"Dasar bodoh. Kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak membalas perkataannya?"
Nindy hanya menunduk, tak mampu berucap sepatah kata. Perkataannya tertahan di kerongkongan, hingga bulir bening itu menetes di sudut mata.
"Mengapa kau hanya bisa cerewet denganku? Mengapa kau diam saja ketika mereka menghinamu?" Lelaki itu kembali bertanya dengan menunjukkan wajah kesal.
Dia mendapat laporan dari asisten Lie ketika sedang melakukan rapat penting di perusahaan utama. Keributan yang terjadi di tempat wisata itu membuat perhatian semua orang terpusat di sana.
Tanpa melanjutkan rapat yang ada, Yang Pou Han segera beranjak dari kursi putarnya, meninggalkan ruangan gelap itu bersamaan tatapan heran semua orang kepadanya. Mengambil kendali, asisten Lie Am melanjutkan rapat yang ditinggalkan Yang Pou Han.
Butuh waktu satu jam perjalanan untuk bisa mencapai tempat wisata itu. Yang sempat mengumpat ketika beberapa kali terjebak macet di pertengahan jalan. Bayangan Nindy diteror banyak orang dengan wajah menyedihkan berputar di kepalanya membuat dia semakin gelisah.
Seharusnya dia tidak perlu secemas itu. Nindy hanyalah orang luar yang kebetulan terjebak hubungan aneh dengannya. Namun, hatinya seolah tak terima ketika mendengar orang lain menghina gadis itu secara terang-terangan di depan khalayak ramai.
Kendati dirinya sering menghina Nindy, tetapi Yang merasa tidak suka jika orang lain ikut menghina gadis itu. Cukup dia seorang yang bisa menghina Nindy, sementara yang lain tidak diperbolehkan.
Dengan kecepatan maksimal dia melajukan mobilnya ketika kemacetan sudah mulai terurai. Dalam benaknya, dia ingin segera membawa Nindy pulang. Menghindarkan gadis itu dari tatapan mencemooh orang-orang yang memandang rendah dirinya.
Hingga sampailah Yang Pou Han berada di area "The Miracle Ocean Garden". Dia memarkirkan mobilnya secara asal. Membuka pintu mobil, dia berlari kemudian. Mencari Nindy di tempat di mana dia ditugaskan.
Kerumunan massa itu sudah bubar, dengan satu orang perempuan pembawa masalah yang diperintahkan oleh Yang Pou Han untuk menahannya. Dia tidak peduli, karena sampai saat itu, Nindy tak berhasil ia temukan.
Lelaki itu hanya mendapat informasi jika Nindy berlari setelah mendorong wanita yang telah menghinanya. Hingga rekamam kamera CCTV diputar dengan banyak anak buah dikerahkan untuk melototi tayangan video di layar itu, Yang Pou Han akhirnya mengetahui jika Nindy keluar dari area tempat wisata.
Dia mendesah kasar, berlari kembali ke mobilnya untuk mencari Nindy seorang diri. Dia melajukan mobilnya perlahan. Dia yakin jika Nindy tak mampu untuk berlari jauh dari area tempat wisata. Gadis itu mungkin sedang ingin bersembunyi dari tatapan tajam dan mencemooh orang-orang di sekitarnya.
Dan sampailah Yang Pou Han melihat gadis itu sedang duduk di trotoar sembari memeluk kakinya sendiri, menenggelamkan wajahnya di antara lutut dan tubuh.
Dia menghela napas lega kemudian. Entah mengapa dia seperti kehilangan orang yang berharga ketika tak menemukan gadis aneh itu di depan matanya. Seolah ada yang kurang, dan hal itu sampai sekarang tidak bisa diketahui alasannya oleh Yang Pou Han.
Berlari seperti orang gila. Menerobos kemacetan dengan beberapa kali mengumpat karena terlalu panik. Dan itu semua dia lakukan hanya karena ingin membawa pulang Nindy. Yang tersenyum bodoh. Menertawai tingkah aneh yang tak ia sadari selama mencari gadis ajaib itu.
Dan kini, di depannya. Nindy nampak tak berdaya dengan menahan segala rasa sakit di dada. Hal itu membuat Yang Pou Han tak bisa menerima sikap menyerahnya begitu saja.
Nindy menoleh ke arah Yang Pou Han, menatap lelaki itu dengan penuh tanda tanya. "Jadi, kau sudah tahu siapa aku?" Menyeka air mata dengan ujung ibu jarinya, Nindy melanjutkan kalimatnya. "Mengapa kau masih mau melanjutkan pernikahan ini? Bukankah aku hanya akan mempermalukanmu saja nantinya?"
Lelaki itu terlihat menyandarkan kepala di sandaran sofa, mengabaikan tatapan penuh tuntutan di mata Nindy. Sampai dia menghela napas lelah seraya mengatakan, "Karena aku ingin. Dan aku tidak memiliki alasan yang pasti kenapa aku ingin melakukannya. Kau tidak perlu tahu alasan itu, karena aku sendiri tidak ingin mengetahuinya."
Jawaban apa itu?
Dia memutuskan menikahi seorang wanita, tetapi tidak tahu alasan yang mendasari keinginannya untuk melaksanakan pernikahan itu.
Nindy merasa cara berpikir orang kaya sangat aneh. Apakah semua orang kaya seperti itu, atau hanya Yang Pou Han saja memiliki cara berpikir yang unik.
Kendati ingin bertanya, Nindy justru menyunggingkan senyum di bibirnya yang terluka, menciptakan rasa perih yang mendera. Hingga ia sedikit mendesis ketika rasa perih itu terasa semakin menyiksa.
"Tidurlah! Aku tidak akan mengganggumu lagi."
Yang Pou Han akhirnya beranjak dari duduknya, berdiri lalu pergi memasuki kamarnya.
Dia menutup pintu kamarnya segera, lalu bersandar di belakangnya. Tangannya menyentuh dada, seolah ada sesuatu yang asing menelusup tanpa permisi di sana. Perasaan apa ini?
Dan dengan sangat yakin, dia akan menyelesaikan semuanya besok.
*******
Lelaki itu nampak pucat dengan apa yang sedang ia hadapi selanjutnya. Peluh percucuran di pelipis, kendati pendingin ruangan sudah dinyalakan dalam temperatur rendah, tidak membuat tubuhnya merasa sejuk.
Belum pernah dia merasakan segugup itu. Ini adalah kali ke duanya, lelaki itu mengucapkan sebuah janji suci pernikahan. Namun, dengan cara yang berbeda.
Apakah dia mampu melakukannya?
Ini masalah keyakinan, dan selama ini dia merasa tidak mengenal Tuhan dengan baik. Bahkan ketika semuanya telah berada dalam genggamannya, tidak ada seberkas rasa bahagia dalam dirinya.
Entah sudah terlalu lama dia berada di zona abu-abu. Terasa begitu samar dan tidak terlihat hingga ia tak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sampai ketika semua yang ia miliki tak berarti lagi, lantaran sebuah cinta yang selama ini ia puja telah mengkhianatinya dengan kejam, dia memutuskan untuk menyelesaikan semua.
Mungkin, dengan mengikuti jejak temannya, dia bisa mendapatkan kebahagian yang sebenarnya.
Dia nampak berdehem sejenak, ketika sesorang yang mereka sebut sebagai penghulu sudah masuk ke dalam ruang tamu yang sudah disulap sebagai tempat pernikahan.
Dan seorang laki-laki berjenggot putih yang mereka sebut sebagai ulama juga telah diundang oleh Yang Pou Han. Oh, bukan. Lebih tepatnya Sean Paderson yang telah mengatur semuanya. Yang Pou Han hanya mengikuti apa yang lelaki itu katakan karena dia sama sekali tidak memahaminya.
Nindy dan beberapa wanita sudah duduk bersila di balik tabir, yang merupakan penyekat antara tamu laki-laki dan tamu perempuan. Kendati hanya orang terdekat yang hadir, tetap saja mereka dipisah-pisahkan.
Nindy nampak gugup dengan tangan saling terjalin. Apakah Yang Pou Han benar-benar mau mengikuti dirinya? Meskipun Nindy tahu jika lelaki itu sama sekali tak mencintainya, tetapi Nindy masih berharap jika lelaki itu tak mempermainkan pernikahan dan juga keyakinan yang akan dia ikuti.
Hingga genggaman tangan dari seseorang di sisinya membuat Nindy menoleh ke samping. Wanita itu mengangguk sembari tersenyum teduh kepada Nindy. Ya, Salwa yang menemaninya dengan menggenggam tangannya yang sudah berkeringat dingin.
Sampai suara lantang yang terdengar merdu di telinga Nindy, membuat air matanya luruh seketika membasahi pipi.
Sebuah dua kalimat sakral yang bisa mengubah semuanya dalam kehidupan seseorang telah tertangkap dengan indah di indra pendengaran Nindy.
Dia memejamkan mata. Bulir kristal yang sudah terjun bebas dari sudut matanya telah membuktikan bahwa lelaki itu telah serius dengan perkatannya.
"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH "
Dengan lantang dan yakin lelaki itu mengucapkannya. Tiada rasa sesal ataupun keraguan yang tersembunyi dari pengucapan dua kalimat syahadat.
Semua orang mengucap Alhamdulillah secara bersamaan, pun demikian dengan Nindy dan Salwa.
Hati Nindy semakin cemas dan gelisah, ketika acara ijab kabul yang ditunggu-tunggu akan segera dimulai.
Nindy berdiri dari balik tabir, memilih menunggu di dalam kamar. Dia sudah memasrahkan semua yang terjadi kepada Tuhan. Yang Pou Han sudah tahu bagaimana keadaannya. Dia seorang anak yang lahir di luar nikah hanya dinasabkan kepada ibunya, sementara yang akan menikahkannya adalah seorang wali hakim.
Cukup lama Nindy menunggu di dalam kamar. Apakah pernikahannya benar-benar terjadi? Ataukah Yang Pou Han justru ingin membatalkannya?
Nindy tak mampu untuk bertanya atau sekadar mengintip keluar. Ia sudah pasrah dengan semuanya. Apa yang terjadi saat ini, itulah takdir yang sudah digariskan Yang Kuasa untuknya. Nindy hanya berusaha menjalaninya dengan baik tanpa perlu banyak mengeluh.
Dan sampailah suara ketukan di pintu membuat perhatian Nindy teralihkan. Muncullah sosok berhijab dengan senyuman teduh yang selalu bertengger di bibirnya.
Salwa masuk setelah mendapat anggukan oleh Nindy, dia melangkah mendekat ke arah Nindy yang tengah duduk di atas ranjang. Dengan tetap tersenyum, wanita itu mengusap punggung tangan Nindy.
"Selamat, Nindy. Kau sudah resmi menjadi seorang istri."
Nindy menunduk kemudian. Entah mengapa rasanya begitu lega mendengar kabar itu. Padahal sebelumnya dia ingin sekali terlepas dari Yang Pou Han, tetapi saat ini ia malah merasa lega ketika lelaki itu telah resmi menjadi suaminya. Sangat aneh, bukan?
"Ayo, keluarlah! Dia menunggumu."
Nindy tampak ragu ketika beranjak dari duduknya. Apakah ini nyata?
Dia yang seorang putri dari pel@cur telah menikah secara terhormat. Nindy sempat memimpikan ini, tetapi sering sekali ia buang mimpi itu jauh-jauh, karena sulit mencari lelaki yang mau menerima asal-usulnya yang kelam.
Namun, hari ini dia membuktikan jika Tuhan ternyata sangat menyayanginya.
Dia telah menikah. Dan saat ini surganya telah berpindah, yang sebelumnya di bawah telapak kaki ibu kini menjadi berada pada keridhaan suami.
"Mari, Nindy. Yang Pou Han sudah menunggumu," ucap Salwa lagi yang dibalas anggukan oleh Nindy.
Kedua wanita itu keluar dengan Salwa menggandeng lengan Nindy, mengantar gadis itu untuk menemui sang suami. Seorang suami yang baru saja mengucapkan sebuah janji kepada Tuhannya untuk menjadi pelindung, rumah sekaligus penanggung jawab atas seorang istri.
Nindy duduk di samping Yang Pou Han, menundukkan wajahnya tanpa berani menatap. Lelaki itu menoleh dan mengamati wajah seseorang yang telah menjadi istrinya. Nindy nampak anggun dengan balutan gamis berwarna putih, riasan tipis yang selama ini tidak pernah terlihat di wajahnya, kini menambah kesan cantik dan memesona.
Mereka hanya terdiam tanpa kata, hingga ketika tangan Nindy terulur ke arah Yang Pou Han, lelaki itu menyambutnya. Dan hati Yang Pou Han terasa menghangat ketika kening Nindy telah menunduk dan menyentuh punggung tangannya.
Ada sebuah rasa dihormati oleh seorang istri saat tangan mereka bersentuhan. Hingga di saat bibirnya telah dilabuhkan di kening Nindy, hati Yang Pou Han ikut terguncang.
Dia merasa pernikahan yang ia lakukan kali ini, terasa sangat sederhana justru mengulik hatinya yang dingin. Kembali rasa asing itu dengan keras kepala menerobos di relung hatinya yang terdalam, mendekam di sana dan tak ingin segera keluar. Namun, dia tidak mengerti rasa apa itu?
Sampai saat suara ulama yang telah menjadi wali nikah Nindy memberikan sebuah petuah, Yang Pou Han merasakan jika selama ini dia memang gagal menjadi suami. Pantas saja pernikahannya dulu hanya berusia seumur jagung.
"Pernikahan adalah suatu ibadah yang paling mulia dengan seorang laki-laki membuat sebuah perjanjian kepada Tuhan. Karena saat Ijab terucap, Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjian yang dibuat oleh suami di depan Allah ,dengan disaksikan para malaikat dan manusia."
Begitu sakralnya kalimat yang tadinya terucap ringan di bibir Yang Pou Han, ternyata memiliki tanggungan yang sangat berat di hadapan Tuhan.
Ulama itu melanjutkan. "Kalimat 'Saya terima nikahnya si fulan binti si fulan dengan mas kawin berapa juta dollar di bayar tunai'. Singkat, padat dan jelas. Namun, tahukah makna 'perjanjian atau ikrar' tersebut itu tersurat?"
Mereka menunduk, mendengar apa yang disampaikan ulama itu selanjutnya.
"Yang tersirat ialah, maka aku tanggung dosa-dosanya si dia (perempuan yang dijadikan istri) dari ayah dan ibunya. Dosa apa saja yang telah dia lakukan. Dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat."
"Semua yang berhubungan dengan si dia (perempuan yang diadikan istri), aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung. Serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku. Aku juga sadar, sekiranya aku gagal dan aku lepas tangan dalam menunaikan tanggung jawab, maka aku fasik, suami yang dayus. Dan aku tahu bahwa nerakalah tempatku kerana akhirnya istri dan anak-anakku yang akan menarik aku masuk ke dalam neraka jahanam."
"SubhanAllah ... beratnya beban yang ditanggung suami. Bukankah untuk meringankan tanggung jawabnya itu berarti seorang istri harus patuh kepada suami, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya?"
Nindy meremas tangannya sendiri. Dia tidak tahu apa-apa tentang pernikahan. Dan setelah mendengar semua itu, dia berjanji akan menjadi istri yang tidak menyulitkan suami dalam mengemban tanggung jawab di akhirat nanti.
Keduanya saling menatap. Pernikahan tanpa dasar cinta ini justru memiliki nilai yang luar biasa di dalamnya. Dan ketika bibir Nindy mengulas senyum, dia berkata. "Yang, bantu aku menjadi istri yang bisa meringankan tanggung jawabmu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
siti zulifat
terharu....
2023-07-08
1
Sunarty Narty
Masya Allah 🥺🥺🥺🥺terharu
2022-10-24
0
Qiza Khumaeroh
masyaAllah bgitulh rumah tangga ada peran yg hrus ditanggung bersma2
2022-04-21
0