“Oh itu aku dan kak Albert sangatlah berbeda dengan mereka yang takut dengan sinar matahari. Karena kami sudah hidup selama ratusan tahun lamanya. Sehingga aku dan dia tanpa perlu takut lagi terhadap apa pun. Dan juga kau tak usah risau denganku yang tiba-tiba muncul seperti ini. Karena kakakku sudah menugaskanku untuk menjagamu! Apakah kau keberatan dengan kemunculanku?” jawabnya sambil bertanya pada Siska si ibu hamil tersebut.
“Lakukanlah apa yang menjadi tugasmu. Tapi ingat jangan kau ganggu ketika aku sedang bersama dengan suami dan anakku yang lain.”
Tanpa banyak kata Angel pun kemudian pergi beranjak dari tempatnya meninggalkan Siska seorang diri yang masih dengan lihai menyiapkan sarapan pagi untuk sang suami dan putra sulungnya tercinta.
Sambil menunggu mereka untuk turun ke bawah. Tak lupa juga ia pun menata sarapan pagi yang telah di siapkan ya dengan gerakan lincah dan luwes.
Hingga kemudian turunlah sang suami dan putra sulungnya untuk menikmati masakan dari sang istri tercinta.
Mereka pun menikmati sarapan pagi dengan tenang, hanya terdengar denting dari sendok dan garpu yang beradu. Karena sang suami tercinta membuat aturan dilarang mengobrol saat makan.
Setelah selesai sarapan pagi ketiganya pun menuju garasi mobil untuk berangkat mengantar putra sulungnya ke sekolah. Tempat di mana sang putra pertama kali menginjak kakinya di sana.
“Apakah ada yang ketinggalan boy?” tanya sang papa pada putranya.
“Tak ada papa. Kan semalam semua sudah aku siapkan dengan baik. Jadi mana mungkin ada yang terlewatkan,” jawabnya dengan semangat.
Sedangkan sang mama tercinta hanya bisa menyimak obrolan antara papa dan anak tersebut dengan tersenyum yang sangat di paksakan.
Entah mengapa hati dan pikirannya pun mulai tidak tenang setelah mendapat peringatan dari Albert. Hal tersebut membuatnya kembali memikirkan sebuah pesan singkat namun mempunyai makna yang dalam.
“Oke kalau begitu sudah siap untuk berangkat sekolah boy?”
“Siap papa ... Lalu mama kenapa diam? Ada apa denganmu mama?” cerca Leonard sang putra sulungnya dengan bertanya pada sang mama tercinta.
Mendengar pertanyaan dari putra sulungnya membuat Siska tersentak saat memikirkan sesuatu yang menjadi penuh tanda tanya di benaknya.
“Sudah ya boy jangan tanya lagi ke mamamu. Bagaimana kalau nanti setelah pulang sekolah papa akan mengajakmu ke taman bermain. Apakah kamu suka?”
Tawar Raymond pada putranya untuk mengalihkan pembicaraannya pada sang istri tercinta yang terlihat sedang murung itu.
Tanpa menunggu jawaban dari sang putra dengan gerakan cepat Leonard pun menyetujui permintaan dari sang papa tercinta.
Hingga tak lama kemudian mobil yang di kendarai olehnya sampailah ke sekolah Leonard tempat di mana ia pertama kali menimba ilmu.
“Oke boy kita sudah sampai. Tapi papa hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Apa kamu tidak keberatan boy?” tanya Raymond.
Dengan keberanian yang di punya oleh Leonard pun memasuki sekolah dengan sendiri tanpa ada papa dan mama tercinta yang menemaninya.
Mengambil ancang-ancang Leonard pun lari terbirit-birit setelah mencium pipi ke dua orang tuanya tercinta berjalan dengan santai memasuki kelasnya yang mana di pantau oleh ke dua orang tuanya dari kejauhan.
Kemudian mobil yang di kendarai oleh Raymond bergerak melintasi jalanan yang ramai dengan gedung pencakar langit yang menghiasi kota itu menuju arah rumah sakit. Tempat di mana ia menghabiskan waktunya untuk mengantar sang istri tercinta serta tak lupa melihat perkembangan bayi mereka yang berada dalam kandungan sang istri tercinta.
Tibalah mobil yang di kendarai olehnya di pelataran rumah sakit tersebut menuntun sang istri tercinta menuju ruangan khusus tempat di mana sang istri memeriksakan kandungannya.
Sambil menunggu giliran sang istri tak lupa Raymond pun terus memperhatikan keadaan sang istri tercinta yang tengah kembali melamun.
“Masih memikirkan tadi malam?” tanya Raymond dengan raut wajah yang sendu.
“Entah aku pun tak tahu apa yang telah terjadi denganku!” jawabnya dengan perasaan dan pikiran yang berkecamuk. “A .... ku .... A ....”
Sebelum meneruskan perkataan yang akan ia lontarkan itu. Raymond sang suaminya itu pun dengan sigap merengkuh tubuh sang istri tercinta ke dalam pelukannya untuk bisa membaui harum wangi maskulin yang ada di tubuhnya agar membuat sang istri merasa nyaman di dalam rengkuhan tubuhnya itu.
“Sudah ya jangan di teruskan lagi. Aku enggak sanggup lagi melihatmu melamun terus,” hibur Raymond pada sang istri tercinta dengan menahan sesak di dada. “Apa pun yang terjadi aku tak akan pernah berpaling darimu. Karena kamu adalah cinta pertama dan terakhirku. Dan aku akan tetap mencintaimu dengan segala yang ada pada dirimu.”
Ucapnya dengan tulus. Karena di hatinya sampai ia mati pun hanya Siska yang akan selalu ada dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Tak lama kemudian tibalah ia mendapat panggilan dari sang dokter kandungan yang akan memeriksanya. Setelah pemeriksaan selesai dilakukan mereka pun memutuskan untuk segera beranjak dari rumah sakit tersebut. Karena sebelumnya ia telah berjanji pada putra sulungnya tercinta untuk mengajaknya ke sebuah taman bermain.
“Syukurlah sayang mereka baik-baik saja. Aku sangat sempat takut tadi. Kamu juga selalu membuatku jantungan,” ujarnya dengan mengusap perut buncit sang istri tercinta. “Terima kasih juga sayang atas hadiah terbesar yang tak akan pernah aku dapatkan dari seorang wanita mana pun selain hanya pada dirimu seorang yang aku cinta dengan segenap jiwa dan ragaku.”
Ungkapnya dengan penuh cinta dan kini mereka berdua pun tengah berada di luar ruangan setelah selesai pemeriksaan kandungan sang istri tercinta. Hal tersebut lantas membuat Raymond merasa bersyukur menjadi seorang ayah dari ke empat anaknya merasa sangat bahagia.
“Sayang enggak apa kan kalau aku tinggal sebentar untuk menebus obat dan vitamin milikmu?” tanya Raymond.
“Sudah sana pergilah. Aku akan menunggumu di sini,” usirnya dengan ketus.
“Sayang ...” panggilnya pada sang istri yang mana langsung mendapat tatapan tajam dari sang istri tercinta.
Dengan melangkah kakinya ia pun terpaksa meninggalkan sang istri tercinta untuk menebus obat dan vitamin yang di resepkan oleh dokter kandungan untuk kesehatan ibu dan kandungannya.
Sambil menunggu panggilan di apotik tersebut. Terdengar deringan panggilan masuk dari ponsel pintarnya. Ia mengumpat saat melihat sebuah nama yang tertera dalam ponsel pintarnya.
Dengan malas ia pun mengangkat panggilan tersebut dan memberinya penegasan bahwa ia sangat tak suka waktunya berduaan dengan sang istri tercinta terganggu dengan hal yang menurutnya tak penting itu.
“Apa kau sudah bosan bekerja denganku!” ucapnya to the poin.
“Permisi tuan maaf mengganggu waktunya. Bukankah hari ini anda memimpin rapat dengan rekan kolega tuan,” tanya seseorang di seberang dengan nada suara yang di lembut kan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
⍣⃝𝐦𝐫.𝐚𝐮𝐥𝐢𝐚𝐧এ⑅⃝ⁿᶦⁿᵃ
loh bukan nya cuma diantar sama papa nya aja..ko tetiba mencium pipi kedua orang tua nya
2022-12-18
0
lidia
ok lnjutt
2022-02-23
0
☠ᵏᵋᶜᶟ🔵🍾⃝ͩ⏤͟͟͞RᴇᷞᴛͧɴᷠᴏͣW⃠🦈
Marista kayaknya uda pengen di pecat jd sekretaris tuuuuh
uda deeeh pecat aja tuh orng
2021-09-26
0