15. Conferensi Pers

Seperti yang dikatakan oleh Yang Pou Han, sudah banyak awak media yang menunggu di depan pintu masuk "The Miracle Ocean Garden". Entah bagaimana kabar itu bisa begitu cepat tersebar hingga mereka semua berbondong-bondong untuk meliput di area tempat wisata itu.

Lelaki itu tampak biasa saja, berekspresi datar dengan wajah yang menunjukkan ketegasan. Berbeda dengan Nindy, dia memang sering berhadapan dan berbicara di depan kamera, tetapi yang merekam adalah dirinya sendiri atau terkadang meminta bantuan teman, bukan awak media seperti saat ini.

Keringatnya bercucuran, tangan pun ikut gemetar. Dia hanya menunduk dan membiarkan Yang Pou Han yang berbicara.

"Memang benar apa yang kalian dengar. Kami memang tinggal bersama. Karena dalam waktu dekat, kami akan menikah. Apakah ada masalah dengan itu?"

Nindy semakin menunduk dalam. Tak sanggup wajahnya disorot kamera terus-terusan. Tingkat kepercayaan dirinya seketika luntur ketika berhadapan dengan puluhan awak media dengan kamera blitz yang berkali-kali menangkap gambarnya.

"Apakah dia karyawan di sini? Bagaimana kalian bisa saling mengenal? Nona, kau sangat beruntung. Kami sangat penasaran dengan kisah asmara Anda."

Bertambah gugup Nindy mendengar serentetan pertanyaan wartawan, semakin dalam ia menundukkan wajahnya.

"Untuk urusan itu, biar hanya kami saja yang tahu. Saya kira cukup untuk penjelasannya."

"Tuan, apakah Nona Nindy tidak terpaksa menikah dengan Anda? Lihatlah, dia sama sekali tidak tersenyum, dan kalian terlihat sangat jauh. Apakah ini hanya semacam settingan untuk menaikkan pamor "The Miracle Ocean Garden'?"

Yang Pou Han nampak geram dengan pertanyaan itu. Sorot matanya menajam. Dengan tidak tahu malu lelaki itu melingkarkan lengannya di bahu Nindy dan menariknya hingga gadis itu berdiri berdekatan dengannya.

Seketika gadis itu melotot ke arah Yang Pou Han, "Jangan menyentuhku, Yang! Kupukul kau nanti." Nindy berbisik penuh ancaman.

Yang Pou Han hanya tersenyum menanggapi. "Tegakkan kepalamu, tersenyum kepada mereka. Jika tidak, aku akan menciummu di depan semua orang."

"Kau! Dasar otak mesum!"

"Lakukan! Aku tidak main-main dengan ucapanku. Tersenyum kepada mereka atau berciuman di depan umum!"

Nindy meneguk ludah. Benar-benar lelaki itu sudah gila. Dia menegakkan kepala, membuat senyuman terbaiknya di depan semua orang.

"Dia hanya malu. Benarkan, Sayang?"

Nindy hanya mengangguk dengan tetap mempertahankan senyumannya. Lelaki itu menurunkan tangannya yang semula berada di bahu Nindy berubah posisi menjadi ke pinggang.

Nindy menoleh, mendelik ke arah lelaki itu. Namun, perkataan Yang Pou Han selanjutnya membuat dia semakin kesal saja. "Jangan melotot! Kau akan semakin terlihat jelek."

"Jika kau berlebihan, akan kucekik kau nanti!" ancam Nindy yang hanya bisa didengar oleh Yang Pou Han.

"Simpan saja ancamanmu yang tidak berguna itu. Dan tetap tersenyum."

Pertanyaan demi pertanyaan dijawab oleh Yang Pou Han dengan baik. Nindy sudah memasrahkan semua jawaban kepada lelaki itu. Tugas dia hanya tersenyum dan mengangguk, tidak ada yang lain.

Dan sampailah semua drama telah berakhir. Yang menggandeng Nindy untuk segera keluar dari kerumunan wartawan. Bersamaan dengan beberapa bodyguard yang membelah kerumunan untuk memberikan jalan kepada tuannya.

"Kemasi barang-barangmu. Kita pulang sekarang!" perintah Yang Pou Han setelah melepas cekalan tangannya kepada Nindy.

Nindy mengangguk patuh. Sedikit berlari dia menuju area tempat bekerja. Hingga tanpa sengaja dirinya bertabrakan bahu dengan seseorang.

"Zang Nan?" ucap Nindy ketikan melihat bahu siapa yang telah ditabraknya.

Lelaki itu nampak tersenyum sinis ke arah Nindy. Tatapan yang ditunjukkannya berubah kepada gadis itu. "Jadi pekerjaan paruh waktu yang kau maksudkan adalah menjadi simpanan tuan Yang Pou Han? Pantas saja kau selalu menolak ajakanku, karena ternyata kau sudah mendapatkan tangkapan yang lebih besar. Aku salah menilaimu, Nindy." Lelaki itu berlalu setelah mengucapkannya, meninggalkan Nindy yang terlihat masih berusaha mencerna ucapan lelaki itu.

Mata Nindy nampak berembun, menyadari makna tersirat dari perkataan yang terucap dari seorang Zang Nan. "Aku bukan sinpanan, aku wanita baik-baik. Jangan mencelaku seperti itu," ucapnya yang hanya bisa terucap dalam hati karena lelaki itu sudah menghilang dari pandangan.

*********

"Mengapa kau lama sekali?" Yang Pou Han mengalihkan perhatiannya dari gawai kepada Nindy ketika gadis itu sudah masuk ke dalam mobil.

Gadis itu nampak lebih diam dari sebelumnya, sehingga Yang Pou Han merasa sedikit aneh. "Apa yang terjadi? Kau menangis?"

Nindy menggelengkan kepala, menoleh ke arah Yang Pou Han. "Aku bukan simpananmu, 'kan?"

Dia terkekeh seketika. "Aku akan pilih-pilih wanita untuk menjadi simpananku."

"Apa? Jadi maksudmu aku tidak masuk kriteria, begitu?" tanya Nindy dengan wajah kesal.

"Apakah kau ingin menjadi simpananku?"

Dia mendengkus kemudian. "Tentu saja tidak. Aku tidak ingin disebut simpanan."

"Bagus. Sekarang jangan memasang wajah serammu itu. Kau semakin tidak sedap dipandang," ucap Yang sembari mengusap kepala Nindy yang berbalut kerudung itu.

Nindy melotot, mendengar sebutan seram yang ditujukan kepada wajahnya. Namun, Yang Pou Han sama sekali tak menanggapi ekspresi Nindy.

Lelaki itu memilih untuk melajukan mobilnya, pergi meninggalkan area "The Miracle Ocean Garden".

************

"Yang, apakah aku boleh meminjam uangmu?" Nampak keraguan di wajah Nindy ketika mengatakan hal itu.

Mereka sedang melewati area district kota Kowloon yang mana banyak pedagang kaki lima yang sedang menjajakan makanannya. Nampak menggiurkan bagi Nindy yang terbiasa menikmati makanan rakyat seperti itu.

"Aku akan menggantinya jika sudah memiliki uang," imbuh Nindy kemudian.

Lelaki itu memelankan laju kendaraannya, minggir ketepian. Dia mengambil sesuatu di saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah cek kosong kepada Nindy lengkap dengan ballpointnya sekali.

"Tulis berapa yang kau inginkan?" Yang Pou Han merasa Nindy sepertinya sudah mulai memanfaatkan kedekatan mereka. Ya, mungkin gadis itu mulai membuka topeng dan menampakkan wajah aslinya.

Dia menggeleng, mendorong cek kosong itu di depan dashboard mobil. "Aku butuh cash."

Yang Pou Han nampak berdecak. Menatap kesal ke arah gadis berhijab itu. "Apa maumu? Tentu saja aku tidak membawa banyak uang cash."

"Kenapa kau membentak? Aku hanya ingin meminjam uang." Nindy menundukkan wajah. Dia paling tidak suka dibentak, apalagi oleh seorang laki-laki yang setelah ini akan menjadi suaminya.

Lelaki itu menghela napas kemudian, mencoba sedikit bersabar. Apakah dia sudah keterlaluan?

"Berapa yang kau inginkan? Akan kusuruh asisten Lie memberikannya untukmu."

Gadis itu menggeleng lesu. Raut mukanya nampak sedih dan kecewa. "Tidak perlu, aku butuh sekarang. Bukan besok atau nanti."

Netranya terus saja menatap ke depan, di mana banyak kedai kaki lima telah berjajar di kanan dan kiri jalan yang memang khusus digunakan untuk berjualan.

"Kau sangat keras kepala." Lelaki itu merogoh dompet yang ia letakkan di saku celana. Membuka isinya yang masih terselip dua lembar uang ribuan dollar Hongkong dan beberapa lembar ratusan dollar.

"Kau butuh berapa?"

Nindy menoleh mendengar Yang Pou Han menanyainya, menatap uang yang berada di dompet lelaki itu. Tanpa ia sadari senyuman terbit di bibirnya. "Apakah aku boleh mengambilnya sendiri?"

Yang nampak terkejut mendengar permintaan Nindy, tetapi akhirnya diserahkan juga dompet itu kepada wanita tersebut.

"Terima kasih," ucap Nindy seraya mengambil dua lembar ratusan dollar lalu menyerahkan kembali dompet itu kepada Yang Pou Han.

"Tunggu sebentar! Aku akan cepat kembali." Gadis itu keluar kemudian, menutup pintu mobil dengan cepat.

Dilihatnya dia berlari menuju penjual makanan yang ada di samping jalan. Mulai memilih makanan yang dibeli, Nindy terlihat tersenyum dan beberapa kali berbicara dengan penjual makanan tersebut.

Senyum itu menular kepada Yang Pou Han. Lelaki itu mengira Nindy ingin meminta uang banyak kepadanya untuk alasan lain, tetapi justru ia hanya ingin membeli makanan yang dijajakan di tempat itu. Sedikit lelaki itu merasa berdosa kepada Nindy, kerena dia tidak pernah memberikan gaji kepada gadis itu selama bekerja dengannya.

Tanpa ia sadari, Nindy sudah berada di sampingnya dengan membawa beberapa makanan di tangan. "Hai, kau melamun? Kau pasti lapar, bukan? Aku sudah membelikan makanan untukmu juga."

Lelaki itu mengerutkan dahinya, menatap makanan yang disebutkan oleh Nindy. "Aku tidak memakan makanan jalanan. Makan saja sendiri, aku ... hmmm." Belum selesai Yang Pou Han mengucapkan perkataannya, Nindy memasukkan makanan itu ke dalam mulut lelaki itu. "Enak, 'kan?" ucapnya seraya tersenyum kepada Yang Pou Han.

*******

"Kau bilang tidak suka, kau malah menghabiskan semuanya." Nindy mendengkus kesal ketika dia baru kembali dari membeli minuman justru Yang menghabiskan makanannya.

Mereka duduk di salah satu rest area yang berada di dekat kawasan distrik.

"Aku lapar. Siapa yang menyuruhmu membeli sedikit."

"Kau jahat sekali. Aku juga lapar." Wajah Nindy nampak lesu ketika melihat makanan yang dibelinya tandas tak bersisa.

Yang Pou Han menghela napas panjang. Hanya karena makanan saja gadis itu bisa sesedih itu?

Dia berdiri dari duduknya, menarik tangan Nindy hingga gadis itu ikut berdiri. "Ikut aku!"

Beraneka macam makanan dijual di sini. Bagi pecinta street food, berada di kawasan ini merupakan surga bagi mereka. Nindy duduk di salah satu kedai yang tidak terlalu ramai, dengan Yang Pou Han memesankan makanan untuknya.

Nindy tersenyum ketika netranya mengamati bagaimana lelaki itu memesankan makanan sembari menunggu untuk dilayani penjualnya. Ya, dia terlihat manis daripada sedang marah-marah.

Dengan tenang dia menunggu, hingga Yang Pou Han datang dengan membawa satu baki berisi curry fish ball dan dua mangkuk cart noodle dengan toping daging sapi di atasnya. Aroma nikmat yang menggugah selera itu membuat air liur Nindy hampir menetes. Uap air yang masih mengepul di atasnya tertiup angin hingga membuat aromanya menebar ke mana-mana.

"Terima kasih," ucap Nindy seraya memindahkan semangkuk mie pipih itu ke hadapannya.

Dia menengadahkan kedua telapak tangan, berdoa sebentar sebelum menikmati makanan istimewa yang sudah lama sekali tidak ia nikmati.

Tanpa menunggu dipersilakan, Nindy sudah menyuapkan mi itu ke mulutnya. Menikmatinya dengan lahap tanpa memerhatikan sekeliling. Hingga ketika mi pipih berkuah itu tinggal separuh, Nindy baru menyadari jika Yang Pou Han tidak ikut makan. Lelaki itu hanya menopang dagu tanpa menyentuh makanan sedikit pun.

"Kenapa kau tidak makan?"

Dia menaikkan sebelah alisnya, dengan tetap menopang dagu. "Kau yakin cukup hanya satu mangkuk mi?"

Nindy meringis kemudian. Nafsu makannya memang besar, apalagi dia sudah lama tidak memakan ini semua. Namun, dia masih waras dengan tidak memakan jatah orang lain.

"Apakah kau merasa bersalah karena telah menghabiskan makananku sebelumnya? Sudahlah, aku bukan seorang pendendam."

Dia terkekeh, mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Nindy. "Aku hanya tidak ingin berebut makanan dengan seorang wanita. Makanlah, anggap saja ini hadiah sebelum pernikahan."

Tampak gadis itu mengerutkan dahi. Bagaimana dua mangkuk mi bisa dijadikan sebagai hadiah pernikahan. Yang Pou Han benar-benar pelit.

"Sejak kapan semangkuk mi disebut sebagai hadiah pernikahan?" tanyanya Nindy yang terlihat kesal.

"Sejak saat ini. Sejak aku yang mengatakannya." Tanpa tahu malu lelaki itu menjawabnya.

Nindy memutar bola matanya, lalu kembali menikmati mie kuah itu hingga tandas. Matanya menangkap Yang Pou Han yang sedang menatapnya tanpa berkedip. Dia menghentikan kegiatan makannya, mengusap bibir dengan tisu yang tersedia di meja.

"Jangan menatapku seperti itu. Apakah kau tidak takut jatuh cinta kepadaku?"

Pertanyaan Nindy membuat lelaki itu tertawa geli. "Tidak mungkin. Kau jangan berhayal aku akan jatuh cinta dengan gadis aneh sepertimu, ya?"

"Heemm, aku hanya memperingatkanmu saja, ya. Karena sebenarnya, aku memiliki sejuta pesona yang tersembunyi." Nindy berkata sembari menutup sebelah bibirnya dengan tangan seolah sedang berbisik.

Yang terkekeh kemudian. "Baiklah gadis sejuta pesona. Sekarang makan, lalu pulang!" ucapnya sembari menggelengkan kepala.

》Bersambung....

Terpopuler

Comments

Ida Kristyati

Ida Kristyati

sýuka ceritanya

2022-04-25

1

Qiza Khumaeroh

Qiza Khumaeroh

yuuhhuuu

2022-04-21

0

Yati Surya

Yati Surya

Nindy gadis sejuta pesona bt Yang tunggu waktunya..

2021-10-28

0

lihat semua
Episodes
1 01. Awal Pertemuan
2 02. Hukuman
3 03. Menahan Lapar
4 04. Orang Kaya Pelit
5 05. Diusir dari Kontrakan
6 06. Sang Penyelamat
7 07. Kesepakatan Baru
8 08. Surat Perjanjian
9 09. Mencari Alasan
10 10. Sakit Membawa Berkah
11 11. Menyendiri
12 12. Salah Paham
13 Keputusan Yang Adil
14 14. Sudah Diputuskan
15 15. Conferensi Pers
16 16. Saling Bicara
17 17. Penghinaan
18 18. Perjanjian Sakral
19 19. Malam Menyebalkan
20 20. Apakah Sakit?
21 21. Harus Lebih Bersabar
22 22. Pengalaman Pertama
23 23. Makanan Sampah
24 24. Pesta Pernikahan
25 25. Hampir Ternoda
26 26. Akhirnya Terjadi
27 27. Perasaan Asing
28 28. Seperti Medan Magnet
29 29. Panggilan Yang Terabaikan
30 30. Merasa Nyaman
31 31. Ikatan Yang Ternodai
32 32. Menyerah Dengan Perasaan
33 33. Memulai Dari Awal
34 34. Pilihan Yang Sulit
35 35. Mantan Suami Terbaik
36 36. Penampilan Yang Menarik Perhatian
37 37. Cemburu
38 38. Harga Diri Senilai Es Krim
39 39. Perubahan Sikap
40 40. Honeymoon Part 1
41 41. Honeymoon Part 2
42 42. Tidak Sanggup Lagi
43 43. Kematian
44 44. Kau Tak Datang
45 45. Aku Mencintainya
46 46. Menghilangnya Si Pemilik Hati
47 47. Meminta Bantuan
48 48. Jiwa Kesepian
49 49. Ketekadan Jiwa
50 50. Mencari Nindy
51 51. Dia Istriku
52 52. Sakit Demam
53 53. I love You
54 54. Rasa Syukur
55 55. Janji Setia Selamanya
56 Ucapan Terima Kasih Author dan Pengumuman
57 Pemberitahuan
58 56. Kencan Rakyat Jelata
59 57. Lelaki Yang Tak Dikenal
60 58. Berita Gembira
61 59. Rasa Bahagia
62 60. Kenyataan Pahit
63 61. Kehidupan Baru
64 62. Keikhlasan Seorang Ibu
65 63. Wanita Pesakitan
66 64. Dukungan Seorang Terkasih
67 65. Berpacu Dengan Waktu
68 66. Taubatnya Seorang Pendosa
69 67. Kuasa Tuhan
70 68. Pendonor Yang Tak Disangka-Sangka
71 69. Ayah Yang Kejam
72 70. Bahagia Itu Sederhana
73 71. Keluarga Kecil Bahagia
74 72. Malam Istimewa
75 73. Pertemuan Terakhir
76 74. Berkumpulnya Keluarga Besar
77 Promo Kisah Baru.
78 75. Ekstra Chapter 1
79 76. Ekstra Chapter 2
80 77. Ekstra Chapter 3
81 74. Ekstra Chapter 4 ~End~
82 Pengumuman Novel Baru
83 Hallo!
Episodes

Updated 83 Episodes

1
01. Awal Pertemuan
2
02. Hukuman
3
03. Menahan Lapar
4
04. Orang Kaya Pelit
5
05. Diusir dari Kontrakan
6
06. Sang Penyelamat
7
07. Kesepakatan Baru
8
08. Surat Perjanjian
9
09. Mencari Alasan
10
10. Sakit Membawa Berkah
11
11. Menyendiri
12
12. Salah Paham
13
Keputusan Yang Adil
14
14. Sudah Diputuskan
15
15. Conferensi Pers
16
16. Saling Bicara
17
17. Penghinaan
18
18. Perjanjian Sakral
19
19. Malam Menyebalkan
20
20. Apakah Sakit?
21
21. Harus Lebih Bersabar
22
22. Pengalaman Pertama
23
23. Makanan Sampah
24
24. Pesta Pernikahan
25
25. Hampir Ternoda
26
26. Akhirnya Terjadi
27
27. Perasaan Asing
28
28. Seperti Medan Magnet
29
29. Panggilan Yang Terabaikan
30
30. Merasa Nyaman
31
31. Ikatan Yang Ternodai
32
32. Menyerah Dengan Perasaan
33
33. Memulai Dari Awal
34
34. Pilihan Yang Sulit
35
35. Mantan Suami Terbaik
36
36. Penampilan Yang Menarik Perhatian
37
37. Cemburu
38
38. Harga Diri Senilai Es Krim
39
39. Perubahan Sikap
40
40. Honeymoon Part 1
41
41. Honeymoon Part 2
42
42. Tidak Sanggup Lagi
43
43. Kematian
44
44. Kau Tak Datang
45
45. Aku Mencintainya
46
46. Menghilangnya Si Pemilik Hati
47
47. Meminta Bantuan
48
48. Jiwa Kesepian
49
49. Ketekadan Jiwa
50
50. Mencari Nindy
51
51. Dia Istriku
52
52. Sakit Demam
53
53. I love You
54
54. Rasa Syukur
55
55. Janji Setia Selamanya
56
Ucapan Terima Kasih Author dan Pengumuman
57
Pemberitahuan
58
56. Kencan Rakyat Jelata
59
57. Lelaki Yang Tak Dikenal
60
58. Berita Gembira
61
59. Rasa Bahagia
62
60. Kenyataan Pahit
63
61. Kehidupan Baru
64
62. Keikhlasan Seorang Ibu
65
63. Wanita Pesakitan
66
64. Dukungan Seorang Terkasih
67
65. Berpacu Dengan Waktu
68
66. Taubatnya Seorang Pendosa
69
67. Kuasa Tuhan
70
68. Pendonor Yang Tak Disangka-Sangka
71
69. Ayah Yang Kejam
72
70. Bahagia Itu Sederhana
73
71. Keluarga Kecil Bahagia
74
72. Malam Istimewa
75
73. Pertemuan Terakhir
76
74. Berkumpulnya Keluarga Besar
77
Promo Kisah Baru.
78
75. Ekstra Chapter 1
79
76. Ekstra Chapter 2
80
77. Ekstra Chapter 3
81
74. Ekstra Chapter 4 ~End~
82
Pengumuman Novel Baru
83
Hallo!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!