Raymond pun memicingkan matanya tak kala melihat seorang anak yang tersesat dengan berseragam sekolah lain itu sembari menahan rasa takut akibat dari tatapan mata para makhluk tak kasat mata.
Kemudian ia pun mengajak putranya untuk mendekati anak lelaki tersebut seraya mempertanyakan dari mana ia bersekolah.
“Boy,” panggil Raymond. “Kamu lihat yang ada di sana tidak?”
Leonard pun hanya mengangguk pertanda bahwa sedari tadi ia pun juga melihat anak lelaki yang seusia dengannya tengah menahan rasa takut.
“Bagaimana kalau aku saja yang menghampirinya. Apa papa tak keberatan?” tawar Leonard seraya bertanya pada sang papa.
“Tidak sayang ... Temuilah dan tanyakan kepadanya apa yang sedang di takuti olehnya,” jawab Raymond seraya memberi Leonard perintah.
Tanpa di perintah oleh Raymond akhirnya Leonard pun menghampirinya yang sedang ketakutan dengan berjalan santai sembari memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana seragam sekolahnya.
Namun ia merasa ada yang sedang tidak beres dengan anak lelaki seusianya tersebut.
Ia pun mulai menebak apakah anak lelaki itu memiliki sebuah kelebihan seperti mamanya yang memang terlahir sebagai orang yang istimewa.
‘Tak mungkin dia seperti mama, kalau pun begitu berarti ketakutannya itu pasti ia telah melihat sesuatu yang tak bisa aku lihat dan aku harus memastikannya sendiri’
Kembali lagi pada anak lelaki seusai Leonard itu pun makin di buat ketakutan setelah ia menyadari bahwa ia telah terpisah dari rombongan sekolahnya seraya menahan air mata yang mulai berkaca-kaca itu.
Hingga kemudian tepukan halus mengunyah pundaknya, keringat dingin berkucur dengan mengalir deras, sambil berkomat-kamit bibir mulutnya tersebut berdoa untuk di selamatkan dari para makhluk tak kasat mata itu.
“Tidak ... Pergi jangan mendekatiku, aku tak mau melihatmu! Kau sangat menakutkan, jangan pernah menggangguku. Karena aku ...” cicitnya dengan halus seraya mengusir makhluk itu yang ternyata tepukan halus tersebut berasal dari Leonard.
“Aku apa?” potong Leonard sambil terkekeh geli dengan seorang anak lelaki di sampingnya itu ternyata menganggapnya sebagai hantu.
Ketakutannya sedikit mereda lantarkan tepukan di bahunya itu merupakan tepukan dari Leonard yang sengaja ingin mengobrol dan memastikan sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
“Siapa kau?” tanya anak lelaki itu yang bernama Theo pada Leonard. “Jangan terlalu mendekat.”
“Kenapa?” beo Leonard. “Aku kan hanya ingin menyapamu.”
“Aku Leonard.” Menjawab ucapan pertanyaan yang diberikan oleh Theo tersebut. “Kau sendiri siapa? Mengapa bisa sendirian berada di sini sambil menangis?” tanya Leonard balik pada Theo.
“Aku terpisah dengan rombongan dari sekolahku, makanya aku menangis seperti ini dan juga kau bisa memanggilku Theo,” ucap Theo dengan sengaja berbohong untuk menutupi bahwa ia seorang indigo.
Mendengar hal tersebut membuat Leonard semakin mencurigai anak lelaki itu, bahwa ia memang sengaja berbohong untuk menutupi semua rasa takutnya pada orang lain.
Leonard pun bertekad akan tetap menyelidiki apa yang sedang di takutkan oleh Theo tersebut dengan terus mendesaknya untuk memberikan sebuah jawaban yang mampu membuatnya merasa puas.
“Aku ingin bertanya padamu?” ucap Leonard dengan serius. “Apa kau bisa melihat hantu?” tanya Leonard pada Theo tanpa berbasa-basi.
Deg---Tubuhnya menegang saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari orang baru saja di kenal olehnya.
“Ka---u dari mana tahu hal ini?” jawab Theo dengan terbata-bata akibat pertanyaan yang langsung ia dapat dari Leonard itu. “Bahwa aku bisa melihat mereka?”
Tebakan Leonard pun tak salah, secara jelas bahwa orang sedang ia datangi itu memanglah seorang yang sangat istimewa seperti sang mama tercinta.
Dengan senyumnya yang manis tersebut Leonard pun akhirnya bisa mempunyai teman untuk sekedar bertanya tentang kelebihan yang di punyai oleh Theo itu.
“Oh itu aku bisa melihat dengan jelas di sorotan tatapan matamu,” ucap Leonard. “Tapi mengapa kau selalu takut dengan mereka?” tanyanya pada Theo.
“Maaf ... Kalau sampai saat ini aku masih terlalu takut melihat mereka tiap kali pergi ke mana pun,” jawab Theo.
“Bukankah mereka juga tak pernah mengganggu dan mengusik kita!” ujar Leonard.
“Ya kau benar,” sahut Theo. “Meski pun mereka tak mengusik, akan tetapi aku tetap merasa takut setiap bertemu dengan mereka. Dan juga hanya aku yang memiliki kelebihan ini.”
Sembari menyimak cerita dari Theo, Leonard pun mulai sedikit memahami bahwa keistimewaan yang di punya oleh Theo itu pastinya berasal dari keluarga, entah itu keluarga pihak orang tua Theo.
Bahkan Leonard pun menyadari bahwa adik kembar mereka yang masih berada di dalam perut mamanya tersebut, nantinya mereka akan terlahir sebagai anak yang istimewa.
Dan karena itu Leonard pun sengaja mendekati Theo bukanlah untuk memanfaatkannya, akan tetapi akan ia ajarkan untuk menghadapi kenyataan bahwa kelebihan yang di punyai olehnya tak perlu di bebankan di benak Theo itu.
“Apa kau mau tahu suatu hal?” tanya Leonard sembari menawarkan pada Theo.
“Maksudmu apa? Aku pun tak mengerti dengan perkataanmu itu!”
“Aku hanya ingin menawarkanmu suatu hal, mau mendengarkan apa yang ingin aku ceritakan padamu?” ucap Leonard dengan serius. “Mamaku juga sama sepertimu yang bisa melihat hantu.”
Bola mata Theo membulat tak kala mendengar bahwa ada orang yang bisa memiliki kelebihan seperti dirinya.
“Mama kau juga bisa melihat hantu?” tanya Theo.
“Iya!” jawab Leonard. “Jadi untuk apa kamu takut dengan para hantu itu, justru yang ada kamu akan di manfaatkan oleh hantu lain yang lebih jahat, dari yang saat ini kau lihat ada di sekitar sini!” peringat Leonard dengan serius.
“Tapi aku harus bagaimana? Setiap melihat mereka rasanya bulu kudukku selalu berdiri,” sahut Theo dengan tatapan yang sendu.
“Aku tak terlalu menahu dengan apa yang kau punya itu, akan tetapi aku hanya bisa memberimu nasihat untukmu, agar ke depannya kau harus selalu berhati-hati jika melihat salah satu di antara mereka.”
“Terima kasih banyak sudah mau menghiburku,” ucap Theo mulai sedikit tenang setelah mendengar penjelasan dari Leonard. “Ngomong-ngomong kau sendiri ke sini dengan siapa?” tanya Theo.
“Oh itu aku ke sini tidak sendiri,” jawab Leonard. “Aku ke sini dengan papa dan mamaku untuk menghabiskan waktu bermain denganku, itu papaku ada di sana,” sahut Leonard seraya menunjuk ke arah sang papa yang sedang berjalan menghampirinya dengan Theo.
“Papa,” teriak Leonard dengan melambaikan tangan ke arah sang papa yang sedang menghampirinya. “Ke sini dulu pa.”
Setelah Raymond menghampiri putranya seraya memberi kecupan singkat di kedua pipi putranya yang membuat Leonard mengerucut kesal.
“Papa,” Memprotes sang papa yang mengecup pipinya dan hal tersebut di depan teman yang baru saja ia kenal. “Jangan suka mencuri ciumanku di tengah keramaian, karena aku sangat tak menyukainya,” rengeknya dengan bibir yang cemberut itu.
Tak tahan menahan tawa untuk tidak menertawai putranya, ia pun tertawa terpingkal-pingkal saat putranya merengek dengan bibir yang mengerucut itu.
“Hai boy,” sapa Raymond dengan menormalkan ekspresinya akibat tak kuasa menahan tawanya itu. “Maaf ya Boy! Papa itu enggak enak kalau tidak mencium kedua pipimu yang gembul itu,” Sahutnya dengan usil seraya memohon maaf pada putranya.
“Kenapa papa suka sekali mengusiliku,” sahut Leonard dengan bersungut-sungut.
“Sudahlah Boy jangan cemberut begitu,” ucap Raymond. “Apa kamu tidak malu dengan teman yang ada di sampingmu itu hem?”
“Habisnya papa nakal,” gerutu Leonard. “Oh iya papa ternyata dia terpisah dari rombongan sekolahnya, apa papa mau membantuku untuk mencarikan informasi sekolah mana yang sedang ada kegiatan di sini?” tanya Leonard dengan serius.
“Tapi Boy!”
“Tapi apa papa? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku!” todong Leonard dengan cepat.
“Begini boy,” ujar sang papa seraya memperhatikan penampilan seorang anak lelaki yang berdiri di sebelah putranya itu. “Kamu antar temanmu itu ke kamar mandi, untuk mengganti celana seragam sekolahnya yang masih agak basah, tadi papamu ini sempat mencium bau pesing yang berasal dari celana seragamnya.”
Bisik Raymond dengan pelan tanpa menyinggung perasaan dari seorang anak lelaki tersebut.
Tanpa banyak bicara Leonard pun menarik lengan anak lelaki itu dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti celana seragam sekolah yang basah akibat air kencing yang mengalir dengan sendirinya akibat ketakutannya pada makhluk tak kasat mata yang di sebut hantu.
Dan setelah itu akhirnya baik Theo maupun Leonard berteman dengan baik sejak pertemuan yang tak terduga.
Setelah Theo bertemu dengan Leonard, ia pun mulai berjanji pada diri sendirinya untuk melawan rasa takut yang selalu menghinggapinya.
Nasihat dari Leonard itu akan selalu ia ingat sampai kapan pun bahwa ia sebagai seorang yang terlahir .....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
next
2021-11-21
0
Ri¢@🍇
ponakanku jg bisa lihat kayak gituan...hii...serem ihhh
2021-09-27
0
☠ᵏᵋᶜᶟ🔵🍾⃝ͩ⏤͟͟͞RᴇᷞᴛͧɴᷠᴏͣW⃠🦈
ayoooo Theo....kamu pasti bs
2021-09-27
0