19. Malam Menyebalkan

Note : Maaf jika part ini, ngeselin 🙈

Pernikahan sederhana itu telah usai. Semua berjalan lancar dan khidmat tanpa ada gangguan yang berarti. Hingga tamu-tamu penting telah pulang ke kediaman masing-masing membuat rumah Yang Pou Han kembali sunyi.

Para pelayan telah disibukkan dengan membereskan dekorasi di ruang tamu, membersihkan semua yang nampak kotor hingga rapi kembali.

Ini bukanlah pesta pernikahan, melainkan acara ijab kabul sederhana, tetapi mereka semua terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Bagaimana dengan mempelai?

Di kamar utama, yang kini telah dihias cantik dengan kelopak mawar merah yang berhambur dengan indahnya di atas kamar tidur pengantin, membentuk sebuah hati dengan huruf Y dan N di tengahnya. Begitu kontras dengan dominasi warna putih di setiap bagian ruangan itu.

Tak lupa juga dengan lilin-lilin kecil yang sengaja dinyalakan, menggantikan pendaran lampu yang terasa terlalu terang jika digunakan untuk menyinari di malam pengantin mereka. Ditambah aroma terapi dari sebuah alat elektrik, memancarkan harum maskulin yang langsung terendus di hidung siapa saja yang dengan sengaja masuk ke dalam ruangan itu. Termasuk Nindy.

Gadis itu nampak gugup setelah memasuki ruangan remang-remang itu. Dia menatap ke arah kamar mandi yang mana sudah ada seseorang yang beraktivitas di dalamnya.

Nindy duduk di depan meja rias. Menatap pantulan dirinya di cermin, lalu sedikit demi sedikit menghapus riasan tipis di wajahnya menggunakan micellar water.

Tangannya terlihat gemetar dengan wajah ia tundukkan ketika mendengar suara kenop pintu kamar mandi memutar dari dalam. Dia mencengkram ujung gaunnya, tanpa berani menatap seseorang yang baru keluar dari kamar mandi.

Hidungnya yang memiliki sensor penciuman yang baik, menghirup aroma segar khas sabun pria yang menguar dari tubuh seseorang yang kini berdiri di belakangnya. Dia semakin gugup, terlihat dari kedua tangannya yang saling meremas.

Hingga sebuah tepukan di bahu memaksanya untuk menatap ke arah depan, di mana cermin itu berada.

"Apakah kau ingin mandi?" Dengan tidak tahu malu lelaki itu hanya menggunakan handuk yang dililit di pinggang, membiarkan tubuhnya terekspose tanpa penghalang.

Nindy mengangguk menanggapi. Tak seperti biasanya, gadis itu nampak lebih pendiam. Wajahnya sudah merona meskipun riasan sudah dihapusnya. Dan dia menunduk menyembunyikan rona merah itu dari lelaki yang telah sah menjadi suaminya.

"Aku ... akan mandi."

Dia berdiri, memutar arah. Dengan tetap menunduk dia melangkah, memasuki kamar mandi lalu menutup pintunya dengan cepat. Yang Pou Han sempat menangkap wajah malu-malu Nindy yang terlihat lucu dan menggemaskan. Dia menggeleng kemudian.

Nindy menyandarkan tubuhnya di belakang pintu. Menutup mata seraya mengatur detak jantungnya yang berdetak terlalu cepat, hingga helaan napas itu terdengar berat.

Dia melepas kerudung yang membalut kepalanya juga pakaiannya. Meletakkan di keranjang laundry begitu saja.

Nindy memutar kran shower dengan temperatur hangat, menciptakan uap air yang langsung memburamkan dinding kaca kamar mandi. Dentuman debit air di kepala terasa seperti pijatan refleksi yang menenangkan. Rasa gugup yang sejak tadi dirasakan perlahan terkikis lalu menghilang.

Hingga beberapa menit ia telah menyelesaikan acara mandi itu. Nindy mengambil handuk yang tertata di rak besi yang menempel di dinding. Dan ia baru menyadari satu hal.

Pakaiannya tertinggal di kamar bawah.

Nindy meneguk ludah. Dia begitu ceroboh hingga tak memindahkan atau mengambil barang sepotong pakaian untuk diletakkan di kamar Yang Pou Han. Lalu apa yang harus ia lakukan?

Dia nampak mondar-mandir dengan mengenakan handuk yang membelit sampai batas dada.

Ceroboh-ceroboh.

Dia mengumpat, memaki diri sendiri.

Gadis itu memutar kenop pintu kamar mandi, membuat sedikit celah untuk mengeluarkan kepalanya. Dan dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.

Yang Pou Han tidak ada.

Kesempatan untuk keluar dan mencari pakaian.

Dengan hati-hati, Nindy mengeluarkan tubuhnya yang berbalut handuk putih. Dia yakin hanya seorang diri di kamar itu. Namun, tetap saja dia tak bisa mengambil pakaian di kamar bawah. Di sana masih banyak pelayan yang bekerja.

Hingga netranya terpaku pada lemari besar milik Yang Pou Han. Tidak ada pilihan lain selain meminjam pakaian yang ada di sana.

Dia membuka lemari pakaian itu kemudian. Sedikit berjinjit untuk memeriksa bagian rak paling atas. Masih membolak-balik pakaian, Nindy nampak gelisah karena tidak menemukan pakaian yang pas.

Yang Pou Han baru saja keluar dari ruang kerja yang terhubung dengan kamarnya. Baru saja dia melangkah masuk, netra sipitnya disuguhkan dengan tubuh ramping yang berbalut handuk dengan rambut basah menjuntai hingga sebatas punggung.

Handuk itu terlalu mungil untuk menutupi tubuh seorang perempuan, hingga hanya bisa menutup tepat di bawah *****.

Sebelumnya dia tak ingin menyentuh Nindy. Dia yakin jika gadis itu masih belum siap dengan pernikahan yang mereka lakukan. Apalagi tidak ada cinta di antara mereka. Namun, dia tetap seorang laki-laki. Yang sudah begitu lama tak menyentuh perempuan.

Melihat tubuh yang masih basah, dengan aroma sabun yang terendus di hidung membuat hasratnya tepercik seketika. Dia masih mengenakan handuk yang sama dengan yang dikenakan Nindy. Belum sempat mengganti pakaian karena memeriksa email salah satu client penting perusahaan di komputer yang berada di ruang kerjanya.

Dia nampak menelan ludah, membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa mengering. Hingga tanpa ia sadari, kakinya sudah melangkah dalam senyap dan berhenti tepat di belakang tubuh Nindy.

Aroma sabun itu menguar begitu kuat di tubuh gadis itu, terendus dengan sempurna di indra penciuman Yang Pou Han. Hingga darahnya terasa berdesir seketika, mendorong hormon testosteron terangsang untuk bekerja.

"Apa yang kau cari?"

Sial, suaranya malah terdengar parau ketika menanyai Nindy.

Nindy terkesiap ketika telinganya terasa diterpa hawa panas oleh napas seseorang di belakangnya. Bulu kudunya seakan meremang ketika terpaan itu berpindah ke bahu polosnya.

Tubuhnya menegang, suaranya tertahan tak mampu keluar barang sepatah dua patah.

"Kkk-kapan kau ... masuk?" Suara Nindy terbata, menyadari kehadiran lelaki itu yang tiba-tiba. Tangannya bergerak cepat menutupi bagian dada dengan menyilangkan kedua lengannya.

"Aku tidak ke mana-mana? Apa kau ingin mencuri pakaianku?" Dia sengaja berucap begitu dekat dengan sedikit berbisik di telinga Nindy, membuat semburat warna merah merona di wajah gadis itu. Dia gugup, antara malu juga kesal. Mengapa dia terjebak dalam situasi seperti ini?

"Aku ... pinjam. Aku terlupa membawa pakaianku ke sini. Apakah boleh?"

"Heeeem, kenapa kau gugup?" Suaranya semakin serak, aroma sabun yang Nindy gunakan terasa lebih harum ketika menyatu dengan aroma alami dari tubuh gadis itu, membuatnya tanpa sadar memeluk gadis itu dari belakang.

Nindy menoleh seketika, tersentak dengan pelukan yang tiba-tiba. Namun, Nindy tak sanggup melakukannya. Lelaki itu sudah menahan pergerakan kepala Nindy dengan meletakkan kepalanya di bahu gadis itu.

"Yang ...!" panggil Nindy seketika.

"Tidak perlu mencari pakaian. Kau tidak membutuhkannya. Paling tidak untuk saat ini." Perkataan Yang Pou Han membuat Nindy membulatkan mata. Sesungguhnya dia belum siap. Dia takut, antara malu juga belum terbiasa.

Namun, dia tahu apa kewajiban seorang istri. Hingga gadis itu memilih diam sembari memejamkan mata ketika hidung dan bibir lelaki itu menelusuri bahu serta lehernya. Menciptakan rasa geli bercampur nikmat, menghadirkan pikiran liarnya menuntut untuk lebih tanpa ia sadari. Hingga lelaki itu dengan paksa membalikkan tubuh Nindy menghadap ke arahnya.

Mata Nindy terbuka, tepat di depannya sudah dihadapkan dengan wajah Yang Pou Han. Lelaki itu menatapnya dengan mata sayu, meredup dan berkabut. Hingga tatapan itu menular kepada Nindy.

Detak jantungnya seakan terpacu, memberikan sinyal-sinyal yang tak beraturan yang langsung merambat ke impuls saraf otak, dengan pikiran dan nafsu yang yang mengambil alih kesadaran, mencabik akal serta logika dari peraduannya. Meninggalkan hati yang memunculkan rasa antah-berantah, tak mampu dikenali dan tak sanggup dikendalikan.

Bibir itu nampak sudah siap untuk menerima sentuhannya, terlihat lunak, lembut dan menggemaskan ketika dilihat. Lelaki itu tak ingin membuang waktu.

Dia lebih suka bermain di atas ranjang, menindih dan mengimpit pastilah lebih menyenangkan daripada harus berdiri seperti ini. Hingga ketika hidung mereka saling bersentuhan, lelaki itu tak langsung melandai untuk buru-buru menyentuhkan bibirnya ke bibir Nindy. Dia ingin menggoda gadis itu sejenak, menikmati rona merah yang selama ini ingin ia tahan.

Sampailah ketika hanya sepersekian senti jarak antara bibir keduanya, belum sempat menempel dan saling merasakan. Hanya embusan napas keduanya yang saling menerpa, lelaki itu bersuara. "Apakah kau ingin sekali kucium?"

Sontak perkataan Yang Pou Han membuat Nindy membuka mata. Malu bercampur kesal, bisa-bisanya lelaki itu malah mengatakan hal menjengkelkan di situasi seperti itu. Hingga dengan wajah geram, dia mendorong tubuh Yang Pou Han. Memilih untuk berlari menghindari wajah menyebalkan dari suaminya itu. Menaiki ranjang, Nindy memasukkan tubuhnya ke dalam selimut, membelitnya hingga batas kepala, hingga tidak ada sedikit pun bagian tubuhnya yang terlihat oleh Yang Pou Han.

Terpopuler

Comments

Nani Mulyani Memed

Nani Mulyani Memed

yang pou han suami menyebalkn untuk saat ini

2023-02-22

1

Umaila

Umaila

gila sih yang emang...

2022-10-27

0

Sunarty Narty

Sunarty Narty

dasar yang klu g udh unboxing tu

2022-10-24

0

lihat semua
Episodes
1 01. Awal Pertemuan
2 02. Hukuman
3 03. Menahan Lapar
4 04. Orang Kaya Pelit
5 05. Diusir dari Kontrakan
6 06. Sang Penyelamat
7 07. Kesepakatan Baru
8 08. Surat Perjanjian
9 09. Mencari Alasan
10 10. Sakit Membawa Berkah
11 11. Menyendiri
12 12. Salah Paham
13 Keputusan Yang Adil
14 14. Sudah Diputuskan
15 15. Conferensi Pers
16 16. Saling Bicara
17 17. Penghinaan
18 18. Perjanjian Sakral
19 19. Malam Menyebalkan
20 20. Apakah Sakit?
21 21. Harus Lebih Bersabar
22 22. Pengalaman Pertama
23 23. Makanan Sampah
24 24. Pesta Pernikahan
25 25. Hampir Ternoda
26 26. Akhirnya Terjadi
27 27. Perasaan Asing
28 28. Seperti Medan Magnet
29 29. Panggilan Yang Terabaikan
30 30. Merasa Nyaman
31 31. Ikatan Yang Ternodai
32 32. Menyerah Dengan Perasaan
33 33. Memulai Dari Awal
34 34. Pilihan Yang Sulit
35 35. Mantan Suami Terbaik
36 36. Penampilan Yang Menarik Perhatian
37 37. Cemburu
38 38. Harga Diri Senilai Es Krim
39 39. Perubahan Sikap
40 40. Honeymoon Part 1
41 41. Honeymoon Part 2
42 42. Tidak Sanggup Lagi
43 43. Kematian
44 44. Kau Tak Datang
45 45. Aku Mencintainya
46 46. Menghilangnya Si Pemilik Hati
47 47. Meminta Bantuan
48 48. Jiwa Kesepian
49 49. Ketekadan Jiwa
50 50. Mencari Nindy
51 51. Dia Istriku
52 52. Sakit Demam
53 53. I love You
54 54. Rasa Syukur
55 55. Janji Setia Selamanya
56 Ucapan Terima Kasih Author dan Pengumuman
57 Pemberitahuan
58 56. Kencan Rakyat Jelata
59 57. Lelaki Yang Tak Dikenal
60 58. Berita Gembira
61 59. Rasa Bahagia
62 60. Kenyataan Pahit
63 61. Kehidupan Baru
64 62. Keikhlasan Seorang Ibu
65 63. Wanita Pesakitan
66 64. Dukungan Seorang Terkasih
67 65. Berpacu Dengan Waktu
68 66. Taubatnya Seorang Pendosa
69 67. Kuasa Tuhan
70 68. Pendonor Yang Tak Disangka-Sangka
71 69. Ayah Yang Kejam
72 70. Bahagia Itu Sederhana
73 71. Keluarga Kecil Bahagia
74 72. Malam Istimewa
75 73. Pertemuan Terakhir
76 74. Berkumpulnya Keluarga Besar
77 Promo Kisah Baru.
78 75. Ekstra Chapter 1
79 76. Ekstra Chapter 2
80 77. Ekstra Chapter 3
81 74. Ekstra Chapter 4 ~End~
82 Pengumuman Novel Baru
83 Hallo!
Episodes

Updated 83 Episodes

1
01. Awal Pertemuan
2
02. Hukuman
3
03. Menahan Lapar
4
04. Orang Kaya Pelit
5
05. Diusir dari Kontrakan
6
06. Sang Penyelamat
7
07. Kesepakatan Baru
8
08. Surat Perjanjian
9
09. Mencari Alasan
10
10. Sakit Membawa Berkah
11
11. Menyendiri
12
12. Salah Paham
13
Keputusan Yang Adil
14
14. Sudah Diputuskan
15
15. Conferensi Pers
16
16. Saling Bicara
17
17. Penghinaan
18
18. Perjanjian Sakral
19
19. Malam Menyebalkan
20
20. Apakah Sakit?
21
21. Harus Lebih Bersabar
22
22. Pengalaman Pertama
23
23. Makanan Sampah
24
24. Pesta Pernikahan
25
25. Hampir Ternoda
26
26. Akhirnya Terjadi
27
27. Perasaan Asing
28
28. Seperti Medan Magnet
29
29. Panggilan Yang Terabaikan
30
30. Merasa Nyaman
31
31. Ikatan Yang Ternodai
32
32. Menyerah Dengan Perasaan
33
33. Memulai Dari Awal
34
34. Pilihan Yang Sulit
35
35. Mantan Suami Terbaik
36
36. Penampilan Yang Menarik Perhatian
37
37. Cemburu
38
38. Harga Diri Senilai Es Krim
39
39. Perubahan Sikap
40
40. Honeymoon Part 1
41
41. Honeymoon Part 2
42
42. Tidak Sanggup Lagi
43
43. Kematian
44
44. Kau Tak Datang
45
45. Aku Mencintainya
46
46. Menghilangnya Si Pemilik Hati
47
47. Meminta Bantuan
48
48. Jiwa Kesepian
49
49. Ketekadan Jiwa
50
50. Mencari Nindy
51
51. Dia Istriku
52
52. Sakit Demam
53
53. I love You
54
54. Rasa Syukur
55
55. Janji Setia Selamanya
56
Ucapan Terima Kasih Author dan Pengumuman
57
Pemberitahuan
58
56. Kencan Rakyat Jelata
59
57. Lelaki Yang Tak Dikenal
60
58. Berita Gembira
61
59. Rasa Bahagia
62
60. Kenyataan Pahit
63
61. Kehidupan Baru
64
62. Keikhlasan Seorang Ibu
65
63. Wanita Pesakitan
66
64. Dukungan Seorang Terkasih
67
65. Berpacu Dengan Waktu
68
66. Taubatnya Seorang Pendosa
69
67. Kuasa Tuhan
70
68. Pendonor Yang Tak Disangka-Sangka
71
69. Ayah Yang Kejam
72
70. Bahagia Itu Sederhana
73
71. Keluarga Kecil Bahagia
74
72. Malam Istimewa
75
73. Pertemuan Terakhir
76
74. Berkumpulnya Keluarga Besar
77
Promo Kisah Baru.
78
75. Ekstra Chapter 1
79
76. Ekstra Chapter 2
80
77. Ekstra Chapter 3
81
74. Ekstra Chapter 4 ~End~
82
Pengumuman Novel Baru
83
Hallo!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!