“Santai saja tak perlu berterima kasih padaku ... Cukuplah bekerja dengan baik di perusahaan ini. Dan juga ingat selalu jangan terlalu memforsir pekerjaan jika waktunya istirahat segera mengistirahatkan diri baru lanjut bekerja kembali. Aku mengatakan ini bukan karena aku memanfaatkan jabatan suamiku akan tetapi aku berdiri di sini bentuk tanda rasa kasih sayangku pada kalian semua.”
Ungkapan kata yang terlontar dari bibir Siska pada beberapa orang karyawan yang sedang di ajak mengobrol oleh dirinya.
“Dan juga jangan kalian mau di suruh ini itu sama dia,” candanya dengan menunjuk arah Sean yang sedang menatapnya dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Beberapa orang karyawan tersebut di buat berkaca-kaca setelah mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut nyonya mereka tersebut.
“Nyonya sekali lagi terima kasih banyak atas kebaikan dan ketulusan Anda. Kami berjanji akan mendedikasikan diri kami untuk tetap terus memajukan perusahaan ini,” sahut karyawan lainnya sembari menangis terharu.
“Sudah-sudah jangan menangis terharu karenaku oke ... Lebih baik kalian istirahat terlebih dahulu ini sudah waktunya kalian untuk mengisi tenaga kembali. Jika ada yang ingin beribadah silakan kalian juga harus selalu tetap ingat yang di atas serta bersyukurlah segala nikmat yang telah di beri oleh tuhan. Jangan merasa menjadi orang yang baik karena tak ada manusia yang baik terkadang tuhan memberi kita cobaan itu menunjukkan bahwa ia sayang dengan kita.”
Ucap Siska sembari beranjak meninggalkan tempat yang sedang di singgah olehnya menuju ruangan pribadi suaminya tercinta dengan beberapa orang karyawan yang tercengang dengan kata mutiara yang terlontar dari mulutnya tersebut.
Entah mengapa bagi Sean itu sendiri pun di buat tercengang oleh perkataan dari nyonyanya tersebut. Seolah-oleh memberikan pertanda yang menjadi tanda tanya dalam benak Sena itu sendiri namun ia pun menepiskan hal tersebut untuk tak terlalu memusingkan perkataan dari istri sahabatnya tersebut.
Namun tanpa Sean sadari sendiri bahwa sesungguhnya apa yang di alami oleh Siska istri sahabatnya itu sendiri sudah menjadi tanda garis takdir yang telah di gariskan untuknya.
Kembali pada dua orang yang berjalan beriringan menuju ruangan pribadi milik Raymond tersebut dengan keheningan di antara mereka yang mana masing-masing mengunci mulut tanpa berusaha bersuara kembali.
Hingga beberapa menit kemudian keduanya memasuki sebuah lift dan di dalam lift tersebut Siska pun berusaha mencairkan suasana dengan mengajaknya mengobrol.
“Ada apa denganmu Se?” tanya Siska.
Yang mana saat ini keduanya tengah berada dalam sebuah lift khusus yang memang tersedia hanya orang tertentu yang dapat menggunakannya.
“Tak ada nyonya,” jawab Sean dengan raut wajah yang sulit di artikan.
“Kenapa kau masih memanggilku nyonya Se?” tanya Siska kembali. “Bukankah sudah aku pernah katakan padamu jika dengan hanya berdua begini jangan memanggilku seperti itu aku sangat tak suka dengan panggilan itu.”
Perintahnya dengan tegas serta jangan lupakan sorotan matanya yang begitu dingin.
“Oh iya Se aku ingin bertanya suatu hal boleh?”
Tanpa merasa canggung lagi Sean pun memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari istri Raymond sahabatnya itu.
“Apa yang ingin kau tanyakan padaku Ka?” jawab Sean sembari bertanya balik.
“Begini Se ... Apakah di kantor suamiku ini ada seorang wanita yang selalu berusaha menarik perhatian suamiku?” ucap Siska to the poin.
Tubuh Sean menegang mana kala mendengar ucapan yang terlontar dari istri sahabatnya tersebut.
“Ka ... Dari mana kau tahu tentang hal ini?” tanya Sean.
Bukannya menjawab justru Siska bertanya balik pada orang yang sedang berdiri di sampingnya. “Apa kau sudah melupakan semua tentang rahasiaku hem!”
“Maaf!”
Sudut bibir Siska berkedut saat mendengar permintaan maaf dari asisten pribadi suaminya.
“Baiklah tak usah di permasalahkan untuk ini,” ucap Siska. “Dan juga aku ingin meminta suatu hal padamu Se,” pintanya dengan raut wajah yang terlihat serius.
“Apa yang ingin kau pinta dariku Ka?”
Bukan menjawabnya sebaliknya Siska pun dengan gamblang menyatakan suatu hal pada Sean. “Apa kau mau berjanji padaku sebagai orang yang selalu di percayai oleh suamiku Se?”
“Ka aku dengan suamimu sudah bersahabat lama jadi jangan pernah meragukan kesetiaan yang di miliki olehku,” ungkap Sean dengan nada yang kesal.
Bisa-bisanya Siska istri sahabatnya tersebut meragukan kesetiaan yang selama ini selalu ia tekankan bahwa tak pernah mengkhianati sahabatnya tersebut.
“Sudahlah Se ... Kau itu tak usah kesal begitu,” ejek Siska. “Aku tak pernah sedikit pun meragukanmu Se! Hanya saja aku cuma mengetesmu.”
“Lalu apa maksudmu yang ingin kau katakan padaku tentang permintaanmu itu?” tanya Sean.
Menghembuskan nafas gusarnya Siska pun mulai menjelaskan pada Sean tentang permintaan yang memang akan ia katakan sebagai tanda bahwa Siska sendiri pun ingin ada seseorang yang melindungi dan menjaga putra sulungnya serta suami tercinta mana kala saat ia sudah tak bernafas lagi di dunia.
“Pintaku tak banyak padamu Se! Yang aku inginkan adalah jagalah dan lindungi putra sulungku di mana pun dia berpijak serta tak lupa kau juga harus melindungi sahabatmu itu,” ujar Siska dengan nada yang bergetar sembari menahan sesak di dada.
Deg---Seketika jantung Sean serasa di tikam setelah mendengar perkataan yang terlontar dari istri sahabatnya tersebut.
Seakan-akan ia merasa bahwa apa yang di lontarkan oleh Siska itu pun menunjukkan sebuah tanda kemungkinan besar apa yang di alami oleh Siska istri sahabatnya merupakan garis takdir yang di peruntukkan oleh istri sahabatnya tersebut.
“Mengapa perkataannya justru seolah-olah menjadi pertanda!” batin Sean bermonolog.
Lalu dengan penasaran Sean pun bertanya kembali pada Siska tentang permintaan dari ibu empat anak tersebut. “Apakah kau ingin aku menjaga dan melindungi Leonard ini untukmu begitu Ka?”
“Ya ... Dan juga aku ingin kau selalu mengawasi keadaan mereka saat aku tak lagi berada di sisinya.”
Setelah mengatakan itu pintu lift tersebut terbuka menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai tempat ruangan kerja milik Raymond.
“Baiklah Se ... Hanya itu permintaanku darimu dan juga tolong rahasiakan hal ini pada suamiku,” ungkap Siska. “Apa kau bisa melakukannya?”
“Oke aku akan menjaga rahasia ini dari suamimu hanya untukmu,” sahut Sean seraya berjanji untuk menjaga rahasia ini dari sahabatnya sendiri.
“Ya sudah Se kalau begitu aku langsung ke ruangannya sendiri,” pamit Siska. “Kau juga jangan terlalu bekerja banyak sekarang istirahatkan otakmu terlebih dahulu.”
Sean pun tersenyum kecut setelah mendengar nada ejekan yang terlontar dari istri sahabatnya tersebut.
Yang mana saat ini ia hanya bisa menatap punggung yang tengah berjalan ke arah ruangan tersebut dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Setelah itu Sean pun beranjak dari ruangan pribadi miliknya yang tak jauh dari tempat ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 210 Episodes
Comments
Chacha
ya Alloh merinding gw dengerin x🥺🥺
2022-04-16
0
El_Tien
aku mampir kakak, makasih udah dukung hari ini
salam literasi
2022-01-03
0
☠ᵏᵋᶜᶟ🔵🍾⃝ͩ⏤͟͟͞RᴇᷞᴛͧɴᷠᴏͣW⃠🦈
huuuuuaaaa Siska uda ksh amanah pd Sean
apakah Siska uda hampir tiba ajalnya ???
😭😭😭😭😭😭
2021-09-27
1