari tuannya itu.
Menghilangkan tubuhnya menjadi transparan untuk bisa mendekat ke arah Theo yang tengah tenggelam dalam lamunannya.
“Tak baik melamun begitu meski pun kau mampu melihat mereka,” sapanya kemudian pada Theo seraya memperingatinya. “Aku sangat tahu kau bisa melihat mereka yang selalu kau sebut hantu.”
Deg---
Lamunan Theo seketika buyar tak kala ia bisa mendengar sebuah suara orang yang tengah berbicara tanpa menunjukkan wujud aslinya.
“Si—apa di—sana,” ucap Theo dengan terbata-bata di sertai keringat dingin untuk menutupi rasa takutnya itu.
“Kalau aku menunjukkan wujud asliku di hadapanku, apa kau akan takut denganku?!”
“Aku tidak mengganggumu, kenapa kau menggangguku?” tanya balik Theo. “Apa yang kau inginkan dariku?”
‘Leo aku janji padamu, aku tak akan takut apa pun saat berhadapan dengan mereka. Dan semoga kelak kita dapat bertemu kembali’ bisik Theo dengan penuh tekad.
Hal tersebut secara tak langsung dapat di dengar oleh salah satu dari suruhan kakeknya itu, yang mana membuatnya tersenyum bangga tak kala mendengar tekad dari cucu tuannya tersebut.
Untuk memecahkan kesunyian di antara mereka, terpaksa makhluk itu menanyakan kembali pada cucu tuannya itu.
“Lalu apakah saat aku menunjukkan wujud asliku, apa kau akan berteriak ketakutan?” tanyanya lagi pada Theo.
“Tidak!” jawab Theo dengan mantap.
Menandakan bahwa ia sudah siap menatap wujud asli dari makhluk tak kasat mata yang menyebutnya suruhan dari sang kakek.
Setelah itu kemudian ia pun terkejut melihat wujud asli dari suruhan kakeknya tersebut.
Hal tersebut lantas membuat Theo mulai berpikir siapa gerangan makhluk tak kasat mata yang sedang berada di hadapannya itu.
“Mengapa kau bisa mengetahui semua tentang ayahku?” tanya Theo.
“Maaf aku tak dapat menceritakan secara detail tentang kakekmu, aku hanya menyampaikan pesan dari beliau melalui dirimu.”
“Kakekku ya!” beo Theo dengan raut wajah yang terlihat serius. “Pesan apa yang di inginkan oleh kakekku?”
“Beliau hanya meminta ayahmu untuk memaafkan semua kesalahan yang di lakukan oleh beliau, hanya itu pesan yang ingin di sampaikan untuk ayahmu. Selebihnya jika kau ingin mengetahui siapa kakek tanyakan saja pada ayahmu.”
Ujarnya dengan jelas untuk membuat cucu dari tuannya itu, segera menyampaikan pesan yang mengandung tersirat di dalamnya.
Theo pun mulai memikirkan semua penjelasan yang di katakan oleh suruhan kakeknya itu, kini tengah mengganggu pikirannya.
‘Ayah siapa kakek sebenarnya? Mengapa ayah menyembunyikan hal ini padaku, apakah perasaan yang membuatku risau itu ada hubungannya dengan kakek? Aku harus segera mengetahui tentang kakek.’
“Lalu dari mana kau tahu, kalau aku dapat melihat keberadaanmu?” tanya Theo dengan gamblang.
“Aku tak bisa menceritakan hal ini padamu.” Jawabnya dengan santai. “Kau akan mengetahui sendiri nanti pada waktunya tiba.”
“Baiklah kalau begitu aku akan menyampaikan pesan kakek untuk ayah.”
Theo berucap seraya meninggalkan suruhan kakeknya tersebut, dengan berjalan ke arah pintu kamar yang mana ia segera harus menyampaikan semuanya pada ayahnya sebelum terlambat.
Membuka kenop pintu kamarnya tersebut, berjalan menuju kamar ke dua orang tuanya berada.
Saat berada di depan kamar orang tuanya, ia pun mulai merasa sedikit bimbang dengan keberadaan sang kakek.
Untuk membuktikannya mau tak mau ia pun harus menyampaikan apa yang telah di dengar olehnya untuk di sampaikan pada ayahnya tersebut.
Mengetok pintu kamar orang tuanya yang mana ia memecahkan lamunan dua orang yang tengah berdiam membisu.
Tok ... Tok ... Tok ....
“Ayah ... Ibu,” teriak Theo dengan menggedor pintu kamar tersebut untuk memanggil ke dua orang tuanya. “Kalian sedang apa di dalam?” tanya Theo.
Tak lama kemudian kenop pintu itu berputar, dan terbukalah pintu kamar tersebut, muncullah ke dua orang tuannya yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Sayang ada apa?” tanya sang ibu pada putranya. “Kenapa menggedor pintunya dengan keras. Kalau rusak bagaimana hem!”
Bukannya menjawab pertanyaan dari sang ibu justru ia malah bertanya pada sang ayahnya tersebut. “Ayah apa aku punya kakek?” todong Theo dengan raut wajah yang serius.
Deg---
Tubuh Andra menegang tak kala mendengar perkataan yang terlontar dari putranya tersebut.
“Sa---yang dari mana kamu tahu hal ini?” jawab Andra dengan terbata-bata.
“Apa ayah sudah melupakan semua tentang putramu ini,” sahut Theo dengan ketus.
“Maaf!” ucap Andra dengan sesal. “Ayah akan menceritakan tentang kakekmu, tapi kamu harus janji untuk menjawab pertanyaan ayah tadi. Siapa yang memberitahumu tentang hal ini,” lanjut Andra dengan tegas.
Setelah itu kemudian Andra pun mulai menceritakan semua tentang orang yang selama ini membuatnya menjadi benci terhadapnya, namun di hadapan putranya tersebut seolah-olah menamparnya dengan cara halus.
Apakah sang putranya tersebut telah bertemu dengan pasukan ayahnya itu, saat ini hanya itu yang ingin ia tahu dari putranya sendiri.
“Bagaimana sayang apa kamu sudah paham dengan cerita dari ayah tentang kakekmu?” tanya Andra dengan nada lembut. “Setelah ini apa kamu membenci kakekmu?”
“Tidak!”
Sudut bibir Andra berkedut mendengar nada Theo yang begitu menggemaskan.
“Justru aku sangat menyayangi kakek, meski pun aku sudah pernah bertemu dengan kakek di alam mimpi.” ujar Theo seraya membuka sebuah rahasia yang selama ini ia pendam sendiri.
“Sayang,” panggil Andra pada Theo. “Apa benar yang kamu katakan itu hem?” tanya Andra pada putranya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
next kk
2021-11-21
0
Ri¢@🍇
ini kenapa keroyoka. mak...ngk satu aja yg di utus..😂😂😂😂😂
2021-09-27
0
☠ᵏᵋᶜᶟ🔵🍾⃝ͩ⏤͟͟͞RᴇᷞᴛͧɴᷠᴏͣW⃠🦈
apakah pertemuan Theo dengan kakeknya itu adalah salah satu bentuk perpisahan 🤔🤔🤔
2021-09-27
2