Seperti yang dikatakan oleh Yang Pou Han, sudah banyak awak media yang menunggu di depan pintu masuk "The Miracle Ocean Garden". Entah bagaimana kabar itu bisa begitu cepat tersebar hingga mereka semua berbondong-bondong untuk meliput di area tempat wisata itu.
Lelaki itu tampak biasa saja, berekspresi datar dengan wajah yang menunjukkan ketegasan. Berbeda dengan Nindy, dia memang sering berhadapan dan berbicara di depan kamera, tetapi yang merekam adalah dirinya sendiri atau terkadang meminta bantuan teman, bukan awak media seperti saat ini.
Keringatnya bercucuran, tangan pun ikut gemetar. Dia hanya menunduk dan membiarkan Yang Pou Han yang berbicara.
"Memang benar apa yang kalian dengar. Kami memang tinggal bersama. Karena dalam waktu dekat, kami akan menikah. Apakah ada masalah dengan itu?"
Nindy semakin menunduk dalam. Tak sanggup wajahnya disorot kamera terus-terusan. Tingkat kepercayaan dirinya seketika luntur ketika berhadapan dengan puluhan awak media dengan kamera blitz yang berkali-kali menangkap gambarnya.
"Apakah dia karyawan di sini? Bagaimana kalian bisa saling mengenal? Nona, kau sangat beruntung. Kami sangat penasaran dengan kisah asmara Anda."
Bertambah gugup Nindy mendengar serentetan pertanyaan wartawan, semakin dalam ia menundukkan wajahnya.
"Untuk urusan itu, biar hanya kami saja yang tahu. Saya kira cukup untuk penjelasannya."
"Tuan, apakah Nona Nindy tidak terpaksa menikah dengan Anda? Lihatlah, dia sama sekali tidak tersenyum, dan kalian terlihat sangat jauh. Apakah ini hanya semacam settingan untuk menaikkan pamor "The Miracle Ocean Garden'?"
Yang Pou Han nampak geram dengan pertanyaan itu. Sorot matanya menajam. Dengan tidak tahu malu lelaki itu melingkarkan lengannya di bahu Nindy dan menariknya hingga gadis itu berdiri berdekatan dengannya.
Seketika gadis itu melotot ke arah Yang Pou Han, "Jangan menyentuhku, Yang! Kupukul kau nanti." Nindy berbisik penuh ancaman.
Yang Pou Han hanya tersenyum menanggapi. "Tegakkan kepalamu, tersenyum kepada mereka. Jika tidak, aku akan menciummu di depan semua orang."
"Kau! Dasar otak mesum!"
"Lakukan! Aku tidak main-main dengan ucapanku. Tersenyum kepada mereka atau berciuman di depan umum!"
Nindy meneguk ludah. Benar-benar lelaki itu sudah gila. Dia menegakkan kepala, membuat senyuman terbaiknya di depan semua orang.
"Dia hanya malu. Benarkan, Sayang?"
Nindy hanya mengangguk dengan tetap mempertahankan senyumannya. Lelaki itu menurunkan tangannya yang semula berada di bahu Nindy berubah posisi menjadi ke pinggang.
Nindy menoleh, mendelik ke arah lelaki itu. Namun, perkataan Yang Pou Han selanjutnya membuat dia semakin kesal saja. "Jangan melotot! Kau akan semakin terlihat jelek."
"Jika kau berlebihan, akan kucekik kau nanti!" ancam Nindy yang hanya bisa didengar oleh Yang Pou Han.
"Simpan saja ancamanmu yang tidak berguna itu. Dan tetap tersenyum."
Pertanyaan demi pertanyaan dijawab oleh Yang Pou Han dengan baik. Nindy sudah memasrahkan semua jawaban kepada lelaki itu. Tugas dia hanya tersenyum dan mengangguk, tidak ada yang lain.
Dan sampailah semua drama telah berakhir. Yang menggandeng Nindy untuk segera keluar dari kerumunan wartawan. Bersamaan dengan beberapa bodyguard yang membelah kerumunan untuk memberikan jalan kepada tuannya.
"Kemasi barang-barangmu. Kita pulang sekarang!" perintah Yang Pou Han setelah melepas cekalan tangannya kepada Nindy.
Nindy mengangguk patuh. Sedikit berlari dia menuju area tempat bekerja. Hingga tanpa sengaja dirinya bertabrakan bahu dengan seseorang.
"Zang Nan?" ucap Nindy ketikan melihat bahu siapa yang telah ditabraknya.
Lelaki itu nampak tersenyum sinis ke arah Nindy. Tatapan yang ditunjukkannya berubah kepada gadis itu. "Jadi pekerjaan paruh waktu yang kau maksudkan adalah menjadi simpanan tuan Yang Pou Han? Pantas saja kau selalu menolak ajakanku, karena ternyata kau sudah mendapatkan tangkapan yang lebih besar. Aku salah menilaimu, Nindy." Lelaki itu berlalu setelah mengucapkannya, meninggalkan Nindy yang terlihat masih berusaha mencerna ucapan lelaki itu.
Mata Nindy nampak berembun, menyadari makna tersirat dari perkataan yang terucap dari seorang Zang Nan. "Aku bukan sinpanan, aku wanita baik-baik. Jangan mencelaku seperti itu," ucapnya yang hanya bisa terucap dalam hati karena lelaki itu sudah menghilang dari pandangan.
*********
"Mengapa kau lama sekali?" Yang Pou Han mengalihkan perhatiannya dari gawai kepada Nindy ketika gadis itu sudah masuk ke dalam mobil.
Gadis itu nampak lebih diam dari sebelumnya, sehingga Yang Pou Han merasa sedikit aneh. "Apa yang terjadi? Kau menangis?"
Nindy menggelengkan kepala, menoleh ke arah Yang Pou Han. "Aku bukan simpananmu, 'kan?"
Dia terkekeh seketika. "Aku akan pilih-pilih wanita untuk menjadi simpananku."
"Apa? Jadi maksudmu aku tidak masuk kriteria, begitu?" tanya Nindy dengan wajah kesal.
"Apakah kau ingin menjadi simpananku?"
Dia mendengkus kemudian. "Tentu saja tidak. Aku tidak ingin disebut simpanan."
"Bagus. Sekarang jangan memasang wajah serammu itu. Kau semakin tidak sedap dipandang," ucap Yang sembari mengusap kepala Nindy yang berbalut kerudung itu.
Nindy melotot, mendengar sebutan seram yang ditujukan kepada wajahnya. Namun, Yang Pou Han sama sekali tak menanggapi ekspresi Nindy.
Lelaki itu memilih untuk melajukan mobilnya, pergi meninggalkan area "The Miracle Ocean Garden".
************
"Yang, apakah aku boleh meminjam uangmu?" Nampak keraguan di wajah Nindy ketika mengatakan hal itu.
Mereka sedang melewati area district kota Kowloon yang mana banyak pedagang kaki lima yang sedang menjajakan makanannya. Nampak menggiurkan bagi Nindy yang terbiasa menikmati makanan rakyat seperti itu.
"Aku akan menggantinya jika sudah memiliki uang," imbuh Nindy kemudian.
Lelaki itu memelankan laju kendaraannya, minggir ketepian. Dia mengambil sesuatu di saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah cek kosong kepada Nindy lengkap dengan ballpointnya sekali.
"Tulis berapa yang kau inginkan?" Yang Pou Han merasa Nindy sepertinya sudah mulai memanfaatkan kedekatan mereka. Ya, mungkin gadis itu mulai membuka topeng dan menampakkan wajah aslinya.
Dia menggeleng, mendorong cek kosong itu di depan dashboard mobil. "Aku butuh cash."
Yang Pou Han nampak berdecak. Menatap kesal ke arah gadis berhijab itu. "Apa maumu? Tentu saja aku tidak membawa banyak uang cash."
"Kenapa kau membentak? Aku hanya ingin meminjam uang." Nindy menundukkan wajah. Dia paling tidak suka dibentak, apalagi oleh seorang laki-laki yang setelah ini akan menjadi suaminya.
Lelaki itu menghela napas kemudian, mencoba sedikit bersabar. Apakah dia sudah keterlaluan?
"Berapa yang kau inginkan? Akan kusuruh asisten Lie memberikannya untukmu."
Gadis itu menggeleng lesu. Raut mukanya nampak sedih dan kecewa. "Tidak perlu, aku butuh sekarang. Bukan besok atau nanti."
Netranya terus saja menatap ke depan, di mana banyak kedai kaki lima telah berjajar di kanan dan kiri jalan yang memang khusus digunakan untuk berjualan.
"Kau sangat keras kepala." Lelaki itu merogoh dompet yang ia letakkan di saku celana. Membuka isinya yang masih terselip dua lembar uang ribuan dollar Hongkong dan beberapa lembar ratusan dollar.
"Kau butuh berapa?"
Nindy menoleh mendengar Yang Pou Han menanyainya, menatap uang yang berada di dompet lelaki itu. Tanpa ia sadari senyuman terbit di bibirnya. "Apakah aku boleh mengambilnya sendiri?"
Yang nampak terkejut mendengar permintaan Nindy, tetapi akhirnya diserahkan juga dompet itu kepada wanita tersebut.
"Terima kasih," ucap Nindy seraya mengambil dua lembar ratusan dollar lalu menyerahkan kembali dompet itu kepada Yang Pou Han.
"Tunggu sebentar! Aku akan cepat kembali." Gadis itu keluar kemudian, menutup pintu mobil dengan cepat.
Dilihatnya dia berlari menuju penjual makanan yang ada di samping jalan. Mulai memilih makanan yang dibeli, Nindy terlihat tersenyum dan beberapa kali berbicara dengan penjual makanan tersebut.
Senyum itu menular kepada Yang Pou Han. Lelaki itu mengira Nindy ingin meminta uang banyak kepadanya untuk alasan lain, tetapi justru ia hanya ingin membeli makanan yang dijajakan di tempat itu. Sedikit lelaki itu merasa berdosa kepada Nindy, kerena dia tidak pernah memberikan gaji kepada gadis itu selama bekerja dengannya.
Tanpa ia sadari, Nindy sudah berada di sampingnya dengan membawa beberapa makanan di tangan. "Hai, kau melamun? Kau pasti lapar, bukan? Aku sudah membelikan makanan untukmu juga."
Lelaki itu mengerutkan dahinya, menatap makanan yang disebutkan oleh Nindy. "Aku tidak memakan makanan jalanan. Makan saja sendiri, aku ... hmmm." Belum selesai Yang Pou Han mengucapkan perkataannya, Nindy memasukkan makanan itu ke dalam mulut lelaki itu. "Enak, 'kan?" ucapnya seraya tersenyum kepada Yang Pou Han.
*******
"Kau bilang tidak suka, kau malah menghabiskan semuanya." Nindy mendengkus kesal ketika dia baru kembali dari membeli minuman justru Yang menghabiskan makanannya.
Mereka duduk di salah satu rest area yang berada di dekat kawasan distrik.
"Aku lapar. Siapa yang menyuruhmu membeli sedikit."
"Kau jahat sekali. Aku juga lapar." Wajah Nindy nampak lesu ketika melihat makanan yang dibelinya tandas tak bersisa.
Yang Pou Han menghela napas panjang. Hanya karena makanan saja gadis itu bisa sesedih itu?
Dia berdiri dari duduknya, menarik tangan Nindy hingga gadis itu ikut berdiri. "Ikut aku!"
Beraneka macam makanan dijual di sini. Bagi pecinta street food, berada di kawasan ini merupakan surga bagi mereka. Nindy duduk di salah satu kedai yang tidak terlalu ramai, dengan Yang Pou Han memesankan makanan untuknya.
Nindy tersenyum ketika netranya mengamati bagaimana lelaki itu memesankan makanan sembari menunggu untuk dilayani penjualnya. Ya, dia terlihat manis daripada sedang marah-marah.
Dengan tenang dia menunggu, hingga Yang Pou Han datang dengan membawa satu baki berisi curry fish ball dan dua mangkuk cart noodle dengan toping daging sapi di atasnya. Aroma nikmat yang menggugah selera itu membuat air liur Nindy hampir menetes. Uap air yang masih mengepul di atasnya tertiup angin hingga membuat aromanya menebar ke mana-mana.
"Terima kasih," ucap Nindy seraya memindahkan semangkuk mie pipih itu ke hadapannya.
Dia menengadahkan kedua telapak tangan, berdoa sebentar sebelum menikmati makanan istimewa yang sudah lama sekali tidak ia nikmati.
Tanpa menunggu dipersilakan, Nindy sudah menyuapkan mi itu ke mulutnya. Menikmatinya dengan lahap tanpa memerhatikan sekeliling. Hingga ketika mi pipih berkuah itu tinggal separuh, Nindy baru menyadari jika Yang Pou Han tidak ikut makan. Lelaki itu hanya menopang dagu tanpa menyentuh makanan sedikit pun.
"Kenapa kau tidak makan?"
Dia menaikkan sebelah alisnya, dengan tetap menopang dagu. "Kau yakin cukup hanya satu mangkuk mi?"
Nindy meringis kemudian. Nafsu makannya memang besar, apalagi dia sudah lama tidak memakan ini semua. Namun, dia masih waras dengan tidak memakan jatah orang lain.
"Apakah kau merasa bersalah karena telah menghabiskan makananku sebelumnya? Sudahlah, aku bukan seorang pendendam."
Dia terkekeh, mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Nindy. "Aku hanya tidak ingin berebut makanan dengan seorang wanita. Makanlah, anggap saja ini hadiah sebelum pernikahan."
Tampak gadis itu mengerutkan dahi. Bagaimana dua mangkuk mi bisa dijadikan sebagai hadiah pernikahan. Yang Pou Han benar-benar pelit.
"Sejak kapan semangkuk mi disebut sebagai hadiah pernikahan?" tanyanya Nindy yang terlihat kesal.
"Sejak saat ini. Sejak aku yang mengatakannya." Tanpa tahu malu lelaki itu menjawabnya.
Nindy memutar bola matanya, lalu kembali menikmati mie kuah itu hingga tandas. Matanya menangkap Yang Pou Han yang sedang menatapnya tanpa berkedip. Dia menghentikan kegiatan makannya, mengusap bibir dengan tisu yang tersedia di meja.
"Jangan menatapku seperti itu. Apakah kau tidak takut jatuh cinta kepadaku?"
Pertanyaan Nindy membuat lelaki itu tertawa geli. "Tidak mungkin. Kau jangan berhayal aku akan jatuh cinta dengan gadis aneh sepertimu, ya?"
"Heemm, aku hanya memperingatkanmu saja, ya. Karena sebenarnya, aku memiliki sejuta pesona yang tersembunyi." Nindy berkata sembari menutup sebelah bibirnya dengan tangan seolah sedang berbisik.
Yang terkekeh kemudian. "Baiklah gadis sejuta pesona. Sekarang makan, lalu pulang!" ucapnya sembari menggelengkan kepala.
》Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Ida Kristyati
sýuka ceritanya
2022-04-25
1
Qiza Khumaeroh
yuuhhuuu
2022-04-21
0
Yati Surya
Nindy gadis sejuta pesona bt Yang tunggu waktunya..
2021-10-28
0